Selasa, 06 September 2016

Latimojong si Atap Sulawesi

Berdiri di Atap Sulawesi (3/8/16)

Terkantuk-kantuk saya dan tim saat masuk ke gerbang check in Terminal 1A airport Soetta. Jadwal flight yang pukul 04.00 membuat kami harus sudah standby di airport sejak pukul 01.00. Selesai check in kami pun menunggu di Gate 5, kami manfaatkan waktu dengan tidur-tidur ayam saja.

Tepat pukul 03.40 panggilan untuk penumpang tujuan Makassar terdengar di corong pengeras suara lounge. Dan tetap dengan mata setengah terpejam kami berjalan menuju pesawat.
Hari ini, tanggal 1 September 2016, saya, Zafran, Hendrik dan Irvan hendak menuju Makassar untuk mendaki Gunung Latimojong. Kami berangkat dalam tim kecil karena beberapa rekan lainnya berhalangan untuk ikut.

Tanggal 1 September 2016
Guncangan keras pesawat saat landing di Makassar membangunkan saya dari tidur. Saya lirik jam, pukul 07.15. Perut mulai terasa lapar, ya wajar saja, sebab saya terakhir makan jam 21.00 hari yang lalu. Setelah menghidupkan ponsel, saya segera menghubungi jemputan yang akan mengantar kami menuju Baraka.

Foto didalam airport sambil nunggu bagasi 

Mejeng dulu sebelum lanjut menuju Baraka

Airport nya baguuuus

Pukul 8.15 kami berempatpun sudah duduk manis di dalam mobil Avanza carteran sambil menikmati panas yang sudah terasa menyengat meski hari belum siang. Tak lupa saya berpesan pada supir untuk singgah di rumah makan agar kami bisa sarapan, mengingat dengan perjalanan normal kami baru akan tiba di Baraka pukul 14.00 alias 6-7 jam perjalanan. Sekira pukul 9.00 supir kami, bang Addi, menepikan mobil di depan sebuah warung. Terlihat jelas tulisan di warung tersebut Coto Makassar dan Sop Konro.

Akhirnya saya berkesempatan juga mencicipi Coto Makassar yang orisinil.
30 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Baraka, masih dengan panas yang menyengat. Untuk mencapai Baraka kami melintasi 6 kabupaten yaitu, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang dan Enrekang. Baraka sendiri merupakan nama kecamatan di Enrekang yang terletak kurang lebih 2 jam dari kaki Latimojong.

Rehat sejenak di Gunung Sinona dalam perjalanan menuju Baraka

Tebing-tebing karst / karang menjelang masuk Baraka, surga bagi para climber


Biasanya para pendaki yang akan menuju Latimojong datang bertepatan dengan hari pasar agar mudah mendapatkan akses transportasi dan murah tentunya. Terdapat dua hari pasar yaitu Senin dan Kamis. Transportasi menuju Baraka adalah jeep-jeep 4x4. Di luar hari pasar pendaki harus menumpang ojeg dengan biaya mulai dari 150 ribu rupiah atau menyewa jeep hingga satu juta rupiah sekali jalan. 

Pasar tempat kami berbelanja segala kebutuhan logistik

Kami sempat berhenti di Baraka untuk berbelanja logistik pendakian. Meski kami datang di hari pasar, karena satu dan lain hal kami tiba terlalu sore sehingga angkutan menuju Baraka sudah tidak ada.
Ada hal yang sedikit lucu saat kami berbelanja di pasar Baraka. Disana tidak ada satuan setengah, jadi misal kita mau beli gula ya harus 1 kilogram, begitupun dengan kebutuhan lainnya. 

Dan karena kami sudah tidak mendapat angkutan untuk ke Baraka, jadilah kami menginap satu malam di basecamp KPA Lembayung yang sekaligus kediaman bapak Dadang. Kami di jamu dan di layani dengan sangat baik oleh kawan-kawan dari KPA Lembayung.
Malam itu kami tidur sangat cepat, maklum kami kurang istirahat dan tidur sejak hari kemarin.

Basecamp KPA Lembayung tempat kami bermalam

Tanggal 2 September 2016, 03.30
Kami sudah bangun dan bersiap, karena sesuai rencana kami akan berangkat menuju Karangan setelah shalat subuh. Karangan merupakan dusun terakhir yang bisa di akses oleh kendaraan pendaki.
Alhamdulillah selain kami, ada 3 pendaki lain dari Makassar yang akan mendaki Latimojong juga. Setelah berembuk, akhirnya kami sepakat untuk berbagi ongkos untuk menyewa jeep. Lumayan lebih nyaman dibanding kami harus naik ojeg motor, mengingat jalur menuju Karangan offroad banget.
Pada akhirnya, karena kebiasaan jam karet, kami baru berangkat menuju Karangan pukul 7.30.

