Kamis, 15 Oktober 2015

Into Thin Air --- Bab XX

                INTO THIN AIR
                      BAB XX
                GENEVA SPUR
                  12 MEI 1996,
    PUKUL 09.45 --- 25.900 KAKI

Satu manfaat besar yang dimiliki para pendaki yang tidak berpengalaman adalah dia tidak dihambat oleh tradisi atau oleh preseden. Baginya, semua hal tampak sederhana, dan dia memilih solusi langsung untuk semua permasalahan yang dihadapi. Kadang-kadang, tentu saja hal itu bisa menjauhkan sukses yang sedang dia cari, dan kadang-kadang berakibat sangat tragis, tetapi dia tidak menyadarinya saat memulai petualangannya. Maurice Wilson, Earl Denman, Klav Becker-Larsen---sama-sama tidak tahu banyak tentang mendaki gunung; seandainya mereka tahu, mereka tidak akan memulai upaya yang sia-sia tersebut, tetapi, meskipun kemampuan teknis mereka sangat terbatas, tekad yang kuat membawa mereka menempuh perjalanan yang jauh.

Walt Unsworth
Everest
------------------------------------

Minggu pagi 12 Mei, lima belas menit setelah meninggalkan Jalur Selatan, aku berhasil menyusul rekan satu timku yang sedang menuruni lereng Geneva Spur. Pemandangan yang menyedihkan: semua orang sudah sangat lemah, dan dibutuhkan waktu lama sebelum tim kami bisa melewati beberapa ratus kaki dan tiba dilereng tertutup es dibawah kami. Tetapi, yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa jumlah anggota tim kami telah berkurang: tiga hari sebelumnya saat kami melewati lereng ini, jumlah kami sebelas orang, namun sekarang kami hanya tinggal berenam.
Stuart Hutchison yang berjalan paling belakang masih berdiri diatas Geneva Spur saat aku berhasil menyusulnya, sedang bersiap-siap untuk turun melewati lintasan tali. Kulihat dia tidak memakai kacamata. Meskipun cuaca berawan, radiasi kuat ultraviolet yang dipantulkan oleh salju pada ketinggian ini bisa membutakan matanya. “Stuart!” teriakku mengatasi suara angin, sambil menunjuk pada kedua mataku. “Kacamatamu!”
“Oh ya,” katanya dengan suara lemah. “Terima kasih sudah diingatkan. Hei, karena kamu kebetulan ada disini, bisa tolong periksa tali harnessku? Aku sangat lelah sehingga tidak bisa lagi berpikir jernih. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu bisa mengawasiku.” Ketika aku memeriksa tali harnessnya, aku melihat bahwa gesper pelana itu tidak terkunci dengan baik. Kalau dia mengaitkannya pada lintasan tali dengan menggunakan tali pengaman, pelana itu akan terlepas karena harus menahan berat tubuhnya, dan dia akan jatuh melewati Lhotse Face. Ketika hal itu kusampaikan kepadanya dia berkata, “Ya, aku pikir juga begitu, tetapi kedua tanganku terlalu kaku untuk bisa melakukannya.” Setelah melepaskan sarung tanganku ditengah cuaca yang sangat dingin, dengan cepat aku mengunci harness yang melingkar diseputar pinggangnya dan memintanya untuk segera menuruni Geneva Spur menyusul yang lain.
Pada saat mengaitkan tali pengaman ke jalur tali yang tersedia, Stuart melemparkan kapak esnya ke bawah, dan membiarkan kapak itu tergeletak diatas salju, kemudian mulai menuruni tali, “Stuart!” teriakku. “Kapak esmu!”
“Aku terlalu lelah untuk membawanya,” katanya berteriak. “Biarkan saja dia disana.” Aku sendiri sudah terlalu lemah sehingga aku tidak mau berdebat dengannya. Kubiarkan kapak itu tergeletak  disana, mengaitkan tubuhku pada lintasan tali dan kemudian mengikuti Stuart menuruni lereng Geneva Spur yang curam.
Satu jam kemudian kami tiba di puncak Jalur Kuning, sebuah hambatan yang sangat sulit, sehingga setiap pendaki harus ekstra hati-hati saat melewati tebing tertutup singkapan gamping dengan kemiringan yang hampir vertikal itu. Ketika aku sedang menunggu giliran dibelakang antrean, beberapa Sherpa dari kelompok Fischer berhasil menyusul kami. Lopsang Jangbu, yang sudah setengah gila karena sedih dan lelah, ada diantara mereka. Sambil meletakkan tanganku diatas bahunya, aku menyampaikan rasa bela sungkawa atas kepergian Scott. Lopsang memukuli dadanya dan sambil terisak dia berkata, “Aku memang sial, sangat sial. Scott mati, itu salahku. Aku pembawa sial. Itu salahku. Aku sangat sial.”

Aku berjalan lunglai memasuki Camp Dua pada pukul 13.30. Meskipun secara rasional tempat ini masih sangat tinggi---21.300 kaki---tetapi keadaan disini berbeda dengan di Jalur Selatan. Angin pembawa bencana sudah sepenuhnya reda. Aku tidak lagi menggigil dan mencemaskan gigitan salju, sebaliknya tubuhku basah karena keringat akibat matahari yang bersinar terik. Sepertinya, aku tidak lagi harus berjuang mempertahankan hidup dengan bergantung pada sehelai benang yang rapuh.
Tenda utama kami sudah diubah menjadi semacam rumah sakit darurat yang ditangani oleh Henrik Jessen Hansen, seorang dokter warga Denmark dari tim Mal Duff, dan Ken Kamler, seorang klien sekaligus dokter warga Amerika dari tim Burleson, yang bertindak sebagai staf. Pukul 15.00, ketika aku sedang minum secangkir teh, enam Sherpa tiba dengan membawa Makalu Gau yang tampak linglung ke dalam tenda, yang langsung ditangani oleh kedua dokter tersebut.
Dengan cepat mereka membaringkan Gau, melepaskan pakaiannya, dan memasukkan infus melalui lengannya. Saat mengamati tangan dan kakinya yang membeku dan berwarna putih gelap seperti bak cuci kamar mandi yang kotor, Kamler berkata dengan suara murung, “Gigitan salju yang paling buruk yang pernah aku lihat.” Ketika Kamler meminta ijin pada Gau untuk memotret lengan dan kakinya untuk catatan medis, pendaki Taiwan itu mengangguk sambil tersenyum lebar; seperti serdadu yang menunjukkan luka bekas pertempuran, dia tampak bangga dengan luka mengerikan yang dideritanya.
Sembilan puluh menit kemudian, kedua dokter tadi masih menangani Makalu ketika suara David Breashers terdengar melalui radio: “Kami sedang dalam perjalanan turun bersama Beck. Kami akan tiba di Camp Dua malam ini juga.”
Beberapa detik berlalu sebelum aku sadar bahwa Breashers tidak membawa sesosok mayat; dia dan rekan-rekannya sedang membawa Beck yang masih hidup. Aku tidak percaya. Ketika aku meninggalkan Beck di Jalur Selatan tujuh jam yang lalu, aku takut dia tidak bisa bertahan hidup sampai esok hari.
Meskipun dianggap sudah mati, sekali lagi Beck tidak mau menyerah. Belakangan aku mendapat penjelasan dari Pete Athans bahwa sesaat setelah mendapat suntikan dexametason, warga Texas itu secara mengagumkan pulih dengan cepat. “Sekitar pukul sepuluh malam kami membantunya mengenakan pakaian, memasang tali pelana, dan mendapati bahwa dia masih mampu berdiri dan berjalan. Kami semua benar-benar kagum.”
Mereka memutuskan untuk turun dari Jalur Selatan, membiarkan Athans berjalan langsung didepan Beck, dan menunjukkan dimana dia harus meletakkan kakinya. Beck meletakkan tangannya dibahu Athans, sementara Burleson memegang kuat-kuat tali pelananya dari belakang. Perlahan-lahan dan hati-hati mereka menuruni lereng. “Beberapa kali kami harus menggendongnya,” kata Athans, “tetapi selebihnya dia mampu bergerak dengan baik.”
Pada ketinggian 25.000 kaki, dipuncak lereng Jalur Kuning yang tertutup singkapan lempung, mereka disambut oleh Ed Viesturs dan Robert Schauer yang secara efisien membantu membawa Beck melewati lereng yang curam tersebut. Di Camp Tiga mereka dibantu oleh Breashers, Jim William, Veikka Gustaffson dan Araceli Segarra; kedelapan pendaki yang masih sehat itu mengusung Beck yang sudah setengah lumpuh menuruni Lhotse Face, relatif lebih cepat dari waktu yang kami butuhkan saat menuruni lereng yang sama tadi pagi.
Waktu aku mendengar bahwa Beck sedang dalam perjalanan turun, aku berjalan ke tendaku, dengan letih mulai memakai sepatuku, dan berjalan mendaki untuk menyongsong regu penyelamat, berharap bisa bertemu mereka dikaki Lhotse Face. Dua puluh menit diatas Camp Dua, aku sangat terkejut ketika bertemu mereka. Meskipun tubuhnya diikatkan pada pendaki lain melalui seutas tali pendek, Beck masih bisa berjalan sendiri. Breashers dan rekan-rekannya membawa Beck menuruni gletser dengan kecepatan tinggi, sehingga dalam kondisiku yang masih  sangat lemah, aku hampir-hampir tidak mampu mengikuti mereka.
Beck dibaringkan disamping Gau ditenda rumah sakit, dan para dokter mulai melepaskan pakaiannya. “Ya Tuhan!” dr.Kamler berseru setelah mengamati tangan kanan Beck. “Gigitan salju yang dideritanya lebih parah dari Makalu.” Tiga jam kemudian, ketika aku merangkak ke dalam kantong tidurku, para dokter dengan sangat hati-hati masih merendam lengan dan kaki Beck didalam belanga berisi air hangat, bekerja dibawah sorotan sinar lampu kepala mereka.
Keesokan harinya---Senin, pada 13 Mei---sesaat setelah matahari terbit, aku meninggalkan perkemahan, berjalan sejauh dua setengah mil melewati celah Cwm Barat yang dalam menuju mulut Jeram Es. Ditempat itu, sesuai instruksi radio dari Guy Cotter yang berada di Base Camp, aku mencari wilayah datar yang bisa menjadi tempat pendaratan helikopter.
Beberapa hari sebelumnya, dengan menggunakan telepon satelit, Cotter bekerja keras mengatur evakuasi helikopter dari kaki Cwm, agar Beck tidak perlu melewati lintasan tali dan tangga-tangga alumunium di sekitar Jeram Es yang sangat berbahaya dan pasti menyulitkan bagi tangannya yang terluka hebat. Mendaratkan helikopter di Cwm pernah dilakukan dua kali, yaitu pada 1973, ketika sebuah tim ekspedisi Italia menggunakan dua helikopter untuk membawa perbekalan dari Base Camp. Meskipun demikian, evakuasi seperti itu memang sangat berbahaya, tepat di ambang batas kemampuan pesawat, dan salah satu dari dua helikopter milik tim Italia tersebut kemudian jatuh diatas gletser. Dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun setelah kejadian itu, pendaratan diatas jeram es tidak pernah lagi dilakukan.
Tetapi Cotter cukup gigih, dan Kedutaan Amerika ikut membujuk angkatan bersenjata Nepal untuk mencoba melakukan upaya penyelamatan dengan helikopter diatas Cwm. Sekitar pukul 08.00, sebelum aku berhasil menemukan landasan helikopter ditengah bongkahan serac yang memenuhi mulut Jeram Es, suara Cotter tiba-tiba terdengar melalui radioku: “Helikopter sedang dalam perjalanan Jon, dan sewaktu-waktu akan tiba ditempatmu. Kamu harus secepatnya menemukan tempat untuk mendarat.” Berharap bisa menemukan medan yang cukup datar diatas gletser, dengan cepat aku berlari menyongsong Beck yang sedang menuruni Cwm, tubuhnya terikat tali di bantu oleh Athans, Burleson, Gustaffson, Breashers, Viesturs dan anggota tim IMAX yang lain.
Breashers yang kerap bekerja menggunakan helikopter sepanjang masa kariernya yang panjang dan gemilang didunia film, dengan cepat menemukan sebuah tempat pendaratan yang diapit oleh dua celah besar pada ketinggian 19.860 kaki. Aku mengikat sehelai kain kata terbuat dari sutra pada sepotong bambu untuk menunjukkan arah angin, sementara Breashers---menggunakan sebotol Kool-Aid warna merah---membuat huruf X besar diatas salju ditengah lokasi pendaratan. Beberapa menit kemudian, Makalu Gau mulai tampak, tubuhnya diikat tali plastik, ditarik oleh setengah lusin Sherpa menuruni gletser. Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara baling-baling helikopter yang berputar cepat ditengah udara yang tipis.
Pesawat helikopter jenis Tupai-B2 warna hijau militer yang dikemudikan oleh Letkol. Madan Khatri Chhetri dari angkatan bersenjata Nepal---dengan bahan bakar dan peralatan yang minimal---mencoba melakukan dua kali pendaratan, tetapi pada detik terakhir selalu gagal. Pada percobaan ketiga, dengan disertai goncangan keras, Madan berhasil mendaratkan badan pesawat diatas gletser dengan ekor helikopter tergantung diatas celah gletser yang sangat dalam. Membiarkan baling-baling helikopternya berputar dengan kekuatan penuh dan mata yang tidak pernah lepas dari panel pengendali, Madan menaikkan salah satu jarinya, artinya, dia hanya bisa membawa satu penumpang; pada ketinggian seperti ini, setiap kilogram berat tambahan bisa membuat pesawat jatuh saat mengudara.
Karena kedua kaki Gau yang terkena gigitan salju sudah dihangatkan di Camp Dua, dia sama sekali tidak bisa berjalan atau berdiri, sehingga Breashers, Athans dan aku setuju untuk mendahulukan evakuasi pendaki Taiwan tersebut. “Maaf,” teriakku pada Beck mengatasi jerit suara mesin helikopter. “Mudah-mudahan nanti dia bisa melakukan pendaratan yang kedua.” Beck mengangguk penuh pengertian.
Kami mengangkat Gau ke samping helikopter, perlahan-lahan helikopter itu naik ke udara. Begitu Madan berhasil mengangkat tubuh pesawat dari atas permukaan gletser, dengan cepat dia mendorong badan pesawatnyake depan, dan terjun seperti batu melewati bibir Jeram Es, lalu menghilang ke dalam kegelapan lembah. Sebuah keheningan yang berat menyelimuti Cwm.
Tiga puluh menit kemudian kami masih berdiri diseputar zona pendaratan, membahas bagaimana menurunkan Beck, ketika kami mendengar suara samar desing baling-baling helikopter yang datang dari lembah dibawah kami. Perlahan-lahan suara itu bertambah keras dan terus bertambah keras, dan akhirnya helikopter kecil berwarna hijau itu mulai tampak. Madan menerbangkan pesawatnya sedikit melewati jalur Cwm kemudian berbalik sehingga moncong pesawat mengarah ke lereng yang menukik curam. Kemudian, tanpa ragu-ragu, dia mendaratkan kembali pesawatnya diatas tempat pendaratan. Dengan cepat, Breashers dan Athans mengangkat Beck ke dalam badan pesawat. Beberapa detik kemudian helikopter itu mengudara, terbang melintasi Bahu Barat Everest seperti capung metal yang ajaib. Sejam kemudian, Beck dan Makalu Gau tiba di Rumah Sakit Kathmandu.
Setelah tim penyelamat bubar, aku duduk beberapa saat diatas salju, menatap sepatuku, mencoba memahami apa yang telah terjadi selama tujuh puluh dua jam terakhir. Bagaimana mungkin semuanya bisa berubah menjadi kacau? Bagaimana mungkin Andy, Rob, Scott, Doug dan Yasuko bisa benar-benar tewas? Tetapi, betapapun kerasnya aku berpikir, jawabannya tidak pernah kutemukan. Dahsyatnya bencana ini melebihi apapun yang pernah kubayangkan, sehingga otakku menolak untuk bekerja dan menjadi gelap. Aku melepaskan harapan untuk bisa memahami rentetan peristiwa yang telah terjadi, mengambil ranselku dan berjalan menuruni Jeram Es yang dinginnya mampu menyihirku, perasaanku cemas seperti seekor kucing, dan untuk terakhir kalinya melewati jalan berliku yang di penuhi serac es yang sedang hancur.

