Kamis, 07 Agustus 2014

Ekspedisi Double M--- Bab II : Merbabu 3142 mdpl

Gunung Merbabu 3142 mdpl di lihat dari Pos New Selo Merapi ( 31/7/2014 )


Obituary Seorang Pendaki

Bagi kami tiada kata untuk sombong
Sebab pendakian demi pendakian bukanlah perburuan prestasi
Dari puncak ke puncak kami telah pergi
Namun kami masih ingin terus mendaki dan mendaki
Karena bagi kami puncak-puncak gunung itu adalah sebuah misteri
Engkau takkan pernah tahu impian kami para pendaki
Bagi kami pendakian adalah ungkapan cinta....
Sesuatu yang sangat pribadi !!!
Yang hanya bisa diselami oleh seorang pendaki
Dan kematian bagi kami bukanlah sebuah resiko
Melainkan puncak obsesi cinta kami pada alam.


1 Agustus 2014, Alarm dari gadget saya yang berbunyi serentak di dini hari itu membangunkan saya dari tidur yang belum tuntas. Rasanya baru saja saya merebahkan badan untuk beristirahat. Alarm saya memang selalu berbunyi jam 3.15. Masih dalam keadaan rebah di dalam sleeping bag, saya mengingat-ingat jam berapa saya tidur, ada dimana dan apa yang harus saya lakukan. Mata ini berat sekali, karena saya baru tidur 2,5 jam saja di tambah 1 jam waktu di bus, total saya baru tidur  3,5 jam dalam 3 hari. Hawa dingin yang menusuk membuat saya merasa enggan untuk bangun. Kurang lebih 1 jam kemudian saya baru benar-benar "memaksa" badan untuk beringsut dan duduk selonjor dengan  kaki masih tetap di dalam sleeping bag. Keadaan masih sepi dan semua anggota tim masih terlelap dalam tidurnya. Kami semua tidur di dipan kayu semi panggung berukuran 7x2 meter, kecuali Iyan, Soni, Hendro, Zafran, Eko, mereka tidur di lantai beralas trash bag dan sleeping bag. Peralatan masak bekas masak semalam masih menumpuk di antara posisi kami tidur. Disebelah kanan saya Ryan meringkuk kedinginan, dan disebelah kiri saya Gugum sepertinya sibuk "berlatih silat" --- maklum kepala saya sempat jadi target sikutnya...hehe.

Jam 4.00 saya bangun dari posisi nyaman dan hangat, saya kenakan lagi celana panjang, lalu saya bangkit dan keluar untuk menikmati udara subuh di depan base camp Selo Merapi, tak lupa saya sampirkan sleeping bag saya untuk menutupi Ryan yang kedinginan. Seperti yang saya duga, diluar udaranya jauh lebih menggigit. Langit cerah berbintang. Setiap hembusan nafas saya mengeluarkan asap, menandakan tingginya perbedaan suhu antara tubuh saya dengan udara luar. Saat saya hendak mengambil wudhu untuk menunaikan shalat subuh, lewatlah 30-40 orang turis asing yang hendak mendaki Merapi, dengan hanya menggunakan kaos oblong tipis mereka berjalan santai menuju New Selo seolah dinginnya udara subuh itu bukanlah "musuh" untuk terus bergerak. Basuhan air wudhu terasa seperti jarum yang menusuk permukaan kulit saking dinginnya, benar-benar godaan untuk tidak menunaikan kewajiban. Selesai shalat saya menuju dapur basecamp untuk meminta segelas teh manis dan menyeduh obat herbal yang memang saya bawa. Saya bangunkan Gugum dan Wawan agar segera menunaikan shalat subuh sebab hari semakin siang. Lalu sambil menanti matahari terbit saya duduk sambil ngobrol dengan sesama pendaki dari Solo di temani teh manis panas.

Untuk efesiensi waktu, pagi itu tim memutuskan untuk tidak masak melainkan memesan seporsi nasi goreng dan teh manis hangat untuk setiap anggota tim. Dengan biaya sepuluh ribu rupiah jadilah nasi goreng menjadi pengisi perut kami untuk sarapan. Tim menjadwalkan untuk mulai perjalanan mendaki Merbabu jam 8.00. Sambil menunggu waktu, Ryan dan Iyan bernegosiasi untuk tarif angkutan ke base camp Selo Gn.Merbabu. Disepakati ongkos sebesar 10.000 per orang. Kami menggunakan mobil bak yang sama untuk menuju base camp Merbabu. Tepat jam 8.00 tim bertolak menuju Gunung Merbabu. Di tengah perjalanan, salah satu anggota tim, Wawan, berpamitan untuk lebih dulu pulang ke Bogor. Sebenarnya saya dan Gugum sudah mencoba untuk membuat Wawan untuk terus melanjutkan pendakian, namun karena alasan pekerjaan yang memang tidak bisa diwakilkan dan ditinggalkan dengan terpaksa Wawan pulang lebih awal.
Sebenarnya jarak antara basecamp Merapi dan Merbabu di Selo ini tidak terlalu jauh, sekitar 4 km, namun untuk menjaga kondisi fisik dan efisiensi waktu tim memutuskan untuk naik mobil. Arah menuju basecamp Merbabu kami kembali menyusuri jalanan awal melewati Pasar Cepogo lalu berbelok ke kiri dan terus menanjak. 20 menit saja waktu yang tim butuhkan untuk mencapai basecamp Merbabu. Basecamp tempat kami mendaftar adalah rumah Pak Parman, terletak di sebelah kanan jalan dengan sebuah bak sumber air --- pendaki bisa mengambil air untuk perbekalan disini. Berhubung sepanjang jalur pendakian nanti tidak akan ditemui sumber air maka tim mengisi penuh setiap botol dan jerigen yang di bawa plus menyelesaikan hajat yang berhubungan dengan air. Dan nasi goreng sarapan kami pagi tadi pun jadi subyek biang keladi sakitnya perut mayoritas anggota tim. Bergantian tim mengosongkan perut, kecuali saya. Sambil menunggu seluruh anggota tim siap, saya dan Yasser mewakilkan Ryan mengurus berkas pendaftaran. Masing-masing pendaki di kenakan biaya sebesar 4.000 rupiah dan diberikan surat pengantar untuk diserahkan di pos tempat kami turun nanti (Wekas). Mundur 40 menit dari target awal jam 9.00 pagi, tim mulai bergerak meninggalkan basecamp. Trio Ubur-ubur di tambah Gugum dan Hendro menjadi tim sweeper.


Tim beristirahat di Pos I Dok Malang ( 1/8/2014 )


Seperti biasa saya berjalan sangat lambat, cara berjalan seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan saya, selain untuk menjaga kondisi fisik juga untuk mempercepat menemukan ritme jalan yang nyaman. Jalur awal pendakian menuju Pos I relatif datar, banyak di temui bonus trek di sela tanjakan-tanjakan pendek. Vegetasi juga tidak rapat, dominan ilalang dan pohon kayu berdiameter tidak lebih dari 40 cm. 50 menit selepas gerbang pendakian banyak ditemui kera-kera diantara pepohonan, seperti menyambut kami yang akan memasuki hutan Merbabu. Formasi tim terpecah menjadi 3 grup, grup advance / leader yang di pimpin Ryan, grup tengah Iyan dan sweeper saya. Rata-rata jarak berjalan antara grup leader dg sweeper adalah 45-1,5 jam. Jam 11.35 tim sweeper tiba di Pos I Dok Malang, saat tim sweeper tiba, anggota tim yang lain sedang beristirahat sambil membuat perapian. Pos I ini merupakan sebuah bidang tanah yang cukup luas dan datar, cukup untuk membangun 6-7 tenda. Tim beristirahat selama 30 menit sebelum melanjutkan perjalanan.
Jam 12.05 tim mulai bergerak lagi untuk menuju Pos II, masih dengan kontur tanah, trek yang relatif landai namun vegetasi semakin terbuka. Empat puluh menit selepas Pos I jalur pendakian berubah curam membuat badan kami kaget, untung trek curam itu hanya sepanjang 30-40 meter sebelum berubah menjadi landai kembali. Namun jam 13.00 bonus trek itu hilang berganti dengan jalur menanjak yang sangat panjang, yang dikenal dengan nama Tanjakan Penyiksaan. Soni mulai kepayahan, saat itu di posisi sweeper adalah saya, Soni, Eko, Gugum, Huda, Hendro dan Wahyu. Saya pun memulai aksi PHP dan Soni adalah korban pertama saya...(sori ya bro...hehehe). Akibat terlalu banyak tertawa (menertawakan Soni) saya kehilangan banyak energi dan berimbas dengan makin lambatnya saya berjalan. Sepuluh menit selepas Tanjakan Penyiksaan kami bertemu dengan tanah lapang yang cukup luas, cukup untuk membangun 4-5 tenda. Maju ke depan sepuluh menit lagi tim sweeper berhasil tiba di Pos II Pandean. Tim sweeper tidak bertemu dengan tim leader dan tengah di Pos II ini, kami berpikir mungkin mereka lanjut dan menunggu di simpangan Pos Bayangan. Saya lirik jam di pergelangan tangan saya, jarum jam menunjuk angka 14.10. Pos II ini adalah sebidang tanah kecil yang dikelilingi pepohonan dan cukup rimbun, berlama-lama disini membuat badan menjadi dingin. Karena alasan itulah kami tim sweeper tidak berlama-lama, kurang lebih hanya 10 menit kami beristirahat sebelum melanjutkan pendakian.
Belum lama kami berjalan, nampak di depan kami Iyan, Adit dan Gugum sedang beristirahat. Saat kami tiba di posisi mereka, mereka pun bergabung dan berjalan bersama-sama. Sorot cahaya matahari sudah tidak seterik siang tadi, sehingga kami tidak terlalu banyak kehilangan cairan. Kondisi jalur pendakian didominasi tanah, rumput dan perdu kecil.