Jeep sewaan yang akan membawa kami ke Karangan

Tampak depan Jeep kami

Tak lupa kami singgah sebentar di kantor Polsek Baraka untuk mengisi buku kunjungan sekaligus ijin lapor hendak mendaki Gunung Latimojong. Pengurusan ijin ini tidak dipungut biaya apapun alias gratis.

Zafran dan Gede sedang mengisi buku lapor di Polsek

Kantor Polsek Baraka tempat kami mengurus perijinan

Ki-ka : Irvan, Hendrik dan saya



Saya mengambil posisi di depan bersama Gede, rekan dari Makassar. Meski jalannya horor dan offroad saya mencoba untuk tetap menikmati. Alhamdulillah cuaca cerah, sehingga perjalanan relatif lebih cepat, satu jam empat puluh lima menit kemudian kami pun tiba di Pos Pendakian Latimojong di Dusun Karangan. Setelah mengisi buku pengunjung dan membayar biaya pendaftaran kami pun segera memulai perjalanan mendaki Latimojong.

Nyobain jadi sopir Jeep, nampak sopir yang asli Bp. Amar

Jalanan menuju Karangan di apit rumah-rumah panggung

Dusun Karangan tampak dari jauh

Berpose sejenak sebelum mulai nanjak

Pos pendaftaran pendakian paling sederhana yang pernah saya lihat

Rumah Kepala Dusun, pendaki bisa menginap gratis disini

Trail 1
Karangan 1481 mdpl - Pos 1 Buntu Kaciling 1772 mdpl
Awal jalur pendakian adalah setapak lebar, sesekali kami melintasi setapak yang di semen. Pemandangan awal kami disuguhi sungai dan perkebunan kopi yang menghampar dan panas yang menyengat. Kami mulai mendaki pukul 9.50. Saya sedikit kesulitan mendapatkan ritme jalan yang nyaman di awal jalan hingga saya tertinggak jauh di belakang. Setelah 50 menit berjalan kami pun tiba di Pos 2. 

Kami melintasi jalur potong saat menuju Pos 1 untuk mempersingkat waktu tempuh. Tapi seperti umumnya di gunung-gunung lain, yang namanya jalur potong pasti treknya jauh lebih terjal dan menanjak, begitu pula dengan nasib kami...hehehe.

Jalur awal pendakian, perkebunan kopi penduduk

Trail 2 :
Pos 1 - Pos 2 Goa Sarung Pakpak 1820 mdpl
Hari sudah menjelang tengah hari saat kami tiba di Pos 1, sekira pukul 10.40. Ketiadaan vegetasi tinggi menambah derita kami yang di hajar panas menyengat. Karena panas yang luar biasa pula akhirnya kami hanya berhenti 10 menit saja di Pos 1. Kami masih harus berjalan 300 meter lagi untuk mencapai batas hutan yang lebih rimbun dan teduh. Dengan tergesa kami berjalan. Akhirnya kami bisa berjalan dengan lebih nyaman setelah masuk ke dalam hutan. Setidaknya terhindar dari dehidrasi. 

Setelah berjalan meniti jalur-jalur akar yang cukup terjal, pukul 11.50 saya kembali berhenti. Kali ini perut yang dangdutan membuat saya berinisiatif menghasut Zafran agar mau rehat sejenak untuk membuat teh manis dan makan cemilan. Wajar saja perut terasa lapar, sudah lewat 7 jam dari terakhir kami makan. 30 menit kami bersantai. Dan pukul 12.20 kami mulai melanjutkan perjalanan.

Istirahat makan siang di Pos 2

Air mengalir deras di Pos 2

Jalur selanjutnya menjadi datar dan terus menurun. Jalur pendakian terus menurun selama 30 menit berikutnya dengan kondisi jalur yang melipir setapak tipis dan miring. Tangan kami harus lincah mencari pegangan akar-akar yang kuat agar tidak terpeleset ke sebelah kiri yang merupakan jurang perdu. Ujung dari jalur ini adalah Pos 2, Goa Sarung Pakpak. Di tandai dengan adanya sungai yang jernih dan deras.

Sungai ini merupakan pemisah punggungan, jadi jalur menurun tadi adalah bagian dari perjalanan kami untuk berpindah punggungan gunung. Dengan menyeberangi jembatan kayu sederhana, kami pun tiba di Pos 2 untuk memasak makan siang dan shalat dzuhur. Siang itu mendung dan ada satu rombongan pendaki yang sedang dalam perjalanan turun.

Trail 3 :
Pos 2 - Pos 3 Lantang Nase 2042mdpl
Kami rehat sangat lama di Pos 2, menikmati suasana, maklum kami datang dari jauh. Baru sekira pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Itu artinya kami rehat selama 1,5 jam di Pos 2.