Into Thin Air --- Bab XIX

                INTO THIN AIR
                     BAB XIX
                JALUR SELATAN
                    11 MEI 1996,
       PUKUL 07.30, 26.000 KAKI

Berputar dan berputar diatas puncak yang melebar Sang elang tidak bisa mendengar sang pemburu elang; semua hancur berantakan; sang pusat tidak bisa lag bertahan; Anarki belaka yang dilepaskan ke dalam dunia Gelombang berdarah yang suram sudah terlepas, dan dimana-mana Upacara pemurnian sudah tenggelam

William Butler Yeats
“The Second Coming”
------------------------------------

Ketika aku sedang berjalan tertatih-tatih kembali ke Camp Empat sekitar pukul 07.30, Sabtu 11 Mei, realitas dari peristiwa yang telah terjadi---dan yang sedang terjadi---mulai menghantamku dengan kekuatan yang melumpuhkan. Secara fisik dan emosional tubuhku telah hancur setelah aku, selama hampir satu jam, menjelajahi Jalur Selatan untuk mencari Andy Harris; pencarian yang membuatku yakin bahwa dia sudah tewas. Hubungan radio antara rekan satu timku Stuart Hutchison yang memonitor Rob Hall di Puncak Selatan jelas menunjukkan bahwa pemimpin ekspedisi kami sedang dalam kesulitan besar, dan Doug Hanse sudah tewas. Anggota tim ekspedisi Scott Fischer yang hampir sepanjang malam tersesat di Jalur Selatan melaporkan bahwa Yasuko Namba dan Beck Weathers sudah tewas. Scott Fischer dan Makalu Gau pun dipercaya sudah tewas atau hampir tewas, 1.200 kaki diatas perkemahan.
Dihadapkan pada gambaran ini, otakku berontak dan mundur ke dalam kondisi yang aneh, keterlepasan yang menyerupai robot. Secara emosional aku merasa terbius tetapi kesadaranku sangat tinggi, seakan-akan aku melarikan diri ke dalam sebuah lubang perlindungan yang berada jauh didalam otakku dan sedang mengintip keluar pada kekacauan diseputarku melalui sebuah celah yang sempit dan terlindung. Saat aku menatap dengan kebas ke atas, langit seakan-akan berubah menjadi bayangan biru muda yang aneh dan kosong, kecuali sedikit sisa-sisa warna. Horison yang datar dihiasi oleh sinar  yang menyerupai sinar korona, berkelip-kelip dan berdenyut di hadapan mataku. Aku bertanya-tanya, mungkinkah aku sedang terbenam melewati sebuah spiral memasuki wilayah kegilaan yang menakutkan.
Setelah menetap satu malam diketinggian 26.000 kaki tanpa oksigen tambahan, tubuhku terasa lebih lemah dan lebih lelah dari malam sebelumnya, yaitu ketika aku baru kembali dari puncak. Jika kami tidak mendapatkan gas tambahan atau turun ke perkemahan yang lebih rendah, keadaanku dan keadaan rekan-rekan satu timku dengan cepat akan menjadi makin buruk.
Program aklimatisasi cepat yang diterapkan Hall dan hampir semua pendaki Everest modern memang sangat efisien: memungkinkan para pendaki untuk bergerak ke puncak setelah melewati periode empat minggu yang relatif pendek di ketinggian diatas 17.000 kaki---termasuk menginap satu malam di ketinggian 24.000 kaki(*1). Tetapi, strategi ini diterapkan dengan anggapan bahwa diatas ketinggian  24.000 kaki setiap pendaki akan terus menerus mendapat oksigen tambahan. Jika persyaratan itu tidak terpenuhi, tidak ada jaminan lagi bagi kondisi yang memenuhi syarat secara keseluruhan.
Setelah memeriksa keadaan rekan-rekan satu timku, aku mendapati Frank Fischbeck dan Lou Kasischke terbaring di tenda yang dekat dengan tendaku. Lou mengigau, matanya hampir buta karena pantulan sinar matahari dari atas salju, dia tidak mampu melakukan apapun untuk dirinya sendiri dan terus meracau. Frank seperti orang yang sedang terserang shock berat, tetapi dia berusaha keras untuk merawat Lou. John Taske berada ditenda lain bersama Mike Groom; keduanya tampak tertidur atau tidak sadar. Meskipun aku sendiri merasa sangat lemah, aku bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi rekan-rekanku lebih buruk dari kondisiku, kecuali Stuart Hutchison.
Aku berjalan dari satu tenda ke tenda lain, berusaha mencari persediaan oksigen, tetapi semua botol yang ketemui sudah kosong. Hipoksia yang menyerangku ditambah perasaan lelah yang amat sangat, memperburuk perasaan kacau dan putus asa yang kurasakan. Untungnya, keributan yang disebabkan oleh suara kepakan nilon tenda yang tertiup angin menghambat komunikasi dari tenda ke tenda. Baterai-baterai dari satu-satunya radio kami yang masih berfungsi sudah hampir kosong. Suasana kehancuran menyelimuti perkemahan, yang diperburuk oleh kenyataan bahwa tim kami---yang selama enam minggu didorong untuk sepenuhnya bergantung pada para pemandu kami---sekarang, secara mendadak, kehilangan pemimpin: Rob dan Andy Harris sudah tewas, dan meskipun Groom masih ada diantara kami, cobaan berat yang dilaluinya semalam sangat menguras tenaganya. Groom yang terserang gigitan salju yang cukup parah, terbaring tidak bergerak didalam tendanya, dan setidaknya untuk saat ini, dia tidak mampu berbicara.
Setelah semua pemimpin kami tidak berdaya, Hutchison mengambil alih posisi pemimpin yang saat ini kosong. Pria muda yang selalu tampak cemas dan serius ini, adalah warga Inggris kelas at yang berasal dari Montreal, seorang dokter dan ilmuwan yang sangat cerdas, yang ikut dalam ekspedisi mendaki gunung setiap dua atau tiga tahun sekali, tetapi diluar itu dia hampir-hampir tidak punya waktu untuk kegiatan mendaki. Ketika terjadi krisis di Camp Empat, dia berupaya sebaik-baiknya untuk mengatasi situasi tersebut.
Sementara aku berusaha untuk memulihkan diri setelah sia-sia mencari Harris, Hutchison mengorganisir sebuah tim pencari beranggotakan empat warga Sherpa untuk mencari tubuh Weathers dan Namba yang ditinggalkan di tepi Jalur Selatan, ketika Anatoli Boukreev membawa pulang Charlotte Fox, Sandy Pittman dan Tim Madsen. Tim pencari yang di ketuai oleh Lhakpa Chhiri, berangkat mendahului Hutchison yang sangat kelelahan dan kebingungan sehingga dia lupa memakai sepatunya dan meninggalkan perkemahan  dengan hanya memakai alas sepatu salju yang bersol halus. Setelah diingatkan oleh Lhakpa, Hutchison segera menyadari kekeliruannya dan kembali ke perkemahan untuk memakai sepatu. Berkat petunjuk yang diberikan Boukreev, para Sherpa dengan cepat menemukan kedua tubuh pendaki tersebut diatas lereng berwarna kelabu yang tertutup es bercampur batu, terbujur dimulut Kangshung Face. Sebagai orang-orang yang sangat percaya pada takhayul seputar orang mati seperti umumnya warga Sherpa, mereka berhenti 60-70 kaki dari mayat tersebut dan menunggu kedatangan Hutchison.
“Kedua tubuh itu sudah setengah terkubur,” kenang Hutchison. “Ransel mereka tergeletak kurang lebih seratus kaki dari tubuh mereka, diatas lereng. Muka dan tubuh mereka ditutupi salju; hanya tangan dan kaki mereka yang mencuat keluar. Jeritan angin terdengar di sepanjang Jalur Selatan.” Tubuh pertama ditemukan Hutchison adalah tubuh Yasuko Namba, tetapi Hutchison tidak mengenalinya sebelum dia berlutut ditengah badai dan mengetuk lepas lapisan es setebal delapan senti dari wajahnya. Hutchison sangat terkejut saat mendapati bahwa Yasuko masih bernapas. Kedua kaus tangannya sudah hilang dan tangannya yang telanjang tampak seperti bongkah es yang membeku. Kedua matanya membelalak. Kulit wajahnya putih seperti porselen. “Benar-benar menyedihkan,” kenang Hutchison. “Aku merasa terguncang. Dia hampir mati. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”
Hutchison mengalihkan perhatiannya pada Beck, yang terbaring dua puluh kaki dari Yasuko. Kepala Beck juga dipenuhi kerak es yang membeku. Butiran-butiran es sebesar anggur memenuhi rambut dan kelopak matanya. Setelah membersihkan butiran-butiran beku dari wajah Beck, Hutchison mendapati bahwa orang Texas itu ternyata masih hidup: “Kupikir Beck menggumamkan sesuatu, tetapi aku tidak bisa mengerti kata-katanya. Kaus tangannya yang sebelah kanan hilang dan dia menderita gigitan salju yang sangat parah. Aku membantunya untuk duduk, tetapi Beck tidak mampu duduk. Dia sudah sekarat, meskipun masih bernapas.”
Dengan perasaan terguncang Hutchison mendekati para Sherpa dan meminta saran dari Lhakpa, veteran Everest yang sangat paham tentang dunia pendakian dan dihormati baik oleh para Sherpa maupun majikannya, menyarankan agar Beck dan Yasuko ditinggalkan ditempat mereka terbaring. Meskipun mampu bertahan sampai ke Camp Empat, mereka pasti tewas sebelum bisa tiba di Base Camp, dan upaya menyelamatkan mereka hanyalah upaya sia-sia yang akan membahayakan hidup pendaki lain yang ada di Jalur Selatan, pendaki yang hampir semuanya akan kesulitan untuk bisa turun dengan selamat.
Hutchison memutuskan bahwa saran Lhakpa memang benar---dia hanya punya satu pilihan, meskipun pilihan tersebut sangat sulit: membiarkan alam menentukan nasib Beck dan Yasuko dan menyelamatkan anggota tim yang masih bisa diselamatkan. Sebuah pilihan klasik yang sangat sulit. Ketika Hutchison kembali ke perkemahan, dia hampir-hampir tidak mampu menahan tangis dan wajahnya tampak seperti hantu. Atas permintaannya, kami membangunkan Taske dan Groom, dan kemudian berkumpul ditenda mereka untuk membahas, apa yang harus dilakukan terhadap Beck dan Yasuko. Pembicaraan yang terjadi kemudian sangat menyedihkan, dilakukan dengan suara terputus-putus. Semua orang enggan untuk saling menatap. Setelah lima menit, kami semua sepakat: keputusan Hutchison untuk meninggalkan Beck dan Yasuko ditempatnya merupakan keputusan yang tepat.
Kami juga berdebat tentang kemungkinan kembali ke Camp Dua sore itu juga, tetapi Taske menolak untuk turun dari Jalur Selatan jika Hall masih terdampar di Puncak Selatan. “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpanya,” katanya. Bagaimanapun keputusannya memang sulit diperdebatkan: Kondisi Kasischke dan Groom sangat buruk sehingga untuk sementara mereka tidak bisa pergi kemanapun.
“Saat itu, aku benar-benar cemas. Aku pikir peristiwa yang pernah terjadi di K2 pada 1986 akan terulang pada kami,” kata Hutchison. Pada 4 Juli tahun itu, tujuh veteran Himalaya---termasuk pendaki legendaris dari Austria, Kurt Diemberger---berangkat menuju puncak tertinggi kedua didunia tersebut. Enam dari tujuh pendaki bisa mencapai puncak, tetapi, ketika sedang turun gunung mereka dihadang oleh badai yang sangat buruk di lereng atas K2, yang memaksa para pendaki untuk berlindung didalam kemah mereka pada ketinggian 26.250 kaki. Karena badai terus menerus mengamuk selama lima hari tanpa pernah berhenti, tubuh mereka menjadi semakin lemah. Ketika badai akhirnya reda, hanya Diemberger dan satu pendaki lain yang mampu turun gunung dalam keadaan hidup.

Sabtu pagi, saat kami sedang membahas tentang apa yang harus dilakukan terhadap Namba dan Weathers, dan membahas kemungkinan untuk turun gunung, Neal Beidleman sedang mengumpulkan sisa-sisa tim Fischer dari tenda-tenda mereka dan memaksa mereka untuk turun dari Jalur Selatan. “Semua orang sangat kelelahan karena peristiwa kemarin malam sehingga sangat sulit untuk membangunkan tim dan membawa mereka keluar dari tenda---aku terpaksa harus memukul beberapa orang agar mereka mau memakai sepatu,” katanya. “Tetapi aku bersikeras membawa mereka keluar dari tempat itu secepatnya. Aku pikir, tinggal lebih lama diketinggian dua puluh enam ribu kaki akan sangat berbahaya. Aku tahu bahwa upaya untuk menyelamatkan Scott dan Rob  sedang berlangsung, jadi aku memusatkan perhatian pada upaya untuk membawa klien kami turun dari Jalur Selatan menuju perkemahan yang lebih rendah.”
Dengan meninggalkan Boukreev yang tetap tinggal di Camp Empat untuk menunggu Fischer, Beidleman memimpin kelompoknya turun dari Jalur Selatan. Pada ketinggian 25.000 kaki, dia berhenti untuk memberi Pittman suntikan dexmethason, kemudian semua orang berhenti cukup lama di Camp Tiga untuk beristirahat dan minum. “Aku sungguh-sungguh terkejut melihat mereka,” kata David Breasher, yang sudah berada di Camp Tiga ketika tim Beidleman tiba. “Mereka kelihatan seperti orang-orang yang baru kembali dari perang lima bulan. Sandy mulai histeris---dan menjerit-jerit, ‘Benar-benar menakutkan! Aku sudah menyerah dan berbaring menunggu kematian!’ Mereka semua seperti orang yang terserang  shock hebat.”
Sesaat sebelum hari gelap, ketika anggota terakhir dari tim Beidleman sedang menuruni lereng bawah Lhotse Face yang tertutup es, kira-kira 500 kaki setelah melewati lintasan tali, mereka bertemu dengan beberapa Sherpa anggota kelompok kebersihan lingkungan dari kerajaan Nepal yang sengaja naik untuk membantu. Ketika tim tersebut mulai bergerak untuk menuruni lereng, beberapa butir batu sebesar buah tiba-tiba meluncur cepat dari lereng diatas gunung. Salah satu batu tersebut mengenai bagian belakang kepala salah seorang Sherpa. “Batu itu membuatnya roboh,” kata Beidleman, yang melihat kejadian tersebut dari dekat tepat diatasnya,
“Benar-benar mengerikan,” kenang Klev Schoening, “Sherpa itu seperti orang yang dipukul dengan tongkat pemukul bisbol.” Kuatnya hantaman batu meninggalkan lubang sebesar uang logam dikepala si Sherpa, membuatnya tidak sadar dan dia pun terserang cardiopulmonary arrest (kerja jantung dan paru-paru terhenti). Ketika orang itu terjungkal dan meluncur sepanjang lintasan tali, Schoening melompat kehadapannya dan berhasil menahan jatuhnya. Tetapi beberapa saat kemudian, ketika Schoening masih memeluk Sherpa itu dengan kedua lengannya, batu kedua meluncur dan menimpa Sherpa yang sama, tepat dibelakang kepalanya.
Meskipun dua kali dihantam batu, setelah beberapa menit orang yang terluka itu tampak megap-megap dengan keras dan mulai bernapas kembali. Beidleman mampu membawanya ke dasar Lhotse Face, ditempat itu, selusin warga Sherpa menyongsong rekannya dan membawa pria malang itu ke Camp Dua. Saat itulah, kata Beidleman, “Aku dan Kelv saling menatap dengan perasaan tidak percaya. Kami berdua seperti saling bertanya, ‘Apa yang sedang terjadi disini? Apa yang sudah kami lakukan sehingga gunung ini menjadi sangat marah?”