Suasana di simpang Jalur Selo dan Thekelan, Pos bayangan ( 2/8/2014 )

Simpangan Jalur, kiri adalah arah ke Selo, foto dari Tanjakan menuju Pos III (1/8/2014)


Jam 15.30 tim sweeper tiba di simpangan Pos Bayangan, sebuah lapangan yang sangat luas dan terbuka. Berdiri beberapa tenda pendaki disini. Di sebelah timur terdapat puncak bukit kecil ramai pendaki yang berfoto-foto sedangkan di sebelah Barat adalah jalur pendakian kami selanjutnya. Nampak jalur pendakian yang hitam, kontras dengan warna hijau di sekelilingnya yang curam dan panjang sudah menunggu untuk kami tapaki. Jalur curam itu memanjang berkelok hingga hilang di balik puncak bukit, di balik bukit itulah letak Pos III alias Sabana I. Di butuhkan waktu 1,5-2 jam bagi tim untuk melewati tanjakan curam ini dan mencapai Pos III. Selangkah demi selangkah kami memulai untuk mendaki jalur curam ini. Mulai dari sini beban bawaan saya bertambah, sebuah batang pohon mati dengan berat tidak kurang dari 10kg saya bawa dengan tangan kanan saya. Kemiringan jalur yang nyaris mencapai 75-80 derajat jelas sangat menyulitkan pendaki yang membawa beban berat dan carrier tinggi. Tim sweeper berulang kali istirahat walau dalam posisi berpijak yang tidak ideal. Di pertengahan jalur kami menemukan daypack Egi yang sengaja ditinggalkan untuk mempermudah pendakian. Sejak turun dari Merapi semua anggota tim jadi mengetahui jika Egi memiliki masalah phobia dengan ketinggian dan akhirnya kami memaklumi hal tersebut. Saya meminta tolong pada Eko dan Soni untuk mengikat daypack Egi di atas carrier saya. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tim Sweeper tiba di Pos III / Sabana I tepat jam 17.35. Kami hanya menemui Gugum sedang istirahat sendiri. Kondisi fisik kami yang sudah terkuras dan beratnya bawaan di dalam carrier membuat kami tidak memungkinkan untuk menyusul tim leader yang kemungkinan besar sudah tiba di Sabana II. Di kejauhan nampak tanjakan curam berikutnya yang menjadi gerbang untuk menuju Sabana II. Setelah berembuk sejenak, saya, Soni, Gugum, Eko dan Huda yang kembali turun sepakat untuk beristirahat di Sabana I ini untuk me-recovery kondisi fisik kami. Posisi Sabana I ini tepat berada di puncak punggungan bukit sehingga tidak ada pelindung jika angin datang dari penjuru manapun. Sedangkan Sabana II posisinya terletak di lembah punggungan, lebih terlindung.

Awalnya kami sepakat hanya akan membuat bivak darurat dari flysheet yang dibawa Soni dan akan kembali bergerak menyusul tim leader sekitar jam 21.00. Kamipun bergerak cepat membagi tugas, maklum, dinginnya udara di Sabana I Merbabu sudah tersohor di kalangan pendaki, sehingga berdiam diri di tempat seperti tanpa perlindungan sama saja nyari masalah. Setelah bivak berdiri, saya dan Gugum melaksanakan shalat maghrib. Selesai shalat kami mulai masak dan coba membuat perapian walau pada akhirnya gagal.
Udara dingin yang bercampur angin semakin membekukan kami dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan malam ini. Walau bagaimana kondisi fisik yg lemah bisa jadi bumerang dan masalah jika kami memaksakan untuk terus mendaki. Setelah kami sepakat untuk lebih lama beristirahat di Pos III kami segera membangun tenda. Alhamdulillah, jam 22.00 kami tim sweeper sudah bisa beristirahat didalam tenda. Kami juga sepakat bahwa jam 2.00-3.00 kami akan berkemas dan menyusul tim leader. Tidak butuh waktu lama kami segera terlelap di balik sleeping bag, kecuali saya, karena tidak kebagian sleeping bag terpaksa saya mengalami salah satu 4 jam terlama dalam hidup. Hembusan angin menembus pori-pori tenda, membekukan paha dan kaki saya, sehingga kaki saya kram terus menerus dan sakit seperti di tusuk. Kepala saya pun migrain akibat beda tekanan. Berulang kali saya melirik ke arah empat rekan setenda, berharap ada salah satu yang bangun dan mau bergantian posisi. Saya sudah setengah mati rasa, sementara waktu berjalan lambat sekali. Kurang lebih jam 1 dini hari saya terpaksa menelan sebutir antibiotik tanpa air demi meredakan demam saya yang semakin menjadi. Jam 2.00 sesuai dengan kesepakatan kami bangun kecuali Huda yang terus saja asyik dengan tidurnya. Gugum dengan sigap keluar tenda dan segera memasak untuk mengisi perut kami sebelum melanjutkan perjalanan, sementara saya , Soni dan Eko walau sudah terbangun tetap berada di dalam tenda. Jam 2.30 kami sarapan energen satu sachet di bagi berlima dan kopi panas. Saat itu tim sudah siap untuk melanjutkan perjalanan, tapi saya meminta waktu 1 jam lagi, saya perlu memejamkan mata dan menghangatkan badan yang sudah ga karuan rasanya. Hari ini sudah tanggal 2 Agustus dan saya baru tidur 3,5 jam sejak tanggal 30 Juli. Akhirnya tim memberi saya kesempatan untuk tidur 1 jam. Saat Gugum membangunkan saya jam 4.20 badan saya terasa jauh lebih segar, 30 menit kemudian kami berkemas, shalat subuh dan melanjutkan perjalanan menuju Sabana II jam 5.30.

Pagi hari tim sweeper menuju Sabana II, nampak Pos III / Sabana I dari Tanjakan tempat foto di ambil ( 2/8/2014 )
Camp tim leader di Sabana II ( 2/8/2014 )


Dalam perjalanan menuju Sabana II kami di suguhi pemandangan yang luar biasa indah, di sebelah kanan kami perlahan namun pasti matahari mulai muncul dari ufuk, menyiram tubuh beku dan dingin kami dengan hangat cahayanya. Hari itu kami beruntung sebab bisa menyaksikan sekaligus mengabadikan momen golden sunrise. Siluet Gunung Lawu terlihat sangat eksotis dan indah. 50 menit mendaki tanjakan curam kami pun tiba di Sabana II jam 6.20, bertemu dengan seluruh anggota tim yang lain. Tim di Sabana II membangun 4 tenda dan semua anggota tim sudah terbangun saat tim sweeper tiba.



Pemandangan dari puncak tanjakan panjang sebelum Puncak Merbabu ( 2/8/2014 )



Tak lama setelah tim sweeper tiba, rekan-rekan tim yang camp di Sabana II juga segera berkemas. Disebelah utara terjalnya tanjakan panjang terakhir yang akan membawa kami menuju Puncak Kentheng Songo sudah menanti untuk di daki. Karena alasan terjal itu pula kami menunda untuk sarapan sebab dikhawatirkan akan membuat perut kami tidak nyaman. Jadi kami sepakat untuk masak setelah kami mencapai helipad --- pertigaan antara Puncak Kentheng Songo dan Puncak II. Saat itu masih jam 6.45 saat saya mulai "mengabsen" persediaan air yang masih tim miliki. Dari hasil "absen" itu diketahui bahwa sisa air yang kami miliki tinggal 7 botol volume 1,5 liter. Karena itulah kami terpaksa lebih ketat dalam memanajemen air yang ada agar tetap mencukupi minimal hingga kami bertemu dengan sumber air berikutnya di Pos II Jalur Wekas. Dari 7 botol itu, 3 botol kami alokasikan untuk masak dan sisanya kami bagi masing-masing satu botol untuk lima orang selama lima jam ke depan. Kami menyempatkan diri berfoto-foto sebelum melanjutkan pendakian. Tepat jam 8.30 tim memulai perjuangan akhir menuju Puncak Merbabu. Cuaca cerah dan nyaris tanpa kabut menemani kami sepanjang pendakian, formasi kami tetap terbagi menjadi 3 grup. Di depan di pimpin Ryan dengan anggota Nur, Tejo, Abbu, Alvin, Egi dan Joni, Grup tengah ada Iyan, Adit, Zafran, Yasser, Eca  dan grup sweeper saya, Eko, Gugum, Wahyu, Soni dan Huda. Jalur yang terbuka dan tanpa vegetasi tinggi membuat terik matahari semakin terasa, ketinggian yang terus bertambah sedikit banyak membuat nafas kami semakin berat dan terasa kering di tenggorokan. Kemiringan jalur pendakian pun kembali sangat curam menjelang pertigaan helipad. Tanjakan-tanjakan yang kami lewati tak kurang dari 75 derajat kemiringannya. Alhamdulillah jam 10.10 tim sweeper berhasil menyusul tim leader tiba di Puncak Merbabu, Puncak Kentheng Songo, titik 3142 mdpl. Kabut agak tebal saat kami merayakan keberhasilan kami menggapai puncak kedua dari Ekspedisi Double M ini. Sujud syukur kami panjatkan pada Allah yang telah memberi kami kesempatan untuk bisa mejejakkan kaki-kaki letih kami di salah satu puncak gunung yang indah ini. Masing-masing anggota tim larut dalam euforianya. Bagi sebagian orang mungkin akan merasa enggan bersusah payah mempertaruhkan nyawa untuk bisa sekedar berdiri di titik tertinggi, mencumbui awan dan merasakan belaian kabut yang dingin, namun bagi orang-orang seperti kami lelahnya fisik bukanlah soal, sebab inilah dunia kami, jauh dari hingar bingar kota yang tak lagi ramah. Disini kami hidup dan mendapatkan kehidupan. Disini kami benar-benar menemukan kesejatian persahabatan, dimana kerelaan untuk berbagi kami dapat atas dasar keikhlasan. Kalian tak akan pernah mengerti jalan pikiran kami, jadi biarkan kami tetap melangkahkan kaki untuk meniti puncak-puncak yang lainnya.


Tim KPK Korwil Bogor di Puncak Kentheng Songo Gn. Merbabu 3142 mdpl ( 2/8/2014 )
Iyan, Saya, Gugum, Ryan dan Soni di Puncak Kentheng Songo ( 2/8/2014 )

2 Agustus 2014, jam 10.10 --- 3142 mdpl
Setelah 30 menit kami berfoto-foto dan mengabadikan setiap momen hasil perjuangan berat selama 3 hari terakhir kami pun memulai perjalanan turun menuju basecamp Wekas. Kali ini Zafran yang berperan sebagai leader dengan catatan harus berhenti jika menemukan persimpangan yang membingungkan. Belum genap 20 langkah kami menuruni Puncak Merbabu, kami sudah disuguhi jalur yang sangat terjal dan berbahaya. Diawali dengan turunan dengan kemiringan 50-60 derajat dengan kontur tanah berpasir yang labil dan menyulitkan kaki untuk berpijak kami beriringan rapat. Sesekali beberapa orang dari kami terpeleset dan terseret. 40 meter kemudian jalur berubah menjadi lebih curam, kontur batuan lepas yang diselingi akar dan batang pohon di kemiringan 80 derajat hingga nyaris vertikal harus kami lewati dengan sangat berhati-hati dan perlahan. Anggota tim dengan carrier besar dan tinggi seperti Tejo, saya, Soni, Adit, Gugum dan Iyan harus lebih ekstra hati-hati dan menjaga keseimbangan. Salah melangkah bisa fatal akibatnya. Lepas dari jalur berbahaya itu tidak lantas kami bebas dari bahaya sebab persis di balik tikungan tebing terakhir yang kami turuni sudah menunggu jalur sempit sepanjang 10 meter.

