CAMP SATU --- 13 April 1996 --- 19.500 KAKI
Lereng Everest tidak pernah kekurangan pemimpin pada musim semi 1996; kemampuan sebagian besar pendaki yg datang untuk menaklukkan gunung ini sama buruknya, atau bahkan lebih buruk dari kemampuanku. Ketika tiba saat nya kami harus menaksir kemampuan masing-masing dalam mengatasi tantangan berat digunung tertinggi ini, setengah penghuni Base Camp secara klinis seperti orang yg terserang delusi. Barangkali ini tidak terlalu mengejutkan. Everest sudah lama menjadi semacam magnet bagi orang-orang eksentrik, pencari publisitas, orang-orang yg kurang berpegang pada realitas.
Pada Maret 1947, seorang insinyur miskin berkebangsaan Kanada bernama Earl Denman tiba di Darjeeling dan menyatakan niatnya untuk mendaki Everest meskipun dia tidak memiliki banyak pengalaman dalam mendaki dan tidak memiliki ijin resmi untuk memasuki Tibet. Dengan berbagai cara, dia berhasil meyakinkan dua warga Sherpa untuk menemaninya, Ang Dawa dan Tenzing Norgay.
Tenzing---orang yg kemudian menemani Hillary dalam pendakian Everestnya yg pertama---bermigrasi ke Darjeeling dari Nepal pada 1933. Saat itu usianya baru tujuh belas tahun dan berharap dia bisa dipekerjakan oleh sebuah ekspedisi yg sedang bersiap-siap untuk mendaki Puncak Everest dibawah pimpinan seorang pendaki Inggris kenamaan, Eric Shipton. Tahun itu, pemuda Sherpa dengan keinginan menggebu-gebu tersebut tidak terpilih, tetapi dia tetap tinggal di India dan dipakai oleh Shipton untuk Ekspedisi Inggris ke Everest pada 1935. Ketika dia setuju untuk menemani Denman pada 1947, Tenzing sudah tiga kali mendaki Everest. Tenzing mengakui kemudian bahwa rencana Denman sangat buruk, tetapi orang itu benar-benar tidak mampu menolak daya tarik Everest.
Tidak ada yg masuk akal tentang pendakian itu. Pertama, kami mungkin tidak diijinkan memasuki wilayah Tibet. Kedua, kalaupun kami berhasil masuk, kami semua mungkin akan ditangkap, dan sebagai pemandunya, kami, demikian juga Denman, sama-sama akan menghadapi masalah yg serius. Ketiga, tidak sedetik pun aku percaya bahwa seandainya kami bisa sampai ke gunung itu, kelompok kami akan bisa mendakinya. Keempat, upaya pendakian akan sangat berbahaya. Kelima, Denman tidak punya cukup uang untuk membayar kami dengan baik, atau untuk menjamin kami jika sesuatu terjadi kepada kami. Ada banyak hambatan lain. Setiap orang yg berpikiran waras, pasti akan menolak tawaran itu. Namun, aku tidak bisa menolaknya. Hatiku mendorong untuk pergi dan daya tarik Everest bagiku lebih besar daripada daya tarik apapun dimuka bumi ini. Ang Dawa dan aku berbicara selama beberapa menit, kemudian kami membuat keputusan. "Baiklah," kataku kepada Denman, "kami akan mencobanya."
Ketika ekspedisi kecil itu berjalan melintasi Tibet menuju Everest, kedua warga Sherpa itu mulai menyukai dan menghormati orang Kanada tersebut. Meskipun Denman belum berpengalaman, mereka mengagumi keberanian dan kekuatan fisiknya. Denman juga layak menerima pujian karena dia mau mengakui kekurangannya sendiri saat mereka tiba dilereng gunung dan melihat kenyataan di hadapan mereka. Dibawah terjangan badai salju pada ketinggian 22.000 kaki, akhirnya Denman menyerah, dan ketiga pria itu turun gunung. Mereka tiba dengan selamat di Darjeeling hanya lima minggu setelah berangkat.
Seorang pria Inggris yg idealis dan melankolis bernama Maurice Wilson tidak seberuntung Denman. Terdorong oleh hasrat yg salah untuk membantu salah seorang rekannya, Wilson menyimpulkan bahwa mendaki Everest merupakan cara sempurna untuk memublikasikan keyakinannya bahwa berbagai jenis penyakit manusia dapat disembuhkan dengan berpuasa dan melalui keyakinan yg kuat pada kekuatan Tuhan. Dia menyusun rencana untuk menerbangkan sebuah pesawat kecil ke Tibet, tinggal landas di punggung Everest, dan meneruskan pendakian dari tempatnya mendarat. Pengetahuannya yg nihil tentang pendakian maupun penerbangan sama sekali tidak merisaukannya.
Wilson membeli sebuah pesawat jenis Gypsy Moth yg sayapnya terbuat dari bahan fiber, menamai pesawat itu Ever Wrest, dan belajar sedikit tentang dasar-dasar penerbangan. Kemudian selama lima minggu dia menjelajahi pegunungan Snowdonia yg cukup terjal dan wilayah Lake District, Inggris, untuk mempelajari hal-hal yg menurutnya terkait dengan pendakian. Kemudian,pada Mei 1933, dia menerbangkan pesawat kecilnya menuju Everest melalui Kairo, Teheran dan India.
Sampai saat itu, kegiatan Wilson mulai banyak diliput media. Dia terbang ke Purtabpore, India, tetapi karena tidak memperoleh ijin dari Pemerintah Nepal untuk terbang diatas wilayah Nepal, Wilson menjual pesawatnya seharga lima ratus poundsterling, dan berangkat ke Darjeeling melalui jalan darat. Ditempat itu dia baru tahu bahwa dia tidak diijinkan memasuki Tibet. Penolakan itu tidak membuatnya mundur: pada Maret 1934, dia mempekerjakan tiga warga Sherpa, menyamar sebagai pendeta Buddha, mengabaikan perintah raja, dan dengan sembunyi-sembunyi berjalan sejauh 300 mil menembus hutan Sikkim dan daratan Tibet yg kering. Pada 14 April dia tiba dikaki Everest.
Kemajuannya diawal pendakian, saat melewati Gletser Rongbuk Timur yg berbatu-batu dan tertutup es, cukup baik, tetapi pengetahuannya yg sangat minim tentang perjalanan menempuh Gletser menghambatnya. Akibatnya dia sering tersesat, dan ini membuatnya frustasi dan kelelahan. Namun dia belum mau menyerah.
Pertengahan Mei, Wilson tiba dipuncak Gletser Rongbuk Timur pada ketinggian 21.000 kaki, dan menjarah persediaan makanan dan perlengkapan yg disembunyikan Eric Shipton dari ekspedisi 1933-nya yg gagal. Dari tempat itu Wilson mulai mendaki lereng yg menuju Jalur Utara (North Col), dan berhenti pada ketinggian 22.700 kaki ketika dia berhadapan dengan sebuah lereng es yg vertikal, yg memaksanya mundur kembali ke tempat Shipton menyembunyikan perbekalannya. Meskipun demikian, Wilson belum juga mau menyerah. Pada 28 Mei, dia menulis didalam buku hariannya, "Ini merupakan upayaku yg terakhir dan aku yakin akan berhasil." Kemudian dia pun berjalan kearah gunung sekali lagi.
Setahun kemudian ketika Shipton kembali ke Everest, tim ekspedisinya menemukan tubuh Wilson yg membujur kaku diatas salju dikaki Jalur Utara. "Setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk menguburkannya disebuah celah gletser," tulis Charles Warren, salah seorang pendaki yg menemukan jenazah Wilson. "Kami semua mengangkat topi saat itu, dan aku percaya semua orang merasa sedikit terganggu oleh peristiwa ini. Aku pikir, aku sudah kebal melihat mayat; tetapi karena alasan tertentu dan karena Wilson sedikit banyak melakukan hal yg sama dengan kami, tragedi yg menimpanya seperti memberi peringatan kepada kami semua.
Akhir-akhir ini orang-orang seperti Wilson dan Denman banyak dijumpai di lereng Everest---para pemimpi yg tidak punya cukup pengalaman, seperti juga beberapa rekan satu timku---merupakan fenomena yg memicu kritikan yg cukup pedas. Akan tetapi, pertanyaan tentang siapa yg layak mendaki Everest dan siapa yg tidak, ternyata lebih rumit daripada yg diperkirakan orang. Sejumlah pendaki yg sudah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk menjadi anggota tim ekspedisi yg dipandu, tidak bisa secara otomatis dianggap tidak layak berada diatas gunung. Nyatanya, setidaknya dua dari anggota tim ekspedisi komersial Everest pada musim semi 1996 adalah veteran pendaki gunung yg mampu mendaki puncak-puncak yg paling sulit sekalipun.
Ketika aku sedang menunggu kedatangan rekan-rekanku di puncak Jeram Es di Camp Satu pada 13 April, dua pendaki anggota tim Mountain Madness yg dipandu Scott Fischer melewati kami dengan gerakan yg sangat lincah. Salah satunya adalah Klev Schoening, seorang kontraktor bangunan dari Seattle berusia tiga puluh delapan tahun, mantan pemain ski nasional Amerika Serikat. Meskipun tubuhnya kuat, tetapi pengalamannya dalam mendaki belum memadai. Dia ditemani pamannya, Pete Schoening, salah seorang pendaki Himalaya legendaris yg masih hidup.
Mengenakan pakaian anti air GoreTex yg tipis dan tampak usang, pada usianya yg hampir mencapai enam puluh sembilan tahun, Pete yg bertubuh kurus dan agak bungkuk itu kembali ke Himalaya setelah absen untuk waktu yg cukup panjang. Pada 1958, dia menorehkan catatan dalam sejarah pendakian ketika menjadi tokoh penggerak dalam ekspedisi pertama ke Hidden Peak, sebuah gunung dengan ketinggian 26.470 kaki yg terletak di wilayah Pegunungan Karakoram, Pakistan---gunung tertinggi pertama yg pernah ditaklukkan oleh para pendaki Amerika. Nama Pete semakin terkenal saat dia menjadi pahlawan dalam sebuah ekspedisi untuk menaklukkan Puncak K2 yg gagal pada 1953, tahun yg sama ketika Hillary dan Tenzing mencapai puncak Everest.
Ekspedisi yg beranggotakan delapan pendaki itu terpaksa berhenti karena diserang badai salju jauh diatas lereng K2, menunggu untuk meneruskan pendakian, ketika salah seorang anggota tim bernama Art Gilkey terkena thrombophlebitis, sejenis penyakit yg disebabkan oleh penggumpalan sel-sel darah merah akibat ketinggian. Sadar bahwa untuk menyelamatkan hidupnya mereka harus segera membawa Gilkey turun, ditengah badai salju Schoening dan rekan-rekannya mulai membawa Gilkey menuruni Lereng Abruzzi yg sangat curam. Pada ketinggian 25.000 kaki, seorang pendaki bernama George Bell tergelincir, menyerempet empat pendaki bersamanya. Schoening yg secara refleks mengikatkan tali di seputar bahunya dan pada sebuah kapak es, berhasil menahan Gilkey dan lima pendaki yg sedang meluncur ke bawah tanpa dia sendiri terseret ke bawah gunung. Peristiwa yg dianggap sebagai salah satu prestasi tertinggi dalam dunia pendakian tersebut kemudian dikenal dengan istilah The Belay*.
Dan sekarang, Pete Schoening sedang dipandu menuju puncak Everest oleh Fischer dan dua pemandunya, Neal Beidleman dan Anatoli Boukreev. Ketika aku bertanya kepada Beidleman, seorang pendaki tangguh asal Colorado, bagaimana rasanya memandu seorang klien sekaliber Schoening, dia langsung mengoreksi kata-kataku dan dengan tawa yg merendah dia berkata, "Orang sepertiku tidak memandu Pete Schoening kemana pun, aku hanya merasa sangat terhormat bisa berada satu tim dengannya." Schoening bergabung dengan kelompok Mountain Madness yg dipimpin Fischer bukan karena dia membutuhkan pemandu yg akan membawanya ke puncak, dia hanya tidak suka mengurus masalah perijinan, oksigen, perkemahan, perbekalan, kuli Sherpa dan masalah logistik.
Beberapa menit setelah Pete dan Klev Schoening melewati kami dalam perjalanan menuju lokasi Camp Satu mereka, rekan satu tim mereka, Charlotte Fox, menyusul. Fox yg dinamis dan bertubuh kukuh seperti patung dan berusia tiga puluh delapan tahun adalah seorang pengawas olahraga ski dari Aspen, Colorado. Dia juga pernah menaklukkan dua puncak 8.000 meter: Gasherbaum II di Pakistan yg memiliki ketinggian 26.361 kaki dan tetangga Everest yg memiliki ketinggian 26.748 kaki, yaitu Puncak Cho Oyu: Beberapa saat kemudian, aku juga berpapasan dengan salah satu anggota tim ekspedisi komersial pimpinan Mal Duff yaitu Veikka Gustafson, seorang pendaki berusia dua puluh delapan tahun berasal dari Finlandia, yg juga pernah mendaki Himalaya dan menaklukkan Everest, Dhaulagiri, Makalu dan Lhotse.
Sebaliknya tidak ada satupun dari kelompok ekspedisi Hall yg pernah mencapai puncak 8.000 meter. Jika seorang seperti Pete Schoening bisa disamakan dengan mahabintang dari sebuah klub bisbol kelas liga utama, rekan-rekan satu timku dan aku sendiri ibarat pemain klub bisbol kelas menengah dari sebuah kota kecil yg harus menyogok untuk bisa masuk ke dalam liga dunia. Benar, dipuncak Jeram Es, Hall mengatakan bahwa kami semua merupakan "kelompok yg cukup tangguh". Barangkali kami memang tangguh jika dibanding dengan klien-klien lain yg pernah dipandu Hall ke puncak Everest pada tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, aku sendiri bisa melihat dengan jelas bahwa tidak satupun dari anggota tim kami akan bisa mencapai puncak Everest tanpa dukungan kuat dari Hall, pemandunya dan para Sherpanya.
Di pihak lain,kelompok kami lebih kompeten dibanding dengan beberapa tim lain yg sama-sama berada digunung itu. Ada beberapa pendaki yg kemampuannya sangat diragukan dan tergabung dalam tim ekspedisi komersial dipimpin seorang pendaki Inggris dengan pengalaman Himalaya yg masih diragukan. Akan tetapi, orang-orang yg tampaknya paling tidak kompeten di Everest ini bukanlah mereka yg tergabung dalam tim ekspedisi yg dipandu, melainkan para pendaki tradisional dari tim ekspedisi non komersial.
