Kamis, 27 Agustus 2015

Ketika Penyesalan Adanya di Bukit ---Rinjani 3726mdpl---via Sembalun

Plawangan Sembalun

Terkadang, dalam pendakian dibawah kondisi cuaca yang tidak baik, seorang berfisik bagus sekalipun akan kesulitan untuk memutuskan antara harus terus berjalan atau kembali turun. Semua puncak tidak pernah beranjak, tapi kesempatan menjejaknya yang mungkin tidak akan berulang. Semua tentang niat dan tekad yang kuat. Disitu nyalimu di uji oleh batas diri sendiri. Pilihannya : Sekarang atau Nanti.

Plawangan Sembalun, 24/8/2015
#############################

Saya benar-benar nyaris pingsan siang itu. Panasnya sengatan matahari pukul 13.00 itu terasa membakar seluruh tubuh. Menatap tanjakan berkelok sepanjang 1 kilometer menjelang puncak membuat saya bimbang, terus naik atau balik badan dan turun. Langit biru dan bersih tak mampu mengusir letih dan payahnya fisik. Akhirnya saya putuskan untuk merebahkan diri saja di jalur berbatu pasir ini, tanpa alas, tanpa satupun peneduh, membiarkan milyaran garis cahaya bersentuhan dengan pakaian saya. Dengan menarik buff hingga menutup seluruh wajah, saya mulai berimajinasi sendiri, memutar balik rekaman perjalanan ini sedari awal.
------------------------------------

Setelah bersitegang dengan kenek Damri yang sedang membawa saya ke airport, akhirnya saya mengalah dengan membiarkan kenek itu menurunkan kami (saya, Wilco, Zafran dan Irfan) di Terminal 3 Soetta. Waktu menunjukkan pukul 7.30 saat kami berjalan menuju pelataran Terminal untuk bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Sambil berbincang untuk mengakrabkan diri, saya meng-kolektif urunan untuk keperluan pendakian kami ke Rinjani nanti. 

Jadwal flight kami pukul 9.05 dengan Lion Air tujuan Lombok Praya, masih 1,5 jam lagi.
Kurang lebih pukul 8 saya mengajak teman-teman untuk boarding dan check in , dan di mulailah perjuangan panjang kami. Ketika petugas check in mengatakan bahwa pesawat kami berangkat dari Terminal 1A, seketika saya dan teman-teman menjadi panik. Sambil menggerutu teringat debat dengan kenek Damri yang sotoy yang sudah semena-mena menurunkan kami di Terminal 3---kami pun tergesa-gesa setengah berlari untuk naik free shuttle yang kebetulan sedang menunggu di depan Terminal. Jarak antara Terminal 3 dan 1 cukup jauh. Setelah 15 menit, akhirnya kami tiba di Terminal 1A dan langsung check in

Lagi-lagi kami di buat stress saat proses bagasi, tanpa perasaan dosa petugas bagasi mengatakan kami sudah tidak bisa masuk karena sudah terlambat boarding, sementara saya ngotot kami tidak terlambat---saat itu pukul 8.35---pesawat kami masih 30 menit lagi take off. Sepintar apapun berdebat tetap saja tidak mengubah keadaan, kami tetap tidak bisa masuk. Panik, lemas, marah campur jadi satu. Terbayang jadwal yang sudah kami susun berantakan semua. Sementara rekan kami yang menuju Lombok via jalur darat---Iyan, Ifenk dan Jaweng--- mengabarkan bahwa mereka telah tiba di Pelabuhan Lembar. Petugas Lion Air menawarkan kami solusi untuk re-schedule. Setelah berembuk sejenak---sambil tetap gondok--- kami menerima untuk di re-schedule, parahnya kami di re-schedule ke jadwal flight terakhir yaitu pukul 20.00 which is kami harus nunggu di airport selama lebih dari 12 jam!!!. We've no choice.

Saat saya mengurus tiket re-schedule, lagi-lagi saya di buat jengkel karena masih dikenakan extra charge sebesar Rp.250.000/org...huufft...dan kami pun terpaksa mengikuti saja. Menunggu memang pekerjaan yg membosankan, dan demi sedikit mengurangi bosan, kami masing-masing beraktivitas sendiri-sendiri untuk menghalau jenuh.
Singkatnya,---mencegah terulangnya kejadian pagi tadi--- pukul 18.30 kami melakukan check in plus boarding. Berulang kali saya berkoordinasi dengan 3 teman yang sudah lebih dulu tiba tentang langkah-langkah kami selanjutnya. Saya juga terus komunikasi via HP dengan teman saya---bang Apip--- yang menjadi tuan rumah di Lombok.
 
Tepat pukul 20.00 pesawat kami take off menuju Lombok. Perkiraan kami tiba pukul 22.40 WITA. Alhamdulillah cuaca cerah sehingga kami landing tepat waktu. Airport sudah sepi saat kami menunggu bagasi, maklum saja namanya juga flight terakhir. Di luar sana para sopir dan calo berebut menawarkan jasanya. Sesuai arahan bang Apip, kami keluar menuju parkiran dimana bus Damri tujuan Selong Lombok Timur sudah menunggu. Jika tidak melalui bantuan bang Apip mungkin kami harus bermalam di airport atau menyewa kendaraan yang lebih mahal sebab jadwal bus Damri tidak sampai selarut ini. Perjalanan menuju Selong kurang lebih 1,5 jam. Selesai menyusun keril, kami pun duduk manis dan tertidur sementara bus melaju membelah jalanan malam yang sepi. 

Kami terbangun saat bus terasa mengerem sehingga membuat tubuh kami terdorong ke depan. Sambil melangkah malas kami pun turun dari bus seraya membawa keril-keril. Rupanya kedatangan kami sudah di tunggu oleh teman bang Apip yg membawa mobil bak terbuka milik unit SAR Lombok Timur. Kami pun berpindah dari bus Damri ke bak terbuka. Hanya 10 menit saja jarak terminal Selong dengan markas SAR yang menjadi tempat transit dan bermalam kami selama di Lombok. Jam sudah menunjukkan pukul 1.00 dini hari. 

Hari ini hari minggu, menjadi awal hari bagi perjalanan panjang kami. Setelah berbasa basi sebentar dengan tuan rumah, saya mengumpulkan seluruh anggota tim untuk briefing singkat untuk pembagian tugas, rencana perjalanan dan manajemen pendakian. Akhirnya di sepakati kami akan menyewa seorang porter untuk meringankan pendakian. Pukul 2.00 saya pun tidur, yah, walau bagaimana kondisi fisik tetap harus di jaga.

Pukul 5.30 kami semua sudah bangun dan bersiap. Setelah menyusun keril di mobil kami pun meluncur menuju basecamp pendakian di Sembalun. Jalanan menuju Sembalun melewati perbukitan yg kesannya gersang. Sempat juga kami melintasi jalanan dengan tanjakan curam yg di apit hutan lebat di kanan kirinya. Kami pun sempat harus turun agar mobil yang kami tumpangi bisa melaju melewati tanjakan. 

Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam, kami pun tiba di basecamp pendakian Sembalun. Saya mengurus registrasi dan membayar biaya pendakian sebesar Rp.5.000/hari/org. Dari basecamp kami melanjutkan perjalanan lagi ke arah utara untuk mencapai titik awal pendakian. Jarak dari basecamp ke titik awal kami akan mendaki kira-kira 2-3 kilometer. Sambil membongkar barang dari mobil kami membeli perlengkapan dan perbekalan yang masih kurang di warung sekitar. Dan seusai berdoa bersama, tepat pukul 11.45 kami memulai langkah untuk mendaki.

Trail 1 : Basecamp Sembalun - Pos 1

Pos I

Saya berjalan di depan, bersama Zafran, Cacing dan porter kami yang bernama pak Huda. Udara yang luar biasa panas beserta debu tebal langsung menyambut kami. Menurut pak Huda, sudah 5 bulan hujan belum turun di Sembalun...hmmm...bisa di bayangkan seperti apa tebalnya debu dan panasnya matahari. Dari keterangan penduduk sekitar juga saya ketahui waktu "normal" untuk menempuh jarak antara Sembalun ke Pos I adalah 2 jam. Menyusuri jalur berdebu yang panas seperti ini saya teringat saat mendaki Argopuro. Kondisi yang sama, saat kami menuju Pos Mata Air 1. Bedanya di Argopuro kami masih bisa menemukan beberapa pohon untuk bersembunyi dari panas. Di Rinjani ini 45 menit awal tidak ada pohon yang bisa kami jadikan tempat berlindung.