Bergantian meniti Jembatan Setan Merbabu ( 2/8/2014 )

Trek terbuka selepas Jembatan Setan ( 2/8/2014 )

 Tebing vertikal setinggi kurang lebih 15 meter itu hanya menyisakan tempat pijakan selebar 20 centimeter saja. Masih tersisa jarak 2 meter dari pijakan dengan dasar jalur selanjutnya, hanya saja dasar jalur pun masih tetap miring sehingga jika pendaki salah berpijak bisa dipastikan pendaki akan jatuh dengan punggung terlebih dahulu ke arah bebatuan yang menjadi lapisan atas jalur dibawahnya. Inilah trek berbahaya yang di kalangan pendaki populer dengan nama Jembatan Setan Merbabu. Trek tersebut juga menjadi jalur dengan tingkat kesulitan tertinggi terakhir yang akan dilewati pendaki dalam perjalanan turun menuju basecamp Wekas. Alhamdulillah seluruh anggota tim mampu melewati rintangan itu dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun.
Jam menunjukkan pukul 11.45 saat kami tim sweeper tiba di persimpangan Puncak Syarif. Di puncak yang terletak disebelah kanan jalur turun itu terdapat makam yang cukup sering menjadi tujuan para peziarah. Kabut cukup tebal saat kami menyusuri jalur terbuka antara Puncak Syarif dan Puncak Menara, namun kami beruntung sebab kabut itu tidak disertai angin. Dua kali sudah saya mendaki Merbabu, dan dalam kesempatan itu saya selalu dihadang badai angin dan kabut tebal. Baru kali ini saya mendaki Merbabu dalam kondisi cuaca cerah dan nyaris tak berangin. 1,5 jam setelah persimpangan Puncak Syarif tim tiba di persimpangan Puncak Menara. Kurang lebih 30 menit sebelum persimpangan Puncak Menara, saya, Gugum, Soni, Eko, Huda, Alvin, Yasser, Wahyu, Hendro, dan Eca sempat beristirahat cukup lama di puncak punggungan bukit yg terakhir dan sempit. Kondisi Eca drop dan untuk saat itu jalan satu-satunya adalah kami harus memberi asupan makanan agar Eca mendapat tambahan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Selain kelelahan, kami semua memang dalam kondisi sangat lapar. Rencana untuk masak besar di pertigaan helipad berjam-jam yang lalu kami batalkan demi mengejar waktu ke Pos II. Akhirnya saya putuskan agar kami memasak sereal terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan sigap tim mengeluarkan peralatan masak dan 20 menit kemudian masing-masing dari kami bergantian makan satu dua sendok sereal. Selesai me-recovery Eca, saya meminta Huda untuk menyusul tim leader sebab hampir seluruh kebutuhan logistik dan perbekalan ada di carrier Huda. 20 menit setelah Huda turun kami semua pun kembali berjalan turun.
Saya dan Soni menjadi anggota tim yang terakhir tiba di Pos II. Waktu itu sudah jam 15.15, dan hampir seluruh anggota tim sedang sibuk mempersiapkan masak besar.

Tim makan besar di Pos II Jalur Wekas ( 2/8/2014 )

 Di koordinir oleh Iyan, Eca, Tejo dan Gugum tim mengolah bahan makanan yang masih tersisa. Kami berlomba dengan waktu. Yasser memasak air untuk membuat teh dan kopi. Sambil menunggu masakan matang saya dan Gugum shalat Dzuhur dan Ashar.  Alhamdulillah jam 16.35 perut kami semua sudah terisi maksimal dan siap untuk melanjutkan perjalanan malam turun ke basecamp. Setelah mencuci peralatan dan beristirahat sejenak, kami bergegas untuk berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Sebelum turun kami berkumpul, berdoa dan saling bermaafan satu sama lain. Mengingat dalam perjalanan panjang ini pasti sedikit banyak terjadi salah paham dan sikap yang kurang berkenan, terutama saya yang banyak melakukan PHP ke anggota tim yang lain. Matahari sudah hilang dari pandangan, udara pun semakin dingin, tepat jam 17.20 dalam kondisi yang sudah meremang satu per satu anggota tim mulai berjalan turun menuju basecamp.
Perjalanan kami turun relatif lancar dan aman, dengan masih tetap berposisi sebagai sweeper, tim ubur-ubur mencapai Pos I sekitar jam 18.35 dan jam 20.10 kami semua tiba di basecamp Wekas.  Setelah menyerahkan berkas lapor di basecamp kami semua sibuk beristirahat dan membersihkan badan. Karena kemalaman kami terpaksa bermalam di basecamp, menunggu hingga esok hari untuk melanjutkan perjalanan ke kota menuju Terminal Tidar Magelang. Kami menyewa colt bak L300 dengan biaya 10.000 per orang untuk menuju Terminal Tidar. Dan Alhamdulillah setelah 28 jam dalam bus, rombongan tim ekspedisi Double M KPK Korwil Bogor tiba di check point akhir Perempatan Pasar Rebo Jakarta dan berpamitan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
 Terima kasih untuk teman-teman semua, tanpa kerja sama dan solidaritas yang tinggi nyaris tidak mungkin kita bisa selesaikan misi dua puncak ini. Semoga selalu terjaga kebersamaan dan tali silaturrahim di antara kita semua. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk kita kembali bersama-sama mendaki dan bertualang dialam bebas. #Big Huge n Respect.


The Actor : Ryan, Iyan, Tejo, Soni, Eko, Yasser, Eca, Zafran, Nur, Adit, Alvin, Joni, Egi, Abbu,     
                   Hendro, Wawan, Huda, Gugum, Kukuh.


                                    As Long As Mountain Still Exist In The Earth
                                                         Hiker Never Die !!!



Peta Gunung Merbabu Jalur Selo
Bivak darurat tim sweeper di Pos III / Sabana I ( 1/8/2014 )
Trek terbuka selepas Jembatan Setan ( 2/8/2014 )
Bergantian meniti Jembatan Setan Merbabu ( 2/8/2014 )

Rabu, 06 Agustus 2014

Ekspedisi Double M---Bab I : Merapi 2968 mdpl

Gunung Merapi 2968 mdpl di lihat dari Selo ( 31/7/2014 )

Kabut yang turun tiba-tiba di sore cerah itu sontak membatasi jarak pandang mata saya menjadi hanya beberapa meter saja. Lapisan-lapisan lava beku bekas erupsi nampak menjadi satu bayangan gelap seolah batuan yang kokoh. 10 meter di atas, Adit sepertinya terdiam menunggu aba-aba selanjutnya dari saya. Saat itu saya, Abbu dan Adit memang berada di posisi terdekat dengan Puncak Merapi, kurang dari 15 menit lagi kami hampir pasti akan berdiri menjejak titik tertinggi gunung berapi paling aktif di dunia itu. 20-30 menit di bawah kami berjalan berurutan anggota tim yang lain, berjalan rapat, membungkuk kepayahan mengatur langkah kaki yang berat dalam benaman pasir.
Angin menyibak kabut untuk sesaat sehingga walau samar saya bisa melihat posisi seluruh anggota tim. Tak lama saya dengar teriakan Ryan, pemimpin ekspedisi, yang meminta seluruh tim untuk turun kembali ke Camp Pasar Bubrah. Saya mengerti alasan komando itu semata demi keselamatan dan keamanan seluruh anggota tim. Adit dan Abbu masih diam di tempat seperti menunggu apa keputusan saya. Saya tahu, bukan hal yang mudah untuk menepikan ego dan obsesi muncak saat peluang itu sudah benar-benar di depan mata. Saya tahu sebab saya juga pernah mengalami bagamana sedihnya "balik badan" saat puncak tinggal beberapa langkah lagi. Jadi, saya tahu pasti apa yang mereka rasakan saat saya minta mereka untuk mematuhi komando dr leader untuk turun kembali. Saya salut, mereka masih bisa tersenyum untuk menutupi kekecewaannya. Jam 16.50, tanggal 31 Juli 2014, setelah mencoba summit selama 40 menit dari Pasar Bubrah, bersama-sama kami pun melangkah turun di iringi tersibaknya kabut yang seolah mempermudah matahari sore untuk menerangi pandangan mata kami. Tepat jam 17.05 kami dan seluruh anggota tim ekspedisi Double M KPK Korwil Bogor sudah berkumpul kembali di Camp Pasar Bubrah untuk beristirahat.