Jalur selepas Pos 2 lah yang menjadi pendakian yang sesungguhnya. 100 meter awal adalah bidang tanjakan nyaris vertikal dan licin. Setiap pendaki harus ekstra hati-hati saat melewatinya, harus pandai memilih pijakan, pegangan dan menjaga keseimbangan tubuh agar tidak jatuh ke belakang. Di saat tidak hujan saja sudah begitu licin, jadi bisa di bayangkan jika hujan atau setelah hujan.
Panjang tanjakan ini kurang lebih 300-400 meter. Jadi, antara Pos 2 dan 3 adalah full tanjakan...tanpa bonus!!

Sengaja saya tidak tampilkan fotonya supaya teman-teman pembaca membayangkan sendiri dari cerita saya.
Setelah meniti tanjakan selama 35 menit saya pun tiba di Pos 3. Sebuah pos dengan luas 4x4 meter yang tidak rata dan dipenuhi tonjolan akar. Pos ini tidak ideal untuk mendirikan tenda selain tiada sumber air.

Saya dan Zafran kelelahan di Pos 3 setelah melewati tanjakan 

Trail 4 :
Pos 3 - Pos 4 Buntu Lebu 2282mdpl
Setelah beristirahat selama 10 menit, saya dan Zafran kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Saya mulai merasa lelah, sepertinya tanjakan antara Pos 2 dan 3 telah menguras tenaga saya. Pola jalan saya melambat meski masih konstan. Pukul 15.05 saya catat sebagai waktu start dari Pos 3 menuju Pos 4. 

Pos 4 Buntu Lebu

Menurut keterangan, dibutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Pos 4, tapi ternyata saya bisa tiba lebih cepat 20 menit dari seharusnya. Tepat pukul 15.45 saya berhasil mencapai Pos 4.
Pos 4 merupakan area tertutup vegetasi yang sedikit miring dan di penuhi tonjolan akar. Bidangnya 2,5 kali lebih luas dari Pos 3, namun sama halnya dengan pos sebelumnya, di pos ini juga tidak ada air.

Trail 5 :
Pos 4 - Pos 5 Soloh Tama 2617mdpl
Meski belum senja tapi langit sudah terlihat gelap, kabut tipis juga mulai turun. Posisi jalur pendakian yang diapit banyak punggungan mengakibatkan matahari tidak penuh menyinari di saat pagi maupun sore.

Camp kami di Pos 5, foto diambil setelah summit

Kecepatan jalan saya semakin melambat, tenaga saya habis, di tambah perut terasa lapar, akhirnya setiap 10-15 menit saya pasti berhenti untuk duduk bersandar beberapa saat. Jalur cukup curam 30 menit menjelang Pos 5. Posisi Pos 5 adalah puncak punggungan. Setelah bersusah payah memaksakan diri terus berjalan, saya pun tiba di Pos 5 pukul 17.15. Pos 5 merupakan area yang sangat luas, sanggup menampung lebih dari 30 tenda. Meski agak jauh, tapi terdapat sumber air di pos ini. Jaraknya kira-kira 100 meter berjalan turun ke sebelah kiri jalur pendakian.

Tak lama saya tiba, Zafran pun menyusul datang. Segera saja saya mendirikan tenda di Pos 5. Mengenai lokasi camp, awalnya kami mentargetkan membangun tenda di Pos 7 agar lebih dekat untuk summit, tapi dorongan rasa lapar dan hari yang sudah semakin gelap membuat saya mengambil keputusan untuk nge-camp di Pos 5 saja. 

Berfoto bersama sepasang pendaki suami istri (Bu Silvia dan Pak Chien) berusia 70 tahun di Pos 5, inspiring !!

Selesai tenda di dirikan, muncullah Hendrik dan Irvan. Sementara saya memasak, rekan yang lain turun mengambil air.
Sekira pukul 19.30 prosesi masak dan makan pun selesai. Kami pun bersiap untuk beristirahat. Tak lupa kami stel alarm pukul 3.00. Rencananya kami akan mulai summit pukul 4.00. Menurut keterangan, summit dari Pos 5 memerlukan waktu 3-4 jam. Dan akhirnya saya pun tidur dengan sangat nyenyak malam itu.

Trail 6 :
Pos 5 - Pos 6 2848 mdpl
Alarm berbunyi sesuai waktu yang kami tentukan. Dengan malas kami bangun, memaksa badan kami bersentuhan dengan udara dingin yang menurut saya tidak dingin. Kami sarapan dengan bubur kacang ijo yang saya buat semalam plus roti tawar untuk energi kami summit. Setelah selesai menyiapkan peralatan untuk summit, pukul 4.20 kami mulai berjalan menuju puncak Latimojong.

Kami langsung dihadapkan dengan tanjakan-tanjakan terjal selepas Pos 5. Badan yang belum nyetel dengan udara subuh dan kompetisi oksigen dengan pepohonan membuat nafas saya sangat terengah-engah. Dan saya yakin rekan yang lain pun merasakan hal yang sama. Setiap 20-30 langkah saya berhenti untuk sekedar mengatur nafas. Perlahan saya pun di serang rasa mual yang luar biasa.

