Rabu, 13 Agustus 2014

Into Thin Air --- Bab VI

BASE CAMP EVEREST --- 12 APRIL 1996 --- 17.600 KAKI


Mendaki Everest merupakan proses yg panjang dan berat, lebih menyerupai sebuah proyek konstruksi yg sangat besar daripada kegiatan mendaki seperti yg kukenal selama ini. Jika semua Sherpa yg bekerja sebagai pembantu dihitung, jumlah seluruh anggota tim ekspedisi Hall mencapai dua puluh enam orang; dan memberi makan,penginapan serta menjaga kesehatan orang sebanyak itu pada ketinggian 17.600 kaki, seratus mil jalan kaki dari jalan terdekat, sama sekali bukan pekerjaan mudah. Namun, Hall benar-benar seorang pemimpin ekspedisi yg tidak ada tandingannya, dan dia menikmati semua tantangan itu. Di Base Camp dia mencetak ratusan lembar daftar perincian logistik: menu, suku cadang, peralatan, obat-obatan,perangkat keras untuk komunikasi, jadwal pengiriman barang, jadwal ketersediaan yak. Sebagai teknisi dengan bakat alamiah, Hall benar-benar menyukai infrastruktur, elektronik dan berbagai jenis alat pertukangan; waktu luangnya dihabiskan untuk mengutak-atik sistem listrik tenaga surya atau membaca buku-buku Popular Science.
       Dalam tradisi George Leigh Mallory dan kebanyakan pendaki Everest lainnya, strategi Hall bisa dianggap sebagai pengepungan terhadap gunung itu. Secara bertahap, para Sherpa membangun empat perkemahan diatas Base Camp---setiap perkemahan berjarak 2.000 kaki diatas perkemahan yg lain---kemudian mengirimkan makanan, minyak goreng, dan tabung oksigen dalam jumlah besar dari perkemahan yg satu ke perkemahan yg lain sampai semua bahan yg dibutuhkan berhasil ditimbun pada ketinggian 26.000 kaki di Jalur Selatan. Jika semua rencana Hall berjalan lancar, perjalanan terakhir menuju puncak akan dilakukan dari perkemahan tertinggi---Camp Empat---sebulan kemudian.
       Meskipun kami para kliennya tidak akan diminta untuk membawa beban*, kami harus melakukan beberapa percobaan pendakian di atas Base Camp sebagai bagian dari aklimatisasi. Rob mengumumkan bahwa aklimatisasi pertama akan dilakukan pada 13 April---dengan melakukan perjalanan satu hari ke Camp Satu yg terletak di puncak teratas Jeram Es Khumbu, kurang lebih pada setengah mil vertikal di atas Base Camp.
       Malam hari pada 12 April, tepat pada hari ulang tahunku yg keempat puluh dua, kami menyiapkan semua peralatan mendaki. Perkemahan kami lebih mirip dengan tempat penyelenggaraan bazaar saat kami menebarkan peralatan diantara batu-batu besar untuk memilih pakaian, menyetel pelana tubuh harness (pelana tubuh yg biasa dikenakan para pendaki gunung, dipasang pada bagian pinggang dan panggul), tali pengaman dan menyetel crampon (rangka logam berpaku yg bisa dipasang dibawah sepatu gunung, dipakai untuk  mencengkeram permukaan es) pada sepatu kami. Aku terkejut sekaligus cemas melihat Beck, Stuart dan Lou mengeluarkan sepatu gunung yg masih benar-benar baru, yg menurut pengakuan mereka hampir-hampir tidak pernah dipakai. Aku tidak tahu apakah mereka memahami resiko yg dihadapi  pendaki yg memakai sepatu baru. Dua dekade lalu aku pernah mengalami peristiwa buruk saat mendaki dengan menggunakan sepatu baru karena sepatu mendaki gunung yg berat dan kaku bisa melukai kaki sebelum sepatu itu nyaman dipakai.
       Stuart, kardiolog muda dari Kanada,mendapati bahwa ukuran cramponnya sama sekali tidak sesuai dengan sepatunya. Untung kotak peralatan Rob cukup lengkap, dengan sedikit improvisasi, Rob berhasil membuat tali khusus sehingga crampon tersebut bisa dipakai.
       Saat mengisi ransel punggungku untuk perjalanan esok hari, aku juga mendapati bahwa, karena  tuntutan keluarga dan karier, beberapa rekan satu timku tidak mempunyai kesempatan untuk mendaki lebih dari satu atau dua kali sepanjang tahun lalu. Meskipun kondisi fisik mereka  tampak prima, keadaan memaksa mereka untuk melakukan latihan fisik dengan bantuan StairMaster atau treadmill, bukan mendaki gunung yg sesungguhnya. Aku sedikit ragu. Kondisi fisik merupakan komponen penting saat mendaki gunung, tetapi ada elemen-elemen yg lain yg juga penting yg tidak bisa dilatih didalam ruangan.
      Barangkali aku saja yg sombong,pikirku mencela diri sendiri. Bagaimanapun kondisi fisik mereka, tampak jelas bahwa mereka semua sangat bersemangat menunggu hari esok, dan menjejakkan crampon mereka diatas gunung yg sesungguhnya.
      Rute kami menuju puncak akan melewati Gletser Khumbu sampai setengah badan gunung. Mulai bergschrund* yg terletak diketinggian 23.000 kaki dan merupakan  titik awal dari Gletser Khumbu, sungai es yg besar ini mengalir sepanjang dua setengah mil melewati sebuah lembah yg relatif landai yg dinamai Lembah Cwm Barat. Ketika sungai es itu mengalir perlahan  melewati tonjolan lereng bukit dan kemudian menukik ke dalam Lembah Cwm yg berada di bawahnya, dia pecah menjadi retakan-retakan vertikal kecil---celah gletser---yg tak terhitung jumlahnya. Beberapa celah gletser itu cukup sempit untuk dilangkahi; tetapi beberapa celah gletser lebarnya bisa mencapai delapan puluh kaki dengan kedalaman lebih dari 100 kami dan panjang dari ujung ke ujung mencapai setengah mil. Celah-celah gletser yg lebar seperti ini menghambat dan menyulitkan pendakian, terutama jika celah gletser tersebut tersembunyi dibawah lapisan salju yg keras---mereka bisa menimbulkan bencana yg serius. Namun, celah-celah gletser di Cwm ini merupakan tantangan yg dari tahun ke tahun dapat diduga dan diatasi.
      Tidak demikian halnya dengan Jeram Es. Tidak ada tempat lain di Jalur Selatan yg lebih ditakuti oleh para pendaki. Pada ketinggian sekitar 20.000 kaki, gletser tersebut muncul dari ujung lembah Cwm dan tiba-tiba menukik tajam. Inilah Jeram Es Khumbu yg sangat berbahaya, jalur yg menuntut keahlian teknik mendaki yg paling tinggi diseluruh rute pendakian.
       Kecepatan aliran gletser di Jeram Khumbu berkisar antara tiga atau empat kaki perhari. Saat sungai es ini mengalir melewati lereng yg terjal dan bergelombang dengan kecepatan yg tidak teratur, massa es akan terpecah  menjadi pecahan-pecahan besar yg disebut serac, beberapa diantaranya bisa berukuran sebesar rumah. Karena rute pendakian dijalin dibawah, mengelilingi atau diantara ratusan menara yg tidak stabil ini, pendakian melalui Jeram Es ini hampir menyerupai sebuah permainan rolet Rusia: cepat atau lambat, sebuah serac bisa saja jatuh tanpa peringatan lebih dulu, dan Anda hanya bisa berharap tidak berada dibawahnya saat dia jatuh. Sejak 1963, ketika salah seorang rekan Hornbein dan Unsoeld bernama Jake Breitenbach hancur tertimpa serac yg jatuh, sudah delapan belas pendaki yg mati ditempat ini.
       Musim dingin lalu, seperti yg  selalu dilakukan pada musim-musim dingin sebelumnya, Hall berkonsultasi dengan semua pemimpin ekspedisi yg berencana mendaki Everest pada musim semi, dan mereka bersepakat untuk membangun dan merawat sebuah rute pendakian yg melewati Jeram Es tersebut. Untuk semua jerih payah itu, tim yg membangun rute pendakian akan menerima 2.200 dollar  dari setiap tim lain yg mendaki gunung dengan menggunakan fasilitas mereka. Baru beberapa tahun terakhir  ini kerja sama itu diterima dan disetujui meskipun belum mendunia.
       Tim ekspedisi pertama yg berpikir untuk meminta bayran dari tim  lain yg menggunakan jalur yg mereka buat adalah sebuah tim kaya raya dari Amerika Serikat, yaitu pada 1988 ketika mereka mengumumkan bahwa setiap tim ekspedisi yg berniat menggunakan lintasan tali yg mereka buat sampai ke Jeram Es harus membayar 2.000 dollar. Beberapa tim lain yg sama-sama mendaki pada tahun itu tidak bisa memahami bahwa Everest bukan lagi sekedar gunung melainkan sebuah komoditi, dan mereka benar-benar marah. Protes paling keras muncul dari Rob Hall yg saat itu sedang memimpin sebuah tim kecil dan miskin dari Selandia Baru.
       Hall menuduh orang Amerika "merusak semangat pendakian" dan menerapkan praktik pemerasan yg memalukan, tetapi Jim Frush, pengacara yg memimpin tim Amerika tersebut, sama sekali bergeming. Meskipun sangat marah, Hall akhirnya setuju untuk mengirimkan cek kepada Jim Frush dan dia diijinkan mendaki dengan menggunakan rute mereka sampai ke Jeram Es. (Frush melaporkan kemudian bahwa Hall tidak pernah melunasi utangnya.)
        Akan tetapi dua tahun kemudian, sikap Hall berubah 180 derajat dan memahami logika untuk memperlakukan Jeram Es sebagai sarana pendakian. Bahkan, sejak 1993 sampai 1995 dia sendiri menawarkan untuk membuat rute tersebut dan menarik biaya dari tim lain yg menggunakannya. Musim semi 1996, Hall melepaskan tanggung jawabnya untuk membuat dan memelihara rute tersebut, tetapi dia siap untuk membayar kepada pemimpin ekspedisi komersial* yg juga pesaingnya---seorang veteran pendaki Everest berkebangsaan Skotlandia bernama Mal Duff---yg mengambil alih tugas tersebut. Jauh sebelum kami tiba di Base Camp, sekelompok Sherpa yg dipekerjakan oleh Duff telah membuat jalur zigzag melewati bongkahan-bongkahan serac, memasang rentangan tali sepanjang lebih dari satu mil dan memasang enam puluh tangga alumunium diatas celah-celah gletser yg menganga. Tangga-tangga alumunium tersebut milik sekelompok warga Sherpa dari Desa Gorak Shep yg memperoleh keuntungan besar setiap musimnya hanya dari menyewakan tangga.
       Pada hari Sabtu, 13 April, pukul 04.45 pagi, aku mendapati diriku berdiri di kaki Jeram Es yg ternama itu, mencengkeramkan cramponku ditengah keremangan udara fajar yg dingin.
       Para pendaki tua yg menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendaki akan menasehati anak didiknya untuk mendengarkan dengan cermat suara batinnya agar tetap bisa bertahan hidup. Cukup banyak cerita tentang pendaki yg memutuskan untuk tetap tinggal dikantong tidurnya setelah mendengar bisikan hati yg kurang menyenangkan, dan kemudian terhindar dari bencana yg menimpa rekan-rekan mereka yg mengabaikan isyarat tersebut.
       Aku tidak pernah meragukan pentingnya isyarat bawah sadar. Ketika aku sedang menunggu Rob Hall untuk memimpin kami, permukaan es yg kuinjak mengeluarkan suara derak yg cukup keras, seperti pohon kecil yg sedang dibelah dua, dan aku bergidik setiap kali merasakan gerakan dan getaran dari sungai es yg bergerak jauh didalam sana. Masalahnya, suara batinku selalu memberi isyarat yg bernada pesimis: yg terus menerus berteriak , bahwa aku akan segera mati, dan isyarat seperti itu selalu muncul setiap aku mengikat tali sepatu gunung dan siap untuk mendaki. Oleh karenanya, aku berjuang keras untuk mengabaikan imajinasiku yg berlebihan dan dengan muram mengikuti Rob memasuki labirin biru yg menakutkan itu.
       Meskipun aku belum pernah melihat sebuah jeram es yg lebih menakutkan dari Jeram Khumbu, aku sudah pernah mendaki beberapa jeram es yg lain. Jalur pendakian disekitar jeram-jeram seperti itu kebanyakan jalur vertikal atau jalur yg saling bertumpuk yg hanya bisa ditundukkan denga keterampilan tinggi dalam menggunakan kapak es dan crampon. Disekitar jeram Es Khumbu, jalur yg terjal dan tertutup es memang banyak dijumpai, tetapi disini tempat-tempat seperti itu sudah dipenuhi oleh puluhan tangga, tali atau kombinasi tangga dan tali sehingga peralatan dan tekhnik pendakian es yg konvensional sama sekali tidak berguna.
        Dengan cepat aku belajar bahwa di Everest, seutas tali---alat bantu yg paling umum bagi seorang pendaki---tidak digunakan sebagaimana lazimnya. Dalam pendakian tradisional , seorang pendaki akan diikat pada satu atau dua rekannya melalui seutas tali yg panjangnya kira-kira 150 kaki sehingga setiap pendaki bertanggung jawab langsung atas hidup mati rekannya yg lain; mengikatkan tali dengan cara seperti ini merupakan tindakan yg serius dan sangat intim. Akan tetapi, di Jeram Es ini, setiap pendaki diharapkan untuk mendaki secara indipenden, tanpa terikat kepada pendaki lain.
        Para Sherpa yg dipekerjakan oleh Mal Duff sudah memasang lintasan tali mulai dasar Jeram Es sampai ke puncaknya. Dipinggangku aku membawa harness sepanjang tiga kaki dengan sebuah cincin kait atau karabiner diujungnya. Untuk pengamanan, aku tidak mengaitkan diriku kepada seorang rekan pendaki tetapi pada rentangan tali yg sudah tersedia dan terus menarik diriku sampai ke ujung lintasan tali. Dengan cara ini kami bisa dengan cepat melewati  jalur yg paling berbahaya disekitar Jeram Es tersebut tanpa perlu menggantungkan keselamatan kami kepada rekan-rekan lain yg keahlian dan pengalamannya belum diketahui. Ternyata, selama pendakian di Everest tidak sekalipun aku harus mengikatkan diriku kepada pendaki yg lain.
        Meskipun jalur pendakian disekitar Jeram Es tidak banyak membutuhkan teknik-teknik mendaki tradisional, ditempat ini kami membutuhkan keahlian khusus yg lain---misalnya, berjalan jinjit dengan memakai sepatu gunung yg sudah dipasangi crampon melewati tiga buah tangga alumunium yg disambung dengan tali, tangga yg terus bergoyang-goyang saat dilewati dan dipasang diatas celah gletser yg menganga. Jembatan seperti itu ada beberapa buah, dan aku tidak pernah terbiasa melewatinya.
       Suatu hari menjelang fajar, aku sedang meniti tangga sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhku diatas tangga yg bergoyang-goyang, melangkah dengan hati-hati dari satu anak tangga ke anak tangga yg lain. Tiba-tiba permukaan es tempat ujung tangga itu bersandar mulai bergetar seakan-akan ada gempa bumi. Beberapa saat kemudian terdengar suara dentuman keras, sebuah serac besar yg berada tidak jauh diatasku meluncur ke bawah. Tubuhku seperti membeku, jantungku seakan-akan terlepas, tetapi longsoran es itu hanya lewat kira-kira lima puluh kaki disebelah kiriku, menghilang dari pandangan, tanpa menimbulkan kerusakan. Setelah menunggu beberapa menit untuk mengembalikan semangatku, aku meneruskan mendaki melewati lintasan tangga yg terus bergoyang-goyang itu sampai ke ujungnya.
       Sungai es yg terus mengalir yg kadang-kadang bergejolak ikut menambah elemen ketidak pastian pada setiap pendakian melewati tangga. Saat sungai es itu bergerak, celah-celah gletser yg kami lewati kadang-kadang mengecil sehingga menekan tangga-tangga yg kami lewati hingga tampak seperti tusuk gigi; pada saat lain, celah gletser itu bisa merenggang sehingga untaian tangga bergelantungan diudara tanpa penopang yg kukuh dikedua sisinya. Selain itu, permukaan tempat jangkar* yg mencengkeram tangga dan tali-tali itu sering kali merenggang jika matahari sore mencairkan es dan salju disekelilingnya. Meskipun dirawat setiap hari, setiap tali bisa saja menjadi rapuh kemudian putus saat menahan berat tubuh. Anehnya, meskipun sulit didaki dan sangat menakutkan, Jeram Es itu memiliki daya tarik tersendiri. Ketika sinar matahari fajar menghalau kegelapan dari langit, sungai es yg terpecah-pecah itu menampilkan pemandangan alam tiga dimensi yg keindahannya benar-benar memukau. Temperatur udara berkisar antara enam derajat Fahrenheit. Suara sepatu esku yg menghunjam permukaan sungai es terasa melegakan. Lintasan tali membawaku bergerak meliuk-liuk melewati barisan stalagmit vertikal berwarna biru kristal. Tonjolan-tonjolan batu yg sangat besar dan tertutup es menghiasi kedua sisi sungai es, bagaikan bahu seorang dewa yg kejam. Terpesona oleh keadaan sekelilingku dan sulitnya jalur yg kulalui, aku tenggelam ditengah kegembiraan yg bebas, dan selama satu atau dua jam, aku melupakan ketakutanku.