Ketika aku sedang bergerak menuju Base Camp dan melewati bagian bawah Jeram Es, aku berpapasan dengan dua pendaki yg mengenakan pakaian dan peralatan yg tampak aneh. Sekilas saja aku sudah bisa menaksir bahwa keduanya kurang memahami peralatan maupun teknik-teknik standar yg terkait dengan pendakian dipermukaan yg tertutup es. Berkali-kali sepatu paku dari pendaki yg berada dibelakang terkait dan membuatnya terhuyung-huyung. Menunggu mereka melewati dua buah tangga yg terikat dan bergoyang-goyang diatas celah gletser, aku juga terkejut melihat mereka menyeberang celah itu secara beriringan dan hampir tanpa jarak---tindakan yg sangat berbahaya dan tidak perlu. Dari percakapan yg dilakukan secara canggung saat kami tiba disisi lain dari celah gletser tersebut, aku kemudian tahu, bahwa keduanya adalah anggota tim ekspedisi Taiwan.
Reputasi para pendaki Taiwan sudah mendahului mereka ke Everest. Pada musim semi 1995 tim yg sama mendaki Gunung McKinley di Alaska, untuk menaksir kemampuan mereka sebelum mereka mendaki Everest pada 1996. Sembilan pendaki mencapai puncak McKinley, tetapi tujuh diantaranya terperangkap badai salju ketika sedang menuruni gunung, teresat, dan dipaksa bermalam dibawah udara terbuka pada ketinggian 19.400 kaki dan memaksa dilakukannya upaya penyelamatan yg sangat mahal dan berbahaya oleh kelompok National Park Service.
Atas permintaan kesatuan polisi hutan, Alex Lowe dan Conrad Anker, dua pakar pendaki paling andal di Amerika, terpaksa menghentikan pendakian mereka dan dengan cepat dibawa ke ketinggian 14.400 kaki untuk membantu para pendaki Taiwan yg saat itu sudah hampir tewas. Dengan susah payah dan dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri, Lowe dan Anker menyeret masing-masing seorang pendaki Taiwan yg sudah tidak berdaya dari ketinggian 19.400 kaki sampai ke ketinggian 17.400 kaki; ditempat itu sebuah helikopter membawa mereka keluar dari gunung. Menurut cerita, lima anggota tim Taiwan---dua dengan luka gigitan salju (frostbite) yg sangat parah dan satu tewas---berhasil diungsikan dari puncak McKinley dengan menggunakan helikopter. "Hanya satu pendaki yg tewas," kata Anker. "Tetapi kalau Alex dan aku tidak tiba pada saat itu, dua pendaki lain pasti akan tewas pula. Kami sudah mengamati tim Taiwan ini sebelumnya karena mereka tampak sangat tidak kompeten. Kami tidak terkejut waktu mereka menghadapi kesulitan."
Pemimpin ekspedisi Taiwan, Gau Ming Ho---seorang kamerawan freelance yg periang yg menyebut dirinya "Makalu" setelah dia berhasil menaklukkan salah satu puncak Himalaya bernama Makalu---ditemukan dalam keadaan kelelahan dan terserang gigitan salju dan harus dipandu ke bawah gunung oleh sepasang pemandu gunung dari Alaska. "Ketika para petugas Alaska membawanya turun gunung, "lapor Anker, "Makalu berteriak-teriak, "Berhasil! Berhasil! Kami berhasil sampai ke puncak' kepada setiap orang yg mereka jumpai, seakan-akan bencana yg baru saja terjadi sama sekali tidak berarti. Menurut saya Makalu benar-benar aneh. "Ketika tim McKinley yg gagal itu muncul dipunggung selatan Everest pada 1996, sekali lagi Makalu Gau bertindak sebagai pemimpin ekspedisi.
Kehadiran para pendaki Taiwan di Everest sangat mencemaskan para pendaki lain. Kami cemas mereka akan menghadapi bencana yg benar-benar dahsyat yg memaksa tim lain menyelamatkan mereka dengan membahayakan hidup mereka sendiri, dan merusak kesempatan pendaki lain untuk mencapai puncak. Akan tetapi, bukan hanya tim Taiwan yg tampaknya tidak berpengalaman. Di Base Camp, disamping perkemahan kami ada seorang pendaki dari Norwegia berusia dua puluh lima tahun bernama Petter Neby, yg menyatakan niatnya untuk mendaki sendirian melalui Lereng Tenggara*, salah satu rute menuju puncak yg paling berbahaya dan paling menuntut keahlian tinggi---padahal pengalamannya mendaki Himalaya sangat terbatas. Neby pernah mendaki Puncak Island, salah satu puncak dari Gunung Lhotse dengan ketinggian 20.274 kaki yg bisa didaki tanpa membutuhkan keahlian tinggi, tidak lebih dari sebuah lintas alam yg melelahkan.
Selain itu, ada lagi kelompok pendaki yg berasal dari Afrika Selatan yg disponsori oleh sebuah harian terbesar di Johannesburg, Sunday Times. Tim tersebut merupakan tim kebanggaan Negara Afrika Selatan, dan menerima restu langsung dari Presiden Nelson Mandela menjelang keberangkatannya. Mereka merupakan tim ekspedisi Afrika Selatan pertama yg diijinkan mendaki Everest, sebuah tim campuran yg bertekad membawa orang kulit hitam pertama ke atas puncak. Tim ini dipimpin oleh Ian Woodall, tiga puluh sembilan tahun, seorang pria yg senang bicara dan berwajah seperti tikus. Dia senang menceritakan berbagai anekdot tentang keberaniannya sewaktu masih menjadi anggota pasukan komando militer yg ditempatkan di belakang garis demarkasi musuh saat terjadi konflik brutal dengan Angola pada 1980.
Woodall merekrut tiga pendaki terkuat Afrika Selata untuk menjadi anggota tim inti. Andy de Klerk, Andy Hackland dan Edmund February. Tim yg anggotanya terdiri atas warga kulit putih dan kulit hitam tersebut memberikan kebanggaan tersendiri bagi Fevruary, empat puluh tahun, seorang ilmuwan paleoekologi kulit hitam sekaligus pendaki yg memiliki reputasi internasional. "Orang tuaku menamaiku sesuai dengan nama Sir Edmund Hillary," katanya menjelaskan. "Mendaki Everest merupakan impian aku sejak kanak-kanak. Namun, ada hal yg jauh lebih penting; ekspedisi ini aku anggap sebagai simbol dari sebuah negara baru yg ingin bersatu untuk meraih demokrasi, mencoba pulih dari kepahitan masa lalu. Aku dibesarkan ditengah-tengah penindasan rasial, dan aku memiliki kenangan yg sangat pahit tentang itu. Akan tetapi, negara kami sekarang adalah sebuah negara yg baru. Aku benar-benar memercayai arah yg dipilih negara kami saat ini. Menunjukkan kepada dunia bahwa kami, warga kulit putih dan kulit hitam Afrika Selatan bisa mendaki puncak Everest bersama-sama---akan menjadi sebuah keberhasilan yg sangat besar."
Seluruh warga Afrika Selatan mendukung ekspedisi ini. "Woodall mengusulkan proyek ini pada saat yg tepat," kata de Klerk. "Dengan berakhirnya sistem apartheid, penduduk asli Afrika Selatan akhirnya diijikan bepergian ke tempat manapun yg mereka inginkan, dan tim olahraga kami bisa bertanding diseluruh dunia. Tim Afrika Selatan baru saja memenangkan piala internasional untuk kejuaraan rugby. Euforia sedang menyelimuti negeri kami, perasaan bangga yg sangat besar. Jadi ketika Woodall muncul dengan usul untuk membentuk tim ekspedisi Afrika Selatan, semua orang langsung setuju, dan dia mampu mengumpulkan banyak uang---jumlahnya setara dengan beberapa ratus ribu dollar Amerika---dan tidak ada seorang pun yg banyak mengajukan pertanyaan.
Selain dia sendiri, lalu tiga pendaki pria yg sudah disebutkan diatas, dan seorang pendaki Inggris merangkap juru potret bernama Bruce Herrod, Woodall ingin mengikutkan pendaki wanita ke dalam tim ekspedisinya. Jadi, sebelum meninggalkan Afrika Selatan, dia mengundang enam calon peserta wanita untuk mendaki Gunung Kilimanjaro dengan ketinggian 19.340 kaki, sebuah pendakian yg membutuhkan kekuatan fisik, tetapi secara teknik tidak terlalu sulit. Diakhir uji coba yg berlangsung selama dua minggu, Woodall mengumumkan bahwa dia memilih dua finalis: Cathy O'Dowd, dua puluh enam tahun, seorang instruktur jurnalisme berkulit putih dengan pengalaman mendaki gunung yg sangat terbatas, putri seorang direktur sebuah perusahaan Inggris -Amerika,perusahaan terbesar di Afrika Selatan; dan Deshun Deysel, dua puluh lima tahun, seorang guru pendidika jasmani yg sama sekali belum memiliki pengalaman mendaki, dan dibesarkan disebuah kota terpencil. Kedua wanita tersebut, kata Woodall, akan ikut bersama tim sampai ke Base Camp Everest, dan ditempat itu Woodalll akan memilih siapa dari kedua calon tersebut yg akan ikut sampai ke puncak setelah dia mengevaluasi kinerja mereka selama perjalanan menuju Base Camp.
Pada 1 April, hari kedua perjalanan kami ke Base Camp, secara tidak terduga aku bertemu dengan February, Hackland dan de Klerk, tidak jauh dari Namche Bazaar. Mereka sedang berjalan keluar dari gunugn menuju Kathmandu. De Klerk yg kebetulan ku kenal, mengatakan bahwa tiga pendaki dari Afrika Selatan dan Charlotte Noble, dokter tim mereka, bahkan sudah lebih dulu mengundurkan diri sebagai anggota tim ekspedisi, yaitu sebelum tim mereka mencapai kaki gunung. "Woodall, pemimpin kami, ternyata seorang bajingan tulen," kata de Klerk. "Dia benar-benar sinting. Kamu tidak bisa memercayai kata-katanya---kami tidak pernah tahu, kapan dia bicara benar dan kapan dia berbohong. Kami tidak mau menyerahkan hidup kami ditangan orang seperti itu. Itu sebabnya kami pergi."
Kepada de Klerk dan anggota timnya yg lain, Woodall sering mengatakan bahwa dia sudah beberapa kali mendaki Himalaya, dan mencapai ketinggian lebih dari 26.000 kaki. Ternyata Woodall baru dua kali datang ke Himalaya, sebagai klien yg membayar dari ekspedisi gagal yg dipandu oleh Mal Duff: pada 1989, Woodall gagal mencapai Puncak Island yg memiliki ketinggian menengah kemudian pada 1990 saat mendaki Puncak Annapurna dia menyerah pada ketinggian 21.300 kaki, sekitar satu mil vertikal dari puncak.
Selain itu, sebelum meninggalkan Afrika Selatan menuju Everest, melalui situs internet milik ekspedisi, Woodall sering membual tentang karier militernya yg mengagumkan sebagai anggota kelompok militer Inggris dan dipercaya untuk menjadi "komandan pasukan elite bernama Long Range Mountain Reconnaissance Unit yg banyak melakukan pelatihan di Himalaya." Dia bercerita pada harian Sunday Times bahwa dia juga pernah menjadi instruktur militer pada The Royal Military Academy di Sandhurst, Inggris. Ternyata, tidak ada kesatuan elite yg bernama Long Range Mountain Reconnaissance Unit di jajaran Angkatan Darat Inggris; Woodall juga tidak pernah menjadi instruktur di Sandhurst. Dia juga tidak pernah ditugaskan di belakang garis demarkasi musuh di Angola. Menurut juru bicara Angkatan Darat Inggris, Woodall memang pernah bekerja sebagai juru tulis paruh waktu.
Woodall juga berbohong tentang nama-nama yg tercantum dalam ijin mendaki* yg dikeluarkan oleh Kementrian Pariwisata Nepal. Sejak awal dia mengatakan bahwa nama Cathy O'Dowd dan Deshun Deysel sudah tercantum didalam daftar perijinan, bahwa keputusan tentang siapa diantara keduanya yg akan ikut sampai ke puncak akan ditentukan di Base Camp. Setelah meninggalkan ekspedisi, de Klerk menemukan bahwa nama O'Dowd memang tercantum dalam daftar, begitu juga nama ayah Woodall yg berumur enam puluh sembilan tahun, dan seorang Prancis bernama Tierry Renard (yg sudah membayar Woodall sebanyak 35.000 dollar untuk diikutkan dalam tim Afrika Selatan), tetapi nama Deshun Deysel---satu-satunya anggota tim berkulit hitam setelah February mengundurkan diri---ternyata tidak ada. De Klerk menduga bahwa Woodaal tidak pernah berniat membawa Deysel mendaki sampai ke puncak Everest.
Selain itu, sebelum meninggalkan Afrika Selatan, Woodall memperingatkan de Klerk---yg menikah dengan seorang wanita Amerika, dan memiliki dua kewarganegaraan---bahwa dia tidak akan diijinkan menjadi anggota tim ekspedisi jika dia tidak bersedia menggunakan paspor Afrika Selatan saat memasuki Nepal." Dia sangat membesar-besarkan masalah itu," kenang de Klerk, "mengatakan bahwa tim kami merupakan ekspedisi Afrika Selatan pertama yg akan mendaki Everest, hal-hal semacam itulah. Ternyata Woodall sendiri tidak memiliki paspor Afrika Selatan. Dia bahkan bukan warga negara Afrika Selatan---dia orang Inggris, dan masuk ke Nepal dengan menggunakan paspor Inggris."
Semua kebohongan Woodall menjadi skandal internasional, diulas di halaman depan koran-koran negara persemakmuran. Ketika laporan media yg negatif itu didengar olehnya, pemimpin yg menganggap dirinya orang besar itu sama sekali tidak menghiraukan kritikan tersebut dan berusaha menjauhkan timnya dari anggota tim-tim ekspedisi yg lain. Dia juga mengeluarkan wartawan Sunday Times, Ken Vernon, dan juru foto, Richard Shorey, dari timnya. Padahal, Woodall sudah menanda tangani kontrak yg menyatakan bahwa dia akan mengijinkan kedua wartawan itu "mnjadi bagian dari tim sampai ekspedisi berakhir" sebagai imbalan atas dukungan finansial yg diterimanya dari harian tersebut; seandainya Woodall tidak mampu memenuhi kesepakatan, maka "kontrak tersebut dinyatakan batal."