30 Agustus 2014, jam 11.00.

Saya masih dalam perjalanan menuju terminal bus Baranangsiang Bogor. Di pundak saya tersandang carrier Avtech kesayangan berikut isinya. Sebenarnya, kondisi badan saya sedang tidak fit akibat demam dan flu, tapi demi memenuhi undangan naik bareng dari teman-teman KPK Korwil Bogor saya tetap memaksakan untuk berangkat. Berkoordinasi dengan Ryan---pemimpin ekspedisi--- saya meminta panduan untuk mencapai meeting point, yang disepakati di depan Griya Bukit Jaya Cileungsi. Jam 11.20 saya sudah berganti kendaraan dengan bus kecil tujuan Jonggol. Tak lupa saya berpesan pada kernet agar diturunkan di depan komplek GBJ sesuai instruksi dari Ryan. Siang itu panas luar biasa, saya mandi keringat dibuatnya. Untung saja jalanan relatif lancar dan satu jam kemudian saya sudah tiba di lokasi meeting point kami.
Turun dari bus saya menuju warung kecil untuk membeli air mineral dan beberapa bungkus permen. Sebenarnya saya masih agak bingung harus bertemu siapa, sebab, terus terang, saya baru kali ini bergabung dengan acara Korwil. Walaupun saya cukup intens berkomunikasi via forum tapi saya belum pernah komunikasi face to face dengan satupun anggotanya. Saat saya masih agak kebingungan, di depan warung yang saya tuju itu ada beberapa orang dengan setelan pendaki, dengan Pede saya menghampiri untuk berkenalan. Hendro, lelaki usia 20-24 tahun, tinggi besar dan berambut ikal adalah orang pertama yang saya kenal dari anggota tim yang lain. Lalu berturut-turut, Yasser, Soni, Ryan, Zafran, Abu, Tejo, Nur, Eca, Wahyu, Gugum, Wawan, Joni, Alvin, Egi, Iyan dan Adit. Tentu saja tidak semudah dan secepat itu bagi saya menghafal nama-nama mereka, apalagi dalam satu momen saja. Butuh beberapa kali saya bertanya ulang dan menghafal.
Menurut jadwal bus yang kami tumpangi akan berangkat jam 13.00. Sebelum berangkat, kami mengisi perut dan membeli beberapa keperluan untuk di perjalanan.
Di dalam bus saya duduk bersebelahan dengan Egi yang rupanya menjadi anggota tim termuda. Penampilannya biasa, rambut curly dan minim pengalaman mendaki. Masih duduk di kelas III di salah satu SMU di Jakarta. Tak banyak hal yang bisa kami bicarakan sebab Egi lebih banyak tidur selama perjalanan. Jalanan yang lengang ---mungkin pengaruh arus mudik yang telah selesai --- membuat perjalanan kami relatif cepat. Hanya sayang, kondisi bus yang kurang terawat membuat penumpang, khususnya saya tidak nyaman. Bocornya air AC membuat pakaian dan tempat duduk saya basah, beruntung Nur dan Zafran sigap "ngakalin" bocoran itu hingga saya bisa lebih tenang. Namun, saya mulai merasa aneh, tiba-tiba saja timbul gejala alergi yang entah di picu oleh apa. Awalnya saya tidak terlalu peduli, termasuk saat bus masuk rest area pertama di daerah Indramayu sekitar jam 17.15. Tepatnya di Rumah Makan Sinar Minang yang menyajikan masakan Padang. Ternyata bukan hanya cita rasanya yang Padang, melainkan juga porsinya "Padang Banget"...alias dikit...hehe...(no heart feeling ya...it just joke). Nasi, satu sendok sambal hijau, sedikit sayur kol dan satu potong kecil ayam balado yang alot banget jadi pengisi perut saya sore itu. Ga butuh waktu lama bagi tim untuk menghabiskan jatah makan dari pihak bus, secara kami semua memang hobi makan.
Kurang lebih jam 18.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Dan penderitaan saya yang sesungguhnya pun di mulai. Alergi saya semakin parah, dari awal hanya di sekitar lengan dengan cepat menyebar ke badan dan kaki. Siluet pantai Eretan di sebelah kiri jalan pun tak lagi saya hiraukan. Nyaris sepanjang perjalanan menuju Boyolali saya tidak tidur, sibuk dengan rasa gatal yang mendera.
Laju bus sempat tertahan macet saat memasuki kota Pemalang jam 21.40 akibat putusnya jembatan Kali Comal. 1,5 jam waktu yang diperlukan bus untuk bisa keluar dari antrian kemacetan. Waktu terasa begitu lambat berjalan bagi saya karena serangan alergi yang sangat menyiksa. Bahkan saat bus memasuki rest area kedua di daerah Kendal jam 00.30 saya sudah tidak lagi antusias untuk sekedar turun melepas penat. Tapi berhubung rekan-rekan yang lain turun, saya pun ikut turun. Saya pikir kami dapat jatah makan lagi di Rumah Makan Kota Sari ini, ternyata tidak. Jika ingin makan maka kami harus keluar biaya sendiri. Dan akhirnya tim kami menjadi penonton orang-orang yang makan...(#kasian banget).
Beruntung bus hanya istirahat 30 menit disini, jadi kami ga perlu berlama-lama menonton orang makan. Karena gatal ygan saya rasakan sudah tak tertahan di tambah ga ada obat untuk meredakan akhirnya saya meminta sebutir antimo pada salah seorang rekan. Tak lama efeknya mulai terasa, mata saya menjadi ngantuk berat, entah jam berapa saya tertidur yang jelas teriakan kernet membangunkan saya dan anggota tim yang lain untuk segera bergegas dan bersiap turun sebab bus sudah memasuki Terminal Boyolali. Saya lihat jam di tangan, tertera 03.20.

Tim tiba di Terminal Boyolali setelah perjalanan panjang dari Bogor, awal dari pendakian  ( 31/7/2014 )


Boyolali merupakan salah satu kota transit utama bagi para pendaki yang akan naik ke Merapi ataupun Merbabu. Terletak di sebelah timur Merapi, di antara Salatiga disebelah utara, Yogya di selatan dan Solo di sebelah timur. Dari terminal bus Boyolali, jam 5.20 tim melanjutkan perjalanan menuju Base Camp Selo dengan menumpang Colt bak L300. Kami iuran Rp.10.000 per orang untuk ongkosnya. Dinginnya udara khas pegunungan langsung menyergap tubuh kami, membuat kami semua meringkuk berdesakan di bagian tengah mobil. Jalanan sepi saat kami melintas. Lewat area kota jalanan semakin menanjak dengan pemandangan perkebunan  tembakau di kanan kiri jalan.


Saya dan Abbu di Pasar Cepogo, Selo, dg tumpukan carrier di mobil angkutan ( 31/7/2014 )


Tim kami singgah sebentar di Pasar Cepogo untuk berbelanja keperluan-keperluan akhir untuk perbekalan nanti. Seperti biasa Iyan, Ryan, Zafran yang mengurus urusan belanja. Anggota tim yang lain sibuk berfoto-foto dan melihat-lihat suasana pasar pagi itu. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya jam 6.55 tim tiba juga di Base Camp Selo, di rumah Pak Samsuri. Ryan segera mengurus biaya pendaftaran sebesar Rp.5.000/orang. Untuk efisiensi waktu kami memesan makan di Base Camp.

Sarapan pagi di Base Camp Merapi sebelum pendakian ( 31/7/2014 )


Dengan sepuluh ribu rupiah kami bisa makan seporsi nasi putih dengan lauk telor ceplok dan sayur. Di Base Camp ini juga bergabung lagi 2 orang anggota KPK, Eko dan Huda. Keduanya saya taksir masih berusia 20-an. Eko berkulit gelap, dengan perawakan sedang dan wajah khas orang jawa, bersama Soni akhirnya menjadi teman saya di posisi sweeper selama pendakian ini---awal mula terbentuknya trio ubur-ubur...hehe---, sedangkan Huda berkulit putih, kurus dan sepintas seperti orang keturunan, serta sering kali melakukan hal yg kurang tepat dlm pendakian, kalo kata Joni istilahnya "bocor halus tp merata"...hihihi. Selain mereka berdua, bergabung juga 4 rekan dr UNY sehingga jumlah tim kami sekarang totalnya 25 orang. Tepat jam 8.40, setelah berdoa dan briefing singkat, tim memulai perjalanan pendakian. 80% barang-barang kami tinggalkan di Base Camp, ya, kami tinggalkan sebab rencananya kami hanya akan naik dan langsung turun ---istilahnya "tektok"--- jadi kami hanya membawa perbekalan dan logistik secukupnya saja.



Tim berfoto sejenak di Pos New Selo dg background Gn. Merbabu ( 31/7/2014 )

15 menit lepas dari Base Camp tim tiba di pos New Selo. Kami pun menyempatkan berfoto-foto. Gunung Merbabu nampak utuh dan gagah terlihat. New Selo ini belum terlalu lama di bangun, desain dan peruntukannya menyerupai pelataran di rest area At-Ta'awun di Puncak Bogor. Malam hari akan sangat indah jika di nikmati dr sini, terlebih saat cuaca cerah. Jalur pendakian terletak di ujung sebelah kiri pos.
Puas berfoto-foto, tim kembali melanjutkan pendakian. Jalan setapak selebar 1,2 meter yg berlapis paving blok dengan balutan semen menjadi menu awal kami dalam pendakian. Sesekali kami harus mengalah dan menepi saat berpapasan dengan penduduk lokal yang mengangkut pakan ternak karena bawaan mereka menghabiskan badan jalan. 400-500 meter kemudian jalur pendakian berubah menjadi tanah berundak dan menyempit hingga 80 centimeter. 30 menit berjalan kami mencapai titik 800 mdpl. Vegetasi di dominasi rumput ilalang dan pohon-pohon kecil dan sedang.
Formasi mendaki tim pun masih berubah-ubah, suatu hal yang lumrah sebab masing-masing masih menyesuaikan tubuh dengan kondisi alam untuk mendapatkan pola jalan yang nyaman. Hanya saya yang sejak awal memposisikan diri sebagai sweeper a.k.a penyapu jalan. Ya, sejak saya tahu mayoritas anggota tim ini belum pernah mendaki Merapi saya berinisiatif untuk meng-cover di belakang, antisipasi ada anggota tim yang tertinggal. Ini memang bukan pendakian Merapi yang pertama untuk saya, jadi sedikit banyak saya sudah mengetahui dan hafal kondisi alam dan jalur menuju ke puncaknya.

Rest Area pertama dalam pendakian Merapi jalur Selo ( 31/7/2014 )


Casio analog saya menunjukkan jam 10.05 saat tim tiba di rest area pertama. Terdapat sebuah gerbang selamat datang dan sebuah gasebu berukuran 3x4 meter di sebelah kanan. Area ini cukup luas namun tidak ideal untuk camp, selain jarang vegetasi tinggi, kemiringannya juga terlalu curam. Rest area ini terletak di ketinggian 2072 mdpl. Masuk wilayah blok Lencoh, desa Lencoh, kec. Selo, kab.Boyolali. Kami hanya istirahat sebentar sambil berfoto-foto sebelum melanjutkan pendakian. Jalur berikutnya menjadi lebih sempit dan semakin curam. Dengan tetap menapak tanah berundak yang di selingi akar-akar kami terus berjalan beriringan cukup rapat. Gugum sang fotografer yang pendiam tidak pernah luput mengambil setiap momen pendakian kami.


Tim melepas lelah di batas vegetasi sebelum menuju Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )

Kabut mulai turun saat kami tiba di pos I jam 11.05. Udara menjadi semakin dingin, membuat kami tidak bisa berlama-lama diam. Berdiam diri di bawah udara dingin hanya akan menguras energi dan kehilangan panas tubuh dengan cepat.
Trek selepas pos I semakin bertambah curam dan ekstrim, vegetasi semakin terbuka sehingga angin dingin berkabut dengan mudahnya menerpa tubuh kami. Perpaduan batuan lepas dan solid serta sedikit rerumputan menjadi pijakan kami berikutnya. Jalur menjadi semakin sempit. Tim pun semakin sering break untuk sekedar menarik nafas dan membasahi tenggorokan. Diperlukan manajemen air yang baik dalam mendaki Merapi sebab tidak akan ditemui satupun sumber air selama pendakian.
Saat tim tiba di alun-alun Pasar Bubrah jam 13.05 matahari sedang terik-teriknya, seakan hendak membakar tubuh kami. Membiarkan diri diam di bawah sengatan matahari seperti ini selain bisa membakar kulit juga membuat tubuh banyak kehilangan cairan alias dehidrasi. Akhirnya Ryan dengan di bantu anggota tim yang lain membangun bivak darurat dengan flysheet untuk kami berteduh di pinggir bebatuan besar.