Setelah 50-60 menit kami masuk area hutan yang tidak lebat. Suasana sejuk langsung terasa. Sayang hutan tersebut hanya berjarak sebentar saja, tidak lebih dari 20 menit, kami kembali berhadapan dengan area terbuka, padang savana yang panas tak berangin. Sebelum mulai bertempur lagi dengan panas, saya putuskan untuk break di pinggiran hutan untuk makan siang dan shalat dzuhur sekaligus menunggu teman-teman yang lain yang masih berada di belakang. 

Kurang lebih 40 menit saya berada di tempat ini sebelum akhirnya saya putuskan untuk kembali melanjutkan pendakian. Di selatan nampak utuh Rinjani berdiri gagah, seolah menanti kedatangan kami. Pelan tapi pasti saya dan teman-teman mulai melangkahkan kaki, masih di bawah terik matahari. Pukul 14.15, setelah melewati 3 jembatan, saya tiba di Pos I. Saat itu di posisi terdepan adalah saya, Zafran, Cacing, Wilco dan porter. Di Pos I ini tidak terdapat air. Di sebelah barat terlihat jelas Pos II. Asalkan tidak turun kabut, setiap pendaki bisa melihat jelas ke segala arah, termasuk Pos-pos yang ada karena Rinjani jalur Sembalun adalah jalur terbuka yang hampir tidak ada vegetasi tinggi, setidaknya hingga lepas Pos 3 Ekstra. 

Trail 2 : Pos 2 - Pos 3
Tidak berlama-lama berhenti di Pos I, saya mengajak Zafran untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Dan sekitar pukul 15.00, setelah 45 menit berjalan, kami tiba di Pos 2. Di Pos 2 ini terdapat sumber air dengan aliran yang kecil di sebelah kiri jalur, turun dari jembatan melalui jalan kecil. Di Pos 2 saya beristirahat cukup lama sambil ngobrol dengan 3 turis asal Ukraina. Jarak antara Pos 2 dan Pos 3 "normalnya" hanya 1 jam---pada prakteknya saya dan Zafran bisa menempuh dalam waktu 40 menit--- dan jika letaknya tidak di lembah pasti akan terlihat jelas dari Pos 2. 

Porter kami menunjuk cekungan lembahan di antara punggungan besar, seraya mengatakan di situlah letak Plawangan Sembalun, tempat kami akan bermalam dan membuka tenda. Sejak awal memang saya menekankan pada teman-teman bahwa target tempat camp di hari pertama adalah Plawangan Sembalun. Selambat apapun, selelah apapun dan selarut apapun target camp tetap disana. 

Trail 3 : Pos 3 - Pos 3 Ekstra
Pos 3

Di Pos 3 ini tidak terdapat sumber air. Areanya cukup luas dan terlindung sebab posisinya di lembahan, mirip Goa Walet di Ciremai tapi jauh lebih luas. Banyak juga monyet-monyet yang bermain dan mengais makanan dari sampah yang di tinggalkan pendaki. Zafran mengeluhkan kedua kakinya yang ototnya tertarik. Satu persatu anggota tim tiba menyusul kami di Pos 3. Seluruh tim dalam kondisi payah. Panas yang membakar telah meruntuhkan 75% kekuatan fisik mayoritas dari kami.

Pukul 17.00, saya kembali melanjutkan perjalanan, kali ini saya mendaki dengan dobel keril, satu di punggung, satu di dada. Ini di akibatkan kondisi Herdi yang drop. Padahal saya tau, setelah Pos 3 inilah pendakian yang sesungguhnya di mulai. Jalur selepas Pos 3 konturnya terus menanjak, hanya sedikit bonus jalan datar. Porter kami meminta saya nanti untuk rehat di Pos 3 Ekstra. 

Menjelang Pos 3 Ekstra Zafran tumbang, memaksa saya untuk membawa keril dobel sendirian. Tepat maghrib, pukul 18.00, saya, Ifenk, Zafran, porter, Marhas dan Jaweng tiba di Pos 3 Ekstra. Perut mulai ber-orkestra karena lapar, sementara udara dingin mulai menusuk, menembus jaket running yang saya pakai. Untuk mengganjal, kami makan biskuit dan coklat. Posisi Pos 3 Ekstra ini adalah di bukit yang kedua dari rangkaian 5 bukit terakhir sebelum Plawangan Sembalun, yang populer dengan julukan Bukit Penyesalan. Ya, akhirnya di Rinjani-lah saya menemukan fakta, bahwa tidak selalu yang namanya penyesalan itu adanya di akhir, sebab di Rinjani, penyesalan itu adanya di bukit...hehe...garing. 

Trail 4 : Pos 3 Ekstra - Plawangan Sembalun
Pukul 18.30, saat akan mulai melanjutkan perjalanan, saya menduga Plawangan pasti tinggal 1-1,5 jam lagi. Bersama-sama dengan porter, saya mulai berjalan, di ikuti Zafran dengan langkah yang lambat. Menapaki bukit ketiga ini saya semakin kepayahan, setiap 10 langkah saya pasti berhenti untuk mengumpulkan tenaga, begitu terus hingga ujung bukit ke-empat. 

Benar-benar mendatangkan penyesalan mendaki dengan dobel keril di bukit-bukit ini. Belum lagi debu yang beterbangan ditiup angin lembah. Saya sempat berpapasan dengan Wawan yang sedang rehat di kanan jalur, di bukit keempat. Dia sedang membalur kakinya dengan krim otot agar otot yang tertarik lebih lemas. Setelah memastikan Wawan bisa melanjutkan perjalanan sendiri, saya pun kembali melangkahkan kaki menyusuri tanjakan demi tanjakan. 

Tepat disaat saya sudah kehabisan tenaga, Cacing datang dan menawarkan diri untuk bergantian membawa keril yang saya bawa. Plawangan tinggal 1 bukit lagi, dan dengan senang hati saya terima tawaran Cacing. Setelah melepas satu keril, langkah saya menjadi lebih ringan dan pukul 21.00 saya, Zafran, Ifenk, Marhas dan porter tiba di Plawangan Sembalun. Porter sempat menyarankan agar kami membuat camp di Plawangan 2 yang letaknya 1 kilometer ke arah kiri atas dekat sumber air dan jalur untuk summit. Di Plawangan ini memang terdapat sumber air yang berlimpah. Sementara di bawah sana nampak permukaan air Segara Anak memantulkan cahaya bulan. Malam ini cerah tidak berkabut, angin cukup kencang dan langit penuh bintang. 

Setelah mempertimbangkan matang-matang, saya memutuskan untuk tetap mendirikan camp disini karena banyak anggota tim yang kondisinya drop. Tentu akan sangat sulit untuk menambah jarak tempuh bagi tubuh yang sudah drop, meski itu hanya 1 kilometer. Kami berbagi tugas, saya dan teman yang lain membangun tenda sementara porter mengambil air. 

Membangun 4 tenda dan 1 bivak di bawah hantaman angin dingin berdebu cukup menyulitkan. Tenggorokan dan bibir pun terasa sangat kering. Setelah tempat berlindung kami selesai di buat, saya dan Zafran segera masuk ke dalam bivak untuk beristirahat. Saya, Zafran dan Iyan memang sudah merencanakan untuk mencoba ber-bivak dalam pendakian ini. Satu persatu anggota tim bermunculan di Plawangan dan langsung masuk ke dalam tenda yang sudah tersedia. Anggota tim yang terakhir tiba pukul 23.00. Saya sudah terlalu lelah, hingga tak terlalu menghiraukan tawaran Ifenk yg membawakan makan malam. Pun begitu dengan Zafran yang terlelap pulas disebelah saya.