Pada saat itu, editor Sunday Times, Ken Owen dan istrinya sedang dalam perjalanan menuju Base Camp, ditengah liburan lintas alam yg sengaja diatur agar waktunya bertepatan dengan ekspedisi Afrika Selatan tersebut. Keduanya ditemani oleh teman wanita Woodall, seorang gadis Prancis bernama Alexandrine Gaudin. Di Pheriche, Owen mendengar bahwa Woodall mengeluarkan wartawan dan juru potretnya. Dengan terkejut, dia mengirim pesan kepada sang pemimpin ekspedisi bahwa harian mereka tidak berniat menarik Vernon dan Shorey dari tim tersebut, bahwa keduanya diperintahkan untuk bergabung kembali dengan tim ekspedisi. Woodall benar-benar marah saat menerima pesan tersebut dan turun dari Base Camp ke Pheriche untuk mengadakan perhitungan dengan Owen.
Menurut Owen, dalam konfrontasi yg terjadi kemudian, dia menanyakan terus terang kepada Woodall tentang nama Deysel yg tidak tercantum dalam perijinan. Woodall menjawab, "Itu sama sekali bukan urusanmu."
Ketikak Owen menuduh bahwa penunjukkan Deysel sebagai anggota tim "hanya untuk memberikan kesan palsu, agar tim tersebut terkesan memiliki semangat baru Afrika Selatan," Woodall mengancam untuk membunuh Owen dan istrinya. Ketika pertengkaran memuncak, pemimpin ekspedisi yg sedang kalap itu berkata, "Aku akan mematahkan kepala kalian dan menjejalkannya ke dalam pantat kalian."
Tidak lama kemudian, wartawan Ken Vernon tiba di Base Camp tim Afrika Selatan. Berita pertama yg dia laporkan melalui mesin faksimile milik Rob Hall adalah , "Aku langsung disambut oleh wajah masam Nona O'Dowd yg mengatakan bahwa kedatanganku di perkemahan ini tidak diharapkan." Kemudian, pada harian Sunday Times, Vernon menulis:
Aku mengatakan kepadaNona O'Dowd bahwa dia tidak berhak menghalangiku memasuki perkemahan yg didanai oleh harian tempat aku bekerja. Ketika didesak lebih jauh, O'Dowd mengatakan bahwa dia hanya bertindak sesuai dengan perintah Woodall. O'Dowd juga menambahkan bahwa Shorey sudah diusir dari perkemahan dan aku harus mengikutinya karena ditempat ini, aku tidak akan diberi makanan maupun perlindungan. Kedua kakiku masih gemetar karena perjalanan panjang, jadi sebelum aku memutuskan untuk berjuang atau pergi, aku meminta segelas teh. "Tidak bisa," katanya. Kemudian, Nona O'Dowd berjalan menghampiri pemimpin orang-orang Sherpa, Ang Dorje, dan dengan suara keras dia berkata, "Orang ini bernama Ken Vernon, salah seorang dari orang-orang yg sudah kami ceritakan kepada kalian. Dia tidak boleh diberi bantuan apapun." Ang Dorje, pria keras bertubuh kukuh seperti batu gunung, dan aku sudah sering minum Chang (sejenis minuman keras buatan penduduk lokal) bersama-sama. Aku menatap matanya dan berkata, "Tidak secangkir teh pun?" Keputusan Ang Dorje layak dipuji, dan sangat sesuai dengan sopan santun warga Sherpa. Dia menatap mata Nona O'Dowd dan berkata, "Persetan." Dia menarik lengan saya, membawa aku kedalam perkemahan dan menghidangkan secangkir teh panas dan sepiring biskuit.
Setelah peristiwa yg oleh Owen disebut sebagai "pertemuan yg sangat menegangkan" dengan Woodall di Pheriche, sang editor "dibujuk....bahwa ekspedisi telah berubah kacau, bahwa nyawa kedua staff Sunday Times, Ken Vernon dan Richard Shorey, mungkin berada dalam bahaya." Karena itu, Owen memerintahkan Vernon dan Shorey untuk kembali ke Afrika Selatan, dan harian mereka melansir pernyataan yg menarik dukungan terhadap ekspedisi tersebut
Oleh karena Woodall sudah menerima uang yg disumbangkan harian tersebut, pernyataan tersebut sebenarnya hanya bersifat simbolis dan tidak memiliki dampak apapun terhadap kegiatannya diatas gunung. Woodall bahkan menolak untuk menyerahkan perannya sebagai pemimpin tim meskipu dia menerima pesan dari Presiden Mandela yg memintanya untuk mempertimbangkan keputusannya demi kepentingan nasional. Dengan keras kepala Woodall menyatakan bahwa pendakian Everest akan berlanjut sesuai rencana dan dia akan tetap memimpin.
Sekembalinya di Cape Town, setelah ekspedisi tersebut terpecah-pecah, February mengungkapkan kekecewaannya, "Barangkali aku terlalu naif," katanya dengan suara terputus-putus karean emosi. "Tetapi, aku benci dibesarkan ditengah suasana Apartheid. Mendaki Everest, bersama Andrew dan anggota tim yg lain bisa menjadi simbol penting untuk menunjukkan bahwa cara-cara lama telah hancur. Woodall sama sekali tidak tertarik pada Negara Afrika Selatan yg baru. Dia menghancurkan impian seluruh bangsa dan memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri. Meninggalkan tim merupakan keputusan terberat yg pernah aku lakukan dalam hidup ini."
Setelah kepergian February, Hackland dan de Klerk, tidak satu pun anggota tim Afrika Selatan yg memiliki pengalaman mendaki bahkan pada tingkat minimal (kecuali orang Prancis, Renard, yg bergabung dengan tim tersebut sekedar untuk memperoleh ijin, yg mendaki secara mandiri, terpisah dari anggota lain, dan dengan orang-orang Sherpa yg dipilihnya sendiri); setidaknya dua dari mereka, kata de Klerk, "tidak tahu, bagaimana cara memasang crampon."
Pendaki solo dari Norwegia, tim Taiwan dan terutama tim Afrika Selatan, merupakan topik yg paling sering dibicarakan diperkemahan Hall. "Dengan begitu banyak orang yg tidak berkompeten digunung ini," kata Hall dengan kening berkerut suatu malam pada bulan April, "Rasanya sulit melewati musim ini tanpa ada kejadian buruk diatas sana."
*Belay merupakan istilah dalam dunia pendakian, yaitu metode penggunaan tali untuk mengamankan seorang rekan saat dia mendaki.
*Meskipun ekspedisi Neby hanya diikuti satu peserta, dia mempekerjakan delapan belas Sherpa untuk mengangkut beban, membuat rentangan tali, membangun perkemahan, dan memandunya sampai kepuncak.
*Hanya para pendaki yg terdaftar dalam ijin resmi---setelah membayar tarif 10.000 dollar per orang---diperbolehkan untuk mendaki lebih tinggi dari Base Camp. Aturan ini diterapkan dengan ketat dan pelanggar akan dipaksa untuk membayar denda dan diusir dari Nepal.
Bersambung....
Minggu, 17 Agustus 2014
Rabu, 13 Agustus 2014
Into Thin Air --- Bab VI
BASE CAMP EVEREST --- 12 APRIL 1996 --- 17.600 KAKI
Mendaki Everest merupakan proses yg panjang dan berat, lebih menyerupai sebuah proyek konstruksi yg sangat besar daripada kegiatan mendaki seperti yg kukenal selama ini. Jika semua Sherpa yg bekerja sebagai pembantu dihitung, jumlah seluruh anggota tim ekspedisi Hall mencapai dua puluh enam orang; dan memberi makan,penginapan serta menjaga kesehatan orang sebanyak itu pada ketinggian 17.600 kaki, seratus mil jalan kaki dari jalan terdekat, sama sekali bukan pekerjaan mudah. Namun, Hall benar-benar seorang pemimpin ekspedisi yg tidak ada tandingannya, dan dia menikmati semua tantangan itu. Di Base Camp dia mencetak ratusan lembar daftar perincian logistik: menu, suku cadang, peralatan, obat-obatan,perangkat keras untuk komunikasi, jadwal pengiriman barang, jadwal ketersediaan yak. Sebagai teknisi dengan bakat alamiah, Hall benar-benar menyukai infrastruktur, elektronik dan berbagai jenis alat pertukangan; waktu luangnya dihabiskan untuk mengutak-atik sistem listrik tenaga surya atau membaca buku-buku Popular Science.
Dalam tradisi George Leigh Mallory dan kebanyakan pendaki Everest lainnya, strategi Hall bisa dianggap sebagai pengepungan terhadap gunung itu. Secara bertahap, para Sherpa membangun empat perkemahan diatas Base Camp---setiap perkemahan berjarak 2.000 kaki diatas perkemahan yg lain---kemudian mengirimkan makanan, minyak goreng, dan tabung oksigen dalam jumlah besar dari perkemahan yg satu ke perkemahan yg lain sampai semua bahan yg dibutuhkan berhasil ditimbun pada ketinggian 26.000 kaki di Jalur Selatan. Jika semua rencana Hall berjalan lancar, perjalanan terakhir menuju puncak akan dilakukan dari perkemahan tertinggi---Camp Empat---sebulan kemudian.
Meskipun kami para kliennya tidak akan diminta untuk membawa beban*, kami harus melakukan beberapa percobaan pendakian di atas Base Camp sebagai bagian dari aklimatisasi. Rob mengumumkan bahwa aklimatisasi pertama akan dilakukan pada 13 April---dengan melakukan perjalanan satu hari ke Camp Satu yg terletak di puncak teratas Jeram Es Khumbu, kurang lebih pada setengah mil vertikal di atas Base Camp.
Malam hari pada 12 April, tepat pada hari ulang tahunku yg keempat puluh dua, kami menyiapkan semua peralatan mendaki. Perkemahan kami lebih mirip dengan tempat penyelenggaraan bazaar saat kami menebarkan peralatan diantara batu-batu besar untuk memilih pakaian, menyetel pelana tubuh harness (pelana tubuh yg biasa dikenakan para pendaki gunung, dipasang pada bagian pinggang dan panggul), tali pengaman dan menyetel crampon (rangka logam berpaku yg bisa dipasang dibawah sepatu gunung, dipakai untuk mencengkeram permukaan es) pada sepatu kami. Aku terkejut sekaligus cemas melihat Beck, Stuart dan Lou mengeluarkan sepatu gunung yg masih benar-benar baru, yg menurut pengakuan mereka hampir-hampir tidak pernah dipakai. Aku tidak tahu apakah mereka memahami resiko yg dihadapi pendaki yg memakai sepatu baru. Dua dekade lalu aku pernah mengalami peristiwa buruk saat mendaki dengan menggunakan sepatu baru karena sepatu mendaki gunung yg berat dan kaku bisa melukai kaki sebelum sepatu itu nyaman dipakai.
Stuart, kardiolog muda dari Kanada,mendapati bahwa ukuran cramponnya sama sekali tidak sesuai dengan sepatunya. Untung kotak peralatan Rob cukup lengkap, dengan sedikit improvisasi, Rob berhasil membuat tali khusus sehingga crampon tersebut bisa dipakai.
Saat mengisi ransel punggungku untuk perjalanan esok hari, aku juga mendapati bahwa, karena tuntutan keluarga dan karier, beberapa rekan satu timku tidak mempunyai kesempatan untuk mendaki lebih dari satu atau dua kali sepanjang tahun lalu. Meskipun kondisi fisik mereka tampak prima, keadaan memaksa mereka untuk melakukan latihan fisik dengan bantuan StairMaster atau treadmill, bukan mendaki gunung yg sesungguhnya. Aku sedikit ragu. Kondisi fisik merupakan komponen penting saat mendaki gunung, tetapi ada elemen-elemen yg lain yg juga penting yg tidak bisa dilatih didalam ruangan.
Barangkali aku saja yg sombong,pikirku mencela diri sendiri. Bagaimanapun kondisi fisik mereka, tampak jelas bahwa mereka semua sangat bersemangat menunggu hari esok, dan menjejakkan crampon mereka diatas gunung yg sesungguhnya.
Rute kami menuju puncak akan melewati Gletser Khumbu sampai setengah badan gunung. Mulai bergschrund* yg terletak diketinggian 23.000 kaki dan merupakan titik awal dari Gletser Khumbu, sungai es yg besar ini mengalir sepanjang dua setengah mil melewati sebuah lembah yg relatif landai yg dinamai Lembah Cwm Barat. Ketika sungai es itu mengalir perlahan melewati tonjolan lereng bukit dan kemudian menukik ke dalam Lembah Cwm yg berada di bawahnya, dia pecah menjadi retakan-retakan vertikal kecil---celah gletser---yg tak terhitung jumlahnya. Beberapa celah gletser itu cukup sempit untuk dilangkahi; tetapi beberapa celah gletser lebarnya bisa mencapai delapan puluh kaki dengan kedalaman lebih dari 100 kami dan panjang dari ujung ke ujung mencapai setengah mil. Celah-celah gletser yg lebar seperti ini menghambat dan menyulitkan pendakian, terutama jika celah gletser tersebut tersembunyi dibawah lapisan salju yg keras---mereka bisa menimbulkan bencana yg serius. Namun, celah-celah gletser di Cwm ini merupakan tantangan yg dari tahun ke tahun dapat diduga dan diatasi.
Tidak demikian halnya dengan Jeram Es. Tidak ada tempat lain di Jalur Selatan yg lebih ditakuti oleh para pendaki. Pada ketinggian sekitar 20.000 kaki, gletser tersebut muncul dari ujung lembah Cwm dan tiba-tiba menukik tajam. Inilah Jeram Es Khumbu yg sangat berbahaya, jalur yg menuntut keahlian teknik mendaki yg paling tinggi diseluruh rute pendakian.
Kecepatan aliran gletser di Jeram Khumbu berkisar antara tiga atau empat kaki perhari. Saat sungai es ini mengalir melewati lereng yg terjal dan bergelombang dengan kecepatan yg tidak teratur, massa es akan terpecah menjadi pecahan-pecahan besar yg disebut serac, beberapa diantaranya bisa berukuran sebesar rumah. Karena rute pendakian dijalin dibawah, mengelilingi atau diantara ratusan menara yg tidak stabil ini, pendakian melalui Jeram Es ini hampir menyerupai sebuah permainan rolet Rusia: cepat atau lambat, sebuah serac bisa saja jatuh tanpa peringatan lebih dulu, dan Anda hanya bisa berharap tidak berada dibawahnya saat dia jatuh. Sejak 1963, ketika salah seorang rekan Hornbein dan Unsoeld bernama Jake Breitenbach hancur tertimpa serac yg jatuh, sudah delapan belas pendaki yg mati ditempat ini.