Saya tahu mual ini datang dari pola jalan yang terlalu cepat serta jarak makan saya dengan waktu mulai berjalan tadi. Hampir tidak ada jeda untuk memberi waktu makanan yang saya makan agar turun dulu ke lambung.

Pos 6 saya foto dalam perjalanan turun

Foto wajib di Pos 6

Meski begitu saya bertahan agar tidak muntah, sayang lah makanan yang saya makan tadi di samping saya ga mau lambung saya kosong.
Alhamdulillah pukul 4.55 atau 35 menit kemudian kami berhasil tiba di Pos 6. Saya meminta waktu untuk break lebih lama. Sambil beristirahat, saya meminum obat mual dan shalat subuh. 30 menit kemudian kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Pos 7. Pos 6 merupakan area yang cukup ideal untuk membuat tenda, hanya saja tidak ada sumber air di pos ini.

Trail 7 :
Pos 6 - Pos 7 Kolong Buntu 3210 mdpl
Setali tiga uang dengan jalur sebelumnya, jalur menuju Pos 7 pun terjal dan terus menanjak, bahkan lebih panjang dan lama waktu tempuhnya. Vegetasi yang semakin kecil dan pendek membuat sesekali kami bisa melihat pemandangan jauh di bawah sana.

Suasana Pos 7 pagi itu

Pos 7 saya foto dari atas tanjakan terakhir menuju puncak

Selepas rehat di Pos 6 kekuatan fisik saya pulih kembali dan bisa berjalan dengan kecepatan normal seperti hari sebelumnya. Berjalan sendirian di depan, saya tiba di Pos 7 satu jam kemudian atau pukul 6.15, jauh meninggalkan rekan-rekan yang lain.

Pos 7 merupakan area yang cukup untuk membangun banyak tenda, tetapi kontur lahannya tidak memungkinkan untuk membangun tenda dalam satu kumpulan besar. Sehingga tenda yang dibangun di pos 7 akan terpisah-pisah posisinya. Sumber air berlimpah di Pos 7, terdapat aliran sungai kecil di sebelah kiri jalur pendakian. Persis setelah Pos 7 adalah tanjakan nyaris vertikal setinggi 20-30 meter, dan itulah jalur pendakian selanjutnya sekaligus tanjakan terjal terakhir sebelum mencapai puncak tertinggi Latimojong.

Dari puncak tanjakan terjal itu puncak tertinggi Latimojong tinggal 45 menit lagi dengan berjalan melewati 3 bukit.
Menurut saya, jika kalian datang dalam rombongan besar dan hanya mempunyai waktu 2-3 hari, sebaiknya membuka tenda di Pos 5 saja agar lebih efisien.

Trail 8
Pos 7 - Puncak Rante Mario 3478 mdpl

Saya mulai berjalan menuju puncak pukul 6.40. Saya berhenti di Pos 7 selain menunggu rekan yang lain juga sekaligus menikmati cemilan dan teh manis panas dari termos yang saya bawa. Damai sekali meminum teh panas di ketinggian lebih dari 3200 meter hingga tak terasa saya berhenti begitu lama di Pos 7. 

Kondisi jalur menuju puncak tertinggi sangat landai meski naik turun tiga bukit. Sedikit membosankan, mungkin pengaruh tenaga yang mulai habis setelah melahap etape dari Pos 6 ke Pos 7. Dua puluh menit dari pos 7 terdapat percabangan jalur, kekanan adalah jalur menuju Puncak Nenemori. Persis di percabangan adalah kolam air tadah hujan. Sayang saat kami melintas kolam tadah hujan sedang tidak berair, pengaruh dari musim kemarau.

25 menit terakhir benar-benar terasa semakin membosankan, jalur landai yang berkelok-kelok seperti mempermainkan emosi. Emosi dari rasa tidak sabar ingin segera menjejak puncak tertinggi Latimojong. Bebatuan karst dan karang yang berformasi unik pun tak mampu menjadi penghibur.

Alhamdulillah, akhirnya pukul 7.20 berbarengan dengan Zafran saya berhasil menjejak puncak Latimojong, puncak Rante Mario 3478 mdpl. Puncak nomor 5 dari rangkaian 7 puncak tertinggi Indonesia. Sujud syukur dan segala puji saya persembahkan pada Allah Ta'ala atas kesempatan yang diberikan pada saya. Tak terasa air mata saya menetes. Euforia yang sama, emosi yang sama setiap saya berhasil mencapai puncak. Candu ini akhirnya merasuk lagi dalam jiwa saya, menuntaskan dahaga ketinggian. Cukup lama kami berada dipuncak sebelum akhirnya kembali turun ke Pos 5 pukul 9.00.

Tercapai juga berdiri disini

Pose nya ngga banget nih
Tim Formasi lengkap...Hidup KGI !!

Demikian catatan perjalanan saya dan tim saat menggapai atap Sulawesi. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang lain.

