Rabu, 24 Februari 2016

Ketika Nyalimu di Uji --- Raung 3344 mdpl via Kalibaru

Rasanya pantat saya tepos, padahal belum genap dua jam saya duduk di gerbong 1 kereta Sri Tanjung jurusan Surabaya Gubeng - Banyuwangi Baru. Mata pun masih mengantuk. Tapi saya ga ada pilihan lain untuk transportasi yang lebih murah selain kereta yang sedang saya naiki ini. Untuk mencapai Surabaya pun saya menumpang kereta semalam. 

Kalau di hitung-hitung dari Jakarta sampai Banyuwangi, perjalanan dengan kereta api ini memakan waktu 17 jam di luar transit.
Dari Jakarta saya naik KA. Kertajaya Tambahan keberangkatan pukul 23.15. Tiba di Surabaya Ps.Turi esok harinya pukul 10.45. Dari stasiun Surabaya Ps.Turi saya melanjutkan ke stasiun Surabaya Gubeng dengan taksi. Dan kemudian kembali naik kereta untuk menuju Banyuwangi, tepatnya stasiun Kalibaru. Dari Gubeng kereta berangkat pukul 14.30, jadwal tiba di Kalibaru pukul 19.41.

Di kereta saya sempat mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, saya nyaris tertipu oknum yang mengatas namakan salah seorang dari tim RASadventure. Tim yang saya sebut tadi adalah salah satu trip organizer yang sering di rekomendasikan bagi pendaki jika ingin naik ke Puncak Sejati Raung.
Ya, saya memang sedang dalam perjalanan untuk mendaki Raung Puncak Sejati. Dan untuk tujuan itu saya bergabung dalam salah satu trip rutin RASadventure

Saya tiba di Kalibaru tepat pukul 19.41 sesuai jadwal yang seharusnya. Tukang ojeg langsung menghampiri saat saya keluar stasiun. Semua tukang ojeg di Kalibaru pasti langsung menawarkan untuk mengantar ke basecamp Ibu Suto jika melihat orang yang membawa keril.

Mejeng di depan basecamp

Pendakian gunung Raung ke Puncak Sejati memang semakin ramai sejak tahun 2013, bersamaan dengan aktifnya RASadventure mempromosikan. Sebelumnya frekuensi pengunjung yang datang biasa-biasa saja ke gunung yang rintisan jalurnya di buka oleh organisasi pecinta alam Pataga Untag Surabaya. Ramainya pendaki yang datang membawa berkah tersendiri bagi penduduk lokal, salah satunya bagi Ibu Suto. Kediaman beliau di jadikan basecamp oleh setiap pengunjung sebelum dan sesudah melakukan pendakian. Untuk mencapai basecamp ibu Suto, dari stasiun Kalibaru, diperlukan waktu 15-20 menit naik ojeg dengan ongkos rp.30.000,-.

Rumah Ibu Suto
Fasilitas toilet di basecamp
Dapur basecamp

Ruangan yang kami tempati di basecamp

Kediaman ibu Suto terletak di sebelah kanan jalan, tepatnya di Jalan Air Terjun Wonorejo, dusun Wonorejo Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi. Rumah sederhana yang menyediakan tiga ruangan khusus untuk pendaki beristirahat. Tidak ada biaya khusus yang di patok untuk menginap disini kecuali untuk makan dan lain-lain.

Sarapan sebelum mulai nanjak

Berikut detail perjalanan saya mendaki Gunung Raung 3344 mdpl via Kalibaru :

D1 - Trail I : Basecamp -Pos I / Camp I

Santai di Camp 1 sebelum mulai nanjak

Pos I terletak di ketinggian 980 mdpl. Berjarak 5600 meter dari basecamp . Kebanyakan pendaki memilih menggunakan jasa ojeg yang bisa di pesan di basecamp dengan tarif  Rp.35.000,- untuk sekali jalan. Waktu tempuh dengan ojeg kurang lebih 25 menit. Jauh lebih menghemat waktu daripada berjalan kaki yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Menumpang ojeg menuju Pos I membutuhkan  "keberanian" tersendiri sebab jalanannya yang kecil dan "offroad". Jika si tukang ojeg tidak terampil dan menguasai medan, bisa-bisa penumpang terpental jatuh.
Pos I terletak di sebelah kanan jalur. Terdapat bangunan rumah dan halaman yang cukup luas.