Musim dingin lalu, seperti yg selalu dilakukan pada musim-musim dingin sebelumnya, Hall berkonsultasi dengan semua pemimpin ekspedisi yg berencana mendaki Everest pada musim semi, dan mereka bersepakat untuk membangun dan merawat sebuah rute pendakian yg melewati Jeram Es tersebut. Untuk semua jerih payah itu, tim yg membangun rute pendakian akan menerima 2.200 dollar dari setiap tim lain yg mendaki gunung dengan menggunakan fasilitas mereka. Baru beberapa tahun terakhir ini kerja sama itu diterima dan disetujui meskipun belum mendunia.
Tim ekspedisi pertama yg berpikir untuk meminta bayran dari tim lain yg menggunakan jalur yg mereka buat adalah sebuah tim kaya raya dari Amerika Serikat, yaitu pada 1988 ketika mereka mengumumkan bahwa setiap tim ekspedisi yg berniat menggunakan lintasan tali yg mereka buat sampai ke Jeram Es harus membayar 2.000 dollar. Beberapa tim lain yg sama-sama mendaki pada tahun itu tidak bisa memahami bahwa Everest bukan lagi sekedar gunung melainkan sebuah komoditi, dan mereka benar-benar marah. Protes paling keras muncul dari Rob Hall yg saat itu sedang memimpin sebuah tim kecil dan miskin dari Selandia Baru.
Hall menuduh orang Amerika "merusak semangat pendakian" dan menerapkan praktik pemerasan yg memalukan, tetapi Jim Frush, pengacara yg memimpin tim Amerika tersebut, sama sekali bergeming. Meskipun sangat marah, Hall akhirnya setuju untuk mengirimkan cek kepada Jim Frush dan dia diijinkan mendaki dengan menggunakan rute mereka sampai ke Jeram Es. (Frush melaporkan kemudian bahwa Hall tidak pernah melunasi utangnya.)
Akan tetapi dua tahun kemudian, sikap Hall berubah 180 derajat dan memahami logika untuk memperlakukan Jeram Es sebagai sarana pendakian. Bahkan, sejak 1993 sampai 1995 dia sendiri menawarkan untuk membuat rute tersebut dan menarik biaya dari tim lain yg menggunakannya. Musim semi 1996, Hall melepaskan tanggung jawabnya untuk membuat dan memelihara rute tersebut, tetapi dia siap untuk membayar kepada pemimpin ekspedisi komersial* yg juga pesaingnya---seorang veteran pendaki Everest berkebangsaan Skotlandia bernama Mal Duff---yg mengambil alih tugas tersebut. Jauh sebelum kami tiba di Base Camp, sekelompok Sherpa yg dipekerjakan oleh Duff telah membuat jalur zigzag melewati bongkahan-bongkahan serac, memasang rentangan tali sepanjang lebih dari satu mil dan memasang enam puluh tangga alumunium diatas celah-celah gletser yg menganga. Tangga-tangga alumunium tersebut milik sekelompok warga Sherpa dari Desa Gorak Shep yg memperoleh keuntungan besar setiap musimnya hanya dari menyewakan tangga.
Pada hari Sabtu, 13 April, pukul 04.45 pagi, aku mendapati diriku berdiri di kaki Jeram Es yg ternama itu, mencengkeramkan cramponku ditengah keremangan udara fajar yg dingin.
Para pendaki tua yg menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendaki akan menasehati anak didiknya untuk mendengarkan dengan cermat suara batinnya agar tetap bisa bertahan hidup. Cukup banyak cerita tentang pendaki yg memutuskan untuk tetap tinggal dikantong tidurnya setelah mendengar bisikan hati yg kurang menyenangkan, dan kemudian terhindar dari bencana yg menimpa rekan-rekan mereka yg mengabaikan isyarat tersebut.
Aku tidak pernah meragukan pentingnya isyarat bawah sadar. Ketika aku sedang menunggu Rob Hall untuk memimpin kami, permukaan es yg kuinjak mengeluarkan suara derak yg cukup keras, seperti pohon kecil yg sedang dibelah dua, dan aku bergidik setiap kali merasakan gerakan dan getaran dari sungai es yg bergerak jauh didalam sana. Masalahnya, suara batinku selalu memberi isyarat yg bernada pesimis: yg terus menerus berteriak , bahwa aku akan segera mati, dan isyarat seperti itu selalu muncul setiap aku mengikat tali sepatu gunung dan siap untuk mendaki. Oleh karenanya, aku berjuang keras untuk mengabaikan imajinasiku yg berlebihan dan dengan muram mengikuti Rob memasuki labirin biru yg menakutkan itu.
Meskipun aku belum pernah melihat sebuah jeram es yg lebih menakutkan dari Jeram Khumbu, aku sudah pernah mendaki beberapa jeram es yg lain. Jalur pendakian disekitar jeram-jeram seperti itu kebanyakan jalur vertikal atau jalur yg saling bertumpuk yg hanya bisa ditundukkan denga keterampilan tinggi dalam menggunakan kapak es dan crampon. Disekitar jeram Es Khumbu, jalur yg terjal dan tertutup es memang banyak dijumpai, tetapi disini tempat-tempat seperti itu sudah dipenuhi oleh puluhan tangga, tali atau kombinasi tangga dan tali sehingga peralatan dan tekhnik pendakian es yg konvensional sama sekali tidak berguna.
Dengan cepat aku belajar bahwa di Everest, seutas tali---alat bantu yg paling umum bagi seorang pendaki---tidak digunakan sebagaimana lazimnya. Dalam pendakian tradisional , seorang pendaki akan diikat pada satu atau dua rekannya melalui seutas tali yg panjangnya kira-kira 150 kaki sehingga setiap pendaki bertanggung jawab langsung atas hidup mati rekannya yg lain; mengikatkan tali dengan cara seperti ini merupakan tindakan yg serius dan sangat intim. Akan tetapi, di Jeram Es ini, setiap pendaki diharapkan untuk mendaki secara indipenden, tanpa terikat kepada pendaki lain.
Para Sherpa yg dipekerjakan oleh Mal Duff sudah memasang lintasan tali mulai dasar Jeram Es sampai ke puncaknya. Dipinggangku aku membawa harness sepanjang tiga kaki dengan sebuah cincin kait atau karabiner diujungnya. Untuk pengamanan, aku tidak mengaitkan diriku kepada seorang rekan pendaki tetapi pada rentangan tali yg sudah tersedia dan terus menarik diriku sampai ke ujung lintasan tali. Dengan cara ini kami bisa dengan cepat melewati jalur yg paling berbahaya disekitar Jeram Es tersebut tanpa perlu menggantungkan keselamatan kami kepada rekan-rekan lain yg keahlian dan pengalamannya belum diketahui. Ternyata, selama pendakian di Everest tidak sekalipun aku harus mengikatkan diriku kepada pendaki yg lain.
Meskipun jalur pendakian disekitar Jeram Es tidak banyak membutuhkan teknik-teknik mendaki tradisional, ditempat ini kami membutuhkan keahlian khusus yg lain---misalnya, berjalan jinjit dengan memakai sepatu gunung yg sudah dipasangi crampon melewati tiga buah tangga alumunium yg disambung dengan tali, tangga yg terus bergoyang-goyang saat dilewati dan dipasang diatas celah gletser yg menganga. Jembatan seperti itu ada beberapa buah, dan aku tidak pernah terbiasa melewatinya.
Suatu hari menjelang fajar, aku sedang meniti tangga sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhku diatas tangga yg bergoyang-goyang, melangkah dengan hati-hati dari satu anak tangga ke anak tangga yg lain. Tiba-tiba permukaan es tempat ujung tangga itu bersandar mulai bergetar seakan-akan ada gempa bumi. Beberapa saat kemudian terdengar suara dentuman keras, sebuah serac besar yg berada tidak jauh diatasku meluncur ke bawah. Tubuhku seperti membeku, jantungku seakan-akan terlepas, tetapi longsoran es itu hanya lewat kira-kira lima puluh kaki disebelah kiriku, menghilang dari pandangan, tanpa menimbulkan kerusakan. Setelah menunggu beberapa menit untuk mengembalikan semangatku, aku meneruskan mendaki melewati lintasan tangga yg terus bergoyang-goyang itu sampai ke ujungnya.
Sungai es yg terus mengalir yg kadang-kadang bergejolak ikut menambah elemen ketidak pastian pada setiap pendakian melewati tangga. Saat sungai es itu bergerak, celah-celah gletser yg kami lewati kadang-kadang mengecil sehingga menekan tangga-tangga yg kami lewati hingga tampak seperti tusuk gigi; pada saat lain, celah gletser itu bisa merenggang sehingga untaian tangga bergelantungan diudara tanpa penopang yg kukuh dikedua sisinya. Selain itu, permukaan tempat jangkar* yg mencengkeram tangga dan tali-tali itu sering kali merenggang jika matahari sore mencairkan es dan salju disekelilingnya. Meskipun dirawat setiap hari, setiap tali bisa saja menjadi rapuh kemudian putus saat menahan berat tubuh. Anehnya, meskipun sulit didaki dan sangat menakutkan, Jeram Es itu memiliki daya tarik tersendiri. Ketika sinar matahari fajar menghalau kegelapan dari langit, sungai es yg terpecah-pecah itu menampilkan pemandangan alam tiga dimensi yg keindahannya benar-benar memukau. Temperatur udara berkisar antara enam derajat Fahrenheit. Suara sepatu esku yg menghunjam permukaan sungai es terasa melegakan. Lintasan tali membawaku bergerak meliuk-liuk melewati barisan stalagmit vertikal berwarna biru kristal. Tonjolan-tonjolan batu yg sangat besar dan tertutup es menghiasi kedua sisi sungai es, bagaikan bahu seorang dewa yg kejam. Terpesona oleh keadaan sekelilingku dan sulitnya jalur yg kulalui, aku tenggelam ditengah kegembiraan yg bebas, dan selama satu atau dua jam, aku melupakan ketakutanku.
*Sejak upaya penaklukan Everest yg pertama, hampir semua ekspedisi---baik yg komersial maupun non komersial---selalu mengandalkan bantuan para Sherpa untuk mengangkut sebagian besar perbekalan diatas gunung. Namun, sebagai klien dari sebuah ekspedisi yg dipandu, kami sama sekali tidak membawa beban kecuali sedikit perlengkapan pribadi, dan hal ini, kami sangat berbeda dengan ekspedisi nonkomersial pada masa lampau
*Bergschrund adalah celah yg sangat dalam yg merupakan terminal atas dari sebuah es; bergschrund terbentuk ketika bongkahan es meluncur dari lereng yg lebih curam yg terletak langsung diatasnya, menimbulkan celah besar antara gletser dan batuan.
*Meskipun aku menggunakan kata "komersial" untuk setiap ekspedisi yg bertujuan mencari keuntungan, tetapi tidak semua ekspedisi komersial memiliki pemandu. Misalnya, Mal Duff---yg menetapkan tarif kurang dari 65.000 dollar untuk setiap klien, berarti lebih rendah dari tarif yg ditawarkan oleh Hall dan Fischer---menawarkan pemimpin ekspedisi dan prasarana penting yg dibutuhkan untuk mendaki Everest (makanan, tenda, oksigen botol, rentangan tali, tenaga pendukung warga Sherpa dan sebagainya), tetapi tidak menyediakan pemandu; para pendaki yg tergabung dalam timnya dianggap memiliki keahlian cukup untuk mendaki dengan selamat sampai di Puncak Everest dan kembali lagi ke bawah.
*Jangkar: tiang alumunium sepanjang tiga kaki dan lazim disebut picket akan mengunci tali dan tangga alumunium ke lereng es; jika permukaan disekitar jangkar tertutup oleh lapisan es yg keras, digunakan "sekrup es" : sebuah pipa kosong dan tipis sepanjang sepuluh inchi yg diputar masuk kedalam permukaan gletser yg membeku.
Bersambung......
Setelah menempuh tiga perempat perjalanan menuju Camp Satu, ketika kami sedang beristirahat sejenak, Hall mengatakan bahwa kondisi Jeram Es kali ini lebih baik daripada sebelumnya, "Pada musim pendakian ini, jalur yg kita lalui benar-benar bebas hambatan." Namun hanya beberapa kaki ke atas, pada ketinggian 19.000 kaki, lintasan tali membawa kami ke bawah sebuah badan serac yg sangat besar dan sangat berbahaya. Serac yg tingginya sama dengan bangunan dua belas tingkat tersebut berada tepat diatas kepala kami, bergantung dengan kemiringan 30 derajat. Jalur pendakian di tempat itu sangat sempit dan terjal denga lapisan yg saling bertumpuk: kami harus naik melewati menara yg miring ini agar bisa terhindar dari ancaman yg beratnya puluhan ton tersebut.
Keselamatan disini sangat bergantung pada kecepatan, pikirku. Aku bergerak dengan cepat agar bisa sampai dipuncak serac yg relatif aman, tetapi karena tubuhku belum beraklimatisasi, kecepatan gerakku tidak lebih dari kecepatan orang yg merangkak. Setiap empat atau lima langkah aku harus berhenti, bersandar pada tali, dan mencoba menghirup udara pahit, yg tipis oksigen, membuat paru-paruku seperti terbakar.
Ketika aku tiba dipuncaknya, serac itu masih tetap berada ditempatnya. Aku tergeletak kelelahan dipuncak serac yg datar, jantungku berdetak keras seperti bunyi mesin pengeras tanah. Beberapa saat kemudian sekitar pukul 08.30 pagi aku tiba dipuncak Jeram Es Khumbu, diatas serac yg terakhir. Suasana aman Camp Satu tidak mampu menenangkanku: aku terus memikirkan serac miring yg berada tidak jauh dibawahku, memikirkan bahwa aku harus melewati serac besar yg sewaktu-waktu bisa jatuh itu sedikitnya tujuh kali lagi sebelum aku bisa mencapai puncak Everest. Pendaki yg pernah mencibir dan merendahkan rute ini sebagai Rute Yak, pikirku, jelas belum pernah melewati Jeram Es Khumbu.