Sepanjang bulan April dan awal Mei, beberapa kali Rob Hall mengungkapkan perasaan cemasnya tentang kemungkinan satu atau lebih tim yang kurang kompeten terjebak dalam antrean pendaki sehingga tim kami terpaksa harus menyelamatkan mereka, dan menghambat upaya kami untuk mencapai puncak. Ironisnya, justru tim Hall yang sekarang menghadapi masalah besar dan tim yang lain datang untuk membantu kami. Tanpa mengeluh, tiga tim ekspedisi---Alpine Ascents International pimpinan Todd Burleson, IMAX Expedition pimpinan David Breashers dan tim ekspedisi komersial pimpinan Mal Duff---segera mengubah rencana untuk menaklukkan puncak agar mereka bisa membantu para pendaki yang sedang tertimpa bencana.
Sehari sebelumnya---Jumat, tanggal 10 Mei---ketika para pendaki dari tim Hall dan Fischer sedang mendaki dari Camp Empat menuju puncak, tim ekspedisi Alpine Ascents International yang dipimpin Burleson dan Pete Athans baru saja tiba di Camp Tiga. Sabtu pagi, begitu mereka mendengar tentang bencana yang sedang terjadi diatas, Burleson dan Athans meninggalkan klien mereka di ketinggian 24.000 kaki diawasi oleh pemandu ketiga mereka, Jim Williams, dan dengan cepat mendaki ke Jalur Selatan untuk memberikan pertolongan.
Saat itu, Breashers, Ed Viesturs dan anggota tim IMAX lain kebetulan sedang berada di Camp Dua; Breashers segera menghentikan pembuatan film dan mengerahkan sumber daya yang mereka miliki untuk upaya penyelamatan. Pertama-tama dia mengirimkan pesan padaku bahwa beberapa baterai cadangan tersimpan disalah satu tenda tim IMAX di Jalur Selatan; lewat tengah hari, aku berhasil menemukan baterai-baterai tersebut, sehingga tim Hall bisa meneruskan kontak radio dengan perkemahan-perkemahan dibawahnya. Kemudian, Breashers menawarkan persediaan oksigen mereka---lima puluh botol oksigen yang dibawa dengan susah payah ke atas ketinggian 26.000 kaki---untuk para pendaki yang sedang menderita dan untuk para anggota tim penyelamat di Jalur Selatan. Meskipun tindakan Breashers bisa mengacaukan proses pembuatan filmnya yang bernilai 5,5 juta dolar, dia tidak ragu-ragu mengirimkan gas yang sangat dibutuhkan tersebut.
Athans dan Burleson tiba di Camp Empat menjelang tengah hari, dan langsung membagi-bagikan botol-botol oksigen sumbangan tim IMAX kepada kami yang sedang lapar oksigen, kemudian menunggu hasil kerja para Sherpa dalam menyelamatkan Hall, Fischer dan Gau. Pada pukul 16.35, Burleson sedang berdiri di luar perkemahan ketika dia melihat sosok tubuh berjalan tertatih-tatih ke arah perkemahan dengan langkah kaku. “Hei, Pete,” teriaknya memanggil Athans. “Coba lihat kemari. Seseorang sedang berjalan menuju perkemahan.” Tangan kanan orang itu, yang tidak terlindung dari tiupan angin dingin penuh dengan luka gigitan salju dan terangkat aneh, seperti patung yang sedang berdiri menghormat. Siapa pun dia, sosok itu mengingatkan Athans pada sesosok mumi dalam film horor murahan. Ketika mumi itu bergerak memasuki perkemahan, Burleson baru sadar bahwa orang itu tidak lain dari Beck Weathers yang entah bagaimana, bangun dari kematian.
Malam sebelumnya, terbungkuk-bungkuk bersama Groom, Beidleman, Namba dan beberapa anggota tim tersebut, Weathers merasakan tubuhnya menjadi “dingin dan terus bertambah dingin. Sarung tangan kananku hilang. Wajahku membeku. Kedua tanganku membeku. Aku merasa makin kebas dan tidak bisa terfokus, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.”
Sepanjang malam dan hampir sepanjang hari berikutnya, Beck terbaring diatas es, dibawah terjangan angin yang tidak mengenal belas kasihan, dalam keadaan cataleptic (tidak mampu bereaksi terhadap rangsangan luar, ditandai oleh tubuh yang kejang) dan sekarat. Dia tidak ingat ketika Boukreev  datang untuk menolong Pittman, Fox dan Madsen. Dia juga tidak ingat ketika Hutchison menemukan dia esok paginya, dan melepaskan kerak es dari wajahnya. Dia berada dalam keadaan setengah koma selama lebih dari dua belas jam. Kemudian menjelang sore, karena alasan tertentu, secercah sinar menyala dipusat otak reptil Beck yang sudah mati dan mengembalikan kesadarannya.
“Semula, aku pikir aku sedang bermimpi,” kenang Weathers. “Waktu baru sadar, kurasa aku sedang terbaring diatas tempat tidur. Aku tidak merasa dingin atau tak nyaman. Aku hanya berbalik, membuka mata, kemudian melihat ke arah tangan kananku, tangan itu sudah membeku dan itu menyadarkanku. Akhirnya, aku cukup sadar untuk memahami bahwa aku sedang menghadapi kesulitan besar dan regu penolong tidak datang, jadi sebaiknya aku lakukan sesuatu untuk diriku sendiri.”
Meskipun mata kanan Beck buta, dan jarak pandang mata kirinya turun hanya sampai tiga atau empat kaki, dia mulai berjalan melewati tiupan angin, dan secara tepat menduga bahwa perkemahan berada diarah tersebut. Seandainya dia salah mengambil arah, dengan cepat dia akan tiba di Kangshung Face, yang tepinya hanya berjarak tiga puluh kaki pada arah yang berlawanan. Sekitar sembilan puluh menit kemudian, dia melihat “sekelompok batuan halus berwarna kebiru-biruan dan tampak aneh,” yang ternyata adalah tenda-tenda Camp Empat.
Hutchison dan aku sedang berada di dalam tenda kami, memantau hubungan radio dari Rob Hall di Puncak Selatan, ketika Burleson dengan tergesa-gesa masuk ke dalam tenda. “Dokter! Kami sangat membutuhkan Anda!” teriaknya pada Stuart dari pintu tenda. “Ambil peralatan Anda. Beck baru saja berjalan masuk, dan kondisinya sangat buruk!” Terkejut mendengar kebangkita Beck yang ajaib, Hutchison yang masih kelelahan merangkak keluar untuk menjawab panggilan tersebut.
Hutchison, Athans dan Burleson membawa Beck ke sebuah tenda yang tidak digunakan, membungkusnya dengan dua kantong tidur dan beberapa botol air panas dan memasangkan masker oksigen diwajahnya. “Saat itu,” Hutchison mengaku, “ Kami semua berpikir bahwa Beck tidak akan mampu melewati malam itu. Aku hampir-hampir tidak bisa mendengar detak di urat nadi utamanya, urat nadi yang terakhir berdetak sebelum seseorang meninggal. Dia berada dalam kondisi kritis. Dan, meskipun dia bisa bertahan sampai besok pagi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kami bisa membawanya turun.”
Saat itu, ketiga Sherpa yang di tugaskan untuk menyelamatkan Scott Fischer dan Makalu Gau sudah kembali ke perkemahan dengan hanya membawa Gau: mereka membiarkan Fischer terbaring diatas birai pada ketinggian 27.200 kaki dan menyimpulkan bahwa Fischer sudah tewas. Tetapi, setelah melihat Beck memasuki perkemahan, Anatoli Boukreev belum mau menerima dugaan bahwa Fischer sudah tewas. Pada pukul 17.00, ketika badai semakin menguat, orang Rusia itu berangkat sendirian untuk mencoba menyelamatkan Fischer.
“Aku menemukan Scott sekitar pukul 19.00, mungkin pukul 19.30 atau pukul 20.00,” kata Boukreev. “Saat itu cuaca sudah gelap. Badai sangat dahsyat. Fischer masih mengenakan masker oksigen, tetapi botolnya sudah kosong. Dia juga tidak mengenakan sarung tangan; kedua tangannya telanjang. Ritsletting bawah bajunya terbuka, ditarik melewati bahu, dan salah satu lengannya keluar dari lengan bajunya. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Scott sudah tewas.” Dengan berat hati, Boukreev menutupi wajah Fischer dengan ranselnya  seperti kain kafan dan meninggalkannya diatas birai tempatnya berbaring. Kemudian dia mengumpulkan kamera milik Scott, kapak es dan pisau kantong kesayangannya---yang kemudian diserahkan oleh Beidleman kepada putra Scott yang berusia sembilan tahun di Seattle---dan turun kembali menembus badai.
Badai salju yang mengamuk pada hari Sabtu malam bahkan lebih kuat daripada badai yang menerjang Jalur Selatan malam sebelumnya. Ketika Boukreev tiba di Camp Empat, jarak pandangnya sudah sangat berkurang menjadi beberapa kaki saja, dan dia hampir-hampir gagal menemukan perkemahan.