*Sejak upaya penaklukan Everest yg pertama, hampir semua ekspedisi---baik yg komersial maupun non komersial---selalu mengandalkan bantuan para Sherpa untuk mengangkut sebagian besar perbekalan diatas gunung. Namun, sebagai klien dari sebuah ekspedisi yg dipandu, kami sama sekali tidak membawa beban kecuali sedikit perlengkapan pribadi, dan hal ini, kami sangat berbeda dengan ekspedisi nonkomersial pada masa lampau

*Bergschrund adalah celah yg sangat dalam yg merupakan terminal atas dari sebuah es; bergschrund terbentuk ketika bongkahan es meluncur dari lereng yg lebih curam yg terletak langsung diatasnya, menimbulkan celah besar antara gletser dan batuan.

*Meskipun aku menggunakan kata "komersial" untuk setiap ekspedisi yg bertujuan mencari keuntungan, tetapi tidak semua ekspedisi komersial memiliki pemandu. Misalnya, Mal Duff---yg menetapkan tarif kurang dari 65.000 dollar untuk setiap klien, berarti lebih rendah dari tarif  yg ditawarkan oleh Hall dan Fischer---menawarkan pemimpin ekspedisi dan prasarana penting yg dibutuhkan untuk mendaki Everest (makanan, tenda, oksigen botol, rentangan tali, tenaga pendukung warga Sherpa dan sebagainya), tetapi tidak menyediakan pemandu; para pendaki yg tergabung dalam timnya dianggap memiliki keahlian cukup untuk mendaki dengan selamat sampai di Puncak Everest dan kembali lagi ke bawah.

*Jangkar: tiang alumunium sepanjang tiga kaki dan lazim disebut picket akan mengunci tali dan tangga alumunium ke lereng es; jika permukaan disekitar jangkar tertutup oleh lapisan es yg keras, digunakan "sekrup es" : sebuah pipa kosong dan tipis sepanjang sepuluh inchi yg diputar masuk kedalam permukaan gletser yg membeku.

Bersambung......