Sebelum meninggalkan Base Camp, Rob menjelaskan kepada kami semua bahwa kami akan turun kembali tepat pada pukul 10.00 pagi meskipun belum seluruh anggota tim tiba di Camp Satu, supaya kami bisa tiba di Base Camp sebelum matahari siang yg membuat Jeram Es makin tidak stabil. Pada waktu yg sudah ditentukan, hanya Rob, Frank Fischbeck, John Taske, Doug Hansen dan aku sendiri yg berhasil mencapai Camp Satu; Yasuko Namba, Stuart Hutchison, Beck Weathers dan Lou Kasischke yg dipandu leh Mike Groom dan Andy Harris, masih berada 200 kaki dibawah perkemahan ketika Rob menghidupkan radio dan meminta semua orang untuk turun kembali.
Untuk pertama kalinya kami bisa mengamati dan menaksir kekuatan dan kelemahan rekan-rekan dengan siapa kami harus saling bergantung selama beberapa minggu ke depan. Doug dan John yg memasuki usia lima puluh enam---anggota tim yg paling tua--masih tampak segar. Namun penampilan Frank, penerbit dari Hongkong yg sopan dan lemah lembut, benar-benar mengesankan; pengalaman yg diperolehnya dari tiga pendakian ke Everest benar-benar tampak sejak awal pendakian. Frank bergerak lambat tetapi pasti, ketika tiba di puncak Jeram Es, diam-diam dia berhasil melewati kami semua, sama sekali tidak tampak terengah-engah.
Sebaliknya, Stuart---anggota tim termuda dan kelihatan paling kuat--- yg keluar dari Base Camp mendahului anggota tim yg lain, dengan cepat tampak kelelahan, dan saat tiba dipuncak Jeram Es, dia berada jauh dibelakang pendaki lain. Lou, yg gerakannya terhambat karena otot kakinya terluka pada hari pertama perjalanan menuju Base Camp, mendaki dengan lambat tetapi kompeten. Sebaliknya, Beck dan terutama Yasuko, tampak kelelahan.
Beberapa kali, Beck dan Yasuko harus menghadapi bahaya karena hampir terjatuh dari lintasan tangga dan masuk kedalam celah gletser, dan Yasuko sepertinya kurang memahami cara menggunakan crampon*. Sepanjang pagi itu, Andy yg ternyata seorang guru yg berbakat dan sabar---dalam posisinya sebagai pemandu junior ditugasi untuk membantu pendaki yg paling lamban dan paling belakang---terus mengajari Yasuko tentang beberapa teknik dasar mendaki es.
Apa pun kekurangan masing-masing anggota tim, dipuncak Jeram Es, Rob mengumumkan bahwa dia puas melihat penampilan semua orang."Mengingat ini pendakian pertama kalian diatas Base Camp, penampilan kalian hari ini benar-benar baik," katanya seperti seorang ayah yg bangga. "Aku pikir, tim aku tahun ini cukup tanggguh."
Dibutuhkan satu jam lebih untuk turun kembali ke Base Camp. Ketika aku selesai melepaskan cramponku dan berjalan beberapa ratus meter ke perkemahan, sinar matahari yg terik seakan-akan siap melubangi ubun-ubun kepalaku. Beberapa menit kemudian, ketika aku sedang mengobrol dengan Helen dan Chhongba diperkemahan, tiba-tiba saja aku terserang sakit kepala yg sangat hebat. Belum pernah aku merasakan sakit kepala seperti itu: rasa sakit yg meremukkan pelipis---rasa sakit yg sedemikian parah, juga mual, yg bahkan membuatku tidak mungkin berbicara dengan benar. Oleh karena takut terserang semacam penyakit tekanan darah tinggi, aku menghentikan percakapan, berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju kantong tidurku, kemudian berbaring sambil menutup kedua mataku dengan topi.
Sakit kepala yg menyerangku terasa sangat menusuk seperti migrain, dan aku tidak tahu penyebabnya. Aku ragu-ragu bahwa penyakitku merupakan dampak ketinggian karena sakit kepala seperti ini baru menyerangku setelah aku tiba di Base Camp. Kemungkinan ini merupakan reaksi dari radiasi ultraviolet yg sangat kuat yg telah membakar retinaku dan memanggang otakku. Apapun penyebabnya, rasa sakit yg ditimbulkannya benar-benar menyiksa dan tidak kenal kasihan. Selama lima jam aku terbaring ditendaku, menghindari setiap rangsangan indrawi. Jika aku membuka mata, atau bahkan membalikkan tubuh dari satu sisi ke sisi lain meskipun mataku tetap tertutup, rasa sakit yg amat sangat membuat tubuhku seperti terlonjak. Ketika matahari terbenam, karena tidak mampu lagi menahan rasa sakit, aku berjalan terhuyung-huyung ke kemah medis untuk meminta saran Caroline, dokter ekspedisi.
Dia memberiku analgesik (pengurang rasa sakit) yg kuat dan memintaku untuk minum air, tetapi setelah beberapa teguk aku malah memuntahkan pil, air yg kuminum dan sisa-sisa makan siangku. "Hmm," gumam Caro setelah mengamati muntahanku, "sepertinya kita perlu mencoba obat yg lain." Aku diminta untuk melarutkan sebutir pil kecil dibawah lidahku, yg menahanku agar tidak muntah lagi, dan kemudian minum dua pil kodein. Sejam kemudian, rasa sakit yg kurasakan mulai sirna. Hampir menangis karena lega, aku pun mulai tertidur.
Aku masih setengah tertidur dalam kantong tidurku sambil mengamati sinar matahari yg memantulkan bayangan ke dinding tenda, ketika aku mendengar Helen berteriak, "Jon! Telepon dari Linda!" Aku merenggut sepasang sendal dan berlari kurang lebih lima puluh meter menuju kemah komunikasi, meraih gagang telepon sambil berusaha keras untuk menarik napas.
Ukuran mesin faksimile dan telepon satelit kami tidak lebih besar daripada sebuah laptop. Sambungan telepon / faksimile ke tempat ini sangat mahal---kira-kira lima dollar permenit--- dan salurannya tidak selalu jernih, tetapi fakta bahwa istriku berhasil memutar tiga belas digit nomor dari Seattle dan berbicara denganku di Gunung Everest ini sungguh mengagumkan. Meskipun telepon itu sangat menghiburku, nada pasrah dalam suaranya terdengar nyata bahkan ketika kami berdua berada diujung yg berlawanan dari bola dunia."Aku baik-baik saja," katanya meyakinkanku, "tapi aku berharap kamu ada disini."
Delapan belas hari yg lalu, saat mengantarku ke pesawat yg akan membawaku ke Nepal, Linda menangis. "Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah," katanya, "Aku tidak bisa berhenti menangis. Mengucapkan selamat berpisah kepadamu adalah hal paling menyedihkan yg pernah kulakukan. Kukira pada titik tertentu aku menyadari bahwa kamu mungkin tidak akan kembali, dan itu hanya untuk sesuatu yg tampaknya sia-sia. Aku merasa kamu melakukan sesuatu yg sangat bodoh dan tidak berguna.
Kami sudah menikah selama lima belas setengah tahun. Hanya seminggu setelah berbicara tentang pernikahan, kami berdua datang kekantor catatan sipil dan langsung menikah. Waktu itu usiaku baru dua puluh enam tahun dan baru saja memutuskan untuk berhenti mendaki dan bersungguh-sungguh menjalani kehidupan.
Waktu aku bertemu Linda untuk pertama kalinya, dia juga seorang pendaki---pendaki yg sangat berbakat---tetapi dia mengundurkan diri setelah pergelangan tangannya patah dan punggungnya terluka, dan kemudian mempertimbangkan dengan kepala dingin resiko yg terkait dengan kegiatan mendaki gunung. Linda tidak akan pernah memintaku untuk meninggalkan kegiatan ini, tetapi ketika kukatakan bahwa aku akan meninggalkan dunia petualangan ini, keyakinannya untuk menikah denganku semakin besar. Aku hanya tidak menyadari bahwa mendaki telah mencengkeram jiwaku, bahwa tanpa mendaki kehidupanku terasa seakan-akan tanpa kemudi.Aku tidak mengantisipasi kekosongan yg akan kurasakan tanpa mendaki Setahun kemudian, diam-diam aku mengeluarkan peralatan mendaki dari gudangku dan kembali ke gunung. Pada 1984, ketika aku berangkat ke Swiss untuk mendaki Eiger Nordwand, sebuah puncak gunung yg sangat berbahaya, perkawinanku dengan Linda hampir berakhir, dan mendaki gunung merupakan inti penyebabnya.
Setelah gagal mendaki Eiger, perkawinan kami tetap goyah selama dua atau tiga tahun, tetapi kami masih mampu bertahan. Akhirnya, Linda bisa menerima kegiatanku mendaki: mendaki merupakan satu bagian penting (meskipun membingungkan) dari diriku. Mendaki, demikian pemahaman Linda, merupakan ungkapan penting dari aspek yg aneh tetapi melekat pada kepribadianku, yg tidak bisa ku ubah, seperti aku tidak bisa mengubah warna mataku. Lalu, ditengah-tengah penyesuaian itulah, majalah Outside memutuskan untuk mengirimku ke Everest.
Awalnya aku berpura-pura bahwa peranku sebagai wartawan lebih penting daripada peranku sebagai pendaki---bahwa aku menerima penugasan ini karena komersialisasi Everest merupakan topik yg sangat menarik, dan uang yg kuperoleh pun cukup lumayan. Aku jelaskan kepada Linda dan orang-orang yg meragukan kemampuanku mendaki Himalaya. "Barangkali aku hanya akan mendaki sedikit lebih tinggi daripada Base Camp," kataku ngotot. ""Hanya untuk mengalami sendiri, bagaimana rasanya berada ditempat yg sangat tinggi."
Tentu saja semua itu cuma omong kosong. Mengingat lamanya perjalanan ini dan waktu yg sudah kuhabiskan untuk pelatihan, dengan tinggal dirumah dan menerima penugasan lain aku bisa memperoleh lebih banyak uang. Aku menerima penugasan ini karena aku sudah berada dalam genggaman mistis Everest. Kenyataannya, aku ingin mendaki gunung itu lebih dari apapun yg pernah kuinginkan dalam hidupku. Sejak pertama aku setuju untuk pergi ke Nepal, aku berniat untuk mendaki sejauh kaki dan paru-paruku bisa membawaku.
Saat Linda mengantarku ke bandara, dia sudah memahami kepura-puraanku. Dia memahami keinginanku yg sesungguhnya, dan itu membuatnya takut. "Jika kamu mati," katanya dengan marah bercampur putus asa, "bukan cuma kamu yg harus menanggungnya. Aku juga harus menanggungnya seumur hidupku, dan kamu tahu itu. Apakah itu sama sekali tidak berarti bagimu?"
"Aku tidak akan mati," jawabku." Jangan berlebihan."
*Meskipun Yasuko pernah menggunakan sepatu paku (crampon) saat dia mendaki Aconcagua, McKinley, Elbrus dan Vinson Masif, pendakian ditempat-tempat tersebut tidak bisa sepenuhnya disebut pendakian gunung es. Medan pendakian di keempat gunung tersebut umumnya merupakan lereng es yg landai dan atau batuan reruntuhan yg lepas seperti batu kerikil
Bersambung......
Mendaki Everest merupakan proses yg panjang dan berat, lebih menyerupai sebuah proyek konstruksi yg sangat besar daripada kegiatan mendaki seperti yg kukenal selama ini. Jika semua Sherpa yg bekerja sebagai pembantu dihitung, jumlah seluruh anggota tim ekspedisi Hall mencapai dua puluh enam orang; dan memberi makan,penginapan serta menjaga kesehatan orang sebanyak itu pada ketinggian 17.600 kaki, seratus mil jalan kaki dari jalan terdekat, sama sekali bukan pekerjaan mudah. Namun, Hall benar-benar seorang pemimpin ekspedisi yg tidak ada tandingannya, dan dia menikmati semua tantangan itu. Di Base Camp dia mencetak ratusan lembar daftar perincian logistik: menu, suku cadang, peralatan, obat-obatan,perangkat keras untuk komunikasi, jadwal pengiriman barang, jadwal ketersediaan yak. Sebagai teknisi dengan bakat alamiah, Hall benar-benar menyukai infrastruktur, elektronik dan berbagai jenis alat pertukangan; waktu luangnya dihabiskan untuk mengutak-atik sistem listrik tenaga surya atau membaca buku-buku Popular Science.
Dalam tradisi George Leigh Mallory dan kebanyakan pendaki Everest lainnya, strategi Hall bisa dianggap sebagai pengepungan terhadap gunung itu. Secara bertahap, para Sherpa membangun empat perkemahan diatas Base Camp---setiap perkemahan berjarak 2.000 kaki diatas perkemahan yg lain---kemudian mengirimkan makanan, minyak goreng, dan tabung oksigen dalam jumlah besar dari perkemahan yg satu ke perkemahan yg lain sampai semua bahan yg dibutuhkan berhasil ditimbun pada ketinggian 26.000 kaki di Jalur Selatan. Jika semua rencana Hall berjalan lancar, perjalanan terakhir menuju puncak akan dilakukan dari perkemahan tertinggi---Camp Empat---sebulan kemudian.
Meskipun kami para kliennya tidak akan diminta untuk membawa beban*, kami harus melakukan beberapa percobaan pendakian di atas Base Camp sebagai bagian dari aklimatisasi. Rob mengumumkan bahwa aklimatisasi pertama akan dilakukan pada 13 April---dengan melakukan perjalanan satu hari ke Camp Satu yg terletak di puncak teratas Jeram Es Khumbu, kurang lebih pada setengah mil vertikal di atas Base Camp.
Malam hari pada 12 April, tepat pada hari ulang tahunku yg keempat puluh dua, kami menyiapkan semua peralatan mendaki. Perkemahan kami lebih mirip dengan tempat penyelenggaraan bazaar saat kami menebarkan peralatan diantara batu-batu besar untuk memilih pakaian, menyetel pelana tubuh harness (pelana tubuh yg biasa dikenakan para pendaki gunung, dipasang pada bagian pinggang dan panggul), tali pengaman dan menyetel crampon (rangka logam berpaku yg bisa dipasang dibawah sepatu gunung, dipakai untuk mencengkeram permukaan es) pada sepatu kami. Aku terkejut sekaligus cemas melihat Beck, Stuart dan Lou mengeluarkan sepatu gunung yg masih benar-benar baru, yg menurut pengakuan mereka hampir-hampir tidak pernah dipakai. Aku tidak tahu apakah mereka memahami resiko yg dihadapi pendaki yg memakai sepatu baru. Dua dekade lalu aku pernah mengalami peristiwa buruk saat mendaki dengan menggunakan sepatu baru karena sepatu mendaki gunung yg berat dan kaku bisa melukai kaki sebelum sepatu itu nyaman dipakai.