Trail 2 :
Pos I / Camp I - Pos 2 / Camp 2 Awal jalur pendakian adalah kebun kopi milik warga lokal. Jalur masih relatif landai dan mudah di lewati. Jarak antara Pos I dan Pos 2 adalah yang terjauh, yaitu sekitar 2-3 jam. Terdapat beberapa shelter bayangan sebelum pendaki mencapai Pos 2 yang berada di ketinggian 1431 mdpl. Total jarak yang ditempuh untuk tiba di pos ini sekitar 3900m. Pos 2 merupakan area yang luas, cukup untuk 10-12 tenda kapasitas 4 orang.

Trail 3 :
Pos 2 / Camp 2 - Camp 3
Kondisi vegetasi selepas Camp 2 masih rapat dan lembab. Di awali dengan satu turunan panjang sebelum berhadapan dengan tanjakan demi tanjakan yang cukup terjal. Untuk menuju Camp 3 diperlukan waktu kurang lebih 50-75 menit dengan jarak tempuh 1070 meter. Camp 3 terletak di ketinggian 1656 mdpl. Area Camp 3 tidak terlalu besar, hanya cukup untuk 4-5 tenda kapasitas 4 orang. Biasanya, Camp 3 jadi salah satu pilihan pendaki untuk beristirahat di hari pertama selain di Camp 4.

Trail 4 :
Camp 3 - Camp 4
Santai di Camp 4 sebelum menuju Camp 5

Tenda kami di Camp 4

Jalur pendakian menuju Camp 4 semakin terjal, didominasi setapak kecil yang di apit pepohonan besar. Bau lembab humus sangat terasa, terlebih jika turun hujan. Sesekali ditemui jalur menurun. Jarak Camp 3 menuju Camp 4 sekitar 1400 meter yang memakan waktu 50-70 menit. Area Camp 4 sedikit lebih besar dari Camp 3, bisa menampung 6-8 tenda. Camp 4 merupakan bidang memanjang dengan tekstur tanah bercampur pasir dan kerikil kecil.

D2 - Trail 5
Camp 4 - Camp 5

Jalur menuju Camp 5
Area Camp 5, kecil dan tidak ideal untuk membangun tenda

700 meter adalah jarak tempuh untuk menuju Camp 5 yang berada di ketinggian 2115 mdpl. Dengan berjalan santai namun konstan umumnya dapat di capai dalam waktu 45-75 menit. Kondisi jalur lebih terjal dari sebelum-sebelumnya. Vegetasi masih sama, pepohonan tinggi dan rimbun. Camp 5 tidak ideal untuk membangun tenda.

Trail 6
Camp 5 - Camp 6 / Pos 3

Area Camp 6

Waktu yang di perlukan untuk menuju Camp 6 juga relatif sama seperti Camp sebelumnya yaitu sekitar 40-60 menit. Berada di ketinggian 2440 mdpl, jarak yang harus di tempuh adalah 400m. Di Camp 6 ini area nya hanya cukup untuk 2-3 tenda saja.

Trail 7
Camp 6 - Camp 7

Jalur menuju Camp 6

Kondisi jalur menuju Camp 7 lebih curam dan terjal. Biasanya pendaki mulai kehabisan tenaga saat akan mencapai Camp 7 yang berada di ketinggian 2541 mdpl. Dengan jarak tempuh 900 meter, waktu yang dibutuhkan adalah 1 jam 15 menit. Camp 7 merupakan area yang cukup luas, bisa menampung 12-14 tenda. Camp ini merupakan pilihan pendaki untuk bermalam sebelum melakukan summit attack di dini harinya. Dulunya, sebelum Camp 7 dibuka lebih luas, pendaki yang akan menuju Puncak Sejati seringkali harus membuat camp di Camp 8 atau 9 sebelum melakukan summit attack . Camp 7 adalah salah satu tempat paling ideal meskipun termasuk area yang rawan sebab merupakan jalur lintasan angin. Sebelum mencapai Camp 7, pendaki akan melewati dua shelter yang berjarak masing-masing 30 menit.