Setelah menempuh tiga perempat perjalanan menuju Camp Satu, ketika kami sedang beristirahat sejenak, Hall mengatakan bahwa kondisi Jeram Es kali ini lebih baik daripada sebelumnya, "Pada musim pendakian ini, jalur yg kita lalui benar-benar bebas hambatan." Namun hanya beberapa kaki ke atas, pada ketinggian 19.000 kaki, lintasan tali membawa kami ke bawah sebuah badan serac yg sangat besar dan sangat berbahaya. Serac yg tingginya sama dengan bangunan dua belas tingkat tersebut berada tepat diatas kepala kami, bergantung dengan kemiringan 30 derajat. Jalur pendakian di tempat itu sangat sempit dan terjal denga lapisan yg saling bertumpuk: kami harus naik melewati menara yg miring ini agar bisa terhindar dari ancaman yg beratnya puluhan ton tersebut.
        Keselamatan disini sangat bergantung pada kecepatan, pikirku. Aku bergerak dengan cepat agar bisa sampai dipuncak serac yg relatif aman, tetapi karena tubuhku belum beraklimatisasi, kecepatan gerakku tidak lebih dari kecepatan orang yg merangkak. Setiap empat atau lima langkah aku harus berhenti, bersandar pada tali, dan mencoba menghirup udara pahit, yg tipis oksigen, membuat paru-paruku seperti terbakar.
        Ketika aku tiba dipuncaknya, serac itu masih tetap berada ditempatnya. Aku tergeletak kelelahan dipuncak serac yg datar, jantungku berdetak keras seperti bunyi mesin pengeras tanah. Beberapa saat kemudian sekitar pukul 08.30 pagi aku tiba dipuncak Jeram Es Khumbu, diatas serac yg terakhir. Suasana aman Camp Satu tidak mampu menenangkanku: aku terus memikirkan serac miring yg berada tidak jauh dibawahku, memikirkan bahwa aku harus melewati serac besar yg sewaktu-waktu bisa jatuh itu sedikitnya tujuh kali lagi sebelum aku bisa mencapai puncak Everest. Pendaki yg pernah mencibir  dan merendahkan rute ini sebagai Rute Yak, pikirku, jelas belum pernah melewati Jeram Es Khumbu.
        Sebelum meninggalkan Base Camp, Rob menjelaskan kepada kami semua bahwa kami akan turun kembali tepat pada pukul 10.00 pagi meskipun  belum seluruh anggota tim tiba di Camp Satu, supaya kami bisa tiba di Base Camp sebelum matahari siang yg membuat Jeram Es makin tidak stabil. Pada waktu yg sudah ditentukan, hanya Rob, Frank Fischbeck, John Taske, Doug Hansen dan aku sendiri yg berhasil mencapai Camp Satu; Yasuko Namba, Stuart Hutchison, Beck Weathers dan Lou Kasischke yg dipandu leh Mike Groom dan Andy Harris, masih berada 200 kaki dibawah perkemahan ketika Rob menghidupkan radio dan meminta semua orang untuk turun kembali.
       Untuk pertama kalinya kami bisa mengamati dan menaksir kekuatan dan kelemahan rekan-rekan dengan siapa kami harus saling bergantung selama beberapa minggu ke depan. Doug dan John yg memasuki usia lima puluh enam---anggota tim yg paling tua--masih tampak segar. Namun penampilan Frank, penerbit dari Hongkong yg sopan dan lemah lembut, benar-benar mengesankan; pengalaman yg diperolehnya dari tiga pendakian ke Everest benar-benar tampak sejak awal pendakian. Frank bergerak lambat tetapi pasti, ketika tiba di puncak Jeram Es, diam-diam dia berhasil melewati kami semua, sama sekali tidak tampak terengah-engah.
       Sebaliknya, Stuart---anggota tim termuda dan kelihatan paling kuat--- yg keluar dari Base Camp mendahului anggota tim yg lain, dengan cepat tampak kelelahan, dan saat tiba dipuncak Jeram Es, dia berada jauh dibelakang pendaki lain. Lou, yg gerakannya terhambat karena otot kakinya terluka pada hari pertama perjalanan menuju Base Camp, mendaki dengan lambat tetapi kompeten. Sebaliknya, Beck dan terutama Yasuko, tampak kelelahan.
      Beberapa kali, Beck dan Yasuko harus menghadapi bahaya karena hampir terjatuh dari lintasan tangga dan masuk kedalam celah gletser, dan Yasuko sepertinya kurang memahami cara menggunakan crampon*. Sepanjang pagi itu, Andy yg ternyata seorang guru yg berbakat dan sabar---dalam posisinya sebagai pemandu junior ditugasi untuk membantu pendaki yg paling lamban dan paling belakang---terus mengajari Yasuko tentang beberapa teknik dasar mendaki es.
       Apa pun kekurangan masing-masing anggota tim, dipuncak Jeram Es, Rob mengumumkan bahwa dia puas melihat penampilan semua orang."Mengingat ini pendakian pertama kalian diatas Base Camp, penampilan kalian hari ini benar-benar baik," katanya seperti seorang ayah yg bangga. "Aku pikir, tim aku tahun ini cukup tanggguh."
       Dibutuhkan satu jam lebih untuk turun kembali ke Base Camp. Ketika aku selesai melepaskan cramponku dan berjalan beberapa ratus meter ke perkemahan, sinar matahari yg terik seakan-akan siap melubangi ubun-ubun kepalaku. Beberapa menit kemudian, ketika aku sedang mengobrol dengan Helen dan Chhongba diperkemahan, tiba-tiba saja aku terserang sakit kepala yg sangat hebat. Belum pernah aku merasakan sakit kepala seperti itu: rasa sakit yg meremukkan pelipis---rasa sakit yg sedemikian parah, juga mual, yg bahkan membuatku tidak mungkin berbicara dengan benar. Oleh karena takut terserang semacam penyakit tekanan darah tinggi, aku menghentikan percakapan, berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju kantong tidurku, kemudian berbaring sambil menutup kedua mataku dengan topi.
       Sakit kepala yg menyerangku terasa sangat menusuk seperti migrain, dan aku tidak tahu penyebabnya. Aku ragu-ragu bahwa penyakitku merupakan dampak ketinggian karena sakit kepala seperti ini baru menyerangku setelah aku tiba di Base Camp. Kemungkinan ini merupakan reaksi dari radiasi ultraviolet yg sangat kuat yg telah membakar retinaku dan memanggang otakku. Apapun penyebabnya, rasa sakit yg ditimbulkannya benar-benar menyiksa dan tidak kenal kasihan. Selama lima jam aku terbaring ditendaku, menghindari setiap rangsangan indrawi. Jika aku membuka mata, atau bahkan membalikkan tubuh dari satu sisi ke sisi lain meskipun mataku tetap tertutup, rasa sakit yg amat sangat membuat tubuhku seperti terlonjak. Ketika matahari terbenam, karena tidak mampu lagi menahan rasa sakit, aku berjalan terhuyung-huyung ke kemah medis untuk meminta saran Caroline, dokter ekspedisi.
       Dia memberiku analgesik (pengurang rasa sakit) yg kuat dan memintaku untuk minum air, tetapi setelah beberapa teguk aku malah memuntahkan pil, air yg kuminum dan sisa-sisa makan siangku. "Hmm," gumam Caro setelah mengamati muntahanku, "sepertinya kita perlu mencoba obat yg lain." Aku diminta untuk melarutkan sebutir pil kecil dibawah lidahku, yg menahanku agar tidak muntah lagi, dan kemudian minum dua pil kodein. Sejam kemudian, rasa sakit yg kurasakan mulai sirna. Hampir menangis karena lega, aku pun mulai tertidur.
   