Senin, 24 Agustus 2015, pagi yang cerah dan sedikit berangin. Perut yang lapar memaksa saya beranjak bangun. Seluruh keperluan memasak ada di depan tenda yang di tempati porter. Marhas keluar tenda saat saya sedang mencari bahan makanan untuk di masak. Agar tidak terlalu lama akhirnya diputuskan untuk memasak mie instant campur telur saja. 5 menit kemudian saya pun sudah menikmati sarapan setelah terakhir makan kemarin siang. Sambil makan saya menginformasikan pada tim, bagi yang ingin summit agar bersiap maksimal pukul 9 nanti.

Belum genap pukul 8, matahari sudah begitu terik. Dan bisa di pastikan perjalanan summit kami akan bermandi peluh lagi seperti kemarin. Seperti biasa, sebelum memulai perjalanan kami berdoa bersama agar selalu di beri kelancaran dan keselamatan. Dan tepat pukul 9.00 kami mulai bergerak untuk summit. Dari lokasi tenda kami diperlukan waktu 15 menit untuk menuju titik awal jalur menanjak yang akan membawa kami mencapai punggungan pertama. Jalur menuju titik awal (Plawangan 2) relatif landai dan mudah di lewati, apalagi kali ini kami tidak membawa beban berat.

Setelah melewati area camp terakhir di Plawangan 2, mulai kami berhadapan dengan jalur menanjak lurus yang penuh debu dan pasir. Sedikit mirip dengan jalur pendakian Semeru. Di posisi depan adalah Ifenk, Cacing, saya, Zafran, Irfan, dan Marhas. Di belakang saya terlihat Jaweng, Herdi, Iyan, Gatot, Wawan, Rendi, Aya, Wilco dan Risky.
Saya malas harus menapaki jalur berpasir sebab sangat menguras tenaga, jadi saya memilih menapaki setapak yang debunya sangat tebal. Tak apalah berundak, yang penting tidak melewati pasir. Masing-masing, termasuk saya, menutup rapat seluruh tubuh dengan sarung tangan, penutup kepala dan wajah sehingga hanya mata bagian tubuh yang tidak tertutup.

Pukul 10.00 saya dan anggota tim terdepan sudah mencapai puncak punggungan yang pertama. Kami beristirahat sejenak, menikmati suasana. Melihat ke arah kiri, ke arah jalur yang akan kami lewati selanjutnya, nun jauh Puncak Rinjani nampak menusuk langit.

Perlahan tapi pasti tim terdepan mulai terpecah, Zafran, Irfan dan Marhas tertinggal di belakang saya, Ifenk dan Cacing. Panas yang semakin menjadi membuat saya sakit kepala. Padahal angin dingin yang kering terus bertiup. 2 kilometer terakhir memang sudah tidak ada vegetasi yang bisa kami jadikan tempat berlindung. Sebenarnya jalur pun jauh lebih landai jika di banding jalur menuju puncak Semeru atau Kerinci, tapi karena perjalanan summit kami ini siang hari, membuat fisik kami terkuras habis dan terasa jauh lebih berat. Sampai pukul 12.30 saya sudah 2 kali merebahkan badan di cekungan batu untuk menghindari panas. Bayangan batu selalu saya gunakan untuk berteduh sejenak.

Pukul 12.45 saya berhadapan dengan tanjakan panjang terakhir, mungkin panjangnya 700-800 meter dan sedikit berkelok ke kanan. Puncak Dewi Anjani ada di ujung tanjakan itu. Inilah bagian terberat dan tersulit dalam mencapai summit. Dengan sisa-sisa tenaga saya mulai melangkahkan kaki. Belum genap seratus langkah saya sudah kepayahan. Mata saya sibuk mencari cekungan batu yang bisa saya jadikan tempat berlindung tapi sia-sia. Di tanjakan terakhir ini hampir tidak ada batu besar yang bisa di jadikan tempat sembunyi dari panas. 

Nyaris putus asa saya sebelum akhirnya mata saya melihat ada batu memanjang dengan tinggi tidak lebih dari 60 centimeter, sedikit cekung sehingga menciptakan bayangan gelap teduh  selebar 30cm kira-kira 25 meter di depan saya. Tak menunggu lama, saya segera melangkah menuju batu itu. Meski hanya 25 meter dari tempat saya berdiri pada kenyataannya untuk menuju kesana diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Saya hanya mampu berjalan per lima langkah saja. Saya langsung membaringkan tubuh di bayangan teduh batu itu, tapi sayang hanya kepala dan pundak saya yang tertutup bayangan teduhnya, sedangkan badan hingga kaki tetap berada di bawah terik matahari. 

Kepala saya semakin sakit, di tambah perut yang mual. Tak lama Ifenk datang menyusul dan berbaring di atas batu yang saya jadikan tempat berteduh itu. Sedikit bergumam, dia pun mengatakan entah akan sanggup mencapai puncak atau tidak. Saya tidak menghiraukan, sebab pada akhirnya dia mampu mencapai puncak jauh di depan saya. Angin dingin kering yang berhembus membuat badan saya semakin malas bergerak. Perut mual dan air yang tersisa sedikit membuat saya berpikir untuk "balik badan" dan turun saja. Tapi, ego saya menahan dan tetap menyemangati, sudah jauh-jauh kesini, sedikit lagi puncak...ayo jalan terus.

Demi Puncak Rinjani, kali ini saya memaksakan diri, tapi baru saja saya berdiri, rasa mual yang sudah tidak tertahan membuat saya muntah-muntah beberapa kali. Tak ada yang keluar selain air, menandakan perut saya benar-benar kosong. Setelah muntah, tubuh terasa lebih ringan. Saya segera minum obat masuk angin dan bergegas melangkah lagi. Kali ini saya konstan melangkah, setiap 20 langkah berhenti. Dengan pola seperti itu tubuh saya mampu beradaptasi dengan lebih baik.
 
Akhirnya tepat pukul 14.00 saya berhasil menggapai puncak Dewi Anjani 3726 mdpl, puncak tertinggi tanah Nusa Tenggara, tanah seribu masjid. Alhamdulillah...Allahu Akbar.
Tak lebih dari 10 menit saya berdiri di puncak, hanya mengambil beberapa foto saja lalu kembali turun. Saat saya sedang beristirahat beberapa meter di bawah puncak, berturut-turut muncul Iyan, Wilco dan Irfan. Dan rupanya hanya kami berenam yang berhasil summit dalam pendakian ini. Teman-teman yang lain memilih balik badan dan turun kembali. Setelah cukup beristirahat saya pun bergegas turun menuju camp kami di Plawangan.

-----------The End-------------

More Info :
- BB : 745565CE
- WA only : 08111181225
- e-mail : cliff.klie@gmail.com

Rute Rinjani :
BC Sembalun 1100 mdpl
Pos 1 1300 mdpl
Pos 2 1500 mdpl
Pos 3 1800 mdpl
Pos Plawangan 2700 mdpl
Puncak 3726 mdpl
------------------------------------

Waktu Tempuh : 

BC Sembalun - Pos 1 = 1,5 - 2 jam
Pos 1 - Pos 2 = 45-70 menit
Pos 2 - Pos 3 = 40-70 menit
Pos 3 - Pos 3 Ekstra = 40-60 menit
Pos 3 Ekstra-Plawangan = 1,5-2,5 jam
Plawangan - Puncak = 3-5 jam
Plawangan - Segara Anak = 2,5-3,5 jam
Segara Anak-Plawangan Senaru = 3jam 
Plawangan Senaru-Pos 3 = 2 jam
Pos 3 - Pos 2 = 2 jam
Pos 2 - Pos 1 Ekstra = 1 jam
Pos 1 Ekstra - Pos 1 = 1 jam
Pos 1 - BC Senaru = 1 jam
------------------------------------

Itinerary / Rundown yg Ideal

H1:
07.00-          : start nanjak
07.00-09.00: Otw Pos 1
09.00-09.15: break
09.15-10.15: Otw Pos 2
10.15-10.30: break + isi air
10.30-11.30: Otw Pos 3
11.30-12.30: break + ishoma
12.30-13.30: Otw Pos 3 Ekstra
13.30-16.00: Otw Plawangan
16.00-24.00: istirahat + camp