Membangun tenda di Camp 7, hari kedua
Sunset di Camp 7
Lautan awan ketika sunset di Camp 7

Istirahat di Camp 7
Dapur kami di Camp 7


Packing sebelum turun dari Camp 7

D3 - Trail 8 :
Camp 7 - Camp 8
Jika akan melakukan summit attack dari Camp 7, pendaki hanya membawa peralatan climbing dan logistik secukupnya. Idealnya summit attack di mulai pukul 2 dinihari bagi tim dengan jumlah personil banyak. Sedangkan bagi tim kecil umumnya berselang 1-2 jam kemudian. Jalur menuju Camp 8 sangat terjal, sehingga pendaki harus lebih berhati-hati. Tanjakan-tanjakan curam bertekstur tanah harus terus di hadapi untuk mencapai Camp 8 di ketinggian 2876 mdpl. Curamnya jalur membuat jarak 700 meter bisa di tempuh "hanya" dalam waktu 45 menit saja. Camp 8 merupakan bidang datar yang cukup untuk 2 tenda saja.

Trail 9
Memasang body harness di Camp 9

Camp 8 - Camp 9

Pohon yang menjadi ikon Camp 8


Meskipun masih terjal, namun kondisi jalur menuju Camp 9 tidaklah seberat menuju Camp 8 yang sangat menguras tenaga.
Berada di ketinggian 3023 mdpl, dengan jarak tempuh 400 meter  waktu yang diperlukan untuk mencapai Camp 9 kurang lebih 40-50 menit. Sama halnya seperti Camp 8, Camp 9 juga merupakan bidang datar kecil yang hanya bisa memuat 2-3 tenda saja. Di Camp 9 ini biasanya pendaki mulai memasang harness atau body harness berikut peralatan safety -nya seperti carabiner dan prusik.

Trail 10
Camp 9 - Puncak Bendera

Persiapan menuju Puncak Bendera

Sunrise menjelang Puncak Bendera

Alhamdulillah bisa sampe di Puncak Bendera
Melipir pinggiran tebing dari Puncak Bendera

Jarak Camp 9 ke Puncak Bendera sangatlah dekat, sekitar 15-20 menit saja. Puncak ini memiliki ketinggian 3159 mdpl, dan merupakan puncak pertama dari rangkaian 4 puncak gunung Raung. Dari Puncak Bendera, jika cuaca cerah pendaki bisa melihat laut di pesisir Banyuwangi. Dari sini juga terlihat jelas pegunungan Hyang yang terkenal dengan Argopuro sebagai puncak tertingginya. Semeru, Arjuno dan Welirang juga terlihat.

Melipir jalur dengan jurang di kanan kiri menuju Ekstrim 1

Turun dari Puncak Bendera menuju Ekstrim 1

Trail 11 :
Puncak Bendera - Puncak 17

Wilco saat menaiki Ekstrim 1

Saya saat berusaha naik melintasi Ekstrim 1

Rijal naik memasang safety untuk di Ekstrim 2
Saya tiba di atas Ekstrim 2

Jalur selepas Puncak Bendera sangatlah curam. Pendaki harus menelusuri jalur menurun dan berbatu dengan jurang di sebelah kanan dan kiri. Disinilah adrenalin mulai terasa naik. Di perlukan waktu sekitar 45-60 menit untuk bisa menjejak Puncak Bendera yang ketinggiannya 3108 mdpl.

Saling bantu mengontrol regangan tali (menuju Ekstrim 2)
Saya naik ke Ekstrim 2
Saya di Puncak 17
Puncak 17 di lihat dari Puncak Bendera

Setelah melewati turunan sejauh 260 meter, pendaki akan berhadapan dengan jalur tipis yang memutari tebing vertikal yang lebih dikenal dengan Ekstrim I.