Aku masih setengah tertidur dalam kantong tidurku sambil mengamati sinar matahari yg memantulkan bayangan ke dinding tenda, ketika aku mendengar Helen berteriak, "Jon! Telepon dari Linda!" Aku merenggut sepasang sendal dan berlari kurang lebih lima puluh meter menuju kemah komunikasi, meraih gagang telepon sambil berusaha keras untuk menarik napas.
       Ukuran mesin faksimile dan telepon satelit kami tidak lebih besar daripada sebuah laptop. Sambungan telepon / faksimile ke tempat ini sangat mahal---kira-kira lima dollar permenit--- dan salurannya tidak selalu jernih, tetapi fakta bahwa istriku berhasil memutar tiga belas digit nomor dari Seattle dan berbicara denganku di Gunung Everest ini sungguh mengagumkan. Meskipun telepon itu sangat menghiburku, nada pasrah dalam suaranya terdengar nyata bahkan ketika kami berdua berada diujung yg berlawanan dari bola dunia."Aku baik-baik saja," katanya meyakinkanku, "tapi aku berharap kamu ada disini."
       Delapan belas hari yg lalu, saat mengantarku ke pesawat yg akan membawaku ke Nepal, Linda menangis. "Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah," katanya, "Aku tidak bisa berhenti menangis. Mengucapkan selamat berpisah kepadamu adalah hal paling menyedihkan yg pernah kulakukan. Kukira pada titik tertentu aku menyadari bahwa kamu mungkin tidak akan kembali, dan itu hanya untuk sesuatu yg tampaknya sia-sia. Aku merasa kamu melakukan sesuatu yg sangat bodoh dan tidak berguna.
       Kami sudah menikah selama lima belas setengah tahun. Hanya seminggu setelah berbicara tentang pernikahan, kami berdua datang kekantor catatan sipil dan langsung menikah. Waktu itu usiaku baru dua puluh enam tahun dan baru saja memutuskan untuk berhenti mendaki dan bersungguh-sungguh menjalani kehidupan.
       Waktu aku bertemu Linda untuk pertama kalinya, dia juga seorang pendaki---pendaki yg sangat berbakat---tetapi dia mengundurkan diri setelah pergelangan tangannya patah dan punggungnya terluka, dan kemudian mempertimbangkan dengan kepala dingin resiko yg terkait dengan kegiatan mendaki gunung. Linda tidak akan pernah memintaku untuk meninggalkan kegiatan ini, tetapi ketika kukatakan bahwa aku akan meninggalkan dunia petualangan ini, keyakinannya untuk menikah denganku semakin besar. Aku hanya tidak menyadari bahwa mendaki telah mencengkeram jiwaku, bahwa tanpa mendaki kehidupanku terasa seakan-akan tanpa kemudi.Aku tidak mengantisipasi kekosongan yg akan kurasakan tanpa mendaki Setahun kemudian, diam-diam aku mengeluarkan peralatan mendaki dari gudangku dan kembali ke gunung. Pada 1984, ketika aku berangkat ke Swiss untuk mendaki Eiger Nordwand, sebuah puncak gunung yg sangat berbahaya, perkawinanku dengan Linda hampir berakhir, dan mendaki gunung merupakan inti penyebabnya.
       Setelah gagal mendaki Eiger, perkawinan kami tetap goyah selama dua atau tiga tahun, tetapi kami masih mampu bertahan. Akhirnya, Linda bisa menerima kegiatanku mendaki: mendaki merupakan satu bagian penting (meskipun membingungkan) dari diriku. Mendaki, demikian pemahaman Linda, merupakan ungkapan penting dari aspek yg aneh tetapi melekat  pada kepribadianku, yg tidak bisa ku ubah, seperti aku tidak bisa mengubah warna mataku. Lalu, ditengah-tengah penyesuaian itulah, majalah Outside memutuskan untuk mengirimku ke Everest.
        Awalnya aku berpura-pura bahwa peranku sebagai wartawan lebih penting daripada peranku sebagai pendaki---bahwa aku menerima penugasan ini karena komersialisasi Everest  merupakan topik yg sangat menarik, dan uang yg kuperoleh pun cukup lumayan. Aku jelaskan kepada Linda dan orang-orang yg meragukan kemampuanku mendaki Himalaya. "Barangkali aku hanya akan mendaki sedikit lebih tinggi daripada Base Camp," kataku ngotot. ""Hanya untuk mengalami sendiri, bagaimana rasanya berada ditempat yg sangat tinggi."
        Tentu saja semua itu cuma omong kosong. Mengingat lamanya perjalanan ini dan waktu yg sudah kuhabiskan untuk pelatihan, dengan tinggal dirumah dan menerima penugasan lain aku bisa memperoleh lebih banyak uang. Aku menerima penugasan ini karena aku sudah berada dalam genggaman mistis Everest. Kenyataannya, aku ingin mendaki gunung itu lebih dari apapun yg pernah kuinginkan dalam hidupku. Sejak pertama aku setuju untuk pergi ke Nepal, aku berniat untuk mendaki sejauh kaki dan paru-paruku bisa membawaku.
        Saat Linda mengantarku ke bandara, dia sudah memahami kepura-puraanku. Dia memahami keinginanku yg sesungguhnya, dan itu membuatnya takut. "Jika kamu mati," katanya dengan marah bercampur putus asa, "bukan cuma kamu yg harus menanggungnya. Aku juga harus menanggungnya seumur hidupku, dan kamu tahu itu. Apakah itu sama sekali tidak berarti bagimu?"
        "Aku tidak akan mati," jawabku." Jangan berlebihan."
 

*Meskipun Yasuko pernah menggunakan sepatu paku (crampon) saat dia mendaki Aconcagua, McKinley, Elbrus dan Vinson Masif, pendakian ditempat-tempat tersebut tidak bisa sepenuhnya disebut pendakian gunung es. Medan pendakian di keempat gunung tersebut umumnya merupakan lereng es yg landai dan atau batuan reruntuhan yg lepas seperti batu kerikil


Bersambung......

          

Kamis, 07 Agustus 2014

Ekspedisi Double M--- Bab II : Merbabu 3142 mdpl

Gunung Merbabu 3142 mdpl di lihat dari Pos New Selo Merapi ( 31/7/2014 )


Obituary Seorang Pendaki

Bagi kami tiada kata untuk sombong
Sebab pendakian demi pendakian bukanlah perburuan prestasi
Dari puncak ke puncak kami telah pergi
Namun kami masih ingin terus mendaki dan mendaki
Karena bagi kami puncak-puncak gunung itu adalah sebuah misteri
Engkau takkan pernah tahu impian kami para pendaki
Bagi kami pendakian adalah ungkapan cinta....
Sesuatu yang sangat pribadi !!!
Yang hanya bisa diselami oleh seorang pendaki
Dan kematian bagi kami bukanlah sebuah resiko
Melainkan puncak obsesi cinta kami pada alam.


1 Agustus 2014, Alarm dari gadget saya yang berbunyi serentak di dini hari itu membangunkan saya dari tidur yang belum tuntas. Rasanya baru saja saya merebahkan badan untuk beristirahat. Alarm saya memang selalu berbunyi jam 3.15. Masih dalam keadaan rebah di dalam sleeping bag, saya mengingat-ingat jam berapa saya tidur, ada dimana dan apa yang harus saya lakukan. Mata ini berat sekali, karena saya baru tidur 2,5 jam saja di tambah 1 jam waktu di bus, total saya baru tidur  3,5 jam dalam 3 hari. Hawa dingin yang menusuk membuat saya merasa enggan untuk bangun. Kurang lebih 1 jam kemudian saya baru benar-benar "memaksa" badan untuk beringsut dan duduk selonjor dengan  kaki masih tetap di dalam sleeping bag. Keadaan masih sepi dan semua anggota tim masih terlelap dalam tidurnya. Kami semua tidur di dipan kayu semi panggung berukuran 7x2 meter, kecuali Iyan, Soni, Hendro, Zafran, Eko, mereka tidur di lantai beralas trash bag dan sleeping bag. Peralatan masak bekas masak semalam masih menumpuk di antara posisi kami tidur. Disebelah kanan saya Ryan meringkuk kedinginan, dan disebelah kiri saya Gugum sepertinya sibuk "berlatih silat" --- maklum kepala saya sempat jadi target sikutnya...hehe.

Jam 4.00 saya bangun dari posisi nyaman dan hangat, saya kenakan lagi celana panjang, lalu saya bangkit dan keluar untuk menikmati udara subuh di depan base camp Selo Merapi, tak lupa saya sampirkan sleeping bag saya untuk menutupi Ryan yang kedinginan. Seperti yang saya duga, diluar udaranya jauh lebih menggigit. Langit cerah berbintang. Setiap hembusan nafas saya mengeluarkan asap, menandakan tingginya perbedaan suhu antara tubuh saya dengan udara luar. Saat saya hendak mengambil wudhu untuk menunaikan shalat subuh, lewatlah 30-40 orang turis asing yang hendak mendaki Merapi, dengan hanya menggunakan kaos oblong tipis mereka berjalan santai menuju New Selo seolah dinginnya udara subuh itu bukanlah "musuh" untuk terus bergerak. Basuhan air wudhu terasa seperti jarum yang menusuk permukaan kulit saking dinginnya, benar-benar godaan untuk tidak menunaikan kewajiban. Selesai shalat saya menuju dapur basecamp untuk meminta segelas teh manis dan menyeduh obat herbal yang memang saya bawa. Saya bangunkan Gugum dan Wawan agar segera menunaikan shalat subuh sebab hari semakin siang. Lalu sambil menanti matahari terbit saya duduk sambil ngobrol dengan sesama pendaki dari Solo di temani teh manis panas.

Untuk efesiensi waktu, pagi itu tim memutuskan untuk tidak masak melainkan memesan seporsi nasi goreng dan teh manis hangat untuk setiap anggota tim. Dengan biaya sepuluh ribu rupiah jadilah nasi goreng menjadi pengisi perut kami untuk sarapan. Tim menjadwalkan untuk mulai perjalanan mendaki Merbabu jam 8.00. Sambil menunggu waktu, Ryan dan Iyan bernegosiasi untuk tarif angkutan ke base camp Selo Gn.Merbabu. Disepakati ongkos sebesar 10.000 per orang. Kami menggunakan mobil bak yang sama untuk menuju base camp Merbabu. Tepat jam 8.00 tim bertolak menuju Gunung Merbabu. Di tengah perjalanan, salah satu anggota tim, Wawan, berpamitan untuk lebih dulu pulang ke Bogor. Sebenarnya saya dan Gugum sudah mencoba untuk membuat Wawan untuk terus melanjutkan pendakian, namun karena alasan pekerjaan yang memang tidak bisa diwakilkan dan ditinggalkan dengan terpaksa Wawan pulang lebih awal.
Sebenarnya jarak antara basecamp Merapi dan Merbabu di Selo ini tidak terlalu jauh, sekitar 4 km, namun untuk menjaga kondisi fisik dan efisiensi waktu tim memutuskan untuk naik mobil. Arah menuju basecamp Merbabu kami kembali menyusuri jalanan awal melewati Pasar Cepogo lalu berbelok ke kiri dan terus menanjak. 20 menit saja waktu yang tim butuhkan untuk mencapai basecamp Merbabu. Basecamp tempat kami mendaftar adalah rumah Pak Parman, terletak di sebelah kanan jalan dengan sebuah bak sumber air --- pendaki bisa mengambil air untuk perbekalan disini. Berhubung sepanjang jalur pendakian nanti tidak akan ditemui sumber air maka tim mengisi penuh setiap botol dan jerigen yang di bawa plus menyelesaikan hajat yang berhubungan dengan air. Dan nasi goreng sarapan kami pagi tadi pun jadi subyek biang keladi sakitnya perut mayoritas anggota tim. Bergantian tim mengosongkan perut, kecuali saya. Sambil menunggu seluruh anggota tim siap, saya dan Yasser mewakilkan Ryan mengurus berkas pendaftaran. Masing-masing pendaki di kenakan biaya sebesar 4.000 rupiah dan diberikan surat pengantar untuk diserahkan di pos tempat kami turun nanti (Wekas). Mundur 40 menit dari target awal jam 9.00 pagi, tim mulai bergerak meninggalkan basecamp. Trio Ubur-ubur di tambah Gugum dan Hendro menjadi tim sweeper.