Setelah bernapas dengan oksigen tambahan (terima kasih pada tim IMAX) untuk pertama kalinya setelah tiga puluh jam, berkali-kali aku tidur lelap kemudian terbangun ditengah riuhnya suara kepakan tenda yang tertiup angin. Sesaat setelah tengah malam, aku sedang bermimpi tentang Andy---Andy yang sedang meluncur di Permukaan Lhotse sepanjang rentangan tali dan berteriak mengapa aku tidak memegangi ujung tali yang lain---ketika aku dibangunkan oleh Hutchison. “Jon”, teriaknya mengatasi suara badai, “Aku mencemaskan tenda kita. Apa menurutmu tenda kita bisa bertahan?”
Aku berusaha bangun dari mimpi yang menakutkan dengan kepala yang masih berputar, seperti orang tenggelam yang muncul ke permukaan laut. Perlu beberapa menit sebelum aku memahami kecemasan Stuart: terjangan angin yang terus menerus telah merobohkan  sebagian badan tenda kami. Beberapa tiangnya sudah bengkok, dan dengan bantuan sinar lampu kepalaku, aku melihat bahwa beberapa jahitan kain tenda sudah hampir terkoyak. Partikel-partikel salju memenuhi tenda kami, menutupi segala sesuatu dengan lapisan es. Tiupan angin ditempat ini lebih kencang daripada  angin di tempat manapun yang pernah aku rasakan, bahkan lebih kencang dari angin di puncak Gunung Es Patagonia, tempat yang dikenal paling berangin di planet ini. Kalau perkemahan kami hancur sebelum pagi tiba, kami semua akan berada dalam bahaya besar.
Stuart dan aku mengumpulkan sepatu dan semua pakaian kami, kemudian duduk di bagian tenda yang sudah roboh tertiup angin. Sambil menghadapkan punggung dan bahu kami ke tiang tenda yang koyak, selama tiga jam berikutnya kami terus bersandar melawan angin, dengan tubuh yang sudah sangat kelelahan, memegang erat-erat penutup nilon yang terkoyak seakan-akan hidup kami bergantung padanya. Aku terus membayangkan Rob yang berada di Puncak Selatan pada ketinggian 28.700 kaki, tanpa oksigen, tanpa perlindungan apapun ditengah amukan badai---tetapi pikiran itu terasa sangat menakutkan sehingga aku berusaha untuk tidak memikirkannya.
Sesaat sebelum fajar, pada Senin 12 Mei, Stuart kehabisan oksigen. “Tanpa oksigen, aku merasa tubuhku menjadi sangat dingin dan aku terkena hipotermia,” katanya. “Tangan dan kakiku mulai kebas. Aku khawatir sedang tergelincir menuju alam tak sadar, dan aku tidak akan mampu lagi untuk turun dari Jalur Selatan. Aku juga cemas, seandainya tidak bisa turun pagi ini, aku tidak akan pernah bisa turun sama sekali.” Aku memberikan tabung oksigenku pada Stuart, dan mulai mencari-cari tabung oksigen sampai aku menemukan tabung yang masih sedikit terisi, kemudian kami mulai berkemas untuk turun gunung.
Waktu sedang berjalan ke luar tenda, aku melihat setidaknya satu tenda yang tidak dihuni telah diterbangkan angin keluar dari Jalur Selatan. Kemudian aku melihat Ang Dorje, berdiri sendirian ditengah terjangan angin, menangisi kepergian Rob tanpa bisa dibujuk. Setelah ekspedisi berakhir, ketika aku ceritakan kepada Marion Boyd tentang kesedihan Ang Dorje, warga Kanada teman Ang Dorje tersebut berkata: “Ang Dorje menganggap dirinya sebagai penjaga keselamatan manusia---dia sering membicarakan hal itu denganku. Menurut agama yang dia anut, peran itu sangat penting baginya sebagai persiapan untuk menghadapi kehidupan selanjutnya(*2). Meskipun Rob merupakan pemimpin ekspedisi, Ang Dorje merasa sudah menjadi tugasnya untuk menjamin keamanan Rob dan Doug Hansen dan anggota tim yang lain. Jadi, ketika mereka tewas, mau tidak mau dia menyalahkan dirinya sendiri.”
Hutchison yang cemas melihat kesedihan Ang Dorje dan takut Ang Dorje menolak untuk turun, membujuknya untuk segera turun dari Jalur Selatan. Kemudian, pada pukul 08.30---yakin bahwa saat  itu Rob, Andy, Doug, Scott, Yasuko dan Beck sudah tewas---Mike Groom yang terkena gigitan salju sangat parah memaksakan diri untuk keluar dari tendanya, mengumpulkan Hutchison, Taske, Fischbeck dan Kasischke dan mulai memandu mereka menuruni gunung.
Dengan tidak adanya pemandu yang lain, aku menawarkan diri untuk menjadi pemandu dan berjalan dibelakang. Ketika kelompok yang dirundung kemalangan ini mulai bergerak perlahan menjauhi Camp Empat menuju Geneva Spur, aku memberanikan diri untuk menjenguk Beck untuk terakhir kali; aku menganggap Beck sudah tewas tadi malam. Aku menemukan tendanya sudah roboh dihantam badai dan kedua pintu tenda terbuka lebar. Tetapi, waktu aku mengintip ke dalam, aku sangat terkejut mendapati bahwa Beck ternyata masih hidup.
Dia berbaring terlentang di lantai tenda yang sudah roboh, tubuhnya bergetar keras. Mukanya sembam; bercak-bercak hitam dan dalam bekas gigitan salju memenuhi hidung dan pipinya. Kedua kantung tidur yang dipakainya hampir terlepas karena tiupan badai, membuat tubuhnya terbuka terhadap terpaan angin yang temperaturnya mencapai beberapa derajat dibawah nol. Dengan kedua tangannya yang membeku, Beck tidak mampu menarik kantung tidur itu ke atas atau menarik ritsletting penutup tenda. “Ya, ampun, Tuhan!” tangisnya saat melihatku, wajahnya berkerut karena kesakitan dan putus asa. “Apa yang harus dilakukan seseorang ditempat ini agar dia mendapat pertolongan!” Dia sudah berteriak minta tolong selama dua atau tiga jam, tetapi suara badai menenggelamkan teriakannya.
Beck terbangun tengah malam dan mendapati bahwa “badai telah merobohkan dan mengoyakkan tenda. Tiupan angin yang menekan dinding tenda mengenai wajahku sehingga aku hampir-hampir tidak bisa bernapas. Untuk sesaat angin berhenti, tetapi kemudian angin kembali menghantam dinding tenda mengenai wajah dan dadaku sehingga aku terjatuh. Diatas semua kekacauan itu, tangan kananku mulai membengkak padahal aku masih memakai jam tangan sialan ini sehingga ketika tanganku semakin membesar dan membesar, jam ini semakin menjepit dan terus menjepit sehingga memutuskan aliran darah ke arah lengan. Karena kedua tanganku terluka berat, aku tidak bisa melepaskan jam sialan ini. Aku berteriak minta tolong, tapi tidak ada orang yang datang. Benar-benar malam yang panjang dan menyiksa. Aku benar-benar senang ketika melihat wajahmu melongok melalui pintu tenda.”
Ketika aku menemukan Beck didalam tendanya aku sangat terkejut melihat kondisinya yang sangat menyedihkan---dan memikirkan betapa kami telah mengabaikannya, perbuatan yang tidak termaafkan---sehingga aku hampir tidak bisa menahan tangis. “Sudahlah, semua akan beres,” kataku berbohong sambil menahan tangis, kemudian memasangkan kembali kantong tidur ditubuhnya, menutup pintu tenda dan berusaha menegakkan kembali tenda yang sudah roboh tersebut. “Jangan khawatir teman. Semua sudah terkendali sekarang.”
Setelah berhasil membuat Beck nyaman, dengan bantuan radio aku segera menghubungi dr. Mackenzie di Base Camp. “Caroline!” kataku memohon dengan suara histeris. “Apa yang harus kulakukan dengan Beck? Dia masih hidup, tetapi aku yakin, dia tidak akan bisa bertahan lama. Kondisinya benar-benar buruk!”
“Cobalah untuk tetap tenang Jon,” jawabnya. “Kamu harus turun bersama Mike dan anggota tim yang tersisa. Dimana Pete dan Todd? Mintalah mereka untuk menjaga Beck, kemudian mulailah menuruni gunung.” Dengan tergesa-gesa aku membangunkan Athans dan Burleson, yang dengan cepat bergerak menuju tenda Beck sambil membawa setermos teh panas. Saat aku bergegas menjauhi perkemahan untuk bergabung dengan rekan-rekan satu timku, Athans sedang bersiap-siap untuk menyuntikkan empat miligram dexametason ke tubuh warga Texas yang sedang sekarat itu. Tindakan yang sangat terpuji, tetapi sulit membayangkan, bahwa itu itu akan membantu Beck.
------------------------------------