Antri untuk naik ke Ekstrim 2 (ke Puncak 17)


Puncak Bendera dilihat dari atas Ekstrim 2

Mutlak diperlukan peralatan climbing yang memadai untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah Ekstrim I, tantangan selanjutnya adalah Ekstrim 2 yaitu bidang vertikal setinggi 8-9 meter yang harus di panjat untuk bisa menjejak Puncak 17. Jika pendaki merasa kurang mantap / berani untuk naik ke Puncak 17, mereka bisa memilih jalur yang melipir sisi kanan tebing. Jalur ini sangat tipis dengan jurang terbuka yang sangat dalam. Melintasi jalur inipun tetap harus dengan peralatan yang safety.
Jika pendaki memilih naik maka 100 meter kemudian akan ditemui penanda Puncak 17.

Trail 12
Puncak 17 - Puncak Tusuk Gigi

Bergantian turun dari Puncak 17

Puncak 17 dilihat dari Ekstrim 4
Melintas Sirathal Mustaqim, menuju Ekstrim 4

Dari Puncak 17 pendaki yang lewat Puncak 17 ataupun yang melipir pinggiran tebing harus berani melewati titik Ekstrim 3 yang populer dengan nama Jembatan Sirathal Mustaqim, sebuah setapak kecil dan curam. Lebarnya tidak lebih dari 40 centimeter sepanjang 100 meter dengan jurang menganga di sebelah kanan dan kirinya. Diperlukan ketenangan dan keyakinan kuat agar mental tetap terjaga saat melintasi jalur ini.
Inilah jalur Sirathal Mustaqim yang tersohor itu

Meniti Sirathal Mustaqim, di lihat dari bawah tebing sebelum Ekstrim 4

Arif memasang safety untuk melintas Ekstrim 3
Saya duduk menunggu safety selesai di pasang untuk melintas Ekstrim 3

Selepas jembatan "Sirathal Mustaqim" pendaki akan tiba di ujung punggungan. Di ujung punggungan adalah turunan nyaris vertikal setinggi 10-12 meter. Titik ini dikenal sebagai Ekstrim 4.

Rijal memasang safety untuk turun dari Ekstrim 4
Antri menuruni Ekstrim 4

Menuruni Ekstrim 4

Jalur awal menuju Puncak Tusuk Gigi selepas Ekstrim 4

Lewat dari Ekstrim 4, pendaki tinggal menelusuri bidang miring menurun sejauh 300 meter untuk mulai melangkah menuju Puncak Tusuk Gigi.

Saya di Puncak Tusuk Gigi

Meski curam dan sangat terjal dan rawan longsor, jalur menuju ke puncak tersebut masih bisa di lewati tanpa alat bantu. Diperlukan waktu 2 jam dari Puncak 17 ke Puncak Tusuk Gigi. Di namakan Puncak Tusuk Gigi karena terdapat deretan bebatuan besar menjulang bak monumen menyerupai tusuk gigi.

Trail 13 :
Puncak Tusuk Gigi - Puncak Sejati

Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya

Salah satu perjuangan yang mendebarkan adalah saat menuju Puncak Tusuk Gigi dimana pendaki harus sangat berhati-hati agar tidak meruntuhkan batu yang bisa berakibat fatal bagi pendaki yang di bawahnya. Dari Puncak Tusuk Gigi hanya diperlukan waktu 15 menit untuk mencapai Puncak Sejati gunung Raung 3344 mdpl. Puncak Sejati adalah bidang kecil sedikit miring, sehingga pendaki harus tetap berhati-hati saat akan berfoto-foto. Kawah gunung Raung merupakan salah satu kawah aktif terbesar di Pulau Jawa. Jika cuaca cerah, pendaki bisa dengan jelas memandang ke segala arah.

Bendera GCI berhasil menjejak Puncak Sejati

Akhirnya sampe juga di Puncak Sejati...Alhamdulillah

Bersama guide kami, Arif dari RASadventure

Kawah Raung pagi itu

###########The End########

Rundown Ideal :
D1 Bermalam di Camp 4
D2 Bermalam di Camp 7
D3 Summit dan kembali bermalam di Camp 7
D4 Turun ke basecamp.