Tim beristirahat di Pos I Dok Malang ( 1/8/2014 )


Seperti biasa saya berjalan sangat lambat, cara berjalan seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan saya, selain untuk menjaga kondisi fisik juga untuk mempercepat menemukan ritme jalan yang nyaman. Jalur awal pendakian menuju Pos I relatif datar, banyak di temui bonus trek di sela tanjakan-tanjakan pendek. Vegetasi juga tidak rapat, dominan ilalang dan pohon kayu berdiameter tidak lebih dari 40 cm. 50 menit selepas gerbang pendakian banyak ditemui kera-kera diantara pepohonan, seperti menyambut kami yang akan memasuki hutan Merbabu. Formasi tim terpecah menjadi 3 grup, grup advance / leader yang di pimpin Ryan, grup tengah Iyan dan sweeper saya. Rata-rata jarak berjalan antara grup leader dg sweeper adalah 45-1,5 jam. Jam 11.35 tim sweeper tiba di Pos I Dok Malang, saat tim sweeper tiba, anggota tim yang lain sedang beristirahat sambil membuat perapian. Pos I ini merupakan sebuah bidang tanah yang cukup luas dan datar, cukup untuk membangun 6-7 tenda. Tim beristirahat selama 30 menit sebelum melanjutkan perjalanan.
Jam 12.05 tim mulai bergerak lagi untuk menuju Pos II, masih dengan kontur tanah, trek yang relatif landai namun vegetasi semakin terbuka. Empat puluh menit selepas Pos I jalur pendakian berubah curam membuat badan kami kaget, untung trek curam itu hanya sepanjang 30-40 meter sebelum berubah menjadi landai kembali. Namun jam 13.00 bonus trek itu hilang berganti dengan jalur menanjak yang sangat panjang, yang dikenal dengan nama Tanjakan Penyiksaan. Soni mulai kepayahan, saat itu di posisi sweeper adalah saya, Soni, Eko, Gugum, Huda, Hendro dan Wahyu. Saya pun memulai aksi PHP dan Soni adalah korban pertama saya...(sori ya bro...hehehe). Akibat terlalu banyak tertawa (menertawakan Soni) saya kehilangan banyak energi dan berimbas dengan makin lambatnya saya berjalan. Sepuluh menit selepas Tanjakan Penyiksaan kami bertemu dengan tanah lapang yang cukup luas, cukup untuk membangun 4-5 tenda. Maju ke depan sepuluh menit lagi tim sweeper berhasil tiba di Pos II Pandean. Tim sweeper tidak bertemu dengan tim leader dan tengah di Pos II ini, kami berpikir mungkin mereka lanjut dan menunggu di simpangan Pos Bayangan. Saya lirik jam di pergelangan tangan saya, jarum jam menunjuk angka 14.10. Pos II ini adalah sebidang tanah kecil yang dikelilingi pepohonan dan cukup rimbun, berlama-lama disini membuat badan menjadi dingin. Karena alasan itulah kami tim sweeper tidak berlama-lama, kurang lebih hanya 10 menit kami beristirahat sebelum melanjutkan pendakian.
Belum lama kami berjalan, nampak di depan kami Iyan, Adit dan Gugum sedang beristirahat. Saat kami tiba di posisi mereka, mereka pun bergabung dan berjalan bersama-sama. Sorot cahaya matahari sudah tidak seterik siang tadi, sehingga kami tidak terlalu banyak kehilangan cairan. Kondisi jalur pendakian didominasi tanah, rumput dan perdu kecil.

Suasana di simpang Jalur Selo dan Thekelan, Pos bayangan ( 2/8/2014 )

Simpangan Jalur, kiri adalah arah ke Selo, foto dari Tanjakan menuju Pos III (1/8/2014)


Jam 15.30 tim sweeper tiba di simpangan Pos Bayangan, sebuah lapangan yang sangat luas dan terbuka. Berdiri beberapa tenda pendaki disini. Di sebelah timur terdapat puncak bukit kecil ramai pendaki yang berfoto-foto sedangkan di sebelah Barat adalah jalur pendakian kami selanjutnya. Nampak jalur pendakian yang hitam, kontras dengan warna hijau di sekelilingnya yang curam dan panjang sudah menunggu untuk kami tapaki. Jalur curam itu memanjang berkelok hingga hilang di balik puncak bukit, di balik bukit itulah letak Pos III alias Sabana I. Di butuhkan waktu 1,5-2 jam bagi tim untuk melewati tanjakan curam ini dan mencapai Pos III. Selangkah demi selangkah kami memulai untuk mendaki jalur curam ini. Mulai dari sini beban bawaan saya bertambah, sebuah batang pohon mati dengan berat tidak kurang dari 10kg saya bawa dengan tangan kanan saya. Kemiringan jalur yang nyaris mencapai 75-80 derajat jelas sangat menyulitkan pendaki yang membawa beban berat dan carrier tinggi. Tim sweeper berulang kali istirahat walau dalam posisi berpijak yang tidak ideal. Di pertengahan jalur kami menemukan daypack Egi yang sengaja ditinggalkan untuk mempermudah pendakian. Sejak turun dari Merapi semua anggota tim jadi mengetahui jika Egi memiliki masalah phobia dengan ketinggian dan akhirnya kami memaklumi hal tersebut. Saya meminta tolong pada Eko dan Soni untuk mengikat daypack Egi di atas carrier saya. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tim Sweeper tiba di Pos III / Sabana I tepat jam 17.35. Kami hanya menemui Gugum sedang istirahat sendiri. Kondisi fisik kami yang sudah terkuras dan beratnya bawaan di dalam carrier membuat kami tidak memungkinkan untuk menyusul tim leader yang kemungkinan besar sudah tiba di Sabana II. Di kejauhan nampak tanjakan curam berikutnya yang menjadi gerbang untuk menuju Sabana II. Setelah berembuk sejenak, saya, Soni, Gugum, Eko dan Huda yang kembali turun sepakat untuk beristirahat di Sabana I ini untuk me-recovery kondisi fisik kami. Posisi Sabana I ini tepat berada di puncak punggungan bukit sehingga tidak ada pelindung jika angin datang dari penjuru manapun. Sedangkan Sabana II posisinya terletak di lembah punggungan, lebih terlindung.

Awalnya kami sepakat hanya akan membuat bivak darurat dari flysheet yang dibawa Soni dan akan kembali bergerak menyusul tim leader sekitar jam 21.00. Kamipun bergerak cepat membagi tugas, maklum, dinginnya udara di Sabana I Merbabu sudah tersohor di kalangan pendaki, sehingga berdiam diri di tempat seperti tanpa perlindungan sama saja nyari masalah. Setelah bivak berdiri, saya dan Gugum melaksanakan shalat maghrib. Selesai shalat kami mulai masak dan coba membuat perapian walau pada akhirnya gagal.
Udara dingin yang bercampur angin semakin membekukan kami dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan malam ini. Walau bagaimana kondisi fisik yg lemah bisa jadi bumerang dan masalah jika kami memaksakan untuk terus mendaki. Setelah kami sepakat untuk lebih lama beristirahat di Pos III kami segera membangun tenda. Alhamdulillah, jam 22.00 kami tim sweeper sudah bisa beristirahat didalam tenda. Kami juga sepakat bahwa jam 2.00-3.00 kami akan berkemas dan menyusul tim leader. Tidak butuh waktu lama kami segera terlelap di balik sleeping bag, kecuali saya, karena tidak kebagian sleeping bag terpaksa saya mengalami salah satu 4 jam terlama dalam hidup. Hembusan angin menembus pori-pori tenda, membekukan paha dan kaki saya, sehingga kaki saya kram terus menerus dan sakit seperti di tusuk. Kepala saya pun migrain akibat beda tekanan. Berulang kali saya melirik ke arah empat rekan setenda, berharap ada salah satu yang bangun dan mau bergantian posisi. Saya sudah setengah mati rasa, sementara waktu berjalan lambat sekali. Kurang lebih jam 1 dini hari saya terpaksa menelan sebutir antibiotik tanpa air demi meredakan demam saya yang semakin menjadi. Jam 2.00 sesuai dengan kesepakatan kami bangun kecuali Huda yang terus saja asyik dengan tidurnya. Gugum dengan sigap keluar tenda dan segera memasak untuk mengisi perut kami sebelum melanjutkan perjalanan, sementara saya , Soni dan Eko walau sudah terbangun tetap berada di dalam tenda. Jam 2.30 kami sarapan energen satu sachet di bagi berlima dan kopi panas. Saat itu tim sudah siap untuk melanjutkan perjalanan, tapi saya meminta waktu 1 jam lagi, saya perlu memejamkan mata dan menghangatkan badan yang sudah ga karuan rasanya. Hari ini sudah tanggal 2 Agustus dan saya baru tidur 3,5 jam sejak tanggal 30 Juli. Akhirnya tim memberi saya kesempatan untuk tidur 1 jam. Saat Gugum membangunkan saya jam 4.20 badan saya terasa jauh lebih segar, 30 menit kemudian kami berkemas, shalat subuh dan melanjutkan perjalanan menuju Sabana II jam 5.30.

Pagi hari tim sweeper menuju Sabana II, nampak Pos III / Sabana I dari Tanjakan tempat foto di ambil ( 2/8/2014 )
Camp tim leader di Sabana II ( 2/8/2014 )


Dalam perjalanan menuju Sabana II kami di suguhi pemandangan yang luar biasa indah, di sebelah kanan kami perlahan namun pasti matahari mulai muncul dari ufuk, menyiram tubuh beku dan dingin kami dengan hangat cahayanya. Hari itu kami beruntung sebab bisa menyaksikan sekaligus mengabadikan momen golden sunrise. Siluet Gunung Lawu terlihat sangat eksotis dan indah. 50 menit mendaki tanjakan curam kami pun tiba di Sabana II jam 6.20, bertemu dengan seluruh anggota tim yang lain. Tim di Sabana II membangun 4 tenda dan semua anggota tim sudah terbangun saat tim sweeper tiba.