H2
24.00-01.00: Persiapan summit
01.00-05.00: Start summit
05.00-06.30: Enjoy summit
06.30-09.00: Turun ke Plawangan
09.00-11.00: Sarapan + Packing
11.00-15.00: Otw Segara Anak
15.00-08.00: Enjoy Segara Anak

H3
06.00-08.00: sarapan + packing
08.00-11.00: Otw Plawangan Senaru
11.00-12.00: Ishoma
12.00-19.00: Otw BC Senaru
19.00-06.00: Camp di BC Senaru atau Opsional.
---------------------------------------

Akses ke Rinjani

A. Jalur Darat (Start Jakarta Ps.Senen)
H1:
11.30-20.00 : Otw Yogyakarta Lempuyangan dg KA.Bengawan
20.00-07.00: Transit Yogya

H2:
07.00-07.20: Boarding
07.20-21.00: Otw Banyuwangi dg KA.Sritanjung
21.00-21.30: Otw Pelabuhan Ketapang
21.30-23.00: Otw Gilimanuk
23.00-04.00: Otw Padangbai

H3
04.00-08.00: Otw Pelabuhan Lembar
08.00-09.30: Otw Mandalika
09.30-11.30: Otw Aikmel
11.30-12.30: Otw Sembalun

B. Jalur Udara (start Soetta)
H1 :
07.30-09.00: Check in and Boarding
09.05-11.40: on Flight to Lombok
11.40-12.30: Bongkar bagasi
12.30-14.00: Otw Selong dg Damri
14.00-16.00: Otw Sembalun
---------------------------------------

The Pict

Alhamdulillah...nyampe juga di atap Nusa Tenggara. 24/8/15

Di Depan Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani resor Sembalun. 23/8/15

Pagi, beberapa saat sebelum menuju Sembalun. 23/8/15
Berfoto di setiap venue khusus adalah wajib hukumnya...he. 22/8/15

Check in dulu bro....22/8/15


Sunrise pagi itu...

Antara aku dan Puncak Anjani


Trek awal menuju puncak selepas Plawangan.

Puncak masih 2-3 jam lagi dari posisi foto ini di ambil.

Teriknya matahari siang itu. Menuju Pos II

Menikmati sunrise

Tuh, monyet aja neduh saking ga tahan dengan teriknya matahari...hehe...

Camp pengungsian...eh, transit kami di Lombok Timur.

Terlantar 12 jam di airport...

Nunggu jadwal flight di airport

Ini nih bukit penyesalan yang kelima, yang terakhir sebelum sampai Plawangan Sembalun. Foto di ambil dari Plawangan.

Foto keluarga sebelum pulang

Jalur menuju sumber air di Plawangan

Sunrise yang eksotik

Di ujung deretan tenda itulah jalur menuju puncak Rinjani

Enjoy the morning light

Maha Besar Allah dengan ciptaanNya


Jam 5.30...lagi dingin-dinginnya

Boys band gagal...hehe

Malam hari di Plawangan Sembalun

Gini nih jalurnya 1 jam menjelang puncak

Bikin kangen

Jangan summit siang-siang kalau ga mau tepar

Neduh di satu-satunya pohon yang bisa di pake neduh pas mau muncak

Tuh, beneran satu-satunya pohon kan?

Menuju puncak punggungan pertama dari Plawangan menuju puncak Rinjani

Lokasi camp terakhir di Plawangan 2. Di ujung itu jalur menuju puncak punggungan yang pertama

Bikin adem mata

Ojeg juga tersedia untuk yang berduit, dari BC ke Pos II, sekitar 250-300k.

View dari pertengahan perbukitan sebelum BC Sembalun

Menuju Pos I, ga ada tempat neduh

Istirahat dulu di Puncak Bukit, kasian mobilnya.

Jalur awal pendakian

Udah panas full debu pula. Otw Pos I

Panasnya bikin klenger...

Sunrise lagi

Sunset di Plawangan

Porter-porter Rinjani

Pantai awan di Plawangan...what a wonderful world

Menyusun keril-keril sebelum menuju basecamp pendakian

Mosaik yang indah

Saya bersama porter kami, Pak Huda.

Warna warni tenda di Plawangan.

Kamis, 30 Juli 2015

Partner Mendaki = Separuh Nyawa

Bisa menemukan teman yang sehati dalam berpetualang, khususnya mendaki gunung adalah anugrah tersendiri. Selama menjalani hobi ini, tak banyak saya berkesempatan menemukan teman (baca : partner) yang benar-benar sehati.
Memiliki tubuh yang kuat secara fisik, peralatan yang lengkap, waktu luang serta finansial yang mendukung sudah merupakan satu paket komplit untuk bisa menikmati suatu perjalanan mendaki. Banyak di antara kita yang masih kedodoran di salah satu poin tersebut, sehingga sering kita harus memutar otak untuk "men-subsidi silang" agar 4 poin tersebut bisa terpenuhi. Saya pribadi pun termasuk yang sering kedodoran. Maklumlah secara fisik saya tidak terlalu bagus, peralatan dan finansial juga apa adanya.

Beruntung selama ini setiap pergi mendaki saya selalu bersama teman-teman yang tangguh dan bisa mengerti sifat dan kekurangan saya saat berpetualang. Keberadaan teman perjalanan yang seperti ini sangatlah penting bagi saya karena menentukan "kesempurnaan dan hasil akhir". Saya sangat merasa nyaman jika bepergian dengan teman yang sudah mengenal karakter saya, pun begitu sebaliknya. Rasa nyaman yang timbul berbanding lurus dengan terjaganya mental, psikologi serta fisik saya, sehingga kekosongan dari salah satu empat faktor di atas bisa ditutupi dan tidak berpengaruh secara signifikan.

Tentu saja bisa menemukan teman yg sehati tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan waktu dan kesempatan untuk bersama-sama agar "sense of belonging"-nya muncul dan terasah. Kesempatan untuk bersama-sama yang saya maksud jelas adalah saat mendaki, di hutan, di alam bebas, dimana uang tidak lagi berlaku. Kenapa saya men-syaratkan teman sehati tersebut harus sudah menghabiskan waktu di gunung atau hutan bersama saya???
Simpel saja, sebab saya sudah ratusan atau mungkin ribuan kali menemukan bahwa sifat asli seseorang akan muncul ketika dia berada di tempat yang bukan "habitatnya" serta jauh dari rasa nyaman. Dengan bahasa yang lebih tegas saya katakan bahwa seseorang yang anda anggap teman ketika di darat belum tentu tetap menjadi "teman" saat di gunung atau hutan. Karena hal tersebut, akhirnya saya sering menjadikan gunung atau hutan sebagai arena pengujian kesetiakawanan dan solidaritas teman-teman saya.

Kembali ke topik utama tulisan ini, proses pencarian teman sehati inilah yang tidak mudah. Salah satu cara pertama yang bisa dilakukan serta menjadi kunci dasar adalah mencari teman yang memiliki kesamaan minat. Setelahnya lalu memiliki kesamaan visi misi dalam berpetualang. Walau sebenarnya perbedaan visi misi bisa di atasi dengan membangun toleransi serta tenggang rasa, tapi jika bisa ditemukan persamaan maka perjalanan yang dilakukan akan menjadi lebih sempurna.
Saya bersyukur masih memiliki teman-teman sehati yang bisa saya andalkan ketika berpetualang. Teman-teman yang sudah sangat memahami karakter saya di lapangan. Bersama mereka saya merasa aman dan nyaman. Bagi saya keberadaan mereka adalah separuh nyawa saya saat berpetualang.

Salam Lestari

Note: Untuk teman-teman dan sahabat sehati saya dalam mendaki, terima kasih sudah selalu menjaga saya.

Selasa, 28 Juli 2015

Gunung Salak I 2211 mdpl via Pasir Reungit.

Tanggal 20 Juli 2015, Senin, hari ke empat pasca Idul Fitri, dengan menaiki si Jagur---motor kesayangan---saya menyusuri jalanan menuju Pasir Reungit Leuwiliang. Di punggung saya tersandang daypack Eiger 20L. Kali ini saya bergaya ala Ultralight Hiker, yang memang sedang jadi trend...*latah mode...hehe.