Bivak darurat tim di Pasar Bubrah di siang yg menyengat ( 31/7/2014 )

Panas dan letih, kami berlindung di bawah bivak darurat di tepi bebatuan Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )

Jalur menuju Puncak Limas Merapi di lihat dari Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )

Lautan awan siang menjelang sore di Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )
Pasar Bubrah ini adalah sebuah alun-alun yang sangat luas, nyaris tanpa vegetasi, hanya terdiri dari batuan dan pasir. Dari sini puncak Merapi yang tinggal 1 jam lagi terlihat sangat jelas. Bentuk puncaknya seperti limas dan oleh karena itu sejak beberapa tahun terakhir Puncak Merapi lebih familiar dengan sebutan Puncak Limas---sewaktu saya datang belasan tahun lalu nama Puncak Merapi masih bernama Puncak Garuda, disebut demikian karena terdapat dua buah batu besar yg menyerupai sayap di puncaknya. Puncak Garuda hilang bersama erupsi tahun 2007.  Di Pasar Bubrah ini jg terdapat beberapa memorial monumen pendaki-pendaki yang tewas. Tim menyempatkan diri untuk berdoa kepada para almarhum. 
Berada dalam cuaca panas terik seperti ini bisa membuat kepala terserang migrain sebab perbedaan suhu dan tekanan udara luar sangat mempengaruhi tekanan osmosis tubuh. Panas terik yang teredam oleh dingin kering menyebabkan pendaki sering tidak sadar sedang dalam keadaan terbakar matahari. Sebaiknya tubuh tetap menggunakan jaket agar penguapan berkurang, gerah memang, tapi tetap lebih baik dan men-stabilkan kondisi tubuh jika di bandingkan dengan tidak memakai jaket.
Setelah bivak berdiri, Iyan, Eca, Yasser mengeluarkan peralatan dan mulai memasak untuk kami makan siang. Nasi lontong dan mie rebus jadi pengisi perut kami siang menjelang sore itu. Bergantian kami makan, dan akibat terbatasnya alat masak dan alat makan membuat kami banyak membuang waktu di Pasar Bubrah. Tiga jam tim habiskan untuk menyelesaikan kegiatan masak dan makan. Akibatnya tim baru mulai summit jam 16.05. Terlalu sore dan beresiko sebenarnya. Walau tim sempat mencoba summit namun pada akhirnya harus kami akui kondisi tim secara keseluruhan tidak memungkinkan untuk mencapai Puncak Limas Merapi. Kelelahan fisik dan kurang matangnya perencanaan serta manajemen waktu dan logistik membuat kami semua harus tunduk, turun kembali menuju Pasar Bubrah. Ini menjadi pelajaran berharga untuk kami semua agar lebih mempersiapkan diri dengan detail dalam segala hal. Setelah tiba di bivak darurat tim segera packing dan bersiap turun. Saat itu jam 17.00, matahari mulai bersembunyi di balik awan, hari mulai gelap. Tim membuat beberapa foto dan dokumentasi sebelum turun kembali ke Base Camp. Tak lupa kami bersiap untuk perjalanan malam, terutama alat-alat penerangan. Hari ini kami belajar bahwa sehebat apapun manusia bersiap dengan kecanggihan alat-alatnya tetap saja penentu akhir adalah gunung itu sendiri. Gununglah yg memberikan "ijin" apakah kita boleh menjejak puncaknya atau tidak. Tepat jam 17.30 tim mulai berjalan turun kembali menuju Base Camp Selo.

Bersama-sama turun menuju Pasar Bubrah (31/7/2014 )


Tim KPK Korwil Bogor di Pasar Bubrah Merapi sebelum turun ( 31/7/2014 )


Alhamdulillah jam 21.00 seluruh anggota tim tiba dengan selamat di BaseCamp untuk makan dan beristirahat sebelum melanjutkan pendakian ke Gunung Merbabu esok hari.


Bersambung....Pendakian panjang trek Selo menuju Puncak Merbabu

All Photo by : Gumilar Hadi n Kukuh
Peta Merapi Jalur Selo
 Salah satu Memorial monumen di Pasar Bubrah

Sabtu, 19 Juli 2014

Into Thin Air --- Bab V

LOBUJE --- 8 APRIL 1996 --- 16.200 KAKI


Setelah melewati sederetan puncak es yg menjulang tinggi bernama Phantom Alley, kami tiba didasar lembah yg berbatu-batu didasar sebuah ampiteater alam yg sangat besar....Di tempat ini (Jeram Es itu) membelok tajam ke arah selatan sebagai Gletser Khumbu. Kami mendirikan Base Camp pada ketinggian 17.800 kaki, diatas sebuah morena sisi (tumpukan batu yg terbawa aliran gletser dan mengendap di sisi aliran) yg merupakan tepi luar dari pembelokan tersebut. Batu-batu besar mengesankan bahwa tempat itu kukuh, tetapi puing-puing yg goyah dibawah kaki kami mengubah kesan yg salah tersebut. Yg bisa dilihat, dirasakan dan didengar---dari Jeram Es, morena, longsoran salju, dan udara dingin ditempat ini---hanyalah sebuah dunia yg tidak diciptakan untuk dihuni oleh manusia. Tidak ada air yg mengalir, tidak ada sesuatu yg tumbuh---hanya kehancuran dan kerusakan....Inilah rumah kami untuk beberapa bulan ke depan, sampai gunung ini berhasil didaki.

Thomas F. Hornbein
Everest: The West Ridge

Pada 8 April, sesaat setelah hari mulai gelap, radio yg dipegang Andy diluar penginapan di Lobuje tiba-tiba berbunyi. Rob menelepon dari Base Camp dan memberitakan kabar gembira. Meskipun harus mengerahkan tiga puluh lima orang Sherpa dari beberapa tim ekspedisi, akhirnya mereka berhasil menyelamatkan Tenzing. Dengan mengikat tubuhnya pada sebuah tangga alumunium, Tenzing berhasil diturunkan, diangkut dan dibawa melewati Jeram Es, dan saat ini dia sedang beristirahat di Base Camp. Jika cuaca memungkinkan, setelah matahari terbit dia akan diterbangkan menggunakan helikopter ke sebuah rumah sakit di Kathmandu. Dengan suara lega, Rob mengabarkan bahwa keesokan harinya kami boleh meninggalkan Lobuje menuju Base Camp.
       Semua klien Rob ikut gembira karena Tenzing selamat. Kami juga gembira bisa meninggalkan Lobuje. John dan Lou terserang semacam virus yg menyebabkan penyakit perut akibat lingkungan yg kotor. Helen, manajer Base Camp kami, terus tersiksa oleh sakit kepala akibat ketinggian. Dan batuk yg menyerangku bertambah parah setelah dua hari bermalam di penginapan yg penuh asap.
      Karena itu, untuk malam ketiga, aku memutuskan untuk menghindari gangguan asap yg menyesakkan tersebut dan menempati  tenda yg ditinggalkan Mike dan Rob diluar penginapan sebelum mereka menuju Base Camp. Andy menawarkan diri untuk menemaniku. Sekira pukul 02.00 tengah malam, aku terbangun karena Andy tiba-tiba terduduk dan mulai mengerang . "Hoi, Harold," aku bertanya-tanya dari kantong tidurku, "kamu tidak apa-apa, kan?"
       "Aku tidak yakin. Sesuatu yg kumakan tadi malam membuat perutku sakit." Beberapa saat kemudian Andy berjuang keras membuka risleting tenda dan langsung muntah saat kepala dan sebagian tubuhnya berhasil keluar dari pintu tenda. Setelah muntahnya berhenti, untuk beberapa saat dia meringkuk tanpa bergerak, kedua lengannya memeluk lutut dan sebagian badannya masih berada diluar tenda. Tiba-tiba saja dia berdiri tegak, kemudian lari terbirit-birit beberapa meter, menurunkan celananya, kemudian buang air. Malam itu, Andy harus terpapar udara dingin untuk mengosongkan seluruh isi perutnya yg terserang diare.
        Pagi harinya Andy tampak lemah, mengalami dehidrasi dan menggigil dengan hebatnya. Helen menyarankan pada Andy untuk tetap tinggal di Lobuje sampai kekuatannya pulih, tetapi Andy menolak "Aku tidak mau tinggal lebih lama dikakus besar ini,"katanya sambil meringis, dengan kepala tetap terimpit diantara kedua lututnya. "Aku akan ikut kalian ke Base Camp. Meskipun untuk itu aku harus merangkak."
        Sekira pukul 09.00 pagi kami selesai mengepak dan memulai perjalanan kami. Ketika semua anggota tim berjalan dengan langkah cepat menyusuri jalan tanah, Helen dan aku berjalan perlahan-lahan menemani Andy yg harus mengeluarkan seluruh tenaga hanya untuk menggerakkan kakinya selangkah demi selangkah. Beberapa kali dia berhenti, bertopang sebentar pada tongkat-tongkat ski yg dibawanya untuk mengumpulkan tenaga dan bergerak lagi.
        Selama beberapa mil, kami berjalan naik kemudian turun  melewati batuan lepas dari morena sisi Gletser Khumbu, kemudian turun ke dalam gletser itu sendiri. Batu arang, kerikil kasar dan bongkahan besar batu granit menutupi hampir seluruh badan gletser---sebuah permukaan yg transparan dan beku, mengilat seperti batu akik yg dipoles. Es yg mencair meluncur cepat masuk ke dalam kanal-kanal permukaan dan bawah permukaan yg jumlahnya tak terhitung, menimbulkan bunyi gemuruh yg harmonis tapi menakutkan yg bergema di seluruh badan gletser.
      Lewat tengah hari,kami tiba pada sederetan puncak es yg tampak ganjil, puncak yg terbesar tingginya hampir 100 kaki, tempat yg dinamai Phantom Alley. Dipahat oleh sinar matahari yg memancar dengan terik, deretan menara-menara tinggi itu memancarkan sinar radioaktif berwarna hijau toska, berjejer sejauh mata memandang, seperti gigi-gigi ikan hiu yg mencuat dari tengah bahan rombakan yg mengelilinginya. Helen---yg sudah pernah melewati tempat ini beberapa kali---mengumumkan bahwa kami sudah hampir tiba ditempat yg kami tuju.
      Beberapa mil didepan, gletser itu membelok tajam ke arah timur, dengan susah payah kami berjalan diatas lereng yg panjang, sebelum kemudian kami tiba didepan sebuah tempat yg dipenuhi kubah-kubah nilon warna-warni. Lebih dari tiga ratus tenda , rumah dari ratusan pendaki dan warga Sherpa dari empat belas tim ekspedisi, berdiri diatas bongkahan-bongkahan batu besar yg tertutup es. Dibutuhkan dua puluh menit sebelum kami berhasil menemukan perkemahan tim kami ditengah ratusan kemah tersebut. Saat kami sedang berjalan melewati tanjakan terakhir, Rob turun untuk menyambut kami. "Selamat datang di Base Camp Everest," katanya sambil tersenyum lebar. Altimeter pada arlojiku menunjukkan ketinggian 17.600 kaki.