Pemandangan dari puncak tanjakan panjang sebelum Puncak Merbabu ( 2/8/2014 )



Tak lama setelah tim sweeper tiba, rekan-rekan tim yang camp di Sabana II juga segera berkemas. Disebelah utara terjalnya tanjakan panjang terakhir yang akan membawa kami menuju Puncak Kentheng Songo sudah menanti untuk di daki. Karena alasan terjal itu pula kami menunda untuk sarapan sebab dikhawatirkan akan membuat perut kami tidak nyaman. Jadi kami sepakat untuk masak setelah kami mencapai helipad --- pertigaan antara Puncak Kentheng Songo dan Puncak II. Saat itu masih jam 6.45 saat saya mulai "mengabsen" persediaan air yang masih tim miliki. Dari hasil "absen" itu diketahui bahwa sisa air yang kami miliki tinggal 7 botol volume 1,5 liter. Karena itulah kami terpaksa lebih ketat dalam memanajemen air yang ada agar tetap mencukupi minimal hingga kami bertemu dengan sumber air berikutnya di Pos II Jalur Wekas. Dari 7 botol itu, 3 botol kami alokasikan untuk masak dan sisanya kami bagi masing-masing satu botol untuk lima orang selama lima jam ke depan. Kami menyempatkan diri berfoto-foto sebelum melanjutkan pendakian. Tepat jam 8.30 tim memulai perjuangan akhir menuju Puncak Merbabu. Cuaca cerah dan nyaris tanpa kabut menemani kami sepanjang pendakian, formasi kami tetap terbagi menjadi 3 grup. Di depan di pimpin Ryan dengan anggota Nur, Tejo, Abbu, Alvin, Egi dan Joni, Grup tengah ada Iyan, Adit, Zafran, Yasser, Eca  dan grup sweeper saya, Eko, Gugum, Wahyu, Soni dan Huda. Jalur yang terbuka dan tanpa vegetasi tinggi membuat terik matahari semakin terasa, ketinggian yang terus bertambah sedikit banyak membuat nafas kami semakin berat dan terasa kering di tenggorokan. Kemiringan jalur pendakian pun kembali sangat curam menjelang pertigaan helipad. Tanjakan-tanjakan yang kami lewati tak kurang dari 75 derajat kemiringannya. Alhamdulillah jam 10.10 tim sweeper berhasil menyusul tim leader tiba di Puncak Merbabu, Puncak Kentheng Songo, titik 3142 mdpl. Kabut agak tebal saat kami merayakan keberhasilan kami menggapai puncak kedua dari Ekspedisi Double M ini. Sujud syukur kami panjatkan pada Allah yang telah memberi kami kesempatan untuk bisa mejejakkan kaki-kaki letih kami di salah satu puncak gunung yang indah ini. Masing-masing anggota tim larut dalam euforianya. Bagi sebagian orang mungkin akan merasa enggan bersusah payah mempertaruhkan nyawa untuk bisa sekedar berdiri di titik tertinggi, mencumbui awan dan merasakan belaian kabut yang dingin, namun bagi orang-orang seperti kami lelahnya fisik bukanlah soal, sebab inilah dunia kami, jauh dari hingar bingar kota yang tak lagi ramah. Disini kami hidup dan mendapatkan kehidupan. Disini kami benar-benar menemukan kesejatian persahabatan, dimana kerelaan untuk berbagi kami dapat atas dasar keikhlasan. Kalian tak akan pernah mengerti jalan pikiran kami, jadi biarkan kami tetap melangkahkan kaki untuk meniti puncak-puncak yang lainnya.


Tim KPK Korwil Bogor di Puncak Kentheng Songo Gn. Merbabu 3142 mdpl ( 2/8/2014 )
Iyan, Saya, Gugum, Ryan dan Soni di Puncak Kentheng Songo ( 2/8/2014 )

2 Agustus 2014, jam 10.10 --- 3142 mdpl
Setelah 30 menit kami berfoto-foto dan mengabadikan setiap momen hasil perjuangan berat selama 3 hari terakhir kami pun memulai perjalanan turun menuju basecamp Wekas. Kali ini Zafran yang berperan sebagai leader dengan catatan harus berhenti jika menemukan persimpangan yang membingungkan. Belum genap 20 langkah kami menuruni Puncak Merbabu, kami sudah disuguhi jalur yang sangat terjal dan berbahaya. Diawali dengan turunan dengan kemiringan 50-60 derajat dengan kontur tanah berpasir yang labil dan menyulitkan kaki untuk berpijak kami beriringan rapat. Sesekali beberapa orang dari kami terpeleset dan terseret. 40 meter kemudian jalur berubah menjadi lebih curam, kontur batuan lepas yang diselingi akar dan batang pohon di kemiringan 80 derajat hingga nyaris vertikal harus kami lewati dengan sangat berhati-hati dan perlahan. Anggota tim dengan carrier besar dan tinggi seperti Tejo, saya, Soni, Adit, Gugum dan Iyan harus lebih ekstra hati-hati dan menjaga keseimbangan. Salah melangkah bisa fatal akibatnya. Lepas dari jalur berbahaya itu tidak lantas kami bebas dari bahaya sebab persis di balik tikungan tebing terakhir yang kami turuni sudah menunggu jalur sempit sepanjang 10 meter.

Bergantian meniti Jembatan Setan Merbabu ( 2/8/2014 )

Trek terbuka selepas Jembatan Setan ( 2/8/2014 )

 Tebing vertikal setinggi kurang lebih 15 meter itu hanya menyisakan tempat pijakan selebar 20 centimeter saja. Masih tersisa jarak 2 meter dari pijakan dengan dasar jalur selanjutnya, hanya saja dasar jalur pun masih tetap miring sehingga jika pendaki salah berpijak bisa dipastikan pendaki akan jatuh dengan punggung terlebih dahulu ke arah bebatuan yang menjadi lapisan atas jalur dibawahnya. Inilah trek berbahaya yang di kalangan pendaki populer dengan nama Jembatan Setan Merbabu. Trek tersebut juga menjadi jalur dengan tingkat kesulitan tertinggi terakhir yang akan dilewati pendaki dalam perjalanan turun menuju basecamp Wekas. Alhamdulillah seluruh anggota tim mampu melewati rintangan itu dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun.
Jam menunjukkan pukul 11.45 saat kami tim sweeper tiba di persimpangan Puncak Syarif. Di puncak yang terletak disebelah kanan jalur turun itu terdapat makam yang cukup sering menjadi tujuan para peziarah. Kabut cukup tebal saat kami menyusuri jalur terbuka antara Puncak Syarif dan Puncak Menara, namun kami beruntung sebab kabut itu tidak disertai angin. Dua kali sudah saya mendaki Merbabu, dan dalam kesempatan itu saya selalu dihadang badai angin dan kabut tebal. Baru kali ini saya mendaki Merbabu dalam kondisi cuaca cerah dan nyaris tak berangin. 1,5 jam setelah persimpangan Puncak Syarif tim tiba di persimpangan Puncak Menara. Kurang lebih 30 menit sebelum persimpangan Puncak Menara, saya, Gugum, Soni, Eko, Huda, Alvin, Yasser, Wahyu, Hendro, dan Eca sempat beristirahat cukup lama di puncak punggungan bukit yg terakhir dan sempit. Kondisi Eca drop dan untuk saat itu jalan satu-satunya adalah kami harus memberi asupan makanan agar Eca mendapat tambahan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Selain kelelahan, kami semua memang dalam kondisi sangat lapar. Rencana untuk masak besar di pertigaan helipad berjam-jam yang lalu kami batalkan demi mengejar waktu ke Pos II. Akhirnya saya putuskan agar kami memasak sereal terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan sigap tim mengeluarkan peralatan masak dan 20 menit kemudian masing-masing dari kami bergantian makan satu dua sendok sereal. Selesai me-recovery Eca, saya meminta Huda untuk menyusul tim leader sebab hampir seluruh kebutuhan logistik dan perbekalan ada di carrier Huda. 20 menit setelah Huda turun kami semua pun kembali berjalan turun.
Saya dan Soni menjadi anggota tim yang terakhir tiba di Pos II. Waktu itu sudah jam 15.15, dan hampir seluruh anggota tim sedang sibuk mempersiapkan masak besar.

Tim makan besar di Pos II Jalur Wekas ( 2/8/2014 )

 Di koordinir oleh Iyan, Eca, Tejo dan Gugum tim mengolah bahan makanan yang masih tersisa. Kami berlomba dengan waktu. Yasser memasak air untuk membuat teh dan kopi. Sambil menunggu masakan matang saya dan Gugum shalat Dzuhur dan Ashar.  Alhamdulillah jam 16.35 perut kami semua sudah terisi maksimal dan siap untuk melanjutkan perjalanan malam turun ke basecamp. Setelah mencuci peralatan dan beristirahat sejenak, kami bergegas untuk berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Sebelum turun kami berkumpul, berdoa dan saling bermaafan satu sama lain. Mengingat dalam perjalanan panjang ini pasti sedikit banyak terjadi salah paham dan sikap yang kurang berkenan, terutama saya yang banyak melakukan PHP ke anggota tim yang lain. Matahari sudah hilang dari pandangan, udara pun semakin dingin, tepat jam 17.20 dalam kondisi yang sudah meremang satu per satu anggota tim mulai berjalan turun menuju basecamp.
Perjalanan kami turun relatif lancar dan aman, dengan masih tetap berposisi sebagai sweeper, tim ubur-ubur mencapai Pos I sekitar jam 18.35 dan jam 20.10 kami semua tiba di basecamp Wekas.  Setelah menyerahkan berkas lapor di basecamp kami semua sibuk beristirahat dan membersihkan badan. Karena kemalaman kami terpaksa bermalam di basecamp, menunggu hingga esok hari untuk melanjutkan perjalanan ke kota menuju Terminal Tidar Magelang. Kami menyewa colt bak L300 dengan biaya 10.000 per orang untuk menuju Terminal Tidar. Dan Alhamdulillah setelah 28 jam dalam bus, rombongan tim ekspedisi Double M KPK Korwil Bogor tiba di check point akhir Perempatan Pasar Rebo Jakarta dan berpamitan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
 Terima kasih untuk teman-teman semua, tanpa kerja sama dan solidaritas yang tinggi nyaris tidak mungkin kita bisa selesaikan misi dua puncak ini. Semoga selalu terjaga kebersamaan dan tali silaturrahim di antara kita semua. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk kita kembali bersama-sama mendaki dan bertualang dialam bebas. #Big Huge n Respect.