Rencananya hari ini saya akan menuju ke Kawah Ratu dan Puncak Salak I. Terakhir saya ke Kawah Ratu sekitar tahun 2003, dan saya yakin sekali pasti sudah banyak perubahan disana. Satu hal yang selalu saya ingat tentang jalurnya adalah "becek dan basah". Ya, jalur menuju Kawah Ratu hingga Puncak Salak I melalui Pasir Reungit memang di dominasi oleh jalur air. Kondisi terkering di musim kemarau sekalipun tetap lembab dan licin.


Kawah Ratu adalah tempat yang sangat akrab dengan memori saya sebab di tempat ini dulu saya beserta teman-teman Amazon Corps menjalani Pendidikan Dasar Alam, mulai dari Navigasi, P3K hingga Survival. Bahkan latihan fisik pun di tempa disini.


Hari ini saya kembali, dengan teman-teman dari KPK Korwil Bogor. Iyan, Ifenk, Choky, Irvan, Nur, Gery dan Nurdin. Kurang lebih jam 8.30 kami berangkat dari kota Bogor. 2 jam kemudian kami tiba di area Curug Cigamea, berhenti sejenak untuk mengisi perut. Hingga di titik ini, saya cukup heran dengan perkembangan wisata didaerah ini. 


Kawasan sekitar kaki Gn.Salak memang sangat terkenal dengan Curug nya, yang sudah dikomersialkan tak kurang dari 8 Curug, belum lagi yang masih alami dan belum terekspose. Dulunya, Curug Cigamea hanya memiliki akses masuk 1 gerbang saja, tetapi sekarang tak kurang dari 4 gerbang masuk tersedia. Begitupun tempat-tempat wisata buatan lainnya yang menjamur. Suasananya mirip di Tretes Jawa Timur.


Setelah 1 jam, kami melanjutkan perjalanan menuju pos TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak). Oh iya, digerbang bawah, kira-kira 3 kilometer sebelum Curug Cigamea, setiap kendaraan yang melintas di pungut biaya retribusi sebesar 7500/orang. Sebenarnya ini pungutan resmi, tapi sayang tidak didukung dengan berkas administrasi berupa tiket / karcis yg sesuai. Saya sudah mengetahui tentang ini sejak dulu, dan ternyata urusan administrasi ini sama sekali tidak ada perubahan menjadi lebih baik. Sebagai contoh, karcis yang saya terima tertulis tahun 2014...ckckck...belum lagi oknum petugas yang kadang nakal, membulatkan retribusi menjadi 10.000/org (ini saya alami sendiri).


Sambil berjalan pelan, selepas lokasi Curug Ngumpet saya sempat kebingungan mencari dimana letak pintu masuk Kawah Ratu. Dulu, area di sekitar pintu masuk ke Kawah Ratu sangat terbuka, terdapat warung di sebelah kiri jalan. Letak pos perijinannya ada disebelah kanan di atas bukit yg agak gundul. Setelah terlewat beberapa meter, Nurdin menghampiri motor saya, memberi tahu bahwa pintu masuk Kawah Ratu sudah terlewat. Saya lihat ke arah yang ditunjuk Nurdin, ternyata memang sudah berubah 180°. Lokasi yang dulunya bukit gundul sudah lebat tertutup pohon-pohon pinus tinggi menjulang. Warung-warung di kiri jalan juga sudah tidak ada, gantinya berjajar warung-warung di kanan jalan hingga ke arah atas menuju pos perijinan. Kalau saja tadi saya tidak diberi tahu mungkin saya bisa bablas terus menuju gerbang Gunung Bunder dan kembali turun ke kota...hehe. 


Kami menaiki motor hingga warung yang terakhir, yang letaknya paling atas, 50 meter dari pos perijinan. Setelah menitipkan motor dan helm kami berdelapan segera menuju pos perijinan untuk mengurus simaksi TNGHS. Untuk masuk kawasan lebih dari 1 hari kami harus membayar Rp.25.000/org. Cukup kaget juga dengan besaran biaya tersebut, tapi tak apalah demi memenuhi hasrat merimba. 


Setelah selesai urusan administrasi dan foto-foto kami pun memulai perjalanan menyusuri setapak berbatu yang rindang. Jam saya menunjukkan tepat pukul 12.00.

Kami berjalan dengan ritme sedang sambil menyesuaikan kondisi badan. Rimbunnya pepohonan dan gemericik suara air yang menemani sepanjang jalan membuat damai suasana. Jalur menuju Kawah Ratu dan Puncak Salak I melalui Pasir Reungit memang lebih panjang dan lebih ekstrim jika dibanding dengan jalur Cimelati ataupun Cidahu via Javanaspa. Tapi melimpahnya air  serta pemandangan yang indah membuat jalur ini cukup ramai di lintasi, utamanya saat musim pendakian. 


Dengan berjalan santai atau sedang diperlukan waktu 2-3 jam untuk mencapai Kawah Ratu. Gunung Salak memang merupakan zona penyangga kehidupan masyarakat Bogor dan Sukabumi, air yang mengalir sepanjang tahun merupakan berkah tersendiri. Terlepas banyaknya cerita-cerita tragis dan mistis tentang pendakian digunung ini tetap saja tidak mengurangi minat para pendaki untuk mengunjunginya. 


Salah satu hal yang wajib menjadi perhatian bagi para pendaki adalah persiapan matang, baik rencana perjalanan, peralatan serta perbekalan. Gunung Salak terkenal tidak bisa diprediksi cuacanya, di musim kemarau sekalipun bisa tiba-tiba terjadi hujan badai tanpa memandang waktu pagi, siang ataupun malam. Meski tidak terlalu tinggi tapi udara dingin gunung ini cukup membuat gentar para pendaki. Tidak sedikit yang sudah menjadi korbannya. Belum lagi keberadaan pacet, meski tidak "sedahsyat" di Salak II.

Waktu menunjukkan pukul 14.15 saat kami tiba di awal area Kawah Ratu. Di tandai dengan banyaknya pohon mati seperti hutan mati Papandayan dan aliran sungai berwarna putih dan berbau khas belerang. Setelah melewati setapak kecil kami tiba di area lembah Kawah Ratu yang pertama, dikenal sebagai area Kawah Mati, luasnya sekitar 2-3 hektar. Di sebelah kiri terdapat sungai kecil berbatu yang airnya tidak bisa diminum, terdapat juga memorial monumen pendaki yang tewas disana. 


Tidak berlama-lama, kami segera berjalan ke arah kanan, menyusuri jalur yang agak menanjak untuk menuju area kawah utama. Jarak antara area Kawah Mati dan area kawah utama kurang lebih 10-15 menit dengan kontur setapak berbatu berwarna putih diselingi hutan mati. Kami berhenti sejenak untuk berfoto-foto di awal area Kawah Ratu utama yang masih aktif. Siang menjelang sore, suasana ramai sekali oleh para turis lokal yang sekedar berkunjung pulang hari. Umumnya para pengunjung yang datang kesini bertujuan untuk mandi di sungai belerang yang terletak agak di tengah kawah atau melulur sekujur tubuhnya dengan belerang.


Padahal sebenarnya kegiatan semacam ini sangat riskan dan bisa mengundang musibah. Area utama Kawah Ratu ini masih aktif, dalam artian bukan riskan erupsi melainkan aktif mengeluarkan gas-gas beracun khas kawah yang tidak bisa di prediksi. Bergolaknya lumpur belerang di beberapa titik disertai suara menderu menandai bahwa papan peringatan di sekitar area bukanlah untuk menakut-nakuti pengunjung. Saya menyayangkan banyaknya pengunjung yang tidak mengindahkan larangan-larangan yang ada, bahkan ada yang nekat mendirikan tenda di area kawah.


Setelah membasahi buff dengan air, saya gunakan buff tersebut untuk menutup hidung sebelum melintasi kawah. Saya selalu melakukan cara ini ketika akan melewati jalur-jalur yang berpotensi ada gas-gas berbahaya untuk meminimalisir keracunan. Diharapkan kain basah menjadi filter pertama dari kemungkinan gas beracun. Untuk melintasi Kawah Utama diperlukan waktu sekitar 15-20 menit. Yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya tidak melintas kawah saat kabut sedang tebal atau pasca turun hujan, selain sangat berbahaya akibat jarak pandang terbatas juga gas-gas beracun berpotensi muncul.