(*1) : pada 1996, tim Rob Hall hanya menetap selama delapan hari di Perkemahan Kedua (21.300 kaki) atau perkemahan yang lebih tinggi sebelum menuju puncak dari Perkemahan Utama,  program aklimatisasi yang umum diterapkan saat ini. Sebelum 1990, para pendaki tinggal lebih lama di Perkemahan Kedua atau lebih tinggi---termasuk,setidaknya satu kali perjalanan ke tempat dengan ketinggian 26.000 kaki---sebelum melakukan pendakian terakhir menuju puncak. Meskipun manfaat dari program aklimatisasi ke tempat-tempat dengan ketinggian 26.000 kaki bisa diperdebatkan (dampak negatif dari ketinggian ekstrem seperti itu bisa lebih besar dampak positifnya), tidak diragukan bahwa memperpanjang periode aklimatisasi yang diterapkan saat ini, yaitu menetap selama delapan atau sembilan hari pada ketinggian antara 21.000 sampai 24.000 kaki akan lebih meningkatkan keselamatan.
(*2) : para penganut Budha yang taat mempercayai sonam---perhitungan amal baik yang, jika amal baik yang dilakukan sangat besar, mampu membawa pelakunya menghindari siklus reinkarnasi yang berulang-ulang, untuk kemudian langsung melompat meninggalkan penderitaan dan rasa sakit didunia ini, selamanya.

Into Thin Air --- Bab XVIII

                 INTO THIN AIR
                      BAB XVIII
             LERENG TIMUR LAUT
       10 MEI 1996 --- 28.550 KAKI

Everest merupakan perwujudan dari kekuatan fisik dunia. Melawan kekuatan fisik itulah dia harus bertarung untuk menunjukkan semangat manusia. Dia bisa melihat sinar kegembiraan terpancar dari wajah rekan-rekannya jika dia berhasil. Dia bisa membayangkan sensasi yang dirasakan rekan-rekannya sesama pendaki karena keberhasilannya; kebanggaan yang dia berikan kepada Negara Inggris; perhatian yang diberikan orang-orang diseluruh dunia; ketenaran yang akan dia raih; kepuasan abadi yang dia rasakan karena berhasil menjadikan hidupnya berharga.... Barang kali dia tidak akan pernah benar-benar merumuskannya, tetapi, didalam pikirannya gagasan seperti itu pasti sudah tersirat, “berhasil atau mati”. Dari kedua alternatif tadi---kembali untuk ketiga kalinya atau mati---pilihan kedua mungkin lebih mudah bagi Mallory. Penderitaan yang ditimbulkan oleh pilihan pertama pasti lebih besar daripada yang bisa ditanggungnya sebagai seorang lelaki, sebagai pendaki dan sebagai seorang artis.