----------------------------***--------------------------

Ringkasan Perjalanan :

1. Makassar - Baraka --> 6-8 jam
2. Baraka - Karangan --> 2 jam
3. Karangan - Pos 1 --> 1 jam
4. Pos 1 - Pos 2 --> 1 jam
5. Pos 2 - Pos 3 --> 35 menit
6. Pos 3 - Pos 4 --> 40 menit
7. Pos 4 - Pos 5 --> 1 jam 10 menit
8. Pos 5 - Pos 6 --> 40 menit
9. Pos 6 - Pos 7 --> 1 jam
10. Pos 7 - Puncak --> 45 menit

Untuk teman- teman yang memerlukan info lebih lanjut tentang pendakian ke Latimojong silakan hubungi saya di nomor di bawah ini :

1. SMS / WA 0811-118-1225
2. BBM : D0ACE655

























Jumat, 05 Agustus 2016

Angkutan Dari Padang Bai Ke Gilimanuk

Bus rute Gilimanuk - Padangbai dan sebaliknya


Bagi yang sering bepergian dengan cara backpacker seperti saya, Indonesia bagian tengah dan timur tentu merupakan salah satu destinasi yang wajib ditelusuri. Khususnya daerah Lombok dan Sumbawa.

Prinsip bepergian dengan cara backpacker adalah bagaimana mencapai daerah tujuan dengan biaya yang semurah-murahnya.
Salah satu jalur transportasi pilihan para backpacker yang akan menuju Lombok dari Bali atau sebaliknya adalah lintas Pelabuhan (menggunakan kapal ferry). 

Tak salah memang jika para backpacker memilih moda transportasi ini karena memang sangat murah.
Umumnya, backpacker yang akan memilih jalur transportasi ini akan terkendala di angkutan dari Gilimanuk ke Padangbai atau sebaliknya. Karena alasan itulah penulis mencoba berbagi informasi untuk mempermudah akses.

Jadwal :

Angkutan dari Gilimanuk yang langsung menuju Padangbai jalan setiap selepas tengah malam, kurang lebih pukul 00.30. Angkutan ini berupa bus 3/4. Biasanya ngetem di dekat terminal Gilimanuk. Bisa memuat 30 orang dengan tarif Rp.50.000 - Rp.60.000/orang. Jadi pastikan teman-teman backpacker menyesuaikan jadwal kedatangan di Gilimanuk sekitar waktu tersebut. Karena frekuensi pemberangkatannya hanya satu kali. 

Sekedar note dari saya, jangan menerima tawaran calo untuk naik bus saat kalian masih berada di dalam feri, selain bisa kena oper transfer di Ubung, kalian juga bisa ditembak harga tinggi.

Angkutan dari Padangbai yang menuju Gilimanuk adalah bus yang sama yang berangkat dari Gilimanuk tengah malam tadi. Biasanya bus tiba di Padangbai sekira pukul 6.30-7.00 WITA. Transit sebentar lalu kembali menuju Gilimanuk. Satu hal yang sering jadi kendala para backpacker saat akan menuju Gilimanuk adalah keberadaan para calo yang sangat dominan dan "berkuasa" di area pelabuhan. 

Biasanya, saat calo melihat ada rombongan tiba dari Lombok, mereka akan segera menghampiri untuk menawarkan jasa mobil sewaan. Mereka selalu berkilah mereka bukan calo, tapi resmi dari suatu badan atau koperasi. Jangan percaya ya guys!
Jadi jika kalian mau tetap naik bus langsung ke Gilimanuk tunggu saja, pukul 6.30-7.00 pagi bus pasti datang. Sama seperti di atas, bus langsung ini frekuensi keberangkatannya hanya satu kali setiap pagi. Pastikan kalian tidak ketinggalan. 

Kalau calo bertanya berapa tarif ke Gilimanuk, jawab saja Rp.60.000,-/org., jangan terbujuk untuk naik mobil sewaan karena biasanya kalian hanya akan di antar ke Ubung Denpasar. Dan jangan ladeni pembicaraan lebih banyak dengan calo-calo itu.

Sebenarnya yang paling disusahkan dari ulah calo-calo ini adalah armada bus yg kita naiki. Karena calo pasti akan "mengambil" jatah 50% lebih dari tarif yang kita sebutkan tadi (Rp.60.000). Jadi bersihnya bus hanya menerima Rp.30.000/org. Parah!! Ini yg terjadi saat saya kesana bulan Agustus lalu. Memang kita tidak dirugikan, tp bus nya yg rugi...kasian.
Kalau mau aman dari calo, akan lebih mudah jika kalian adalah tim kecil 2-3 orang. Begitu keluar dari Pelabuhan Padangbai, kalian naik angkot warna orange tua dengan tarif Rp.5.000/org. Minta turun di pertigaan SD. Nah, nanti kalian tinggal tunggu bus nya disitu. Yang penting kalian tahu jadwal kedatangan bus nya jam berapa.

Demikian sekilas info...semoga bermanfaat.