Alhamdulillah kami semua melintas kawah dengan selamat. Setelah Kawah Ratu kami berjalan menyusuri hutan Pandan Cangkuang, salah satu tanaman yang menjadi ikon di Gunung Salak. Target kami adalah membuka tenda di pertigaan Bajuri. Sebelumnya kami bermusyawarah di pos pertama setelah Kawah Ratu akan membuka tenda dimana. Sempat kami akan membuka tenda di area Helipad. Pertimbangannya kami khawatir karena musim kemarau ini sumber air disekitar Bajuri kotor dan tidak layak konsumsi. 


Sebelum area Helipad, atau 15 menit lepas Kawah Ratu memang terdapat sungai dengan air berlimpah. Helipad sendiri terletak 10 menit diatas sungai tersebut dan merupakan sebuah lapangan luas tempat mendarat helikopter untuk mengevakuasi jika terjadi kecelakaan di area Salak I.


Jalur menuju pertigaan Bajuri dari Helipad menurun dan berbatu. Jika cuaca cerah dan kita berdiri di tengah Helipad lalu membalikkan badan kita bisa melihat puncak Salak I di sebelah kanan. Setelah berjalan 20 menit kami pun tiba di pertigaan Bajuri. Pertigaan Bajuri merupakan titik pertemuan antara Jalur Pasir Reungit, Jalur Cidahu dan Jalur menuju Puncak Salak I. Area ini cukup luas dan terlindung, bisa untuk mendirikan 15-20 tenda. 


Dari Pasir Reungit untuk ke Puncak Salak I ambil jalur ke kiri, untuk ke Cidahu ambil ke kanan. Berjalan turun 2-4 menit ke arah Cidahu terdapat aliran air yang bisa di minum. Bajuri sendiri adalah bekas nama pemilik warung yang pernah ada di pertigaan tersebut. Namanya Bang Juri, dan disingkat menjadi Bajuri. Dari Bajuri diperlukan waktu 3-5 jam untuk mencapai Puncak Salak I. Karena saat itu sudah pukul 16.00, saya putuskan tim kami buka tenda di Bajuri.

Setelah memilih lokasi yang ideal kamipun segera mendirikan tenda. Saya memasak untuk makan malam tim. Pukul 18.00 kami semua sudah bersantai, cuaca yang cerah menemani istirahat panjang kami di Bajuri. Saya targetkan besok jam 5 pagi kami akan mulai menuju puncak. Dan untuk menjaga kondisi fisik, saya pun memilih tidur duluan.


 Tak lama setelah shalat Isya saya pun terlelap.
Pukul 4.30, 21 Juli 2015, hari Selasa, sesuai rencana kami semua sudah bangun dan bersiap untuk muncak. Pukul 5.30---meleset 30 menit dari jadwal--- Selesai shalat Subuh dan berdoa kami memulai perjalanan tanpa beban. Tenda dan peralatan lain kami tinggal di Bajuri. Kami hanya membawa 2 daypack dan 1 drybag berisi keperluan logistik dan survival kit. 


Satu jam awal jalur masih cukup "bersahabat" dan gelap. 2 kali saya terjatuh karena medan yang licin. Jalur menuju puncak Salak dalam kondisi kering sekalipun tetaplah licin dan menyulitkan. Didominasi tanah dan akar-akar. Sebelumnya dari basecamp hingga Bajuri di dominasi bebatuan dan aliran air. Oh iya Bajuri juga merupakan tempat sumber air terakhir. 


Pukul 6.30 matahari sudah bersinar terang membuat kami tidak perlu lagi menyalakan headlamp. Jalur masih banyak bonus meskipun semakin sering mempertemukan lutut dengan perut. Satu setengah jam terakhir jalur semakin ekstrim, di beberapa titik tanjakan kami harus menggunakan webbing untuk bisa melintasinya. 


Sekedar info, pada lintasan-lintasan yang sulit memang sudah terpasang webbing atau tali untuk memudahkan pendaki melewatinya. Alhamdulillah tepat pukul 10.00 kami tiba dipuncak Manik, Salak I dengan selamat. Cuaca cerah sekali, nampak di tenggara Gunung Gede Pangrango berdiri dengan gagah. Pepohonan di Puncak Salak I sekarang kondisinya sudah lebih terbuka, tidak serimbun dulu. Sekarang pendaki bisa menikmati sunrise jika cuaca cerah. Makam mbah Salak juga sudah semakin rusak dan tidak terawat.


 Di Puncak, area terbukanya cukup untuk mendirikan lebih dari 20 tenda. Meski sudah banyak sekali perubahan tetapi jalur dan area camp masih relatif bersih dari sampah. Semoga kondisi ini bisa lebih lama dipertahankan.

-------------#####---------------

Salam Lestari

Note: Untuk teman-teman yang perlu info detail atau bantuan untuk menuju ke Salak I ataupun Salak II silakan add :

- WA/SMS : 0811-118-1225

- pin BB DOACE655.


A. Akses dan transportasi:

Start dr Stasiun Bogor

1. Naik angkot 02 atau 03 jurusan Terminal Laladon / Bubulak ongkos 3-4k

2. Naik angkot 05 jurusan Tenjolaya (Cinangneng) ongkos 6-8k

3. Naik odong-odong atau ojek ke pintu gerbang Gn.Bunder atau pintu masuk Kawah Ratu, ongkos pinter-pinter nego, kisaran 25-30k

4. Retribusi gerbang lintas Gn.Bunder 10-15k 

5. Simaksi pendakian 17.500-20.000


B. Rundown

1. BC Pasir Reungit - Kawah Ratu 2-3jam

2. Kawah Ratu - Helipad 30-50 menit

3. Helipad - Simpang Bajuri 20-30 menit

4. Bajuri - Puncak Bayangan 3-4 jam

5. Puncak Bayangan - Puncak Manik 1-1,5 jam

Di puncak Salak I

Plang Helipad tersembunyi di kiri jalur dr arah Kawah Ratu

Area Camp Helipad

Kawah Ratu di lihat dari atas jalur menuju Helipad

Begonia untuk tanaman survival

Rumpun Begonia

Area camp di puncak Salak I

Petilasan 

Tim KPK Korwil Bogor

Gede Pangrango di sebelah tenggara

Salah satu dari 6 tanjakan vertikal menuju puncak

Hutan pandan cangkuang sebelum Helipad

Melintasi Kawah Ratu

Area Kawah Mati

Hutan Mati di Kawah Mati, mirip dengan Papandayan

Gerbang pendakian Pasir Reungit

Sungai terakhir yang layak minum sebelum masuk Kawah Ratu

Sumber air sangat melimpah

Jalur awal pendakian

Peta jalur pendakian

Mantap tanjakannya 

Camp kami di Bajuri

Jalur menuju Bajuri selepas Helipad

Di area Kawah Ratu Aktif

Foto Keluarga

Jalur pertengahan antara Basecamp dan Kawah Ratu

Hutan Mati

Lagi-lagi sumber air

Istirahat sejenak

Jalur lintas Kawah Ratu

Bersantai di puncak Salak I

Jam Terbang Tinggi (bukan) Jaminan Mampu Orientasi Arah

Dalam dunia hiking dan petualangan alam bebas khususnya gunung dan hutan sudah tidak terhitung lagi banyaknya korban yang jatuh. Baik yg berhasil di selamatkan atau tidak. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di gunung, beberapa di antaranya karena kekurangan perbekalan dan logistik serta manajemen pendakian yang kurang tepat. Pada intinya nyaris 90% kecelakaan di gunung adalah faktor human error, faktor kesalahan manusia sendiri.
Pada kesempatan ini saya khusus menyoroti kecelakaan yang diakibatkan oleh tersesat atau hilang orientasi arah.