Perkampungan sementara yg akan menjadi rumah kami selama enam minggu kedepan tersebut berada di puncak sebuah ampiteater alam yg dikelilingi oleh dinding-dinding gunung yg tampak menakutkan. Dilereng-lereng gunung diatas perkemahan kami tampak gletser-gletser yg menggantung, dari tempat itu longsoran es meluncur cepat setiap saat, siang dan malam. Seperempat mil ke arah timur, diantara Dinding Nuptse dan Lereng Barat Everest, Jeram Es Khumbu muncul menerobos sebuah celah sempit mengalirkan pecahan-pecahan es yg tampak seperti porselen yg membeku. Ampiteater alam itu membuka ke arah tenggara sehingga tempat itu hangat karena sinar matahari; sore hari, jika udara baik dan tidak berangin, kami bisa duduk nyaman dengan hanya mengenakan T-shirt. Namu begitu matahari bersembunyi dibalik kerucut Puncak Pumori---puncak dengan ketinggian 23.507 kaki yg terletak disebelah barat Base Camp---temperatur bisa turun drastis sampai beberapa belas derajat. Saat aku memasuki tenda untuk beristirahat malam itu, senandung keriutan dan letupan bak perkusi berirama mengiringiku, mengingatkan bahwa aku sedang berbaring diatas sebuah sungai es yg mengalir.
       Kontras dengan lingkungan sekelilingnya yg keras, berdiri tenda-tenda yg nyaman dari tim ekspedisi Adventure Consultants, rumah bagi empat belas pendaki Barat---para Sherpa memanggil kami dengan "anggota tim" atau "sahib"---dan empat belas pekerja suku Sherpa. Tenda utama kami terbuat dari kanvas, sebuah tenda yg sangat besar dilengkapi dengan sebuah meja batu yg besar, stereo set, perpustakaan dan lampu listrik bertenaga surya; disampingnya berdiri tenda komunikasi yg lebih kecil, tempat meletakkan telepon satelit dan mesin faksimile. Kami mandi dibawah pancuran yg terbuat dari selang karet dan seember air hangat yg disiapkan oleh pegawai dapur. Roti dan buah-buahan segar dikirimkan beberapa hari sekali dengan menggunakan yak. Melanjutkan tradisi era Raj yg sudah dimulai sejak ekspedisi pertama, setiap pagi Chongba, ditemani seorang pembantu juru masak bernama Tendi, akan mendatangi satu per satu tenda kami untuk membawakan segelas teh Sherpa yg panas untuk kami nikmati sambil tetap bergelung didalam kantong tidur.
      Aku sering mendengar cerita-cerita tentang Everest yg sudah berubah menjadi tumpukan sampah karena meningkatnya jumlah pendaki, bahwa tim-tim ekspedisi komersial merupakan penyebab utama dari rusaknya lingkungan disana. Meskipun pada dekade 1970 dan 1980 Base Camp memang dipenuhi tumpukan sampah, akhir-akhir ini tempat tersebut dapat dikatakan cukup bersih---lebih bersih dari permukiman lain yg kulihat setelah meninggalkan Namche Bazaar. Bahkan tim-tim ekspedisi komersial ikut berperan dalam menciptakan lingkungan yg lebih bersih.
      Para pemandu yg setiap tahun kembali ke Everest dengan membawa sejumlah pelanggan justru memiliki rasa tanggung jawab yg lebih besar dibanding dengan pendaki yg datang sekali-sekali saja. Sebagai bagian dari ekspedisi 1990, Rob Hall dan Gary Ball memimpin upaya pembuangan lima ton sampah dari Base Camp. Selain itu, Hall dan beberapa rekannya sesama pemandu bekerja sama dengan kementrian di Kathmandu untuk merumuskan kebijakan yg mendorong para pendaki untuk ikut menjaga agar gunung itu tetap bersih. Pada 1996, selain harus membayar biaya perijinan, setiap tim ekspedisi Everest diharuskan membayar uang jaminan sebesar 4.000 dollar, uang tersebut akan dikembalikan jika tim terkait berhasil membawa turun sejumlah sampah yg beratnya sudah ditentukan ke Namche dan Kathmandu. Tong-tong besar yg menampung kotoran manusia ditoilet-toilet kami di perkemahan itupun termasuk sampah yg harus dipindahkan dan dibuang.
       Kesibukan di Base Camp menyerupai kesibukan disebuah sarang semut. Ditempat itu, perkemahan milik Adventure Consultants bertindak sebagai pemerintah, karena tidak ada orang lain digunung itu yg lebih dihormati selain Hall. Untuk mengatasi setiap permasalahan---perselisihan dengan kuli Sherpa, masalah medis, keputusan penting menyangkut strategi pendakian---orang-orang akan datang keperkemahan kami untuk meminta saran dari Hall. Dengan lapang dada, Hall akan memberikan saran kepada para pesaingnya, dan salah satu pesaingnya yg terpenting adalah Scott Fischer.
      Fischer pernah sukses memandu sejumlah klien mencapai sebuah gunung 8.000 meter*, yaitu Broad Peak yg memiliki ketinggian 26.400 kaki dan terletak di wilayah Pegunungan Karakoram Pakistan. Dia juga sudah empat kali mendaki Everest dan berhasil menaklukkannya pada 1994, tetapi bukan dalam peran sebagai pemandu. Musim semi 1996 merupakan awal kariernya sebagai pemimpin ekspedisi komersial; seperti Hall, tim ekspedisi Fischer sama-sama membawa delapan klien. Perkemahan mereka ditandai oleh spanduk promosi dari Starbucks Coffee yg digantungkan dari sebuah batu granit sebesar rumah, berjarak kurang lebih lima menit berjalan kaki ke arah gletser dari perkemahan kami.
      Pria dan wanita yg memiliki karier sebagai pemandu puncak gunung tergabung dalam sebuah klub kecil yg indipenden. Dalam bisnis, Fischer dan Hall memang merupakan pesaing, tetapi sebagai dua tokoh penting didunia pendaki gunung, mereka sering bertemu, dan pada tingkatan tertentu keduanya menganggap diri mereka sebagai teman baik. Fischer dan Hall bertemu untuk pertama kalinya di Pegunungan Pamir Rusia dan setelah itu mereka sering menghabiskan waktu bersama, yaitu selama ekspedisi Everest pada 1989 dan 1994. Mereka sepakat dan sudah menyusun rencana untuk bersama-sama menaklukkan Puncak Manaslu---sebuah gunung yg terletak ditengah-tengah wilayah Nepal dengan ketinggian 26.781 kaki---setelah ekspedisi untuk memandu klien mereka pada 1996 ini berakhir.
       Hubungan Fischer dan Hall semakin akrab sejak 1992, ketika keduanya bertemu di Puncak K2, gunung kedua tertinggi didunia. Saat itu, Hall sedang mendaki bersama teman dan rekan bisnisnya, Gary Ball, sementara Fischer sedang memandu seorang pendaki ternama dari Amerika bernama Ed Viesturs. Dalam perjalanan menuruni gunung setelah mencapai puncak, dibawah terjangan badai, Fischer, Viesturs dan rekan ketiga mereka yg juga warga Amerika, Charlie Mace, bertemu dengan Hall yg sedang berusaha menyadarkan rekannya Gary Ball, yg tidak mampu bergerak sendiri karena terserang penyakit ketinggian yg mematikan. Ditengah badai salju, Fischer, Viesturs dan Mace membantu membawa Ball menuruni lereng bawah gunung yg tersapu longsoran salju, menyelamatkan hidupnya. (Setahun kemudian Ball tewas karena penyakit yg sama dilereng Dhaulagiri).
      Fischer, empat puluh tahun, bertubuh kukuh dan pandai bergaul, menampakkan kesan yg energik. Rambut pirangnya yg panjang diikat ke belakang membentuk ekor kuda. Saat usianya baru empat belas tahun dan masih duduk dibangku sekolah, secara kebetulan dia melihat sebuah program televisi tentang mendaki gunung yg membuatnya terkagum-kagum. Musim panas berikutnya, dia berangkat ke Wyoming dan mendaftarkan diri untuk mengikuti kursus pecinta alam yg dikelola oleh National Outdoor Leadership School (NOLS). Selepas SMU, Fischer pindah secara permanen ke wilayah Barat Amerika, bekerja untuk NOLS sebagai instruktur musiman. Sejak saat itu mendaki gunung menjadi pusat kehidupannya, dan dia tidak pernah lagi menoleh ke belakang.
       Saat usianya delapan belas tahun dan bekerja untuk NOLS, dia jatuh cinta kepada salah seorang murid didalam kursusnya yg bernama Jean Price. Mereka menikah tujuh tahun kemudian, menetap di Seattle dan memiliki dua orang anak, Andy dan Katie Rose (masing-masing berusia sembilan dan lima tahun ketika Scott berangkat ke Everest pada 1996). Price memperoleh ijasah sebagai pilot komersial dan menjadi salah seorang pilot Alaska Airlines---sebuah karier bergengsi dan bergaji tinggi, yg memungkinkan Fischer menekuni karier sebagai pendaki penuh waktu. Berkat penghasilan istrinya, Fischer mampu meluncurkan perusahaannya, Mountain Madness pada 1984.
       Jika nama perusahaan milik Hall, Adventure Consultants, mencerminkan pendekatan Hall yg metodis dan cermat dalam mendaki gunung, Mountain Madness mampu dengan lebih baik mencerminkan model kepribadian Scott Fischer. Diawal usia dua puluhan,Scott Fischer sudah memiliki reputasi sebagai pendaki yg berani dan nekat. Sepanjang karier pendakiannya, beberapa kali Fischer lolos dari kecelakaan yg semestinya sudah menewaskannya.
       Paling sedikit dua kali ---masing-masing di Wyoming dan di Yosemite---Scott pernah jatuh dari ketinggian lebih dari 80 kaki saat sedang mendaki gunung. Di Wind River, ketika di bekerja untuk NOLS sebagai instruktur junior dalam sebuah kursus, Fischer yg mendaki tanpa tali terjatuh dari ketinggian 70 kaki ke dasar celah gletser Dinwoody. Namun kecelakaan paling buruk barangkali terjadi saat dia masih seorang pendatang baru dalam dunia mendaki gunung es; meskipun belum berpengalaman, Fischer memutuskan untuk melakukan petualangan pertamanya, mendaki sebuah jeram es yg berbahaya bernama Bridal Veil yg terletak di Ngarai Provo, Utah. Ketika dia sedang berlomba dengan dua pendaki lain, Fischer kehilangan pijakan pada ketinggian 100 kaki, dan jatuh meluncur ke bawah.
      Orang-orang yg menyaksikan  kejadian tersebut dibuat tercengang karena Fischer langsung berdiri dan berjalan tanpa luka yg berarti. Namun ketika tubuhnya sedang meluncur ke bawah, sebuah beliung kecil untuk mencongkel es menembus salah satu sisi betisnya. Ketika beliung itu dikeluarkan, sebagian jaringan tubuhnya ikut terangkat,meninggalkan sebuah lubang sebesar pensil pada kakinya. Setelah keluar dari ruang gawat darurat rumah sakit setempat, Fischer tidak mau menyia-nyiakan sisa uangnya untuk perawatan lanjutan, dan selama enam bulan berikutnya dia tetap mendaki dengan luka yg masih terbuka dan bernanah. Lima belas tahun kemudian, dengan bangga dia menunjukkan kepadaku bekas luka permanen yg diakibatkan oleh kecelakaan tersebut; sepasang bulatan sebesar uang logam yg mengapit tumitnya.
       "Scott sering memaksakan diri melebihi batas-batas kekuatan fisiknya," kenang Don Peterson, seorang pendaki ternama dari Amerika yg bertemu Fischer sesaat setelah dia terjatuh dari Jeram Bridal Veil. Peterson menjadi semacam mentor bagi Fischer, dan selama dua dekade keduanya sering mendaki bersama-sama. "Dia memiliki tekad baja. Betapapun rasa sakit yg dia rasakan---dia akan mengabaikannya dan terus mendaki. Dia bukan pria yg mundur hanya karena kakinya sakit." 