Stuart, kardiolog muda dari Kanada,mendapati bahwa ukuran cramponnya sama sekali tidak sesuai dengan sepatunya. Untung kotak peralatan Rob cukup lengkap, dengan sedikit improvisasi, Rob berhasil membuat tali khusus sehingga crampon tersebut bisa dipakai.
Saat mengisi ransel punggungku untuk perjalanan esok hari, aku juga mendapati bahwa, karena tuntutan keluarga dan karier, beberapa rekan satu timku tidak mempunyai kesempatan untuk mendaki lebih dari satu atau dua kali sepanjang tahun lalu. Meskipun kondisi fisik mereka tampak prima, keadaan memaksa mereka untuk melakukan latihan fisik dengan bantuan StairMaster atau treadmill, bukan mendaki gunung yg sesungguhnya. Aku sedikit ragu. Kondisi fisik merupakan komponen penting saat mendaki gunung, tetapi ada elemen-elemen yg lain yg juga penting yg tidak bisa dilatih didalam ruangan.
Barangkali aku saja yg sombong,pikirku mencela diri sendiri. Bagaimanapun kondisi fisik mereka, tampak jelas bahwa mereka semua sangat bersemangat menunggu hari esok, dan menjejakkan crampon mereka diatas gunung yg sesungguhnya.
Rute kami menuju puncak akan melewati Gletser Khumbu sampai setengah badan gunung. Mulai bergschrund* yg terletak diketinggian 23.000 kaki dan merupakan titik awal dari Gletser Khumbu, sungai es yg besar ini mengalir sepanjang dua setengah mil melewati sebuah lembah yg relatif landai yg dinamai Lembah Cwm Barat. Ketika sungai es itu mengalir perlahan melewati tonjolan lereng bukit dan kemudian menukik ke dalam Lembah Cwm yg berada di bawahnya, dia pecah menjadi retakan-retakan vertikal kecil---celah gletser---yg tak terhitung jumlahnya. Beberapa celah gletser itu cukup sempit untuk dilangkahi; tetapi beberapa celah gletser lebarnya bisa mencapai delapan puluh kaki dengan kedalaman lebih dari 100 kami dan panjang dari ujung ke ujung mencapai setengah mil. Celah-celah gletser yg lebar seperti ini menghambat dan menyulitkan pendakian, terutama jika celah gletser tersebut tersembunyi dibawah lapisan salju yg keras---mereka bisa menimbulkan bencana yg serius. Namun, celah-celah gletser di Cwm ini merupakan tantangan yg dari tahun ke tahun dapat diduga dan diatasi.
Tidak demikian halnya dengan Jeram Es. Tidak ada tempat lain di Jalur Selatan yg lebih ditakuti oleh para pendaki. Pada ketinggian sekitar 20.000 kaki, gletser tersebut muncul dari ujung lembah Cwm dan tiba-tiba menukik tajam. Inilah Jeram Es Khumbu yg sangat berbahaya, jalur yg menuntut keahlian teknik mendaki yg paling tinggi diseluruh rute pendakian.
Kecepatan aliran gletser di Jeram Khumbu berkisar antara tiga atau empat kaki perhari. Saat sungai es ini mengalir melewati lereng yg terjal dan bergelombang dengan kecepatan yg tidak teratur, massa es akan terpecah menjadi pecahan-pecahan besar yg disebut serac, beberapa diantaranya bisa berukuran sebesar rumah. Karena rute pendakian dijalin dibawah, mengelilingi atau diantara ratusan menara yg tidak stabil ini, pendakian melalui Jeram Es ini hampir menyerupai sebuah permainan rolet Rusia: cepat atau lambat, sebuah serac bisa saja jatuh tanpa peringatan lebih dulu, dan Anda hanya bisa berharap tidak berada dibawahnya saat dia jatuh. Sejak 1963, ketika salah seorang rekan Hornbein dan Unsoeld bernama Jake Breitenbach hancur tertimpa serac yg jatuh, sudah delapan belas pendaki yg mati ditempat ini.
Musim dingin lalu, seperti yg selalu dilakukan pada musim-musim dingin sebelumnya, Hall berkonsultasi dengan semua pemimpin ekspedisi yg berencana mendaki Everest pada musim semi, dan mereka bersepakat untuk membangun dan merawat sebuah rute pendakian yg melewati Jeram Es tersebut. Untuk semua jerih payah itu, tim yg membangun rute pendakian akan menerima 2.200 dollar dari setiap tim lain yg mendaki gunung dengan menggunakan fasilitas mereka. Baru beberapa tahun terakhir ini kerja sama itu diterima dan disetujui meskipun belum mendunia.
Tim ekspedisi pertama yg berpikir untuk meminta bayran dari tim lain yg menggunakan jalur yg mereka buat adalah sebuah tim kaya raya dari Amerika Serikat, yaitu pada 1988 ketika mereka mengumumkan bahwa setiap tim ekspedisi yg berniat menggunakan lintasan tali yg mereka buat sampai ke Jeram Es harus membayar 2.000 dollar. Beberapa tim lain yg sama-sama mendaki pada tahun itu tidak bisa memahami bahwa Everest bukan lagi sekedar gunung melainkan sebuah komoditi, dan mereka benar-benar marah. Protes paling keras muncul dari Rob Hall yg saat itu sedang memimpin sebuah tim kecil dan miskin dari Selandia Baru.
Hall menuduh orang Amerika "merusak semangat pendakian" dan menerapkan praktik pemerasan yg memalukan, tetapi Jim Frush, pengacara yg memimpin tim Amerika tersebut, sama sekali bergeming. Meskipun sangat marah, Hall akhirnya setuju untuk mengirimkan cek kepada Jim Frush dan dia diijinkan mendaki dengan menggunakan rute mereka sampai ke Jeram Es. (Frush melaporkan kemudian bahwa Hall tidak pernah melunasi utangnya.)
Akan tetapi dua tahun kemudian, sikap Hall berubah 180 derajat dan memahami logika untuk memperlakukan Jeram Es sebagai sarana pendakian. Bahkan, sejak 1993 sampai 1995 dia sendiri menawarkan untuk membuat rute tersebut dan menarik biaya dari tim lain yg menggunakannya. Musim semi 1996, Hall melepaskan tanggung jawabnya untuk membuat dan memelihara rute tersebut, tetapi dia siap untuk membayar kepada pemimpin ekspedisi komersial* yg juga pesaingnya---seorang veteran pendaki Everest berkebangsaan Skotlandia bernama Mal Duff---yg mengambil alih tugas tersebut. Jauh sebelum kami tiba di Base Camp, sekelompok Sherpa yg dipekerjakan oleh Duff telah membuat jalur zigzag melewati bongkahan-bongkahan serac, memasang rentangan tali sepanjang lebih dari satu mil dan memasang enam puluh tangga alumunium diatas celah-celah gletser yg menganga. Tangga-tangga alumunium tersebut milik sekelompok warga Sherpa dari Desa Gorak Shep yg memperoleh keuntungan besar setiap musimnya hanya dari menyewakan tangga.
Pada hari Sabtu, 13 April, pukul 04.45 pagi, aku mendapati diriku berdiri di kaki Jeram Es yg ternama itu, mencengkeramkan cramponku ditengah keremangan udara fajar yg dingin.
Para pendaki tua yg menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendaki akan menasehati anak didiknya untuk mendengarkan dengan cermat suara batinnya agar tetap bisa bertahan hidup. Cukup banyak cerita tentang pendaki yg memutuskan untuk tetap tinggal dikantong tidurnya setelah mendengar bisikan hati yg kurang menyenangkan, dan kemudian terhindar dari bencana yg menimpa rekan-rekan mereka yg mengabaikan isyarat tersebut.
Aku tidak pernah meragukan pentingnya isyarat bawah sadar. Ketika aku sedang menunggu Rob Hall untuk memimpin kami, permukaan es yg kuinjak mengeluarkan suara derak yg cukup keras, seperti pohon kecil yg sedang dibelah dua, dan aku bergidik setiap kali merasakan gerakan dan getaran dari sungai es yg bergerak jauh didalam sana. Masalahnya, suara batinku selalu memberi isyarat yg bernada pesimis: yg terus menerus berteriak , bahwa aku akan segera mati, dan isyarat seperti itu selalu muncul setiap aku mengikat tali sepatu gunung dan siap untuk mendaki. Oleh karenanya, aku berjuang keras untuk mengabaikan imajinasiku yg berlebihan dan dengan muram mengikuti Rob memasuki labirin biru yg menakutkan itu.
Meskipun aku belum pernah melihat sebuah jeram es yg lebih menakutkan dari Jeram Khumbu, aku sudah pernah mendaki beberapa jeram es yg lain. Jalur pendakian disekitar jeram-jeram seperti itu kebanyakan jalur vertikal atau jalur yg saling bertumpuk yg hanya bisa ditundukkan denga keterampilan tinggi dalam menggunakan kapak es dan crampon. Disekitar jeram Es Khumbu, jalur yg terjal dan tertutup es memang banyak dijumpai, tetapi disini tempat-tempat seperti itu sudah dipenuhi oleh puluhan tangga, tali atau kombinasi tangga dan tali sehingga peralatan dan tekhnik pendakian es yg konvensional sama sekali tidak berguna.
Dengan cepat aku belajar bahwa di Everest, seutas tali---alat bantu yg paling umum bagi seorang pendaki---tidak digunakan sebagaimana lazimnya. Dalam pendakian tradisional , seorang pendaki akan diikat pada satu atau dua rekannya melalui seutas tali yg panjangnya kira-kira 150 kaki sehingga setiap pendaki bertanggung jawab langsung atas hidup mati rekannya yg lain; mengikatkan tali dengan cara seperti ini merupakan tindakan yg serius dan sangat intim. Akan tetapi, di Jeram Es ini, setiap pendaki diharapkan untuk mendaki secara indipenden, tanpa terikat kepada pendaki lain.
Para Sherpa yg dipekerjakan oleh Mal Duff sudah memasang lintasan tali mulai dasar Jeram Es sampai ke puncaknya. Dipinggangku aku membawa harness sepanjang tiga kaki dengan sebuah cincin kait atau karabiner diujungnya. Untuk pengamanan, aku tidak mengaitkan diriku kepada seorang rekan pendaki tetapi pada rentangan tali yg sudah tersedia dan terus menarik diriku sampai ke ujung lintasan tali. Dengan cara ini kami bisa dengan cepat melewati jalur yg paling berbahaya disekitar Jeram Es tersebut tanpa perlu menggantungkan keselamatan kami kepada rekan-rekan lain yg keahlian dan pengalamannya belum diketahui. Ternyata, selama pendakian di Everest tidak sekalipun aku harus mengikatkan diriku kepada pendaki yg lain.
Meskipun jalur pendakian disekitar Jeram Es tidak banyak membutuhkan teknik-teknik mendaki tradisional, ditempat ini kami membutuhkan keahlian khusus yg lain---misalnya, berjalan jinjit dengan memakai sepatu gunung yg sudah dipasangi crampon melewati tiga buah tangga alumunium yg disambung dengan tali, tangga yg terus bergoyang-goyang saat dilewati dan dipasang diatas celah gletser yg menganga. Jembatan seperti itu ada beberapa buah, dan aku tidak pernah terbiasa melewatinya.
Suatu hari menjelang fajar, aku sedang meniti tangga sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhku diatas tangga yg bergoyang-goyang, melangkah dengan hati-hati dari satu anak tangga ke anak tangga yg lain. Tiba-tiba permukaan es tempat ujung tangga itu bersandar mulai bergetar seakan-akan ada gempa bumi. Beberapa saat kemudian terdengar suara dentuman keras, sebuah serac besar yg berada tidak jauh diatasku meluncur ke bawah. Tubuhku seperti membeku, jantungku seakan-akan terlepas, tetapi longsoran es itu hanya lewat kira-kira lima puluh kaki disebelah kiriku, menghilang dari pandangan, tanpa menimbulkan kerusakan. Setelah menunggu beberapa menit untuk mengembalikan semangatku, aku meneruskan mendaki melewati lintasan tangga yg terus bergoyang-goyang itu sampai ke ujungnya.
Sungai es yg terus mengalir yg kadang-kadang bergejolak ikut menambah elemen ketidak pastian pada setiap pendakian melewati tangga. Saat sungai es itu bergerak, celah-celah gletser yg kami lewati kadang-kadang mengecil sehingga menekan tangga-tangga yg kami lewati hingga tampak seperti tusuk gigi; pada saat lain, celah gletser itu bisa merenggang sehingga untaian tangga bergelantungan diudara tanpa penopang yg kukuh dikedua sisinya. Selain itu, permukaan tempat jangkar* yg mencengkeram tangga dan tali-tali itu sering kali merenggang jika matahari sore mencairkan es dan salju disekelilingnya. Meskipun dirawat setiap hari, setiap tali bisa saja menjadi rapuh kemudian putus saat menahan berat tubuh. Anehnya, meskipun sulit didaki dan sangat menakutkan, Jeram Es itu memiliki daya tarik tersendiri. Ketika sinar matahari fajar menghalau kegelapan dari langit, sungai es yg terpecah-pecah itu menampilkan pemandangan alam tiga dimensi yg keindahannya benar-benar memukau. Temperatur udara berkisar antara enam derajat Fahrenheit. Suara sepatu esku yg menghunjam permukaan sungai es terasa melegakan. Lintasan tali membawaku bergerak meliuk-liuk melewati barisan stalagmit vertikal berwarna biru kristal. Tonjolan-tonjolan batu yg sangat besar dan tertutup es menghiasi kedua sisi sungai es, bagaikan bahu seorang dewa yg kejam. Terpesona oleh keadaan sekelilingku dan sulitnya jalur yg kulalui, aku tenggelam ditengah kegembiraan yg bebas, dan selama satu atau dua jam, aku melupakan ketakutanku.