Note :
Foto adalah bus Bahagia yang penulis maksud yang melayani rute Gilimanuk - Padangbai langsung atau sebaliknya.

Senin, 18 Juli 2016

JELATANG

Teman-teman yang pernah mendaki Gn.Argopuro atau tempat lainnya dan pernah bertemu dengan daun ini tentu tidak akan mau berurusan apalagi sampai bersentuhan langsung. Ya, tanaman yang di kenal dengan nama lokal Jancukan (Jawa) atau daun fulus (Sunda) atau nama umumnya Jelatang ini memang sudah telanjur di cap sebagai "musuh" oleh pendaki mengingat efeknya terhadap kulit jika tersentuh.

Saya pun termasuk yang cari aman dari daun ini. Tapi sepertinya pemikiran seperti itu harus mulai dipertimbangkan untuk di ubah, SEBAB ternyata khasiatnya yang luar biasa, mampu menghilangkan pegal linu akibat aktivitas berat seperti mendaki kurang dari 15 menit. Suku-suku di pedalaman Papua sudah membuktikannya. Jelatang, atau yang populer dengan sebutan daun gatal adalah andalan dan rahasia mereka kuat berjalan jauh dan membawa beban berat.
Kenapa bisa begitu ya??!

Penjelasan ilmiahnya begini, ternyata daun penebar teror ini mempunyai kandungan kimiawi seperti Monoridine, Tryptophan, Histidine, Alkaloid, Flavonoid, Asam Formiat dan Authraguinones. Dari zat-zat tersebut yang menimbulkan efek panas dan gatal adalah Asam Formiat-nya. Meskipun menimbulkan panas dan gatal, tetapi juga sekaligus melebarkan pori-pori kulit sehingga aliran darah lebih lancar dan oksigen bersirkulasi dengan baik, makanya pegel linu cepat hilang. Cara pakainya juga sederhana, cukup menggosokkan bagian daun yang berduri ke bagian tubuh yang pegal (suku di Papua menggosokkan ke seluruh tubuh) lalu tahan panas gatalnya selama 10 menit, biarkan kulit menjadi bentol-bentol merah. Setelahnya pegal linu pun hilang tak berbekas...ajaib bukan?

Berani mencoba??

Rabu, 22 Juni 2016

SAFETY KLIEN - Antara Slogan dan Realita

Maraknya jasa trip organizer kegiatan outdoor bbrp waktu belakangan, khususnya mendaki gunung,  menunjukkan bahwa kegiatan outdoor benar-benar telah menjadi lifestyle di kalangan masyarakat kelas menengah atas. Belum kekinian kalau belum pernah naik gunung.

Bak jamur di musim hujan, pertumbuhan peminat kegiatan mendaki semakin tinggi dengan semakin seringnya di selenggarakan event-event outdoor festival, dimana para distributor dan penjual peralatan saling memperkenalkan produk andalannya dengan harga sangat terjangkau. Di iming-iming potongan harga dan bonus ini itu, kehadiran even-even tersebut tak ubahnya magnet bagi penggiatnya.

Lalu setelah masing-masing individu memiliki alat, tentu langkah selanjutnya adalah segera mengujinya dengan terjun ke alam bebas. Setiap individu mempunyai pilihan cara yang berbeda. Ada yang memilih bertualang bersama rekan-rekan dekatnya yang se-hobi, ada yang mencari rekan via sosmed dan ada pula yang mencari penyedia jasa trip organizer (TO).

Khusus bagi pencari penyedia jasa trip yang sudah berpengalaman, biasanya mereka melihat konten apa saja yang di perolehnya jika memilih TO tertentu. Di sesuaikan dengan budget-nya. Siapa TO nya dan sudah seberapa berpengalaman.
Itu bagi yang sudah terbiasa.

Persoalan lalu muncul saat begitu banyaknya nubie-nubie yang masih awam yang haus pemuasan petualangan. Bertemu dengan TO-TO oportunis, yang bekerja kilat demi mengejar momen, meng-klaim diri profesional, safety tapi kenyataannya sangat jauh dari harapan.

Pada titik inilah TS merasa prihatin. Sebagai praktisi trip, TS melihat tingkat keberanian para TO oportunis ini sudah menjurus ke arah nekat dan bisa membahayakan klien. Hanya berbekal "merasa" kenal dengan kondisi suatu gunung, kemampuan fisik yang oke serta peralatan "yang di rasa" cukup, mereka berani meng-klaim diri profesional dan safety.

Bagi yang nubie atau awam mungkin tidak akan berpikir panjang untuk menjatuhkan pilihan siapa TO yang akan di pakainya, selama itu murah. Ya, murah adalah alasan utama nubie atau awam menjatuhkan pillihan. Tidak ada yang salah memang dengan yang murah selama segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Tapi menjadi sangat salah dan berbahaya jika terjadi hal-hal di luar kontrol manusia.