Durasi Pendakian :
-St.Kalibaru - BC ibu Suto 20 menit dengan ojeg.
-BC ibu Suto Pos I 25-30 menit dengan ojeg
-Pos I - Camp 2/Pos II 2-3 jam
-Camp 2 - Camp 3 45-60 menit
-Camp 3 - Camp 4 50-60 menit
-Camp 4 - Camp 5 45-60 menit
-Camp 5 - Camp 6/Pos III 50-70 menit
-Camp 6 - Camp 7 60-75 menit
-Camp 7 - Camp 8 50-70 menit
-Camp 8 - Camp 9 45-60 menit
-Camp 9 - Puncak Bendera 15 menit
-Puncak Bendera - Puncak 17 1 jam
-Puncak 17 - Tusuk Gigi 2 jam
-Tusuk Gigi - Puncak Sejati 15 menit.

Beberapa hal penting terkait pendakian ke Puncak Sejati :
1. Setiap pendaki wajib membawa minimal 7,5 liter air.
2. Wajib memakai gaiter dan sepatu
3. Logistik yang cukup dan efektif
4. Ada leader yang menguasai medan pendakian
5. Membawa peralatan safety climb yang cukup seperti Helm, Kernmantel, Carabiner, Figur, Jumar dll.


Note :
Jika teman-teman membutuhkan guide, sewa peralatan climbing, porter ataupun info lainnya silakan hubungi : 

- Pin BB D0ACE655
- WA / SMS Only : 0811-118-1225.
- E-mail : cliff.klie@gmail.com

























`
















Arif, Wilco, Bu Suto, Saya dan Rijal

Senin, 15 Februari 2016

Vertical Caving di Goa Sidomba



Bogor merupakan salah satu surga bagi para penggiat alam bebas. Selama ini lebih dikenal dengan tempat-tempat wisata permukaan dan pegunungannya. Siapapun yang mengaku hobi berpetualang tentu sudah akrab dengan Curug-curug yang banyak bertebaran di sekeliling kaki gunung Gede Pangrango dan Salak. Bahkan bagi yang senang mendaki tentu tidak lengkap curiculum vitae nya jika belum mendaki gunung-gunung yang disebut diatas tadi.

Daniel memasang safety webbing (pic by: Kukuh)
Daniel dan Umme mengecek kekuatan anchor utama (pic by : Kukuh)

Tak salah memang jika tempat wisata permukaan atau pegunungan jauh lebih populer sebab kemudahan akses informasi dan transportasinya. Padahal potensi wisata bawah tanah di wilayah kabupaten Bogor juga tak kalah dahsyatnya. Potensi wisata bawah tanah khususnya wisata goa atau caving di Bogor banyak terdapat di wilayah Sentul dan Citeureup, tepatnya di wilayah dusun Siangin, desa Tajur kecamatan Citeureup. Di daerah ini memang di dominasi batuan karst yang menjadi salah satu ciri area yang memiliki goa, meskipun batuannya masih relatif muda (ditandai dengan belum sempurnanya pembentukan stalaktit dan stalagmit), namun sensasi yang bisa di rasakan penghobi kegiatan caving di jamin tidak akan kalah dengan lokasi-lokasi lainnya yang sudah lebih dulu populer. 


Membuat Harness dari webbing (pic by: Kukuh)

Tak kurang terdapat 9 lokasi goa yang bisa di ekplore oleh para penghobi caving di area ini. Beberapa diantaranya yaitu Sidomba, Sibarno, Kraton, Asem, Cikarae, Siduren dan Gapura.
Dari goa-goa tersebut, goa Sidomba merupakan goa yang paling aman untuk di eksplore atau untuk ajang berlatih bagi para penghobi caving pemula. Untuk mencapai Goa Sidomba ini tidak terlalu sulit aksesnya, teman-teman bisa menggunakan motor atau mobil. Dari Sirkuit Sentul hanya memerlukan waktu 40 menit saja ke arah Polsek Citeureup lalu berbelok ke Selatan ke arah jalan alternatif menuju Jonggol. Kurang lebih 20 menit (kira-kira 8km) lepas Polsek Citeureup, teman-teman tinggal bertanya pada penduduk sekitar. Papan-papan penunjuk arah jalan juga banyak sehingga teman-teman tidak perlu khawatir kesasar. Polsek Citeureup merupakan patokan utama bagi yang hendak menuju kawasan goa.