       "Scott berambisi untuk menjadi pendaki besar, salah satu yg terbaik didunia. Aku ingat, dikantor pusat NOLS ada semacam ruang untuk latihan fisik. Scott kerap masuk kedalam ruangan tersebut dan berlatih keras sampai muntah-muntah. Dan itu dilakukannya secara rutin. Tidak banyak orang yg mempunyai tekad baja seperti itu."
       Orang-orang tertarik oleh energi dan kebaikan hati Fischer, oleh sifatnya yg sangat terbuka dan oleh semangatnya yg hampir-hampir kekanak-kanakan. Polos, emosional dan enggan mengintrospeksi diri, dan sifatnya yg sangat terbuka dan menarik membuatnya mudah mendapat sahabat, persahabatan yg terus bertahan sepanjang hidup: ratusan orang---termasuk mereka yg baru dijumpainya sekali atau dua kali saja---sering menganggap Fischer sebagai teman akrab. Selain itu, Scott juga dikaruniai wajah tampan seorang bintang film dan tubuh seorang binaragawan. Sebagian orang yg tertarik kepadanya adalah kaum hawa dan Scott benar-benar menyadari daya tariknya.
      Pria dengan nafsu makan besar ini kerap mengisap kanabis (meskipun dia tidak melakukannya saat bekerja) dan sering minum-minuman keras, melebihi batas yg baik untuk kesehatannya. Sebuah ruang dibagian belakang Mountain Madness berfungsi sebagai klub rahasia Scott: setelah menidurkan anak-anaknya, dia kerap mengundang  teman-temannya untuk merokok dan menonton slides tentang keberanian mereka saat mendaki gunung.
       Selama dekade 1980, Fsicher melakukan sejumlah pendakian spektakuler yg melejitkan namanya dikalangan para pendaki lokal, tetapi para bintang pendaki dunia masih belum mengakuinya. Betapapun keras usahanya, Fsicher belum mampu menarik spomsor dari perusahaan komersial seperti yg dinikmati rekan-rekan seprofesinya; dia cemas bahwa para pendaki kenamaan tidak menghormatinya.
      "Pengakuan merupakan hal penting bagi Scott," kata Jane Bromet manajer humas sekaligus teman kepercayaannya, yg sekali-sekali menjadi mitra Scott dalam pelatihan. Beberapa kali Jane ikut dalam ekspedisi Mountain Madness ke Base Camp untuk mengirimkan laporan melalui internet ke situs Outside Online. "Scott sangat mendambakan pengakuan. Dia memiliki sisi lemah yg tidak tampak oleh kebanyakan orang; dia benar-benar resah karena dia tidak dihormati secara luas sebagai pendaki yg berani. Dia merasa diremehkan dan itu menyakitkan."
       Ketika Fischer berangkat menuju Nepal pada musim semi 1996,dia bertekad untuk memperoleh pengakuan yg menurutnya layak dia dapatkan.Sebagian pengakuan tersebut sudah diperolehnya saat dia menaklukkan Everest pada 1994 tanpa bantuan oksigen. Melalui program Sagarmatha Environmental Expedition, tim Fischer berhasil membuang 2-5 ton sampah dari gunung tersebut---selain bermanfaat bagi lingkungan, tindakan tersebut ternyata mampu menjadi semacam publikasi yg sangat baik. Pada Januari 1996, Fischer memimpin upaya pengumpulan dana melalui ekspedisi Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika, dan berhasil meraup setengah juta dollar yg kemudian disumbangkan kepada organisasi amal CARE. Berkat program lingkungan Everest 1994 dan program Kilimanjaro, saat Fischer menuju Everest  pada 1996, namanya mulai sering muncul dalam beberapa rubrik media di Seattle, dan kariernya sebagai pendaki gunung ikut melejit.
       Para wartawan kerap bertanya kepada Fischer tentang resiko kariernya sebagai pendaki terhadap perannya sebagai seorang suami dan ayah. Fischer menjawab bahwa dia bukan lagi seorang pendaki nekat seperti saat dia masih muda---bahwa sekarang dia lebih berhati-hati, layaknya pendaki yg konservatif. Menjelang keberangkatannya ke Everest pada 1996, Scott bicara dengan seorang penulis dari Seattle, Bruce Barcott, "Aku 100 persen yakin bahwa aku akan kembali....Istriku juga yakin 100 persen bahwa aku akan kembali. Dia tidak pernah cemas jika aku sedang memandu karena yakin aku akan melakukan tindakan yg tepat. Kecelakaan yg banyak terjadi sebagian besar disebabkan oleh kelalaian manusia. Kelalaian seperti itulah yg akan aku hilangkan. Aku sudah sering celaka ketika aku masih muda. Aku bisa saja berkelit dan mengajukan beberapa alasan, tetapi itu semua terjadi karena kelalaian manusia.
      Betapapun besarnya keyakinan Fischer, kariernya sebagai pendaki tetap saja membawa dampak negatif pada keluarganya. Fischer sangat mencintai anak-anaknya; ketika dia sedang berada di Seattle, dia benar-benar menjadi ayah yg telaten bagi kedua anaknya, tetapi dia juga harus sering meninggalkan rumah selama berbulan-bulan. Tujuh kali Fischer tidak hadir dalam sembilan kali peringatan ulang tahun anaknya. Dan menurut beberapa temannya, saat Fischer berangkat ke Everest pada 1996, rumah tangganya sudah mulai goyah.
      Tetapi Jean Price, istri Fischer, menyangkal dan mengatakan bahwa goyahnya perkawinan mereka sama sekali tidak terkait dengan karier Scott. Keretakan perkawinan mereka lebih banyak disebabkan oleh tuntutan hukum yg diajukan Jean Price terhadap majikannya karena pelecehan seksual. Perkara pengadilan dengan pihak Alaska Airlines berlangsung sepanjang tahun 1995. Meskipun kasus itu sudah berakhir, dampak perselisihan hukum tersebut cukup memukul mereka, karena selama hampir satu tahun Jean Price kehilangan gajinya. Keuntungan dari bisnis Fischer tidak mampu menutupi hilangny penghasilan Price sebagai penerbang. "Untuk pertama kalinya sejak pindah ke Seattle, kami menghadapi masalah keuangan," keluhnya.
       Seperti pesaingnya yg lain, Mountain Madness belum mampu meraih banyak keuntungan sejak perusahaan tersebut berdiri: pada 1995, Fischer hanya membawa pulang 12.000 dollar. Namun keadaan sekarang mulai membaik, berkat nama Fischer yg terus menanjak dan berkat mitra bisnis yg merangkap manajer administrasinya, Karen Dickinson. Sebagai seorang organisator yg baik dan hati-hati, Karen Dickinson mampu mengimbangi sifat Fischer yg terlalu intuitif dan ugal-ugalan. Setelah mengamati sukses Rob Hall menjadi pemandu di Everest---dan tingginya tarif yg ditawarkan Hall berkat sukses yg diraihnya---Fischer memutuskan untuk mulai memasuki pasar Everest. Jika dia bisa mengikuti jejak Hall, dia akan mampu mendongkrak keuntungan Mountain Madness.
       Uang sebenarnya bukan masalah penting bagi Fischer. Dia sendiri tidak terlalu peduli pada hal-hal yg bersifat materi, tetapi dia sangat mendambakan penghormatan, dan dia sadar bahwa didalam budaya masyarakatnya, uang merupakan tolok ukur kesuksesan.
       Beberapa minggu setelah Fischer sukses memimpin ekspedisi Everest pada 1994, aku bertemu dengannya di Seattle. Aku tidak mengenalnya dengan baik, tetapi kami memiliki beberapa teman yg sama dan sering bertemu saat melakukan pendakian atau pesta-pesta kelompok pendaki. Dalam pertemuan kali ini, secara khusus Fischer mengajakku bicara tentang ekspedisi Everest yg sedang dia rencanakan: aku harus ikut, katanya membujuk, dan menulis artikel tentang dunia mendaki untuk majalah Outside. "Benar-benar gila jika orang dengan pengalaman minimal sepertiku ingin mendaki Everest," jawabku, tetapi dia menjawab, "Pengalaman sebenarnya tidak terlalu penting. Bukan ketinggian yg penting, melainkan sikap. Aku yakin kamu akan baik-baik saja. Kamu pernah mendaki beberapa gunung yg cukup sulit---pendakian yg lebih sulit dari Everest. Gunung besar itu sudah kita taklukkan, kita sudah memasang tali disana. Anggap saja, kita sudah membangun jalan batu sampai ke puncaknya.
      Scott berhasil menarik perhatianku---bahkan lebih dari yg dia sadari---dan dia benar-benar gigih. Setiap kali kami berjumpa dia akan bicara tentang Everest dan berkali-kali mengulang gagasannya dihadapan Brad Wetzler, salah seorang editor majalah Outside. Pada Januari 1996, berkat upaya Fischer yg terus menerus, majalah Outside memutuskan untuk mengirimku ke Everest---mungkin sebagai anggota Ekspedisi Fischer, kata Wetzler. Scott yakin, dia sudah mengantongi satu klien.
      Namun, sebulan sebelum keberangkatan, aku menerima telpon dari Wetzler yg melaporkan tentang perubahan rencana: Rob Hall mengajukan tawaran yg lebih baik kepada majalah Outside, dan Wetzler menyarankan agar aku ikut kedalam kelompok Adventure Consultants, bukan sebagai anggota kelompok Fischer. Saat itu, aku sudah mulai mengenal dan menyukai Fischer, dan belum tahu banyak tentang Hall, sehingga awalnya aku merasa sedikit ragu. Namun setelah seorang rekan pendaki meyakinkanku bahwa reputasi Hall benar-benar prima, dengan bersemangat aku setuju untuk mendaki Everest bersama Adventure Consultants.
       Suatu malam di Base Camp, aku menanyakan kepada Hall alasannya menginginkanku ikut dalam ekspedisinya. Dengan jujur Hall mengakui bahwa dia bukan benar-benar tertarik kepada diriku atau publisitas yg dihasilkan oleh tulisanku. Yang membuatnya tertarik adalah iklan yg akan diperolehnya sesuai kesepakatan dengan pihak Outside.
      Menurut pengakuan Hall kepadaku bahwa dia hanya akan menerima uang tunai sebesar 10.000 dollar; selebihnya akan dibayar dengan sejumlah besar ruang untuk iklan di majalah Outside. Ruang iklan itulah yg akan dia gunakan untuk menarik pembaca berpenghasilan tinggi, yg suka bertualang dan aktif secara fisik---para klien inti. Dan yg terpenting, Hall menambahkan, "Semua pelanggan itu berasal dari Amerika. Delapan puluh sampai Sembilan puluh persen pasar potensial untuk ekspedisi Everest yg dipandu memang warga Amerika Serikat. Sesudah musim pendakian ini, jika rekan seprofesi saya, Scott, berhasil memantapkan diri sebagai pemandu Everest, dia akan memiliki kelebihan dari Adventure Consultants, karean perusahaannya berkantor pusat di Amerika Serikat. Supaya mampu bersaing dengannya, kami harus lebih memperluas iklan perusahaan kami di Amerika."
      Bulan Januari, ketika Fischer mengetahui bahwa Hall berhasil menarikku dari timnya, dia seperti orang yg terserang ayan. Dia menelponku dari Colorado, tidak seperti biasa suaranya terdengar kesal. Dia mengatakan bahwa dia belum benar-benar menyerah. (Seperti Hall, Fischer tidak berpura-pura tertarik pada diriku, tapi pada publisitas dan iklan yg akan diperolehnya dari Outside). Namun, ternyata dia tidak mampu menyaingi penawaran Hall pada majalah tersebut.
      Ketika aku tiba di Base Camp sebagai anggota tim ekspedisi Adventure Consultants, dan bukan anggota Mountain Madness, Scott sama sekali tidak tampak kesal. Saat aku mengunjungi dia di perkemahannya, dia menuangkan secangkir kopi, merangkul bahuku, dan kelihatannya benar-benar senang bisa melihatku.