Salah satu kasus terbaru tersesatnya pendaki adalah yang terjadi di Gunung Lawu pada akhir Juli 2015 ini. 7 orang yang terdiri dari 5 orang dewasa dan 2 orang anak-anak hampir 4 hari masih belum di temukan. Para pendaki ini merupakan warga Solo, dengan demikian secara kultural tentu sudah akrab dengan Gunung Lawu. Dari informasi-informasi yang saya coba kumpulkan, diketahui bahwa mereka mendaftar pendakian di Pos Cemoro Kandang pada hari sabtu tanggal 25 Juli 2015 dan akan turun tanggal 26 Juli 2015.
Pada tanggal 27 Juli, dari informasi yang di dapat dari pendaki lain, diketahui bahwa pendaki dengan ciri-ciri yang dimaksud masih terlihat di area tertentu. Gunung Lawu sendiri bukanlah gunung yang asing bagi saya. Dengan ketinggian 3265 mdpl, dan terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak kurang sudah 7 kali saya mengunjungi puncaknya. Gunung ini memiliki 3 jalur pendakian yang resmi yaitu Cemoro Kandang dan Candi Cetho yang terletak di Jawa Tengah dan Cemoro Sewu di Magetan Jawa Timur. Bagi saya tingkat kejelasan jalur pendakian Lawu, sangat baik, jelas dan banyak tanda-tanda penunjuk. Jika menilik dari tingkat kesulitan pendakian tentu sifatnya relatif. Mungkin bisa di bilang pendakian via Cetho lah jalur yang paling sulit sebab selain panjang juga tidak ada sumber air. Oleh sebab itu tanpa menganggap enteng, saya pun jadi bertanya-tanya kenapa masih bisa ada yang tersesat di Gunung seperti Lawu ini?? Sebuah pertanyaan besar yang akhirnya juga sudah terjawab oleh saya sendiri setelah melakukan pengamatan dan mencari data secara mandiri.

Jawaban yang saya peroleh tersebut saya dapatkan dari pengamatan saya secara langsung di lapangan terhadap teman-teman saya saat hiking kurun waktu Maret hingga awal Juli 2015 ini. Saya cukup terkejut melihat fakta yang saya dapatkan ini. Saat mendaki, biasanya saya selalu bersama teman-teman yang bukan orang baru, minimal mereka sudah punya pengalaman mendaki 3-4 gunung. Secara teamwork juga nyaris tidak pernah ada permasalahan. Hampir  dalam setiap pendakian pun saya yang menjadi leader sekaligus manajer perjalanan. 20 tahun lebih mendaki, ternyata ada hal yang luput dari pengamatan saya dan ini menyangkut jawaban tentang kenapa orang yang sudah sering mendaki masih bisa tersesat dan hilang digunung yang secara jalur sudah sangat terbuka dan jelas.
Ketika mendaki Arjuno dan Welirang beberapa waktu lalu, salah seorang rekan yang jam terbangnya sudah tergolong tinggi membuat saya terkaget-kaget. Semua berawal ketika saya yang karena lelah memintanya untuk berposisi di depan. Tidak ada 5 menit keadaan menjadi kacau. Posisi kami saat itu menjelang Pos II turun menuju Jalur Lawang. Jalur sangat terbuka, jarak pandang mata juga leluasa, cuaca sangat cerah. Dengan kondisi seperti itu rekan saya bisa mengambil jalur yang salah dan pada akhirnya tidak sampai 5 menit dia menyerah, tidak mau jadi leader jalan. Saya sempat akan marah karena sikapnya itu tapi dengan cepat saya kuasai suasana. Dari situlah saya ketahui bahwa jam terbang yang tinggi tidak serta merta membuat seseorang jadi ahli dan pandai untuk percaya diri memimpin perjalanan. Jam terbang yang tinggi tidak menjamin kemampuan seseorang menentukan orientasi arah atau jalur dalam mendaki. Sejak kejadian di Arjuno Welirang itu bertambah satu wawasan saya tentang kunci keberhasilan suatu pendakian tidak melulu ditentukan oleh faktor teknis. Beberapa kali setelahnya saya pergi mendaki lagi, melakukan pengamatan-pengamatan yang sama untuk memastikan kesimpulan yang akan saya ambil. Dan memang lagi-lagi terbukti, jam terbang tidak menentukan kepercayaan diri, kematangan mental untuk memimpin dan kemampuan menentukan orientasi arah dalam mendaki.

Sejak itulah saya tidak lagi merasa kesal atau aneh jika mendengar ada pendaki tersesat di gunung-gunung yang sebenarnya "Menurut Saya" sudah sangat jelas jalurnya. Karena jelas atau tidak, ekstrim atau mudah, landai atau terjal itu semua sifatnya relatif dan subyektif. Mudah bagi kita belum tentu bagi orang lain, seseorang yang tidak terbiasa menjadi manajer tentu akan kelabakan saat harus memanajeri suatu pendakian. Seseorang yang tidak terbiasa jadi leader akan hilang setengah fokus dan kemampuannya saat harus menjadi leader. Faktor-faktor non teknis mutlak sangat berpengaruh.
Dan akhirnya saya mengajak teman-teman yang sudah terbiasa menjadi leader atau manajer dalam mendaki untuk lebih memperhatikan rekan-rekannya, mengukur sejauh mana kapasitasnya sehingga kita bisa lebih memahami bahwa kemampuan setiap orang berbeda. Bahwa sekali lagi, jam terbang tinggi tidak akan menjamin seseorang mampu memimpin suatu pendakian. Dan yang terakhir bahwa setiap gunung memiliki kesulitan dan keunikannya sendiri, karena jika tidak, daya tarik apalagi yang dimilikinya??

Sabtu, 06 Juni 2015

Puncak Itu Tujuan...Bukan Bonus

Hari gini, walau perlahan sudah jadi hal yg biasa, terkadang tetap saja saya masih merasa gumun (kagum-Jawa) dengan nge-hits-nya kegiatan outdoor khususnya mendaki gunung. Kalau saya runut-runut sepertinya trend mendaki populer sejak muncul novel 5cm dan  lanjutan versi layar lebarnya yg fenomenal...sekitar 10 tahun lalu ya. Tak bisa di pungkiri, demam 5cm begitu kuat mendoktrin benak masyarakat khususnya anak2 remaja. Semakin ramai gunung, semakin banyak juga persoalan kompleks tentang lingkungan yg muncul. Tapi untuk kali ini saya bukan mau bicara tentang sampah, safety atau etikanya. Lagi malas bicara yg serius-serius nih.

Untuk kesempatan ini, saya tergelitik membahas banyaknya slogan yg menyuarakan "puncak itu hanya bonus, bukan tujuan utama". Dan sejenisnya. Benar kan? Slogan-slogan semacam itu semakin santer di dengungkan dan mudah sekali kita (saya) temukan pada setiap postingan di sosmed. Hmmm...sebenarnya ga ada yg salah sih dengan slogan itu, tapi saya dengan sudut pandang saya ga merasa setuju dan sreg. Berulangkali saya coba "menerima" slogan itu dalam pemikiran, berusaha menempatkannya dari berbagai macam perspektif pemikiran, tapi kesimpulan yg keluar dari otak saya yg kadang sengke, ya slogan tersebut tak lebih dari ucapan penghiburan, entah bentuk menghibur diri sendiri yg gagal muncak atau menghibur orang lain (temannya) yg juga gagal muncak plus menggagalkan kesempatan muncak teman-temannya yg lain. Saya sudah berusaha keras mencari sudut pandang lain agar slogan itu bisa di terima dengan baik oleh otak saya tapi lagi-lagi paling mentok menurut saya, slogan itu hanya bentuk kata-kata para pendaki yg baru mulai mendaki agar terlihat idealisme dan sifat setia kawannya.

Saya pribadi berpendapat dan selalu berpikir bahwa "Puncak adalah tujuan utama" dalam setiap perjalanan mendaki. Saya ga mau muna, apalagi sekedar berbasa-basi. Kalau saya naik gunung ya harus sampai puncak. Terlepas ending nya seperti apa yg jelas saya akan berupaya keras untuk mencapai puncak. Kenapa saya berpikir puncak adalah tujuan utama? Silakan teman-teman jawab sendiri pertanyaan saya:
1. Apa yg paling menarik dari tantangan mendaki gunung?
2. Pemandangan terindah di gunung ada di bagian apa?
3. Di titik mana rasa kecil diri ini muncul jika di banding sang pencipta saat mendaki gunung?
4. Beban berat dan peralatan yg kau sandang itu untuk menuju bagian mana dari gunung?
5. Di bagian gunung yg mana kebanggaanmu muncul ketika berhasil mencapainya?