Biasanya para caver (sebutan hobiis caving), akan transit di kediaman Mang Eman sebelum memulai kegiatan caving. Kediaman sederhana dengan bangunan dari kayu yang asri. Mang Eman memang sudah populer dikalangan para caver yang sering bermain di sini. Beliau sangat ramah dan bisa mengakomodir keinginan para caver. Kita juga bisa bermalam disini, di teras panggung rumahnya yang cukup besar, bahkan kita juga bisa memesan makanan untuk disantap setelah selesai caving. Keberadaan Mang Eman memang sangat membantu dan rumahnya pun akhirnya di jadikan basecamp oleh para caver. Hanya saja teman-teman harus maklum, lokasi rumah beliau ini berada di pelosok, area parkir juga masih tanah yang akan menjadi sangat becek saat turun hujan. Pun begitu dengan tempat sanitasinya masih sangat sederhana namun layak.

Dari basecamp Mang Eman diperlukan waktu 40-50 menit dengan berjalan kaki untuk mencapai Goa Sidomba jika melalui jalur resmi, tapi jika melintas jalur potongan seperti yang sering saya dan teman-teman lakukan hanya diperlukan waktu 15 menit saja dengan konsekuensi jalurnya licin, terjal dan berilalang tinggi. Hari ini saya, Choki, Wilco, Umme dan Daniel sengaja berkunjung untuk men-survey jalur dan mendokumentasikan area karena bulan depan kami akan mengadakan kegiatan Vertical Caving untuk umum.

Jika melewati jalur potong, kita akan langsung tiba di depan pintu masuk goa yang merupakan bidang sempit sedikit miring, sedangkan jika melintasi jalur resmi kita akan datang di atas pintu masuk goa. Di area sekitar pintu goa kita harus ekstra hati-hati karena selain bidangnya miring dan licin, bebatuannya juga cukup tajam. Kami bersiap-siap memasang anchor dan peralatan pendukung lainnya untuk menjaga safety sambil sarapan dan ngopi. Proses penelusuran Goa Sidomba paling tidak menghabiskan waktu 5-6 jam sehingga disarankan teman-teman sudah sarapan sebelum turun dan membawa bekal untuk dimakan di dalam goa.

Pintu Goa Sidomba (pic by : Kukuh)

Saya siap-siap turun ke Bidang I (pic by : Wilco)

Peralatan wajib yang perlu di pakai dan di bawa untuk menelusuri Goa Sidomba antara lain Raincoat, Headlamp atau senter, sepatu, makanan dan air minum secukupnya dan sarung tangan. Pukul 11.00 kami turun. Daniel yang pertama turun sebagai jangkar, di susul saya, Choki, Wilco dan Umme sebagai sweeper. Turun menuju bidang datar pertama relatif cepat karena tidak memakan banyak tenaga. Ketinggian bidang pertama dengan mulut goa kurang lebih 15-20 meter vertikal. Tiga puluh meter selanjutnya kita berjalan menyusuri bidang miring berbatu cukup tajam yang dipenuhi kotoran kelelawar. Disinilah fungsi Raincoat yang kita gunakan, bukan untuk mencegah dari basah melainkan agar kulit kita terhindar atau terminimalisasi terpapar langsung oleh kotoran kelelawar. Sejak mulai turun dari bidang pertama kita sudah harus menggunakan headlamp / senter karena cahaya matahari hanya masuk hingga bidang pertama. Setelah berjalan 20 meter trek menjadi datar dan becek tergenang air setinggi 20-30 cm.

Sepuluh meter selanjutnya kita akan berhadapan dengan celah sempit yang pertama, disini disarankan teman-teman agar kaki yang lebih dulu masuk sambil tetap memegang webbing yang sudah terpasang karena dibalik celah tersebut adalah langsung bidang vertikal setinggi 8 meter. Untuk menuruni bidang vertikal ini kita hanya mengandalkan webbing sebagai pegangan. Didasar bidang vertikal ini adalah genangan air setinggi 40-50 cm. Selanjutnya trek kembali datar, menyusuri lorong gelap yang becek dan tergenang air sejauh 50-60 meter sebelum kembali bertemu dengan celah sempit yang kedua. Di celah sempit yang kedua ini kembali disarankan agar kaki yang masuk lebih dahulu. Celah sempit yang kedua ini relatif lebih mudah untuk dilewati karena setelahnya merupakan jalan mendatar.