Contoh saja, bagaimana bisa TO meng-klaim diri profesional dan safety jika margin yang dia ambil hanya 100-200rb per klien dengan jumlah klien 5-6 orang sekali jalan?? Bayangkan, TO hanya mengantongi margin kotor 1-1,2jt untuk durasi kerja rata-rata 2-3 hari, per hari 9-12 jam. 400-600rb/hari !!
Nominal itu harus di potong kebutuhan transport TO, membawa peralatan tim, logistik, menyewa porter DAN MENANGGUNG KESELAMATAN KLIEN!
Lalu berapa hasil bersih TO??
Apakah TO-TO oportunis seperti itu pernah berpikir kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat kegiatan berlangsung?! Dan apakah klien juga berpikir sampai sejauh itu, kenapa keselamatan dirinya ternyata di hargai sangat murah.

Teman, secara logika saja, saat TO di bayar oleh klien untuk menjadi guide, tugas real-nya lebih dari sekedar guide. TO harus bisa menjadi guard (penjaga), rescuer, manajer dan profesional. Ini satu persoalan untuk di pikirkan, margin kotor 1-1,2jt apa cukup untuk menyewa tim rescue jika terjadi kecelakaan saat kegiatan? Tolong renungkan. Bahkan mungkin untuk mengganti beban tenaga dan pikiran TO saja belum cukup. Itu baru satu hal saja, biaya sewa tim rescue, belum yang lainnya.
Setiap TO harus lebih berhati-hati dalam membuat klaim profesional dan safety. Ada konsekuensi dan tanggung jawab besar di balik slogan itu. Jangan karena alasan kebutuhan kita mengabaikannya. Jangan karena mengejar momen kita menepikan hak klien. Trip yang sehat itu sangat memperhatikan kelanjutan hubungan antara klien dengan TO-nya.

Tahukah alasan kenapa tidak ada satu pun perusahaan asuransi mau terlibat di kegiatan outdoor seperti mendaki?? Karena mereka tahu begitu besar resiko yang harus di tanggung jika terjadi klaim atas kecelakaan.
Sekelas perusahaan saja tidak ambil resiko, jadi sebaiknya TO banyak melakukan kajian untuk menekan kemungkinan terjadi hal yang tidak di inginkan dan langkah-langkah preventif-nya.

Sebagai penyedia jasa, TO harus benar-benar memahami bahwa satu-satunya hal yang dia jual adalah SAFETY KLIEN, bukan hal lain. Keindahan alam, proses trip dan lokasi tujuan adalah pelengkap saja. Dengan pemahaman yang baik, dengan sendirinya, mau tidak mau, TO akan membekali diri dengan kemampuan manajerial yang mumpuni.

Dengan begitu banyaknya tugas dan kewajiban TO, maka sangat tidak mungkin bekerja secara perorangan, karena yang di sebut TO adalah suatu tim / badan yang memiliki struktur kerja yang jelas dan mengutamakan hak-hak klien.

Di sisi lain, Klien pun harus cerdas, pandai-pandai memilah dan memilih, jangan sampai tertipu atau tidak terjaga keselamatannya hanya karena tergiur harga murah. Perlu di ingat setinggi apapun gunung yang di tuju, sejauh apapun lokasi yang di buru, kalian tetap harus kembali pulang ke rumah dengan selamat.

Akan terus bermunculan TO-TO baru, berbanding lurus dengan bertumbuhnya jumlah para penggiat kegiatan outdoor. Persaingan selalu terjadi, lumrah saja. TS harapkan jagalah safety klien tidak hanya sampai di slogan saja. Mari kita sama-sama menjaga iklim outdoor di Indonesia tetap baik dan sehat agar hubungan antara TO dan klien terjalin secara berkelanjutan.

Regards,

Jumat, 10 Juni 2016

Curug Orok

Curug Orok yang masih asri

Curug Orok merupakan potensi wisata air terjun di kabupaten Bogor yang masih jauh dari sentuhan profesional. Hanya di kenal dari "iklan" mulut ke mulut.
Terletak di Desa Cipelang, di kaki gunung Salak 4. Desa Cipelang sendiri mungkin masih asing di telinga warga Bogor, tapi jika di sebut Kampung Sukhoi ada kemungkinan banyak warga yang familiar. Ya, desa ini lebih terkenal dengan julukan Kampung Sukhoi karena menjadi pusat kegiatan evakuasi kecelakaan pesawat komersil Sukhoi beberapa tahun silam. 

Kunjungan saya ke Curug ini bisa di bilang tak sengaja dan tak terencana. Awalnya hanya menghadiri acara kemping ceria di Camp Ground Cihideung untuk memperingati Milad Komunitas Pendaki Kantoran (KPK) Korwil Bogor. Pagi hari setelah acara kemping selesai beberapa teman melanjutkan eksplorasi Curug Orok.

Kami masih harus berjalan sekitar 1 jam dari lokasi kemping untuk bisa mencapainya. Jalurnya setapak rumput dan ilalang, sesekali menyusuri sawah dan perkebunan warga. Jalur ini merupakan jalur yang sama jika ingin menuju puncak Salak 4.