Sir Francis Younghusband
The Epic of Mount Everest, 1926
------------------------------------

Pukul 16.00 tanggal 10 Mei, pada waktu yang hampir bersamaan dengan kedatangan Doug Hansen di puncak sambil bergantung di bahu Rob Hall, tiga pendaki warga Ladakh, sebuah provinsi di wilayah utara India, mengirimkan kabar melalui radio yang menyatakan bahwa mereka juga sudah berada di puncak Everest. Tiga dari tiga puluh sembilan pendaki anggota tim ekspedisi yang diorganisasi Polisi Perbatasan Indo-Tibet, yaitu Tsewang Smanla, Tsewang Paljor dan Dorje Morup, mendaki menuju puncak melalui wilayah Tibet melewati Lereng Timur Laut---rute terkenal tempat George Leigh Mallory dan Andrew Irvine menghilang pada 1924.
Enam pendaki warga provinsi Ladakh meninggalkan perkemahan mereka yang berada pada ketinggian 27.230 kaki pada pukul 05.45 pagi(*1). Lewat tengah hari, ketika mereka masih berada lebih dari seribu kaki jauhnya dari puncak, mereka dihadang oleh awan badai yang sama yang menghadang kelompok kami dibalik gunung. Tiga anggota tim menyerah dan turun kembali sekitar pukul 14.00, tetapi Smanla, Paljor dan Morup terus mendaki meskipun cuaca terus memburuk. “Mereka terserang demam puncak,” kata Harbhajan Singh, salah seorang dari tiga pendaki yang memutuskan untuk mundur.
Ketiga pendaki yang lain tiba disuatu tempat yang mereka percayai sebagai puncak pada pukul 16.00, dan saat itu gumpalan awan sudah menjadi sangat tebal sehingga jarak pandang sudah menjadi sangat pendek, kurang dari 100 kaki. Ketiganya mengirimkan kabar melalui radio ke Base Camp mereka yang terletak di Gletser Rongbuk, mengatakan bahwa mereka sudah tiba dipuncak, dan oleh pemimpin ekspedisi, Mohindor Singh, kabar itu diteruskan melalui telepon satelit ke New Delhi, kepada Perdana Mentri Narashima Rao. Setelah merayakan keberhasilan mereka, tim yang merasa sudah berhasil mencapai puncak itu meninggalkan bendera doa, kain kata dan bendera pendaki ditempat yang mereka anggap sebagai titik tertinggi, kemudian turun kembali menembus hujan salju yang mengganas dengan cepat.
Kenyataannya, para pendaki warga Ladakh tersebut baru mencapai ketinggian 28.550 kaki saat mereka berbalik turun, kira-kira dua jam dibawah puncak yang sebenarnya, yang menjulang dibalik gumpalan awan yang paling tinggi. Karena mereka tanpa sadar berhenti 500 kaki dibawah sasaran, mereka tidak melihat Hansen, Hall atau Lopsang yang berada di puncak, begitu pula sebaliknya.
Kemudian beberapa saat setelah gelap, beberapa pendaki yang berada di Lereng Timur Laut yang lebih rendah melaporkan bahwa mereka melihat dua lampu kepala pada ketinggian 28.300 kaki, tepat diatas karang terjal dan berbahaya yang dikenal sebagai Undakan Kedua, tetapi tidak satupun dari ketiga warga Ladakh itu yang kembali ke perkemahan mereka malam itu; mereka juga tidak menghubungi lagi melalui radio.
Keesokan harinya, pada 11 Mei, sekitar pukul 01.45 dini hari---pada waktu yang hampir bersamaan dengan Anatoli Boukreev yang sedang kebingungan di Jalur Selatan mencari Sandy Pittman, Charlotte Fox dan Tim Madsen---dua pendaki warga Jepang, ditemani oleh tiga Sherpa, memulai pendakian ke arah puncak dari perkemahan mereka yang juga berada di Lereng Timur Laut, tempat yang sama dengan perkemahan para pendaki Ladakh, tanpa menghiraukan angin kencang yang saat itu sedang menerjang puncak. Pukul 06.00, saat mereka sedang berusaha melewati sebuah lereng batu yang sangat terjal yang dikenal sebagai Undakan Pertama, Eisuke Shigekawa yang berusia dua puluh satu tahun dan Hiroshi Hanada yang berusia tiga puluh enam tahun, terkejut melihat salah seorang pendaki Ladakh, kemungkinan Paljor, terbaring diatas salju, sekujur tubuhnya terkena gigitan salju, tetapi masih hidup setelah semalaman dia berada ditempat terbuka tanpa perlindungan atau oksigen, mengerang dan meracau. Karena tidak ingin pendakian mereka terganggu, tim pendaki Jepang itu tidak berhenti untuk menolong, mereka meneruskan pendakian menuju puncak.
Pada pukul 07.15, mereka tiba di kaki Undakan Kedua, sebuah tebing vertikal dan sangat berbahaya, tertutup oleh lapisan batu sekis hancur, lereng yang biasanya didaki dengan menggunakan tangga alumunium yang dipasang sampai ke puncak tebing oleh sebuah tim pendaki dari China pada 1975. Tetapi, para pendaki Jepang itu terpaksa menelan kekecewaan karena dibeberapa bagian, tangga alumunium tersebut sudah hancur dan sebagian sudah lepas dari permukaan batuan, sehingga mereka harus bekerja keras selama sembilan puluh menit untuk melewati rute pendakian yang panjangnya hanya 20 kaki ini.
Tepat dipuncak Undakan Kedua mereka menemukan dua pendaki Ladakh yang lain, Smanla dan Morup. Menurut artikel Financial Times yang ditulis oleh wartawan Inggris, Richard Cowper, yang mewawancarai Hanada dan Shigekawa pada ketinggian 21.000 kaki sesaat setelah mereka menyelesaikan pendakian, kedua pendaki Jepang itu mengakui, bahwa salah seorang warga Ladakh itu “kelihatannya sudah sekarat, sementara pendaki kedua tertelungkup diatas salju. Tidak ada percakapan. Tidak ada air, makanan atau oksigen yang berpindah tangan. Pendaki Jepang itu terus mendaki, dan 160 kaki diatasnya mereka berhenti dan mengganti botol oksigen(*2).
Menurut pengakuan Hanada kepada Cowper, “Kami tidak mengenal mereka. Tidak, kami memang tidak memberi mereka air. Kami juga tidak bicara dengan mereka. Mereka terserang penyakit ketinggian yang sangat parah, dan tampak sangat berbahaya.”
Shigekawa menjelaskan, “Kami terlalu lelah untuk menolong. Diatas ketinggian 8.000 meter, orang-orang tidak bisa lagi memikirkan moralitas.”
Tanpa memberikan pertolongan pada Smanla dan Morup, tim pendaki dari Jepang itu meneruskan pendakian mereka, melewati bendera doa dan tiang bendera yang ditinggalkan oleh ketiga warga Ladakh tersebut pada ketinggian 28.550 kaki, dan---dengan kegigihan yang luar biasa---mereka berhasil tiba dipuncak pada siang hari pukul 11.45, ditengah amukan badai. Saat itu Rob Hall sedang meringkuk di Puncak Selatan, mempertahankan hidupnya, hanya setengah jam perjalanan dibawah mereka, di Lereng Tenggara.
Dalam perjalanan pulang ke perkemahan mereka di Lereng Timur Laut, sekali lagi tim pendaki Jepang itu bertemu Smanla dan Morup diatas Undakan Kedua. Saat itu, sepertinya Morup sudah tewas; tetapi Smanla masih hidup, dan tubuhnya terkait pada lintasan tali yang terpasang. Pasang Kami, warga Sherpa dalam tim Jepang, melepaskan Smanla dari tali yang mengikatnya, kemudian melanjutkan perjalanan menuruni lereng. Ketika mereka melewati Undakan Pertama---ditempat mereka menemukan Paljor dalam perjalanan mereka menuju puncak, yang sedang meringkuk dan menggigau di atas salju---tim Jepang itu tidak lagi melihat  tanda-tanda dari warga Ladakh ketiga tersebut.
Tujuh hari kemudian, tim Polisi Perbatasan Indo-Tibet kembali meluncurkan satu tim ekspedisi untuk menaklukkan puncak. Mereka berangkat dari perkemahan terakhir pada 17 Mei, pukul 01.15 dini hari. Tidak lama kemudian, dua warga Ladakh dan tiga Sherpa anggota ekspedisi menjumpai tubuh rekan-rekan mereka yang sudah membeku. Menurut mereka, salah satu dari ketiga pria tersebut, ketika sedang sekarat, telah merobek hampir seluruh pakaiannya sebelum akhirnya tewas. Smanla, Morup dan Paljor, ditinggalkan dilereng gunung tempat mereka roboh, lalu kelima pendaki itu meneruskan  perjalanan menuju puncak, dan tiba disana pada pukul 07.40 pagi.

(*1) : Agar tidak membingungkan, semua waktu yang dikutip dalam bab ini sudah dikonversikan menjadi waktu Nepal, meskipun kejadian yang saya gambarkan terjadi di wilayah Tibet. Waktu Tibet disesuaikan dengan waktu Beijing, artinya dua jam lima belas menit lebih awal dari waktu Nepal---misalnya, pukul 06.00 di Nepal sama dengan pukul 08.15 pagi di Tibet.

Senin, 12 Oktober 2015

SLAMET 3428 mdpl --- Top of Central Java

 
"Seperti halnya perjalanan-perjalanan yang pernah saya lakukan sebelumnya, hari ini pun sensasi yang sama sudah terasa, begitu menggelegak, gejolaknya terasa memenuhi setiap lorong sel. Ekstasi...euforia berlebih bahkan di saat kaki saya belum juga mulai melangkah. Ya, pada akhirnya saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini bukanlah sekedar hobi yang dipengaruhi usia, melainkan pemenuhan kebutuhan satu sisi jiwa agar tetap seimbang...agar selalu bergairah!"