*Sejak upaya penaklukan Everest yg pertama, hampir semua ekspedisi---baik yg komersial maupun non komersial---selalu mengandalkan bantuan para Sherpa untuk mengangkut sebagian besar perbekalan diatas gunung. Namun, sebagai klien dari sebuah ekspedisi yg dipandu, kami sama sekali tidak membawa beban kecuali sedikit perlengkapan pribadi, dan hal ini, kami sangat berbeda dengan ekspedisi nonkomersial pada masa lampau
*Bergschrund adalah celah yg sangat dalam yg merupakan terminal atas dari sebuah es; bergschrund terbentuk ketika bongkahan es meluncur dari lereng yg lebih curam yg terletak langsung diatasnya, menimbulkan celah besar antara gletser dan batuan.
*Meskipun aku menggunakan kata "komersial" untuk setiap ekspedisi yg bertujuan mencari keuntungan, tetapi tidak semua ekspedisi komersial memiliki pemandu. Misalnya, Mal Duff---yg menetapkan tarif kurang dari 65.000 dollar untuk setiap klien, berarti lebih rendah dari tarif yg ditawarkan oleh Hall dan Fischer---menawarkan pemimpin ekspedisi dan prasarana penting yg dibutuhkan untuk mendaki Everest (makanan, tenda, oksigen botol, rentangan tali, tenaga pendukung warga Sherpa dan sebagainya), tetapi tidak menyediakan pemandu; para pendaki yg tergabung dalam timnya dianggap memiliki keahlian cukup untuk mendaki dengan selamat sampai di Puncak Everest dan kembali lagi ke bawah.
*Jangkar: tiang alumunium sepanjang tiga kaki dan lazim disebut picket akan mengunci tali dan tangga alumunium ke lereng es; jika permukaan disekitar jangkar tertutup oleh lapisan es yg keras, digunakan "sekrup es" : sebuah pipa kosong dan tipis sepanjang sepuluh inchi yg diputar masuk kedalam permukaan gletser yg membeku.
Bersambung......
Setelah menempuh tiga perempat perjalanan menuju Camp Satu, ketika kami sedang beristirahat sejenak, Hall mengatakan bahwa kondisi Jeram Es kali ini lebih baik daripada sebelumnya, "Pada musim pendakian ini, jalur yg kita lalui benar-benar bebas hambatan." Namun hanya beberapa kaki ke atas, pada ketinggian 19.000 kaki, lintasan tali membawa kami ke bawah sebuah badan serac yg sangat besar dan sangat berbahaya. Serac yg tingginya sama dengan bangunan dua belas tingkat tersebut berada tepat diatas kepala kami, bergantung dengan kemiringan 30 derajat. Jalur pendakian di tempat itu sangat sempit dan terjal denga lapisan yg saling bertumpuk: kami harus naik melewati menara yg miring ini agar bisa terhindar dari ancaman yg beratnya puluhan ton tersebut.
Keselamatan disini sangat bergantung pada kecepatan, pikirku. Aku bergerak dengan cepat agar bisa sampai dipuncak serac yg relatif aman, tetapi karena tubuhku belum beraklimatisasi, kecepatan gerakku tidak lebih dari kecepatan orang yg merangkak. Setiap empat atau lima langkah aku harus berhenti, bersandar pada tali, dan mencoba menghirup udara pahit, yg tipis oksigen, membuat paru-paruku seperti terbakar.
Ketika aku tiba dipuncaknya, serac itu masih tetap berada ditempatnya. Aku tergeletak kelelahan dipuncak serac yg datar, jantungku berdetak keras seperti bunyi mesin pengeras tanah. Beberapa saat kemudian sekitar pukul 08.30 pagi aku tiba dipuncak Jeram Es Khumbu, diatas serac yg terakhir. Suasana aman Camp Satu tidak mampu menenangkanku: aku terus memikirkan serac miring yg berada tidak jauh dibawahku, memikirkan bahwa aku harus melewati serac besar yg sewaktu-waktu bisa jatuh itu sedikitnya tujuh kali lagi sebelum aku bisa mencapai puncak Everest. Pendaki yg pernah mencibir dan merendahkan rute ini sebagai Rute Yak, pikirku, jelas belum pernah melewati Jeram Es Khumbu.
Sebelum meninggalkan Base Camp, Rob menjelaskan kepada kami semua bahwa kami akan turun kembali tepat pada pukul 10.00 pagi meskipun belum seluruh anggota tim tiba di Camp Satu, supaya kami bisa tiba di Base Camp sebelum matahari siang yg membuat Jeram Es makin tidak stabil. Pada waktu yg sudah ditentukan, hanya Rob, Frank Fischbeck, John Taske, Doug Hansen dan aku sendiri yg berhasil mencapai Camp Satu; Yasuko Namba, Stuart Hutchison, Beck Weathers dan Lou Kasischke yg dipandu leh Mike Groom dan Andy Harris, masih berada 200 kaki dibawah perkemahan ketika Rob menghidupkan radio dan meminta semua orang untuk turun kembali.
Untuk pertama kalinya kami bisa mengamati dan menaksir kekuatan dan kelemahan rekan-rekan dengan siapa kami harus saling bergantung selama beberapa minggu ke depan. Doug dan John yg memasuki usia lima puluh enam---anggota tim yg paling tua--masih tampak segar. Namun penampilan Frank, penerbit dari Hongkong yg sopan dan lemah lembut, benar-benar mengesankan; pengalaman yg diperolehnya dari tiga pendakian ke Everest benar-benar tampak sejak awal pendakian. Frank bergerak lambat tetapi pasti, ketika tiba di puncak Jeram Es, diam-diam dia berhasil melewati kami semua, sama sekali tidak tampak terengah-engah.
Sebaliknya, Stuart---anggota tim termuda dan kelihatan paling kuat--- yg keluar dari Base Camp mendahului anggota tim yg lain, dengan cepat tampak kelelahan, dan saat tiba dipuncak Jeram Es, dia berada jauh dibelakang pendaki lain. Lou, yg gerakannya terhambat karena otot kakinya terluka pada hari pertama perjalanan menuju Base Camp, mendaki dengan lambat tetapi kompeten. Sebaliknya, Beck dan terutama Yasuko, tampak kelelahan.
Beberapa kali, Beck dan Yasuko harus menghadapi bahaya karena hampir terjatuh dari lintasan tangga dan masuk kedalam celah gletser, dan Yasuko sepertinya kurang memahami cara menggunakan crampon*. Sepanjang pagi itu, Andy yg ternyata seorang guru yg berbakat dan sabar---dalam posisinya sebagai pemandu junior ditugasi untuk membantu pendaki yg paling lamban dan paling belakang---terus mengajari Yasuko tentang beberapa teknik dasar mendaki es.
Apa pun kekurangan masing-masing anggota tim, dipuncak Jeram Es, Rob mengumumkan bahwa dia puas melihat penampilan semua orang."Mengingat ini pendakian pertama kalian diatas Base Camp, penampilan kalian hari ini benar-benar baik," katanya seperti seorang ayah yg bangga. "Aku pikir, tim aku tahun ini cukup tanggguh."
Dibutuhkan satu jam lebih untuk turun kembali ke Base Camp. Ketika aku selesai melepaskan cramponku dan berjalan beberapa ratus meter ke perkemahan, sinar matahari yg terik seakan-akan siap melubangi ubun-ubun kepalaku. Beberapa menit kemudian, ketika aku sedang mengobrol dengan Helen dan Chhongba diperkemahan, tiba-tiba saja aku terserang sakit kepala yg sangat hebat. Belum pernah aku merasakan sakit kepala seperti itu: rasa sakit yg meremukkan pelipis---rasa sakit yg sedemikian parah, juga mual, yg bahkan membuatku tidak mungkin berbicara dengan benar. Oleh karena takut terserang semacam penyakit tekanan darah tinggi, aku menghentikan percakapan, berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju kantong tidurku, kemudian berbaring sambil menutup kedua mataku dengan topi.
Sakit kepala yg menyerangku terasa sangat menusuk seperti migrain, dan aku tidak tahu penyebabnya. Aku ragu-ragu bahwa penyakitku merupakan dampak ketinggian karena sakit kepala seperti ini baru menyerangku setelah aku tiba di Base Camp. Kemungkinan ini merupakan reaksi dari radiasi ultraviolet yg sangat kuat yg telah membakar retinaku dan memanggang otakku. Apapun penyebabnya, rasa sakit yg ditimbulkannya benar-benar menyiksa dan tidak kenal kasihan. Selama lima jam aku terbaring ditendaku, menghindari setiap rangsangan indrawi. Jika aku membuka mata, atau bahkan membalikkan tubuh dari satu sisi ke sisi lain meskipun mataku tetap tertutup, rasa sakit yg amat sangat membuat tubuhku seperti terlonjak. Ketika matahari terbenam, karena tidak mampu lagi menahan rasa sakit, aku berjalan terhuyung-huyung ke kemah medis untuk meminta saran Caroline, dokter ekspedisi.
Dia memberiku analgesik (pengurang rasa sakit) yg kuat dan memintaku untuk minum air, tetapi setelah beberapa teguk aku malah memuntahkan pil, air yg kuminum dan sisa-sisa makan siangku. "Hmm," gumam Caro setelah mengamati muntahanku, "sepertinya kita perlu mencoba obat yg lain." Aku diminta untuk melarutkan sebutir pil kecil dibawah lidahku, yg menahanku agar tidak muntah lagi, dan kemudian minum dua pil kodein. Sejam kemudian, rasa sakit yg kurasakan mulai sirna. Hampir menangis karena lega, aku pun mulai tertidur.
Aku masih setengah tertidur dalam kantong tidurku sambil mengamati sinar matahari yg memantulkan bayangan ke dinding tenda, ketika aku mendengar Helen berteriak, "Jon! Telepon dari Linda!" Aku merenggut sepasang sendal dan berlari kurang lebih lima puluh meter menuju kemah komunikasi, meraih gagang telepon sambil berusaha keras untuk menarik napas.
Ukuran mesin faksimile dan telepon satelit kami tidak lebih besar daripada sebuah laptop. Sambungan telepon / faksimile ke tempat ini sangat mahal---kira-kira lima dollar permenit--- dan salurannya tidak selalu jernih, tetapi fakta bahwa istriku berhasil memutar tiga belas digit nomor dari Seattle dan berbicara denganku di Gunung Everest ini sungguh mengagumkan. Meskipun telepon itu sangat menghiburku, nada pasrah dalam suaranya terdengar nyata bahkan ketika kami berdua berada diujung yg berlawanan dari bola dunia."Aku baik-baik saja," katanya meyakinkanku, "tapi aku berharap kamu ada disini."
Delapan belas hari yg lalu, saat mengantarku ke pesawat yg akan membawaku ke Nepal, Linda menangis. "Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah," katanya, "Aku tidak bisa berhenti menangis. Mengucapkan selamat berpisah kepadamu adalah hal paling menyedihkan yg pernah kulakukan. Kukira pada titik tertentu aku menyadari bahwa kamu mungkin tidak akan kembali, dan itu hanya untuk sesuatu yg tampaknya sia-sia. Aku merasa kamu melakukan sesuatu yg sangat bodoh dan tidak berguna.
Kami sudah menikah selama lima belas setengah tahun. Hanya seminggu setelah berbicara tentang pernikahan, kami berdua datang kekantor catatan sipil dan langsung menikah. Waktu itu usiaku baru dua puluh enam tahun dan baru saja memutuskan untuk berhenti mendaki dan bersungguh-sungguh menjalani kehidupan.
Waktu aku bertemu Linda untuk pertama kalinya, dia juga seorang pendaki---pendaki yg sangat berbakat---tetapi dia mengundurkan diri setelah pergelangan tangannya patah dan punggungnya terluka, dan kemudian mempertimbangkan dengan kepala dingin resiko yg terkait dengan kegiatan mendaki gunung. Linda tidak akan pernah memintaku untuk meninggalkan kegiatan ini, tetapi ketika kukatakan bahwa aku akan meninggalkan dunia petualangan ini, keyakinannya untuk menikah denganku semakin besar. Aku hanya tidak menyadari bahwa mendaki telah mencengkeram jiwaku, bahwa tanpa mendaki kehidupanku terasa seakan-akan tanpa kemudi.Aku tidak mengantisipasi kekosongan yg akan kurasakan tanpa mendaki Setahun kemudian, diam-diam aku mengeluarkan peralatan mendaki dari gudangku dan kembali ke gunung. Pada 1984, ketika aku berangkat ke Swiss untuk mendaki Eiger Nordwand, sebuah puncak gunung yg sangat berbahaya, perkawinanku dengan Linda hampir berakhir, dan mendaki gunung merupakan inti penyebabnya.
Setelah gagal mendaki Eiger, perkawinan kami tetap goyah selama dua atau tiga tahun, tetapi kami masih mampu bertahan. Akhirnya, Linda bisa menerima kegiatanku mendaki: mendaki merupakan satu bagian penting (meskipun membingungkan) dari diriku. Mendaki, demikian pemahaman Linda, merupakan ungkapan penting dari aspek yg aneh tetapi melekat pada kepribadianku, yg tidak bisa ku ubah, seperti aku tidak bisa mengubah warna mataku. Lalu, ditengah-tengah penyesuaian itulah, majalah Outside memutuskan untuk mengirimku ke Everest.
Awalnya aku berpura-pura bahwa peranku sebagai wartawan lebih penting daripada peranku sebagai pendaki---bahwa aku menerima penugasan ini karena komersialisasi Everest merupakan topik yg sangat menarik, dan uang yg kuperoleh pun cukup lumayan. Aku jelaskan kepada Linda dan orang-orang yg meragukan kemampuanku mendaki Himalaya. "Barangkali aku hanya akan mendaki sedikit lebih tinggi daripada Base Camp," kataku ngotot. ""Hanya untuk mengalami sendiri, bagaimana rasanya berada ditempat yg sangat tinggi."
Tentu saja semua itu cuma omong kosong. Mengingat lamanya perjalanan ini dan waktu yg sudah kuhabiskan untuk pelatihan, dengan tinggal dirumah dan menerima penugasan lain aku bisa memperoleh lebih banyak uang. Aku menerima penugasan ini karena aku sudah berada dalam genggaman mistis Everest. Kenyataannya, aku ingin mendaki gunung itu lebih dari apapun yg pernah kuinginkan dalam hidupku. Sejak pertama aku setuju untuk pergi ke Nepal, aku berniat untuk mendaki sejauh kaki dan paru-paruku bisa membawaku.
Saat Linda mengantarku ke bandara, dia sudah memahami kepura-puraanku. Dia memahami keinginanku yg sesungguhnya, dan itu membuatnya takut. "Jika kamu mati," katanya dengan marah bercampur putus asa, "bukan cuma kamu yg harus menanggungnya. Aku juga harus menanggungnya seumur hidupku, dan kamu tahu itu. Apakah itu sama sekali tidak berarti bagimu?"