The Actor : Ryan, Iyan, Tejo, Soni, Eko, Yasser, Eca, Zafran, Nur, Adit, Alvin, Joni, Egi, Abbu,     
                   Hendro, Wawan, Huda, Gugum, Kukuh.


                                    As Long As Mountain Still Exist In The Earth
                                                         Hiker Never Die !!!



Peta Gunung Merbabu Jalur Selo
Bivak darurat tim sweeper di Pos III / Sabana I ( 1/8/2014 )
Trek terbuka selepas Jembatan Setan ( 2/8/2014 )
Bergantian meniti Jembatan Setan Merbabu ( 2/8/2014 )

Rabu, 06 Agustus 2014

Ekspedisi Double M---Bab I : Merapi 2968 mdpl

Gunung Merapi 2968 mdpl di lihat dari Selo ( 31/7/2014 )

Kabut yang turun tiba-tiba di sore cerah itu sontak membatasi jarak pandang mata saya menjadi hanya beberapa meter saja. Lapisan-lapisan lava beku bekas erupsi nampak menjadi satu bayangan gelap seolah batuan yang kokoh. 10 meter di atas, Adit sepertinya terdiam menunggu aba-aba selanjutnya dari saya. Saat itu saya, Abbu dan Adit memang berada di posisi terdekat dengan Puncak Merapi, kurang dari 15 menit lagi kami hampir pasti akan berdiri menjejak titik tertinggi gunung berapi paling aktif di dunia itu. 20-30 menit di bawah kami berjalan berurutan anggota tim yang lain, berjalan rapat, membungkuk kepayahan mengatur langkah kaki yang berat dalam benaman pasir.
Angin menyibak kabut untuk sesaat sehingga walau samar saya bisa melihat posisi seluruh anggota tim. Tak lama saya dengar teriakan Ryan, pemimpin ekspedisi, yang meminta seluruh tim untuk turun kembali ke Camp Pasar Bubrah. Saya mengerti alasan komando itu semata demi keselamatan dan keamanan seluruh anggota tim. Adit dan Abbu masih diam di tempat seperti menunggu apa keputusan saya. Saya tahu, bukan hal yang mudah untuk menepikan ego dan obsesi muncak saat peluang itu sudah benar-benar di depan mata. Saya tahu sebab saya juga pernah mengalami bagamana sedihnya "balik badan" saat puncak tinggal beberapa langkah lagi. Jadi, saya tahu pasti apa yang mereka rasakan saat saya minta mereka untuk mematuhi komando dr leader untuk turun kembali. Saya salut, mereka masih bisa tersenyum untuk menutupi kekecewaannya. Jam 16.50, tanggal 31 Juli 2014, setelah mencoba summit selama 40 menit dari Pasar Bubrah, bersama-sama kami pun melangkah turun di iringi tersibaknya kabut yang seolah mempermudah matahari sore untuk menerangi pandangan mata kami. Tepat jam 17.05 kami dan seluruh anggota tim ekspedisi Double M KPK Korwil Bogor sudah berkumpul kembali di Camp Pasar Bubrah untuk beristirahat.

30 Agustus 2014, jam 11.00.

Saya masih dalam perjalanan menuju terminal bus Baranangsiang Bogor. Di pundak saya tersandang carrier Avtech kesayangan berikut isinya. Sebenarnya, kondisi badan saya sedang tidak fit akibat demam dan flu, tapi demi memenuhi undangan naik bareng dari teman-teman KPK Korwil Bogor saya tetap memaksakan untuk berangkat. Berkoordinasi dengan Ryan---pemimpin ekspedisi--- saya meminta panduan untuk mencapai meeting point, yang disepakati di depan Griya Bukit Jaya Cileungsi. Jam 11.20 saya sudah berganti kendaraan dengan bus kecil tujuan Jonggol. Tak lupa saya berpesan pada kernet agar diturunkan di depan komplek GBJ sesuai instruksi dari Ryan. Siang itu panas luar biasa, saya mandi keringat dibuatnya. Untung saja jalanan relatif lancar dan satu jam kemudian saya sudah tiba di lokasi meeting point kami.
Turun dari bus saya menuju warung kecil untuk membeli air mineral dan beberapa bungkus permen. Sebenarnya saya masih agak bingung harus bertemu siapa, sebab, terus terang, saya baru kali ini bergabung dengan acara Korwil. Walaupun saya cukup intens berkomunikasi via forum tapi saya belum pernah komunikasi face to face dengan satupun anggotanya. Saat saya masih agak kebingungan, di depan warung yang saya tuju itu ada beberapa orang dengan setelan pendaki, dengan Pede saya menghampiri untuk berkenalan. Hendro, lelaki usia 20-24 tahun, tinggi besar dan berambut ikal adalah orang pertama yang saya kenal dari anggota tim yang lain. Lalu berturut-turut, Yasser, Soni, Ryan, Zafran, Abu, Tejo, Nur, Eca, Wahyu, Gugum, Wawan, Joni, Alvin, Egi, Iyan dan Adit. Tentu saja tidak semudah dan secepat itu bagi saya menghafal nama-nama mereka, apalagi dalam satu momen saja. Butuh beberapa kali saya bertanya ulang dan menghafal.
Menurut jadwal bus yang kami tumpangi akan berangkat jam 13.00. Sebelum berangkat, kami mengisi perut dan membeli beberapa keperluan untuk di perjalanan.
Di dalam bus saya duduk bersebelahan dengan Egi yang rupanya menjadi anggota tim termuda. Penampilannya biasa, rambut curly dan minim pengalaman mendaki. Masih duduk di kelas III di salah satu SMU di Jakarta. Tak banyak hal yang bisa kami bicarakan sebab Egi lebih banyak tidur selama perjalanan. Jalanan yang lengang ---mungkin pengaruh arus mudik yang telah selesai --- membuat perjalanan kami relatif cepat. Hanya sayang, kondisi bus yang kurang terawat membuat penumpang, khususnya saya tidak nyaman. Bocornya air AC membuat pakaian dan tempat duduk saya basah, beruntung Nur dan Zafran sigap "ngakalin" bocoran itu hingga saya bisa lebih tenang. Namun, saya mulai merasa aneh, tiba-tiba saja timbul gejala alergi yang entah di picu oleh apa. Awalnya saya tidak terlalu peduli, termasuk saat bus masuk rest area pertama di daerah Indramayu sekitar jam 17.15. Tepatnya di Rumah Makan Sinar Minang yang menyajikan masakan Padang. Ternyata bukan hanya cita rasanya yang Padang, melainkan juga porsinya "Padang Banget"...alias dikit...hehe...(no heart feeling ya...it just joke). Nasi, satu sendok sambal hijau, sedikit sayur kol dan satu potong kecil ayam balado yang alot banget jadi pengisi perut saya sore itu. Ga butuh waktu lama bagi tim untuk menghabiskan jatah makan dari pihak bus, secara kami semua memang hobi makan.
Kurang lebih jam 18.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Dan penderitaan saya yang sesungguhnya pun di mulai. Alergi saya semakin parah, dari awal hanya di sekitar lengan dengan cepat menyebar ke badan dan kaki. Siluet pantai Eretan di sebelah kiri jalan pun tak lagi saya hiraukan. Nyaris sepanjang perjalanan menuju Boyolali saya tidak tidur, sibuk dengan rasa gatal yang mendera.
Laju bus sempat tertahan macet saat memasuki kota Pemalang jam 21.40 akibat putusnya jembatan Kali Comal. 1,5 jam waktu yang diperlukan bus untuk bisa keluar dari antrian kemacetan. Waktu terasa begitu lambat berjalan bagi saya karena serangan alergi yang sangat menyiksa. Bahkan saat bus memasuki rest area kedua di daerah Kendal jam 00.30 saya sudah tidak lagi antusias untuk sekedar turun melepas penat. Tapi berhubung rekan-rekan yang lain turun, saya pun ikut turun. Saya pikir kami dapat jatah makan lagi di Rumah Makan Kota Sari ini, ternyata tidak. Jika ingin makan maka kami harus keluar biaya sendiri. Dan akhirnya tim kami menjadi penonton orang-orang yang makan...(#kasian banget).
Beruntung bus hanya istirahat 30 menit disini, jadi kami ga perlu berlama-lama menonton orang makan. Karena gatal ygan saya rasakan sudah tak tertahan di tambah ga ada obat untuk meredakan akhirnya saya meminta sebutir antimo pada salah seorang rekan. Tak lama efeknya mulai terasa, mata saya menjadi ngantuk berat, entah jam berapa saya tertidur yang jelas teriakan kernet membangunkan saya dan anggota tim yang lain untuk segera bergegas dan bersiap turun sebab bus sudah memasuki Terminal Boyolali. Saya lihat jam di tangan, tertera 03.20.

Tim tiba di Terminal Boyolali setelah perjalanan panjang dari Bogor, awal dari pendakian  ( 31/7/2014 )


Boyolali merupakan salah satu kota transit utama bagi para pendaki yang akan naik ke Merapi ataupun Merbabu. Terletak di sebelah timur Merapi, di antara Salatiga disebelah utara, Yogya di selatan dan Solo di sebelah timur. Dari terminal bus Boyolali, jam 5.20 tim melanjutkan perjalanan menuju Base Camp Selo dengan menumpang Colt bak L300. Kami iuran Rp.10.000 per orang untuk ongkosnya. Dinginnya udara khas pegunungan langsung menyergap tubuh kami, membuat kami semua meringkuk berdesakan di bagian tengah mobil. Jalanan sepi saat kami melintas. Lewat area kota jalanan semakin menanjak dengan pemandangan perkebunan  tembakau di kanan kiri jalan.