Jalurnya sangat khas Gunung Salak, tanah licin, lembab dan berubah menjadi lumpur saat terguyur hujan.

Tiba di Curug, tanpa membuang waktu dan membuka baju saya langsung membasahi diri....sueeger banget...anggap aja mandi pagi tapi tanpa sikat gigi.
Kondisi Curug yang masih relatif terisolir membuatnya masih cukup bersih dan asri dari sentuhan tangan-tangan jahil.

Senangnya bisa nemu tempat bermain yang masih alami....dan sepi.

Sampai ketemu di perjalanan berikutnya ya. :)

Salah satu spot yg licin


Santai menikmati pagi di camp ground

Hitung2 mandi pagi lah

Bersama kawan2 KPK

Natural view...sejuk

Sejuk...sejuk...

Menanti sunrise di camp ground

View kota Bogor di malam hari

Deretan tenda kami

Beautiful night

Nikmatnya....seruput dulu kopinya

Tim kami KPK Korwil Bogor

Jangan lupa menyantuni anak yatim 

Adakah Kaitan Meningkatnya Aktivitas Gunung Api Pasca Terjadi Gempa

Kaldera Aktif Gunung Raung

Seringkali terjadi peningkatan status pada gunung api aktif pasca terjadinya sebuah gempa. Umumnya fenomena ini banyak ditemui di wilayah-wilayah dimana terdapat formasi sabuk gunung api, seperti dinegara kita Indonesia.

Lalu apa hubungan antara gempa yang terjadi dengan aktivitas gunung api aktif?

Untuk menjawabnya, tentu kita harus mempelajari  dan memahami kondisi tektonik regional  serta konsep hubungan stres-strain pasca gempa bumi hingga terbentuknya tekanan di dapur magma.

Jika contohnya di Indonesia, meningkatnya aktivitas gunung api aktif nyaris selalu di pengaruhi gempa tektonik. Indonesia dikenal memiliki rangkaian gunung api aktif  yang membentuk formasi seperti sabuk dari Sabang sampai Merauke. Populer juga dengan sebutan "Ring Of Fire".

Sebagai contohnya adalah Gunung Kerinci. Kerinci terletak di zona Cesar Sumatera dan dekat dengan zona subduksi lempeng. Karena terletak di zona tektonik aktif, maka secara geologis, terbentuknya Gunung Kerinci tidak lepas dari proses tektonovolkanik di zona ini.

Akibatnya adalah kondisi fisiografi, seismisitas dan vulkanisme didaerah sekitar Gunung Kerinci sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan Lempeng Indo Australia dengan Lempeng Eurasia.
Kondisi seperti ini menjadikan zona barat Sumatera sebagai salah satu kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan  dan gunung api yang tinggi di Indonesia. Jika aktivitas gunung api sebagai bagian dari rangkaian aktivitas subduksi lempeng, maka meningkatnya aktivitas Gunung Kerinci tidak bisa lepas dari aktivitas seismik dan dinamika tektonik regionalnya.

Jika kita amati lebih seksama peta sebaran gunung api di Indonesia, khususnya jalur Sumatera, tampak bahwa seluruh jalur gunung api letaknya berdampingan dengan jalur gempa bumi. Pada banyak kasus erupsi gunung api aktif di dunia menunjukkan bahwa pasca gempa bumi berintensitas kuat memang banyak terjadi erupsi gunung api.

Berdasarkan penelitian Eggert dan Walter dalam mempelajari hubungan antara aktivitas gempa bumi dan erupsi gunung api aktif menghasilkan kesimpulan bahwa aktivitas erupsi gunung api lebih sering terjadi pada gunung api yang terletak di zona seismik aktif. Secara tektonovolkanik, gempa bumi kuat memang dapat mengaktifkan erupsi gunung api.

Aktifnya gunung api aktif berkaitan dengan dinamika tektonik disekitar kantung magma. Dalam hal ini peristiwa gempa bumi besar dapat memicu aliran magma ke dalam kantung magma.

Akumulasi tegangan litosfir yang berlangsung disekitar gunung api juga dapat memicu erupsi gunung api. Dalam hal ini stres-strain akibat gempa bumi kuat mampu menekan kumpulan magma.

Aktifnya gunung api dapat dimulai ketika berlangsung induksi perambatan stres-strain saat terjadi gempa bumi. Dalam hal ini gempa bumi kuat yang terjadi dekat gunung api dapat memicu naiknya magma dari dalam bumi ke kantung magma.

Teori lainnya menjelaskan bahwa aktivitas gempa bumi dekat gunung api aktif mampu mengubah tekanan gas dapur magma. Fenomena ini dapat dianalogikan seperti sebuah botol minuman soda yang dikocok hingga timbul gelembung-gelembung gas yang kemudian bergerak naik, selanjutnya menekan dan melepaskan  sumbatan hingga terjadi letupan keras.