Pagi di Pelawangan
---Me---
########################
Saya sempat terbangun pukul 01.15 dini hari tanggal 12 Oktober, karena perut yang mulai terasa lapar dan mulut yang kering. Rupanya Akbar pun terbangun. Angin dingin masih terus bertiup dari arah utara menabrak dinding-dinding tenda tempat kami beristirahat. Setelah meminum 1 sachet obat pereda demam, badan saya terasa sedikit lebih baik. Satu potong roti tawar berhasil saya paksa masuk ke dalam lambung saya yang kosong setelah beberapa jam lalu kosong akibat muntah. Dan setelah meminum teh manis panas yang Akbar buat, saya pun kembali melanjutkan tidur. Di sebelah kanan saya, Irfan tampak pulas tidur, pun begitu dengan Coro dan Iyan di sebelah kiri saya. Di bawah udara dingin yang saya perkirakan sekira 8-10°C, berdesakan di dalam tenda magnum kapasitas empat yang di isi lima orang menjadi keuntungan tersendiri, yaitu ruang dalam menjadi hangat. Sementara di depan tenda yang saya tempati, berjarak sejengkal, berdiri tenda kapasitas dua yang di isi oleh Nur, Afri dan Maria. Meski suasana hening tapi saya yakin mereka bertiga tidak nyaman tidur sebab elevasi bidang tanah yang miring ke arah timur pasti menyulitkan posisi tidur. 8 jam sebelumnya, tepatnya pukul 16.50, saya dan Akbar akhirnya tiba di Pos 7---Sanghyang Kendit---target tempat kami akan bermalam sebelum summit attack. Saat kami berdua tiba, shelter pos 7 sudah penuh sesak dengan pendaki yang memiliki tujuan yang sama dengan kami. Bahkan hingga ke bagian lapangan, nyaris tidak ada lagi lokasi yang ideal untuk kami mendirikan tenda. Bahkan demi mendapat tempat camp yang ideal saya terus naik hingga ke arah pos 8, namun tetap nihil. Akhirnya setelah mempertimbangkan waktu dan kondisi, saya putuskan untuk mendirikan tenda di sisi utara shelter 7, persis di tepi jurang bersemak-semak.
------------------------------------
Setelah lima setengah jam menumpang KA. Kertajaya tujuan akhir Surabaya Pasar Turi, kami bertujuh tiba di Stasiun Pekalongan, tempat transit yang sama seperti saat saya mendaki Sindoro beberapa waktu silam. Sebelum keluar area stasiun, kami menuju mushala untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya. 15 menit kemudian, kami sudah berada di sebuah warung makan, asyik menikmati makan malam sambil menunggu mobil jemputan kami. Udara malam yang panas dan nyamuk yang luar biasa banyak membuat kami tidak nyaman. Beruntung mobil jemputan kami tiba tidak lama kemudian. Selesai memuat seluruh barang-barang, tepat pukul 21.40 kami meluncur menuju Base Camp pendakian di daerah Purbalingga. Jalanan malam pantura yang tak pernah sepi dan di dominasi truk-truk besar menjadi pemandangan kami sepanjang jalan menuju Pemalang. Setelah memasuki daerah Pemalang, mobil berbelok ke arah kiri, ke arah selatan, mulai menyusuri jalanan yang sepi, membelah malam gelap.
Singkatnya, setelah 2,5 jam, kami pun tiba di Base Camp pendakian gunung Slamet. Slamet merupakan puncak tertinggi kedua di tanah Jawa setelah Semeru di Jawa Timur. Gunung Slamet juga merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah sekaligus gunung terbesar, karena posisinya yang berada di antara lima kabupaten---Banyumas, Purbalingga, Tegal, Brebes dan Pemalang. Banyak jalur untuk menuju puncaknya, tapi hanya ada satu jalur yang resmi yaitu via Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Pendakian ke puncak Slamet baru satu bulan ini di buka setelah hampir dua tahun di tutup akibat aktivitas erupsi. Waktu normal dan standar untuk mencapai puncaknya sekira 9-12 jam. Tidak ada sumber air di jalur pendakian, kecuali di pos 5, itu pun hanya bersifat temporer, hanya ada di saat musim penghujan.
Base Camp Slamet lewat tengah malam itu masih ramai oleh aktivitas pendaki. Tim kami masuk ke bangunan yang berbentuk aula itu, mencari "lapak" untuk beristirahat, dan saya mengurus perijinan pendakian. Selain meninggalkan kartu identitas asli, kami membayar retribusi sebesar Rp.5.000,-/org. Selesai mengurus perijinan, saya pun bergabung dengan teman-teman yang lain. Bersantai sambil menikmati secangkir kopi panas. Kurang lebih pukul 01.30 saya pun tidur.
Pukul 04.30 kami bangun dan bersiap. Saya menjadwalkan tim kami mulai bergerak pukul 07.00. Nur dan Maria bertugas memesan sarapan dan nasi bungkus untuk bekal kami di perjalanan nanti. Setelah selesai dan lengkap segala hal yang kami perlukan untuk pendakian dan juga setelah berdoa, kami pun memulai perjalanan mendaki puncak Slamet.

Trail 1 :
Basecamp 1500 mdpl- Pos I Gembirung 1990 mdpl
Setelah berfoto di depan gapura pendakian, beriringan dalam jarak yang rapat kami bergerak. Jalur awal adalah kebun dan ladang sayur mayur milik penduduk. Kemarau panjang mengakibatkan sungai mengering dan debu yang sangat tebal. 15 menit selepas Basecamp, kami tiba di sebuah lapangan yang terletak di kiri jalur. Lapangan ini sekaligus pembatas antara kebun penduduk dengan area hutan gunung Slamet. Rute selanjutnya masih relatif landai dan sesekali menanjak.

Pos I Gembirung 1990 mdpl
Vegetasi homogen berupa hutan cemara menjadi peneduh kami dari terik matahari. Basecamp Bambangan terletak di ketinggian kurang lebih 1500 mdpl. Untuk mencapai Pos I yang berada di ketinggian 1990 mdpl, normalnya di perlukan waktu 2-3 jam. Sekira pukul 09.50 kami tiba di Pos I Gembirung. Banyak pedagang yang menawarkan buah dan makanan kepada kami. Saya pun tergoda untuk membeli beberapa potong semangka, lumayan untuk menyegarkan tenggorokan.
Trail 2 :
Pos I Gembirung 1990 mdpl- Pos 2 Walang 2200 mdpl
Untuk menuju Pos 2 normalnya diperlukan waktu 1,5 - 2 jam perjalanan. Selepas pos 1 jalur menanjak cukup curam sepanjang 30 meter dengan kontur tanah debu sedikit berpasir. Jika musim hujan, jalur ini agak sulit dilalui. Sedangkan rute selanjutnya di dominasi tanjakan-tanjakan yang diselingi akar-akar. Masih cukup banyak bonus trek yang kami temui. Vegetasi pun semakin rapat dan tinggi. Saya menerapkan pola istirahat selama 5-10 menit setiap satu jam jalan. 
Jajan lagi di Pos II

Dengan pola seperti itu tim kami mampu bergerak cukup stabil. Urut-urutannya, saya atau Coro bergantian paling depan, di ikuti oleh Nur, Maria, Irfan, Iyan, Afri dan Akbar sebagai sweeper. Sekira pukul 10.20 kami berhasil tiba di pos 2. Suasana pos 2 menjelang tengah hari cukup ramai, dan lagi-lagi banyak pedagang buah dan makanan disini. Akhirnya saya pun kembali jajan.

Trail 3:
Pos 2 Walang 2200 mdpl- Pos 3 Cemara 2500 mdpl
Lima belas menit kami beristirahat di pos 2 sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Jalur menuju pos 3 semakin terjal, masih di dominasi pepohonan besar dan akar-akar yang berkelindan di jalur. Meski matahari sangat terik, kami tidak terlalu panas sebab terlindung oleh pepohonan yang teduh. 30 menit lepas pos 2 terdapat pertemuan jalur Bambangan dan Pemalang. Kami mulai banyak berhenti untuk sekedar menarik napas. Setelah 2,5 jam yang cukup melelahkan, pukul 12.30 kami tiba di Pos 3 Cemara. Seperti di pos-pos sebelumnya, di pos 3 pun kondisinya penuh oleh tenda pendaki. 

Istirahat dan makan siang di Pos 3

Sesuai jadwal, tim kami makan siang dan shalat disini. Saya alokasikan waktu untuk kami beristirahat selama 1 jam. Sambil beristirahat saya melihat-lihat keterangan tentang pos 3 di papan petunjuk. Menurut keterangan yang ada, hanya diperlukan waktu 30 menit saja untuk mencapai Pos 4. Di setiap pos pendakian Gunung Slamet memang di lengkapi dengan papan petunjuk berisi keterangan jarak dan elevasi dan lain-lain.

Trail 4 :
Pos 3 Cemara 2500 mdpl- Pos 4 Samaranthu 2600 mdpl
Pukul 14.00 tim kami mulai melanjutkan perjalanan. Kondisi jalur masih sama seperti saat kami menuju pos 3, hanya tidak terlalu terjal saja. Jarak jalan Tim kami mulai agak renggang, terdepan saya dan Nur, kemudian Maria, Irfan dan Coro, terakhir Afri, Iyan dan Akbar.
Saya dan Nur tiba di pos 4 pukul 14.45, beristirahat sejenak di atas pokok pohon tumbang, lalu melanjutkan perjalanan ke pos 5 tanpa menunggu teman-teman yang lain. Oh iya, konon, pos 4 ini adalah pos yang cukup angker serta kurang di rekomendasikan untuk bermalam. Meskipun demikian, tetap banyak pendaki yang bermalam disini. Memang, hal-hal yang sifatnya ghaib itu kembali pada masing-masing individu apakah percaya atau tidak.
Trail 5 :
Pos 4 Samaranthu 2600 mdpl- Pos 5 Sanghyang Rangkah 2680 mdpl

di Pos IV yang katanya paling angker....Samaranthu

Kurang lebih pukul 15.40 saya tiba di pos 5. Cuaca cerah sedikit berkabut. Di pos 5 ini terdapat bangunan shelter permanen seperti di pos 1, berukuran 6x3 meter. Keadaan di pos 5 ini sudah sepi, hanya ada dua atau 3 rombongan pendaki, itupun akan turun. Begitu tiba di pos 5, Nur langsung duduk bersandar di dinding shelter, sementara Coro dan Akbar berbaur dengan pendaki lain yang juga sedang beristirahat. Setelah menunggu 15 menit, Iyan, Afri, Maria dan Irfan tak juga muncul. Akhirnya saya turun kembali ke arah pos 4. Belum jauh saya turun, saya bertemu mereka di bidang datar pos bayangan. Rupanya Maria drop, agar perjalanan kami tidak terlalu meleset jauh dari jadwal, akhirnya keril Maria saya bawa setelah sebelumnya satu botol airnya di pindahkan ke keril Irfan. Dengan cara seperti itu pos 5 lebih cepat kami capai. Di pos 5, setelah berembuk, di putuskan kami akan tetap bermalam di pos 7. Saat itu sudah pukul 16.15. Agar tidak ada lagi anggota tim---perempuan---yang drop, maka seluruh botol air yang tersisa di keril Maria di pindah ke keril Coro. Saya pun bergegas menuju pos 7 bersama Akbar untuk mencari lokasi camp yang ideal.