Saya dan Abbu di Pasar Cepogo, Selo, dg tumpukan carrier di mobil angkutan ( 31/7/2014 )


Tim kami singgah sebentar di Pasar Cepogo untuk berbelanja keperluan-keperluan akhir untuk perbekalan nanti. Seperti biasa Iyan, Ryan, Zafran yang mengurus urusan belanja. Anggota tim yang lain sibuk berfoto-foto dan melihat-lihat suasana pasar pagi itu. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya jam 6.55 tim tiba juga di Base Camp Selo, di rumah Pak Samsuri. Ryan segera mengurus biaya pendaftaran sebesar Rp.5.000/orang. Untuk efisiensi waktu kami memesan makan di Base Camp.

Sarapan pagi di Base Camp Merapi sebelum pendakian ( 31/7/2014 )


Dengan sepuluh ribu rupiah kami bisa makan seporsi nasi putih dengan lauk telor ceplok dan sayur. Di Base Camp ini juga bergabung lagi 2 orang anggota KPK, Eko dan Huda. Keduanya saya taksir masih berusia 20-an. Eko berkulit gelap, dengan perawakan sedang dan wajah khas orang jawa, bersama Soni akhirnya menjadi teman saya di posisi sweeper selama pendakian ini---awal mula terbentuknya trio ubur-ubur...hehe---, sedangkan Huda berkulit putih, kurus dan sepintas seperti orang keturunan, serta sering kali melakukan hal yg kurang tepat dlm pendakian, kalo kata Joni istilahnya "bocor halus tp merata"...hihihi. Selain mereka berdua, bergabung juga 4 rekan dr UNY sehingga jumlah tim kami sekarang totalnya 25 orang. Tepat jam 8.40, setelah berdoa dan briefing singkat, tim memulai perjalanan pendakian. 80% barang-barang kami tinggalkan di Base Camp, ya, kami tinggalkan sebab rencananya kami hanya akan naik dan langsung turun ---istilahnya "tektok"--- jadi kami hanya membawa perbekalan dan logistik secukupnya saja.



Tim berfoto sejenak di Pos New Selo dg background Gn. Merbabu ( 31/7/2014 )

15 menit lepas dari Base Camp tim tiba di pos New Selo. Kami pun menyempatkan berfoto-foto. Gunung Merbabu nampak utuh dan gagah terlihat. New Selo ini belum terlalu lama di bangun, desain dan peruntukannya menyerupai pelataran di rest area At-Ta'awun di Puncak Bogor. Malam hari akan sangat indah jika di nikmati dr sini, terlebih saat cuaca cerah. Jalur pendakian terletak di ujung sebelah kiri pos.
Puas berfoto-foto, tim kembali melanjutkan pendakian. Jalan setapak selebar 1,2 meter yg berlapis paving blok dengan balutan semen menjadi menu awal kami dalam pendakian. Sesekali kami harus mengalah dan menepi saat berpapasan dengan penduduk lokal yang mengangkut pakan ternak karena bawaan mereka menghabiskan badan jalan. 400-500 meter kemudian jalur pendakian berubah menjadi tanah berundak dan menyempit hingga 80 centimeter. 30 menit berjalan kami mencapai titik 800 mdpl. Vegetasi di dominasi rumput ilalang dan pohon-pohon kecil dan sedang.
Formasi mendaki tim pun masih berubah-ubah, suatu hal yang lumrah sebab masing-masing masih menyesuaikan tubuh dengan kondisi alam untuk mendapatkan pola jalan yang nyaman. Hanya saya yang sejak awal memposisikan diri sebagai sweeper a.k.a penyapu jalan. Ya, sejak saya tahu mayoritas anggota tim ini belum pernah mendaki Merapi saya berinisiatif untuk meng-cover di belakang, antisipasi ada anggota tim yang tertinggal. Ini memang bukan pendakian Merapi yang pertama untuk saya, jadi sedikit banyak saya sudah mengetahui dan hafal kondisi alam dan jalur menuju ke puncaknya.

Rest Area pertama dalam pendakian Merapi jalur Selo ( 31/7/2014 )


Casio analog saya menunjukkan jam 10.05 saat tim tiba di rest area pertama. Terdapat sebuah gerbang selamat datang dan sebuah gasebu berukuran 3x4 meter di sebelah kanan. Area ini cukup luas namun tidak ideal untuk camp, selain jarang vegetasi tinggi, kemiringannya juga terlalu curam. Rest area ini terletak di ketinggian 2072 mdpl. Masuk wilayah blok Lencoh, desa Lencoh, kec. Selo, kab.Boyolali. Kami hanya istirahat sebentar sambil berfoto-foto sebelum melanjutkan pendakian. Jalur berikutnya menjadi lebih sempit dan semakin curam. Dengan tetap menapak tanah berundak yang di selingi akar-akar kami terus berjalan beriringan cukup rapat. Gugum sang fotografer yang pendiam tidak pernah luput mengambil setiap momen pendakian kami.


Tim melepas lelah di batas vegetasi sebelum menuju Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )

Kabut mulai turun saat kami tiba di pos I jam 11.05. Udara menjadi semakin dingin, membuat kami tidak bisa berlama-lama diam. Berdiam diri di bawah udara dingin hanya akan menguras energi dan kehilangan panas tubuh dengan cepat.
Trek selepas pos I semakin bertambah curam dan ekstrim, vegetasi semakin terbuka sehingga angin dingin berkabut dengan mudahnya menerpa tubuh kami. Perpaduan batuan lepas dan solid serta sedikit rerumputan menjadi pijakan kami berikutnya. Jalur menjadi semakin sempit. Tim pun semakin sering break untuk sekedar menarik nafas dan membasahi tenggorokan. Diperlukan manajemen air yang baik dalam mendaki Merapi sebab tidak akan ditemui satupun sumber air selama pendakian.
Saat tim tiba di alun-alun Pasar Bubrah jam 13.05 matahari sedang terik-teriknya, seakan hendak membakar tubuh kami. Membiarkan diri diam di bawah sengatan matahari seperti ini selain bisa membakar kulit juga membuat tubuh banyak kehilangan cairan alias dehidrasi. Akhirnya Ryan dengan di bantu anggota tim yang lain membangun bivak darurat dengan flysheet untuk kami berteduh di pinggir bebatuan besar.


Bivak darurat tim di Pasar Bubrah di siang yg menyengat ( 31/7/2014 )

Panas dan letih, kami berlindung di bawah bivak darurat di tepi bebatuan Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )

Jalur menuju Puncak Limas Merapi di lihat dari Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )

Lautan awan siang menjelang sore di Pasar Bubrah ( 31/7/2014 )
Pasar Bubrah ini adalah sebuah alun-alun yang sangat luas, nyaris tanpa vegetasi, hanya terdiri dari batuan dan pasir. Dari sini puncak Merapi yang tinggal 1 jam lagi terlihat sangat jelas. Bentuk puncaknya seperti limas dan oleh karena itu sejak beberapa tahun terakhir Puncak Merapi lebih familiar dengan sebutan Puncak Limas---sewaktu saya datang belasan tahun lalu nama Puncak Merapi masih bernama Puncak Garuda, disebut demikian karena terdapat dua buah batu besar yg menyerupai sayap di puncaknya. Puncak Garuda hilang bersama erupsi tahun 2007.  Di Pasar Bubrah ini jg terdapat beberapa memorial monumen pendaki-pendaki yang tewas. Tim menyempatkan diri untuk berdoa kepada para almarhum. 
Berada dalam cuaca panas terik seperti ini bisa membuat kepala terserang migrain sebab perbedaan suhu dan tekanan udara luar sangat mempengaruhi tekanan osmosis tubuh. Panas terik yang teredam oleh dingin kering menyebabkan pendaki sering tidak sadar sedang dalam keadaan terbakar matahari. Sebaiknya tubuh tetap menggunakan jaket agar penguapan berkurang, gerah memang, tapi tetap lebih baik dan men-stabilkan kondisi tubuh jika di bandingkan dengan tidak memakai jaket.
Setelah bivak berdiri, Iyan, Eca, Yasser mengeluarkan peralatan dan mulai memasak untuk kami makan siang. Nasi lontong dan mie rebus jadi pengisi perut kami siang menjelang sore itu. Bergantian kami makan, dan akibat terbatasnya alat masak dan alat makan membuat kami banyak membuang waktu di Pasar Bubrah. Tiga jam tim habiskan untuk menyelesaikan kegiatan masak dan makan. Akibatnya tim baru mulai summit jam 16.05. Terlalu sore dan beresiko sebenarnya. Walau tim sempat mencoba summit namun pada akhirnya harus kami akui kondisi tim secara keseluruhan tidak memungkinkan untuk mencapai Puncak Limas Merapi. Kelelahan fisik dan kurang matangnya perencanaan serta manajemen waktu dan logistik membuat kami semua harus tunduk, turun kembali menuju Pasar Bubrah. Ini menjadi pelajaran berharga untuk kami semua agar lebih mempersiapkan diri dengan detail dalam segala hal. Setelah tiba di bivak darurat tim segera packing dan bersiap turun. Saat itu jam 17.00, matahari mulai bersembunyi di balik awan, hari mulai gelap. Tim membuat beberapa foto dan dokumentasi sebelum turun kembali ke Base Camp. Tak lupa kami bersiap untuk perjalanan malam, terutama alat-alat penerangan. Hari ini kami belajar bahwa sehebat apapun manusia bersiap dengan kecanggihan alat-alatnya tetap saja penentu akhir adalah gunung itu sendiri. Gununglah yg memberikan "ijin" apakah kita boleh menjejak puncaknya atau tidak. Tepat jam 17.30 tim mulai berjalan turun kembali menuju Base Camp Selo.

Bersama-sama turun menuju Pasar Bubrah (31/7/2014 )


Tim KPK Korwil Bogor di Pasar Bubrah Merapi sebelum turun ( 31/7/2014 )


Alhamdulillah jam 21.00 seluruh anggota tim tiba dengan selamat di BaseCamp untuk makan dan beristirahat sebelum melanjutkan pendakian ke Gunung Merbabu esok hari.


Bersambung....Pendakian panjang trek Selo menuju Puncak Merbabu

All Photo by : Gumilar Hadi n Kukuh
Peta Merapi Jalur Selo
 Salah satu Memorial monumen di Pasar Bubrah