Celah Sempit Kedua (pic by: Choki)

Dari celah sempit yang kedua trek relatif lebih mudah untuk di lewati. Kira-kira 40meter lepas celah sempit yang kedua kita akan berhadapan dengan celah sempit yang ketiga. Umumnya caver pemula yang berbadan besar akan sedikit kesulitan untuk melewatinya. Diperlukan teknik mengatur nafas yang baik agar badan yang besar bisa lolos. Memang ada cara yang lebih mudah untuk melewatinya yaitu dengan melintas celah di bagian atasnya yang beberapa centi lebih lebar, namun diperlukan bantuan webbing untuk pegangan karena tidak ada titik yang ideal untuk pijakan.

Dari celah sempit yang ketiga itu hanya perlu turun sekitar 30 meter lagi untuk mencapai titik finish pertama di Aula I. 5-6 meter turun dari Aula I treknya cukup terjal dan langsung berhadapan dengan bidang vertikal lagi setinggi 20 meter...didasarnya merupakan titik finish yang kedua yaitu Aula II. Namun bagi para pemula hanya direkomendasikan hingga Aula I saja mengingat perjalanan untuk kembali ke mulut goa cukup berat dan sangat banyak membutuhkan tenaga. Seringkali terjadi di goa Sidomba ini, para pemula terlena dengan sensasi caving sehingga memaksa guide agar membawa turun hingga Aula II. Saat turun tidak terjadi persoalan, saat kembali naik ke Aula I pun relatif lancar meski memerlukan waktu yang lama. Masalah sering terjadi saat harus naik dari bidang datar I menuju pintu goa. Mereka sudah kehabisan tenaga dan mentalnya drop. Jika sudah terjadi seperti itu mau tidak mau para guide harus melakukan vertikal rescue yang membutuhkan waktu sangat lama.

Demikian catatan dari saya tentang Vertical Caving di Goa Sidomba semoga bisa membantu dan menambah informasi bagi yang ingin berkunjung. 

Note :
1. Disarankan bagi guide jika membawa caver pemula maksimal hanya 15-20 orang saja. 
2. Foto-foto dalam catatan ini merupakan akumulatif dari beberapa kegiatan kami di Goa Sidomba
3. Kami menyediakan jasa guide dan sewa peralatan panjat untuk eksplorasi Goa Sidomba dan Goa-goa lain di sekitarnya. Hanya saja perlu jadi catatan, Goa-goa selain Sidomba tidak direkomendasikan bagi pemula karena tingkat kesulitannya.
4. Agar mengecek terlebih dahulu apakah lokasi goa sedang kosong atau tidak, terutama saat weekend untuk menghindari bentrok kegiatan dengan pihak lain. Karena akan sangat tidak nyaman jika banyak orang di ruang yang sempit. 

Info lebih lengkap dan detail silakan hubungi :

GREEN CHAPTER ADVENTURE
BB Pin : D0ACE655CE  
WA only : 08111181225 
FP : Green Chapter Adventure
email : cliff.klie@gmail.com

Selalu ada alat masak yg nyelip untuk masak indomie atau ngopi...hehe (pic by: Kukuh)
Jalur potong menuju Goa...curam dan licin (pic by: Kukuh)
Bidang sempit di depan pintu Goa Sidomba (pic by: Kukuh)
Udah kaya naik gunung bawaannya
Siap-siap, pasang alat untuk safety
Parkiran di halaman rumah Mang Eman
Teras panggung rumah Mang Eman
Exhale Inhale...Jumaring ke pintu Goa
Emang bikin ngos-ngosan juga bro nanjaknya...hehe
Antri ya...turun harus satu-satu...
Ini lagi pada ngumpul di Bidang Datar I...di briefing biar tau tekniknya
Tuh...ajib kan vertikal nya...15-20 meter...ini pas turunnya
Beres caving ya makan-makan lah...prasmanan dengan menu pedesaan...maknyoos
Serasa jadi rescue team katanya mah....
Umme lagi ngajarin peserta caving
Cewe juga banyak yang udah nyobain vertical caving
Istirahat di Aula I sebelum kembali naik
Umme turun setelah lewat Celah sempit yang pertama
Menuju Celah Sempit yang Ketiga