So???....
Masih mau bilang puncak itu bukan tujuan utama?

#Note:
Tentu saja ambisi muncak saya di ikuti oleh dukungan setidaknya 3 faktor kunci, yaitu :
1. Alat, peralatan serta perbekalan logistik dengan standar high safety.
2. Kondisi cuaca dan situasi lapangan yg kondusif
3. Jika mendaki bersama tim, sudah saya pastikan seluruh anggota tim sehat fisik dan mental untuk menggapai tujuan (puncak).

Tanpa dukungan 3 faktor kunci itu saya tidak akan nekat muncak sebab saya sangat menyadari ada keluarga yg menunggu saya kembali pulang dengan selamat.

---------#########--------------

Senin, 01 Juni 2015

Gue Mah Orang Gokil...

Sejak kecil saya sangat menyukai berbagai macam kegiatan yg berhubungan dengan petualangan dan olahraga. Sedikit banyak antusiasme saya terhadap kedua hal itu karena pengaruh mama saya. Ya, mama memang memiliki pengaruh yg sangat besar dalam "meracuni" saya untuk mencintai dunia petualangan. Sedari sebelum sekolah, setiap mama libur saya pasti di ajaknya untuk sekedar jalan-jalan, berolahraga bahkan masuk hutan. Salah satu kenangan yg paling saya ingat adalah sewaktu saya masih kelas 3 Sekolah Dasar, tahun 1989, pertama kalinya mama ngajak saya naik gunung. Saat itu masa liburan sekolah, mama mengajak saya dan adik untuk petualang menjelajahi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur. Adik saya, perempuan bahkan belum masuk SD ketika itu. Almarhumah nenek saya pun ikut menemani. Keberadaan nenek saya saat itu saya anggap biasa, lazimnya nenek yg menemani cucu---kalau sekarang mengingat-ingat tentu ada perasaan luar biasa, secara hiking bareng nenek...hehe. Tidak ada perasaan istimewa berlebih saat kami berhasil menjejakkan kaki di Mahameru. Usia saya baru 9 tahun, belum tau sensasi candu "muncak", belum tau esensi hiking dan mendaki, ga peduli dengan statusnya yang Atap Jawa bahkan ga ada beban yang saya sandang di pundak. Ya, tidak ada perasaan yang luar biasa selain dingin yang jelas luar biasa...haha. Kalaupun ada, hanya rasa puas dan senang bisa menikmati keindahan alam dari puncak atau pantai nan bersih dan indah. Ya, rasa puas bisa menyalurkan hobi berpetualang.

Saya jadi membayangkan saat ini, betapa kerennya nenek saya---usia beliau sekitar 60 tahun ketika itu---di tahun 1989. Ya, jelas keren, soalnya dulu, sebelum olahraga hiking dan lainnya begitu hits seperti sekarang, nenek saya sudah hobi bertualang ke pelosok-pelosok daerah hingga Papua---dulu Irian Barat---untuk menjelajah atau mendaki. And guess what?? Beliau back packer- an dg Almarhum kakek saya---meninggal tahun 1996, nenek menyusul 15 tahun kemudian--- ...so sweet story.. Hobi kakek nenek saya menurun pada mama, dan di turunkan juga ke saya.
Sering saya berkhayal, mencoba memposisikan diri sebagai Kakek, nenek atau yg terdekat sebagai mama dalam hal menjadi petualang di jaman 70-80an. Jangankan jalur pendakian, mungkin saat itu akses transportasi pun belum semudah sekarang. Pun bagaimana melengkapi diri dengan peralatan yg memadai dan aman. Kalo hari gini sih tentu sudah ga sulit untuk mendapatkan peralatan yg di maksud. Duh...pokoknya pasti keren deh mereka.:):).

Akibat "racun" yg sudah terlalu akut dan menjalar, saya sempat kelewat gila bertualang. Ada uang atau ngga, saya selalu cari cara untuk bisa jalan-jalan. Salah satu hal gokil yg pernah saya lakukan adalah, ketika saya begitu penasaran dengan keindahan Yogyakarta. Saya memang pernah kesana tapi hanya sekedar lewat-lewat saja, belum pernah sengaja datang untuk meng-eksplor. Begitu besar dorongan hati untuk meng-eksplor Yogya, akhirnya---waktu itu antara tahun 1996-1997--- setiap weekend, sepulang sekolah saya kesana. Yup, masih dengan seragam pramuka berwarna coklat minus baret, begitu bubar, segera saya menuju stasiun Bogor, naik Kereta Listrik tanpa beli karcis (dulu mah bebas) naik di atas gerbong untuk menuju stasiun Jakarta Kota atau Manggarai dan kemudian melanjutkan ke stasiun Jatinegara. Kalau lagi ada uang, saya beli karcis yg berwarna merah ciri khas kereta ekonomi jarak jauh dan berbentuk kartu domino dengan tarif 11.000-12.500. Kalau lagi ga ada uang, saya tetap nekat naik dan membayar di atas. Untuk menuju Yogya saya harus "ngamplopin" 3x---di Jakarta, Stasiun Cirebon dan Stasiun Purwokerto--- ke petugas karcis supaya ga di kick out. Pergantian masinis dari Jakarta ke Yogya memang terjadi di stasiun-stasiun yg saya sebut di atas. Dengan cara nyogok gitu cukup dengan sembilan ribu rupiah saya bisa sampai di Yogya Lempuyangan dari Jakarta.
Dalam tas sekolah saya hanya ada seragam putih abu-abu dan beberapa buku TTS. Buku TTS itulah senjata saya untuk sangu alias jajan di jalan...hehe..jadi dalam perjalanan menuju Yogya, saya mondar mandir dalam gerbong kereta berjualan TTS.
Kenapa saya bawa seragam putih abu?? Sebab itulah metode gila saya saat itu. Jadi, dengan berangkat sepulang sekolah dan naik kereta sore dari Jakarta, saya bisa tiba di Yogya pagi hari. Dari pagi hingga sore saya jalan-jalan eksplor Yogya. Misal di weekend ini saya khusus eksplor keraton, maka next weekend target saya khusus Malioboro dan seterusnya. Begitu sore, segeralah saya menuju stasiun Lempuyangan, mengejar kereta Progo yg akan membawa saya kembali ke Jakarta. Biasanya, Senin dinihari kereta sudah tiba di Jatinegara, paginya, begitu tiba di Bogor saya langsung menuju sekolah lagi dengan seragam putih abu untuk upacara. Capek dan ngantuk...plus agak bau (maklum ga pake mandi dulu) memang, tapi PUAS!!...pola yg sama saya lakukan setiap weekend. Saking jarang ada di rumah, misal ada kawan datang ke rumah dan mencari saya, mama hanya ngasih jawaban "paling lagi ke gunung" atau "besok atau lusa aja datang lagi kesini ya"...hehe...parah.

Yaah setidaknya kepingan-kepingan travelling di masa lalu, pun sekarang, membuat saya merasa begitu "kaya". Tanpa saya sadari, wawasan saya bertambah luas, di samping saya bisa belajar untuk memahami karakter banyak orang yg saya temui berikut adat istiadatnya. Saya beruntung bisa menghabiskan masa kecil, abg hingga kuliah dengan banyak bepergian dan bertualang. Setidaknya saya tau Indonesia saya ini surga. Surga yg membuat saya jadi orang gila...gila travelling...gila backpacker-an...Dan aneka macam kegilaan lainnya.
Beruntung saya lahir dan besar disini. Saya bangga jadi warga negara Indonesia. Terima kasih Mah, Nenek, Kakek yg sudah mewariskan gen "gila" dalam darah saya. Saya bangga punya ortu dan keluarga seperti kalian. Kelak anak saya pun akan saya didik untuk mencintai alam, agar terbentuk mental baja, mampu survive dimana saja kaki berpijak dan terutama agar bangga pada negerinya. 

Salam Lestari