*Ada empat belas puncak gunung yg lazim dikenal sebagai puncak 8.000 meter: gunung-gunung yg memiliki ketinggian lebih dari 8.000 meter (26.246 kaki) diatas permukaan laut. Meskipun sasaran tersebut tidak bersifat mutlak, para pendaki memiliki kebanggaan tersendiri jika mereka mampu mendaki puncak 8.000 meter. Orang pertama yg berhasil menaklukkan ke empat belas puncak tersebut adalah Reinhold Messner, pada  1986. Sampai hari ini, hanya empat pendaki lain yg berhasil menyamai prestasi Messner.

Bersambung...... 

     
Meskipun Base Camp dipenuhi jejak-jejak peradaban, kami tidak lupa bahwa saat ini kami berada kurang lebih tiga mil dari atas permukaan laut. Berjalan ke kemah utama sehabis makan siang sudah mampu membuat telingaku seperti berdengung  selama beberapa menit. Jika aku duduk terlalu cepat, kepalaku berputar dan aku merasa pusing. Batuk keras yg menyerangku sejak di Lobuje dari hari ke hari menjadi semakin parah. Aku juga kesulitan untuk tidur, gejala umum dari penyakit ketinggian yg ringan. Berhari-hari aku terbangun selama tiga atau empat jam agar bisa bernapas lebih baik, merasa seperti orang yg tercekik. Luka dan goresan kecil pada tubuh sulit untuk sembuh. Nafsu makanku hilang dan sistem pencernaanku yg membutuhkan sejumlah besar oksigen untuk metabolisme makanan, menolak menerima makanan yg dengan susah payah aku telan; padahal tubuhku menjerit untuk mendapatkan makanan. Sedikit demi sedikit, kedua lengan dan kakiku mulai mengecil menyerupai tongkat.
      Kondisi beberapa rekan satu timku bahkan lebih buruk lagi akibat kurangnya oksigen dan lingkungan yg tidak higienis. Andy, Mike, Caroline, Lou, Stuart dan John terserang sakit perut yg memaksa mereka kerap terbirit-birit ke kamar kecil. Helen dan Doug terus menerus diserang sakit kepala. Seperti yg digambarkan Doug kepadaku, "Aku merasa seperti ada sebatang paku yg ditancapkan diantara kedua mataku."
      Bagi Doug, pendakian kali ini merupakan pendakian kedua bersama Hall. Setahun yg lalu, Hall memaksa Doug dan tiga kliennya yg lain untuk turun gunung karena hari sudah mejelang senja dan lereng yg menuju puncak tertutup salju yg dalam dan tidak stabil, padahal mereka hanya tinggal 330 kaki lagi dari puncak. "Puncak itu terlihat saaaangat dekat," katanya sambil tersenyum pahit. "Percayalah, aku tidak pernah melupakannya, meskipun hanya satu hari." Hall membujuknya untuk ikut lagi tahun ini, karena dia kasihan pada Doug yg tidak berhasil mencapai puncak dan memberi potongan harga yg cukup besar agar Doug mau mencoba sekali lagi.
      Diantara rekan-rekan satu timku, Douglah satu-satunya pendaki yg paling sering mendaki tanpa dibantu pemandu profesional; meskipun dia tidak termasuk dalam kelompok pendaki elite, pengalamannya dalam mendaki selama lima belas tahun membuatnya mampu menjaga dirinya sendiri pada medan dengan ketinggian seperti ini. Jika salah seorang anggota tim ekspedisi kami bisa mencapai puncak, pasti Douglah orangnya: selain kuat dan berambisi, Doug juga pernah hampir mencapai puncak Everest.
      Dua bulan lagi, Doug akan mencapai usia empat puluh tujuh tahun. Dia bercerai tujuh belas tahun yg lalu. Kepadaku, Doug mengaku bahwa dia sering terlibat hubungan cinta dengan beberapa orang wanita, meskipun akhirnya wanita itu meninggalkannya karena tidak tahan bersaing dengan gunung-gunung yg sangat dicintainya. Beberapa minggu sebelum berangkat untuk memulai ekspedisi Everest 1996, Doug bertemu dengan seorang wanita saat dia berkunjung ke rumah seorang teman di Tucson, dan keduanya jatuh cinta. Selama beberapa waktu mereka saling berkirim faksimile, kemudian hubungan mereka terhenti, dan Doug tidak mendengar berita apapun darinya. "Aku rasa dia sedang berpikir dan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami," katanya dengan muram dan nada menyesal. "Wanita ini benar-benar baik. Tadinya aku mengira  hubungan kami akan mampu bertahan."
      Beberapa saat kemudian, masih pada malam yg sama, Doug mendatangi kemahku sambil melambai-lambaikan sehelai kertas faksimile ditangannya. "Karen Marie akan pindah ke Seattle!" katanya dengan suara gembira. "Wow! Sepertinya dia sungguh-sungguh. Kali ini aku harus benar-benar sampai ke puncak, kemudian melupakan Everest untuk selamanya sebelum dia berubah pikiran."
       Selain berkirim surat dengan wanita baru dalam kehidupannya itu, Doug mengisi hari-harinya di Base Camp dengan menulis puluhan kartu pos untuk murid-murid Sekolah Dasar Sunrise, sebuah sekolah negeri di Kent, Washington, anak-anak yg membantu Doug mencari dana untuk pendakian ini dengan menjual T-shirt. Dia menunjukkan sejumlah kartu pos yg ditulisnya, "Beberapa orang punya impian yg besar, beberapa yg lain punya impian yg kecil saja," tulisnya pada seorang gadis kecil bernama Vanessa. "Apapun yg kamu lakukan, kamu tidak boleh berhenti bermimpi. Itu yg terpenting."
       Tetapi, waktu terbesar Doug dihabiskan untuk menulis faksimile kepada kedua anaknya yg sudah dewasa---Angie, sembilan belas tahun, dan Jaime, dua puluh tujuh tahun---yg dia besarkan sendirian. Tenda Doug terletak tepat disamping tendaku, dan setiap kali dia menerima faksimile dari Angie, dia akan membacakannya dengan suara gembira, "Benar-benar hebat," katanya, "Bagaimana mungkin orang gagal seperti aku bisa membesarkan seorang anak yg hebat seperti dia?"
       Aku sendiri jarang menulis kartu pos atau faksimile kepada siapapun. Aku justru sering termenung memikirkan cara bertahan diatas gunung nanti, terutama diwilayah yg dikenal sebagai "zona kematian" yg terletak diatas ketinggian 25.000 kaki. Aku menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari batuan dan es, lebih dari yg dilakukan oleh rekan-rekanku maupun oleh para pemandu. Namun, keahlian teknis hampir-hampir tidak berarti di Everest ini, aku juga merupakan peserta yg paling tidak memiliki pengalaman mendaki gunung-gunung yg tinggi dibanding dengan peserta lain. Bahkan, Base Camp---yg letaknya di jari kaki Everest---sudah lebih tinggi dari tempat manapun yg pernah kudaki seumur hidupku.
       Akan tetapi, kerisauanku sepertinya tidak membuat Hall cemas. Menurutnya, setelah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Everest, dia sudah menyusun program aklimatisasi yg sangat efektif yg membuat kliennya mampu beradaptasi dengan menipisnya kandungan oksigen didalam atmosfer. (Di Base Camp, jumlah oksigen di udara kira-kira setengah dari jumlah oksigen ditepi laut; dan dipuncak gunung jumlah itu menurun menjadi sepertiganya). Dihadapkan pada ketinggian yg terus meningkat, tubuh manusia akan menyesuaikan diri dengan berbagai cara, mulai dari meningkatkan sistem pernapasan, mengubah pH dalam darah, atau secara drastis meningkatkan jumlah sel-sel darah yg mengangkut oksigen---perubahan yg membutuhkan waktu beberapa minggu.
       Akan tetapi, Hall meyakinkan kami bahwa setelah melakukan tiga kali pendakian diatas Base Camp, dengan masing-masing pendakian mencapai lebih dari 2.000 kaki, tubuh kita akan cukup beradaptasi untuk bisa mencapai puncak Everest, yg berada pada ketinggian 29.028 kaki. "Cara itu sudah dicoba sebanyak tiga puluh sembilan kali dan sejauh ini selalu berhasil, kawan, "katanya meyakinkanku sambil tersenyum lebar untuk menepis keraguanku. "Selain itu, beberapa orang yg pernah mencapai puncak bersamaku, sama gugupnya seperti kamu."