Trail 6 :
Pos 5 Sanghyang Rangkah - Pos 6 Sanghyang Katebonan 2800 mdpl
Saya hanya perlu 15 menit untuk mencapai pos 6 yang berada di ketinggian 2800 mdpl ini. Seperti halnya pos 5, di pos 6 ini vegetasi di dominasi oleh pohon lamtoro yang semakin jarang sehingga terpaan angin meski pelan sangat terasa. Daerah ini pun masih rawan babi hutan. Dataran pos 6 hanya cukup untuk 3-4 tenda saja. Ada titik lain untuk mendirikan tenda agak naik ke sebelah kiri atas pos 6. Saya dan Akbar menunggu teman-teman yang lain. Lima belas menit kemudian muncullah Nur dan Coro. Tanpa menunggu seluruh anggota tim muncul, saya memutuskan untuk melanjutkan pendakian menuju pos 7 mengingat hari semakin sore dan gelap.
Pos VI, Sanghyang Katebonan


Trail 7 :
Pos 6 Sanghyang Katebonan 2800 mdpl - Pos 7 Sanghyang Kendit 3000 mdpl

Pos VII

Tepat pukul 17.00 saya tiba di lokasi pos 7. Inilah pos yang jadi incaran banyak pendaki sebelum summit attack. Saya tengok ke dalam bangunan shelter, ternyata sudah penuh, sedangkan di luar jangan di tanya lagi. Saya minta Akbar untuk menunggu keril, lalu saya naik hingga hampir mencapai pos 8 untuk mencari lokasi camp yang nyaman untuk tim kami, namun hasilnya nihil. Saya pun turun kembali. Setelah mempertimbangkan dengan baik saya putuskan untuk mendirikan tenda di sebelah utara bangunan shelter. Coro, Nur, Maria muncul tepat setelah tenda pertama selesai di dirikan. Setelahnya, kami masih menunggu kedatangan Afri, Iyan dan Irfan. Semakin lama semakin dingin, hari semakin gelap, tapi tiga rekan kami itu belum juga muncul. Akhirnya saya putuskan untuk turun kembali ke arah pos 6 untuk menjemput. Sekira 7-8 menit kemudian saya bertemu mereka, beberapa meter di bawah pos bayangan. Saya minta paksa keril Afri agar tim bisa segera kumpul di pos 7. Setelah sedikit berdebat, kami pun segera bergegas menuju pos 7. Setibanya di pos 7, Iyan membongkar keril dan mengeluarkan tendanya. 30 menit kemudian setelah tenda berdiri kami beristirahat dan masak. Kurang lebih pukul 19.10 setelah melepas s sepatu dan gaiter, saya masuk ke tenda, berganti pakaian, mengenakan baselayer yang di dobel dengan kaos lengan panjang. Saya merasa lelah sekali, kepala serasa berputar, mual dan dingin. Setelah meminum satu sachet obat pereda masuk angin, saya pun beringsut masuk ke dalam kantong tidur dan meringkuk dengan tidak nyaman. Meski berbaring, tetapi saya tidak tidur, saya ikut mendengarkan teman-teman yang sedang memasak di sebelah kiri tenda. Saya pun sempat di tawari makan, tapi sekali lagi kondisi badan yang sakit membuat saya menolak untuk makan. Puncaknya sekira pukul 21.50, dengan terburu-buru saya keluar tenda, ke arah barat dan di tepi jurang bersemak, sambil membungkuk saya memuntahkan isi perut saya yang hanya berisi air dan air. Selesai muntah, saya kembali ke tenda dan melanjutkan istirahat.

Trail 8 :
Pos 7 Sanghyang Kendit 3000 mdpl - Pos 8 Sanghyang Jampang 3150 mdpl
Pukul 03.30 saya ingatkan teman-teman, jika akan muncak maka selambatnya pukul 05.00 harus sudah bergerak. Kami memang harus bergerak cepat agar tujuan-tujuan yang ingin kami capai bisa terlaksana, sebab, waktu yang kami punya sangat terbatas. Kami harus sudah berada di bawah sebelum gelap sebab jadwal kereta kami untuk pulang sudah menunggu. Saat teman-teman yang lain sedang bersiap muncak, saya masih meringkuk di dalam kantong tidur, saya hanya menyimak potongan-potongan pembicaraan teman-teman dari dalam tenda. Ya, badan saya masih belum bisa kompromi, di tambah sakit kepala yang semakin menjadi. Akhirnya, pukul 04.25 tim kami minus saya bergerak untuk muncak. Seketika hening suasana, hanya menyisakan lembut suara deru angin. Saya terdiam, membiarkan pikiran saya hanyut dengan berbagai pengandaian. Memikirkan bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap teman-teman tanpa ada sesuatu hal yang bisa saya lakukan.
Dan akhirnya, ego saya untuk melanjutkan pendakian datang, membawa serta energi baru yang entah dari mana. Dengan beringsut pelan saya keluar dari kehangatan kantong tidur, keluar tenda, mengisi air panas yang di masak Akbar ke dalam termos. Lalu memasukkannya ke dalam drybag beserta kotak P3K, roti, biskuit dan emergency kit lainnya. Setelah selesai, saya masuk kembali ke tenda untuk shalat subuh. Lalu dengan cepat saya kenakan sepatu dan gaiter, mengunci pintu tenda dan kemudian mulai melangkah untuk menuju puncak, mengejar teman-teman yang lain.
Jalur awal menuju pos 8 ini menyerupai lorong gelap yang dipenuhi debu tebal dan dalam. Saya sorot jam tangan dengan headlamp, tertera pukul 05.00.

Trail 9 :
Pos 8 Sanghyang Jampang 3150 mdpl - Pos 9 Pelawangan 3200 mdpl
Antara pos 8 dan 9 hanya berjarak lima belas menit saja, dengan kontur jalur menyerupai parit dengan debu yang tebal. Vegetasi masih didominasi oleh pohon lamtoro dan sedikit rerumputan kering.

Trail 10 :
Pos 9 Pelawangan 3250 mdpl- Puncak Slamet 3428 mdpl

Jalur awal menuju puncak, selepas Pelawangan

Saat saya tiba di Pelawangan, teman-teman ternyata juga masih berada disana. Mereka baru selesai menunaikan shalat subuh. Saya lihat G-Shock saya, pukul 05.20. Di timur semburat jingga dan oranye semakin terang, sebentar lagi matahari akan terbit dari horison. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju puncak, di belakang saya Irfan mengikuti. Dua puluh menit lepas Pelawangan, saya menemukan batu yang cukup nyaman untuk duduk beristirahat. Dari batu itu saya duduk sambil menikmati keindahan matahari terbit. Sesekali saya melihat ke bawah, sekira 150 meter di bawah nampak teman-teman saya sedang berjuang menapaki jalur batu berpasir yang terjal untuk mencapai puncak. Irfan melanjutkan perjalanan ke puncak, sedangkan saya memutuskan untuk menunggu salah satu anggota tim yang perempuan. Walau bagaimana, dengan kondisi jalur yang cukup berbahaya dan terjal seperti ini, setiap anggota tim perempuan harus di kawal anggota tim yang laki-laki. Karena Nur yang terdekat dengan posisi saya, akhirnya saya kawal Nur hingga ke puncak. Maria dengan Coro atau Akbar, dan Afri dengan Iyan. Sesekali sambil menghela napas, saya mendongakkan kepala, berusaha mencari akhir dari tanjakan terjal ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.55, Pelawangan sudah terlewati 1 jam yang lalu. Menurut perkiraan saya, pelataran puncak tinggal 1,5 jam lagi. Kontur jalur semakin sulit di jejak, batuan lepas bercampur kerikil dan pasir membuat berulang kali kaki saya---dan pasti teman-teman yang lain---terperosok lagi ke bawah. Saya pun harus semakin sering menarik Nur dengan trekking pole untuk melewati titik-titik yang sulit. Di antara anggota tim yang lain, saya dan Nur memang yang ber-body paling gemuk. Dan saya bisa merasakan berat dan sulitnya mendaki dengan body seperti ini. Akhirnya dengan sangat susah payah, pukul 06.35 saya dan Nur berhasil tiba di pelataran puncak yang berbatu menyerupai karang. 


Di puncak Gn.Slamet 3428 mdpl

Saya tidak melihat Irfan disini. Dari tempat kami berdiri ini, ada dua titik puncak yang bisa dituju. Yang pertama ke arah kanan, dan yang kedua, puncak tugu triangulasi, turun ke lembah pasir dan kemudian sedikit naik ke arah barat daya.  
Kawah Slamet dari puncak di sisi timur


View kawah Slamet bekas erupsi akan nampak jelas dari puncak triangulasi. Setelah beristirahat lima menit, saya ajak Nur untuk menuju puncak triangulasi yang berjarak lima belas menit dari tempat kami berdiri. Saat kami hampir tiba, Irfan datang bergabung, rupanya Irfan tadi naik ke puncak yang jalur sebelah kanan (sisi timur laut). Saat kami bertiga merayakan keberhasilan muncak, rekan-rekan yang lain tidak juga muncul dan menyusul. Saya berkesimpulan mereka pasti naik ke puncak yang di sisi timur laut. Akhirnya, kami bertiga pun menuju puncak tempat rekan-rekan kami diduga berada. Jam sudah menunjukkan pukul 07.15 saat kami bergabung dengan kelima rekan yang lain. Alhamdulillah. Setelah perjuangan berat selama dua hari satu malam, kami berhasil menuntaskan misi mendaki puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah ini. Sekira pukul 08.00 kami pun turun kembali untuk segera berkemas dan pulang.
--------The End--------
Sampai bertemu di petualangan selanjutnya ya....:)
-----------------------------------
#Rundown :
2 hari 1 malam.
1. Jakarta - Pekalongan 6 jam
2. Pekalongan - BC Bambangan 2,5jam (dengan mobil carteran)
-BC Bambangan-Pos I : 1,5-2,5 jam
-Pos I - Pos 2                : 1,5-2jam
-Pos 2- Pos 3                 : 2-2,5 jam
-Pos 3- Pos 4                 : 45-60 mnt
-Pos 4- Pos 5                 : 30-50 mnt
-Pos 5- Pos 6                 : 20-45 mnt
-Pos 6- Pos 7                 : 30-60 mnt
-Pos 7- Pos 8                 : 15-30 mnt
-Pos 8- Pos 9                 : 15-30 mnt
-Pos 9- Puncak              : 2-3 jam
#Biaya :
1. Jakarta Ps Senen - Pekalongan Rp.97.500 dengan KA.Kertajaya
2. Pekalongan - BC Bambangan Rp.150.000 pp, dengan mobil carteran (maksimal 7 orang)
3. Simaksi Rp.5.000/org
4. Logistik dll Rp.100.000
Total Rp. 450.000,-

Enjoy the Pict...:)   
Menunggu anggota tim yang lain, sesaat menjelang Pos 2

Kawah Slamet pasca erupsi, lubang kawah utama membesar.


Fasilitas toilet dan sanitasi basecamp Bambangan

Dinner @warung pojok with nasi Megono

Aula basecamp Bambangan

Sesaat sebelum pulang, @St.Pekalongan

Warna warni keril kami

Sunrise di pagi itu

Terduduk lelah, sore itu di Pos 5 Sanghyang Rangkah

Papan keterangan yang terdapat di setiap pos jalur Bambangan


Berpose di depan Pos 1 Gembirung

Ini shelter atau halte ya?...hehe


Break, satu jam selepas basecamp

Di depan gapura pendakian

Puncak Slamet dari basecamp Bambangan

Jalur awal pendakian, ladang penduduk

Foto bersama sebelum mulai mendaki

Di depan basecamp tempat kami bermalam

Bersantai sebelum tidur

MDPL = Makan Dari Pada Lapar

Ramainya jalur pantura malam itu

Re-packing sebelum menuju basecamp