"Aku tidak akan mati," jawabku." Jangan berlebihan."
*Meskipun Yasuko pernah menggunakan sepatu paku (crampon) saat dia mendaki Aconcagua, McKinley, Elbrus dan Vinson Masif, pendakian ditempat-tempat tersebut tidak bisa sepenuhnya disebut pendakian gunung es. Medan pendakian di keempat gunung tersebut umumnya merupakan lereng es yg landai dan atau batuan reruntuhan yg lepas seperti batu kerikil
Bersambung......
Kamis, 07 Agustus 2014
Ekspedisi Double M--- Bab II : Merbabu 3142 mdpl
![]() |
| Gunung Merbabu 3142 mdpl di lihat dari Pos New Selo Merapi ( 31/7/2014 ) |
Obituary Seorang Pendaki
Bagi kami tiada kata untuk sombong
Sebab pendakian demi pendakian bukanlah perburuan prestasi
Dari puncak ke puncak kami telah pergi
Namun kami masih ingin terus mendaki dan mendaki
Karena bagi kami puncak-puncak gunung itu adalah sebuah misteri
Engkau takkan pernah tahu impian kami para pendaki
Bagi kami pendakian adalah ungkapan cinta....
Sesuatu yang sangat pribadi !!!
Yang hanya bisa diselami oleh seorang pendaki
Dan kematian bagi kami bukanlah sebuah resiko
Melainkan puncak obsesi cinta kami pada alam.
1 Agustus 2014, Alarm dari gadget saya yang berbunyi serentak di dini hari itu membangunkan saya dari tidur yang belum tuntas. Rasanya baru saja saya merebahkan badan untuk beristirahat. Alarm saya memang selalu berbunyi jam 3.15. Masih dalam keadaan rebah di dalam sleeping bag, saya mengingat-ingat jam berapa saya tidur, ada dimana dan apa yang harus saya lakukan. Mata ini berat sekali, karena saya baru tidur 2,5 jam saja di tambah 1 jam waktu di bus, total saya baru tidur 3,5 jam dalam 3 hari. Hawa dingin yang menusuk membuat saya merasa enggan untuk bangun. Kurang lebih 1 jam kemudian saya baru benar-benar "memaksa" badan untuk beringsut dan duduk selonjor dengan kaki masih tetap di dalam sleeping bag. Keadaan masih sepi dan semua anggota tim masih terlelap dalam tidurnya. Kami semua tidur di dipan kayu semi panggung berukuran 7x2 meter, kecuali Iyan, Soni, Hendro, Zafran, Eko, mereka tidur di lantai beralas trash bag dan sleeping bag. Peralatan masak bekas masak semalam masih menumpuk di antara posisi kami tidur. Disebelah kanan saya Ryan meringkuk kedinginan, dan disebelah kiri saya Gugum sepertinya sibuk "berlatih silat" --- maklum kepala saya sempat jadi target sikutnya...hehe.
Jam 4.00 saya bangun dari posisi nyaman dan hangat, saya kenakan lagi celana panjang, lalu saya bangkit dan keluar untuk menikmati udara subuh di depan base camp Selo Merapi, tak lupa saya sampirkan sleeping bag saya untuk menutupi Ryan yang kedinginan. Seperti yang saya duga, diluar udaranya jauh lebih menggigit. Langit cerah berbintang. Setiap hembusan nafas saya mengeluarkan asap, menandakan tingginya perbedaan suhu antara tubuh saya dengan udara luar. Saat saya hendak mengambil wudhu untuk menunaikan shalat subuh, lewatlah 30-40 orang turis asing yang hendak mendaki Merapi, dengan hanya menggunakan kaos oblong tipis mereka berjalan santai menuju New Selo seolah dinginnya udara subuh itu bukanlah "musuh" untuk terus bergerak. Basuhan air wudhu terasa seperti jarum yang menusuk permukaan kulit saking dinginnya, benar-benar godaan untuk tidak menunaikan kewajiban. Selesai shalat saya menuju dapur basecamp untuk meminta segelas teh manis dan menyeduh obat herbal yang memang saya bawa. Saya bangunkan Gugum dan Wawan agar segera menunaikan shalat subuh sebab hari semakin siang. Lalu sambil menanti matahari terbit saya duduk sambil ngobrol dengan sesama pendaki dari Solo di temani teh manis panas.
Untuk efesiensi waktu, pagi itu tim memutuskan untuk tidak masak melainkan memesan seporsi nasi goreng dan teh manis hangat untuk setiap anggota tim. Dengan biaya sepuluh ribu rupiah jadilah nasi goreng menjadi pengisi perut kami untuk sarapan. Tim menjadwalkan untuk mulai perjalanan mendaki Merbabu jam 8.00. Sambil menunggu waktu, Ryan dan Iyan bernegosiasi untuk tarif angkutan ke base camp Selo Gn.Merbabu. Disepakati ongkos sebesar 10.000 per orang. Kami menggunakan mobil bak yang sama untuk menuju base camp Merbabu. Tepat jam 8.00 tim bertolak menuju Gunung Merbabu. Di tengah perjalanan, salah satu anggota tim, Wawan, berpamitan untuk lebih dulu pulang ke Bogor. Sebenarnya saya dan Gugum sudah mencoba untuk membuat Wawan untuk terus melanjutkan pendakian, namun karena alasan pekerjaan yang memang tidak bisa diwakilkan dan ditinggalkan dengan terpaksa Wawan pulang lebih awal.
Sebenarnya jarak antara basecamp Merapi dan Merbabu di Selo ini tidak terlalu jauh, sekitar 4 km, namun untuk menjaga kondisi fisik dan efisiensi waktu tim memutuskan untuk naik mobil. Arah menuju basecamp Merbabu kami kembali menyusuri jalanan awal melewati Pasar Cepogo lalu berbelok ke kiri dan terus menanjak. 20 menit saja waktu yang tim butuhkan untuk mencapai basecamp Merbabu. Basecamp tempat kami mendaftar adalah rumah Pak Parman, terletak di sebelah kanan jalan dengan sebuah bak sumber air --- pendaki bisa mengambil air untuk perbekalan disini. Berhubung sepanjang jalur pendakian nanti tidak akan ditemui sumber air maka tim mengisi penuh setiap botol dan jerigen yang di bawa plus menyelesaikan hajat yang berhubungan dengan air. Dan nasi goreng sarapan kami pagi tadi pun jadi subyek biang keladi sakitnya perut mayoritas anggota tim. Bergantian tim mengosongkan perut, kecuali saya. Sambil menunggu seluruh anggota tim siap, saya dan Yasser mewakilkan Ryan mengurus berkas pendaftaran. Masing-masing pendaki di kenakan biaya sebesar 4.000 rupiah dan diberikan surat pengantar untuk diserahkan di pos tempat kami turun nanti (Wekas). Mundur 40 menit dari target awal jam 9.00 pagi, tim mulai bergerak meninggalkan basecamp. Trio Ubur-ubur di tambah Gugum dan Hendro menjadi tim sweeper.
![]() |
| Tim beristirahat di Pos I Dok Malang ( 1/8/2014 ) |
Seperti biasa saya berjalan sangat lambat, cara berjalan seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan saya, selain untuk menjaga kondisi fisik juga untuk mempercepat menemukan ritme jalan yang nyaman. Jalur awal pendakian menuju Pos I relatif datar, banyak di temui bonus trek di sela tanjakan-tanjakan pendek. Vegetasi juga tidak rapat, dominan ilalang dan pohon kayu berdiameter tidak lebih dari 40 cm. 50 menit selepas gerbang pendakian banyak ditemui kera-kera diantara pepohonan, seperti menyambut kami yang akan memasuki hutan Merbabu. Formasi tim terpecah menjadi 3 grup, grup advance / leader yang di pimpin Ryan, grup tengah Iyan dan sweeper saya. Rata-rata jarak berjalan antara grup leader dg sweeper adalah 45-1,5 jam. Jam 11.35 tim sweeper tiba di Pos I Dok Malang, saat tim sweeper tiba, anggota tim yang lain sedang beristirahat sambil membuat perapian. Pos I ini merupakan sebuah bidang tanah yang cukup luas dan datar, cukup untuk membangun 6-7 tenda. Tim beristirahat selama 30 menit sebelum melanjutkan perjalanan.
Jam 12.05 tim mulai bergerak lagi untuk menuju Pos II, masih dengan kontur tanah, trek yang relatif landai namun vegetasi semakin terbuka. Empat puluh menit selepas Pos I jalur pendakian berubah curam membuat badan kami kaget, untung trek curam itu hanya sepanjang 30-40 meter sebelum berubah menjadi landai kembali. Namun jam 13.00 bonus trek itu hilang berganti dengan jalur menanjak yang sangat panjang, yang dikenal dengan nama Tanjakan Penyiksaan. Soni mulai kepayahan, saat itu di posisi sweeper adalah saya, Soni, Eko, Gugum, Huda, Hendro dan Wahyu. Saya pun memulai aksi PHP dan Soni adalah korban pertama saya...(sori ya bro...hehehe). Akibat terlalu banyak tertawa (menertawakan Soni) saya kehilangan banyak energi dan berimbas dengan makin lambatnya saya berjalan. Sepuluh menit selepas Tanjakan Penyiksaan kami bertemu dengan tanah lapang yang cukup luas, cukup untuk membangun 4-5 tenda. Maju ke depan sepuluh menit lagi tim sweeper berhasil tiba di Pos II Pandean. Tim sweeper tidak bertemu dengan tim leader dan tengah di Pos II ini, kami berpikir mungkin mereka lanjut dan menunggu di simpangan Pos Bayangan. Saya lirik jam di pergelangan tangan saya, jarum jam menunjuk angka 14.10. Pos II ini adalah sebidang tanah kecil yang dikelilingi pepohonan dan cukup rimbun, berlama-lama disini membuat badan menjadi dingin. Karena alasan itulah kami tim sweeper tidak berlama-lama, kurang lebih hanya 10 menit kami beristirahat sebelum melanjutkan pendakian.
Belum lama kami berjalan, nampak di depan kami Iyan, Adit dan Gugum sedang beristirahat. Saat kami tiba di posisi mereka, mereka pun bergabung dan berjalan bersama-sama. Sorot cahaya matahari sudah tidak seterik siang tadi, sehingga kami tidak terlalu banyak kehilangan cairan. Kondisi jalur pendakian didominasi tanah, rumput dan perdu kecil.
![]() |
| Suasana di simpang Jalur Selo dan Thekelan, Pos bayangan ( 2/8/2014 ) |
![]() |
| Simpangan Jalur, kiri adalah arah ke Selo, foto dari Tanjakan menuju Pos III (1/8/2014) |
Jam 15.30 tim sweeper tiba di simpangan Pos Bayangan, sebuah lapangan yang sangat luas dan terbuka. Berdiri beberapa tenda pendaki disini. Di sebelah timur terdapat puncak bukit kecil ramai pendaki yang berfoto-foto sedangkan di sebelah Barat adalah jalur pendakian kami selanjutnya. Nampak jalur pendakian yang hitam, kontras dengan warna hijau di sekelilingnya yang curam dan panjang sudah menunggu untuk kami tapaki. Jalur curam itu memanjang berkelok hingga hilang di balik puncak bukit, di balik bukit itulah letak Pos III alias Sabana I. Di butuhkan waktu 1,5-2 jam bagi tim untuk melewati tanjakan curam ini dan mencapai Pos III. Selangkah demi selangkah kami memulai untuk mendaki jalur curam ini. Mulai dari sini beban bawaan saya bertambah, sebuah batang pohon mati dengan berat tidak kurang dari 10kg saya bawa dengan tangan kanan saya. Kemiringan jalur yang nyaris mencapai 75-80 derajat jelas sangat menyulitkan pendaki yang membawa beban berat dan carrier tinggi. Tim sweeper berulang kali istirahat walau dalam posisi berpijak yang tidak ideal. Di pertengahan jalur kami menemukan daypack Egi yang sengaja ditinggalkan untuk mempermudah pendakian. Sejak turun dari Merapi semua anggota tim jadi mengetahui jika Egi memiliki masalah phobia dengan ketinggian dan akhirnya kami memaklumi hal tersebut. Saya meminta tolong pada Eko dan Soni untuk mengikat daypack Egi di atas carrier saya. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tim Sweeper tiba di Pos III / Sabana I tepat jam 17.35. Kami hanya menemui Gugum sedang istirahat sendiri. Kondisi fisik kami yang sudah terkuras dan beratnya bawaan di dalam carrier membuat kami tidak memungkinkan untuk menyusul tim leader yang kemungkinan besar sudah tiba di Sabana II. Di kejauhan nampak tanjakan curam berikutnya yang menjadi gerbang untuk menuju Sabana II. Setelah berembuk sejenak, saya, Soni, Gugum, Eko dan Huda yang kembali turun sepakat untuk beristirahat di Sabana I ini untuk me-recovery kondisi fisik kami. Posisi Sabana I ini tepat berada di puncak punggungan bukit sehingga tidak ada pelindung jika angin datang dari penjuru manapun. Sedangkan Sabana II posisinya terletak di lembah punggungan, lebih terlindung.
Awalnya kami sepakat hanya akan membuat bivak darurat dari flysheet yang dibawa Soni dan akan kembali bergerak menyusul tim leader sekitar jam 21.00. Kamipun bergerak cepat membagi tugas, maklum, dinginnya udara di Sabana I Merbabu sudah tersohor di kalangan pendaki, sehingga berdiam diri di tempat seperti tanpa perlindungan sama saja nyari masalah. Setelah bivak berdiri, saya dan Gugum melaksanakan shalat maghrib. Selesai shalat kami mulai masak dan coba membuat perapian walau pada akhirnya gagal.
Udara dingin yang bercampur angin semakin membekukan kami dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan malam ini. Walau bagaimana kondisi fisik yg lemah bisa jadi bumerang dan masalah jika kami memaksakan untuk terus mendaki. Setelah kami sepakat untuk lebih lama beristirahat di Pos III kami segera membangun tenda. Alhamdulillah, jam 22.00 kami tim sweeper sudah bisa beristirahat didalam tenda. Kami juga sepakat bahwa jam 2.00-3.00 kami akan berkemas dan menyusul tim leader. Tidak butuh waktu lama kami segera terlelap di balik sleeping bag, kecuali saya, karena tidak kebagian sleeping bag terpaksa saya mengalami salah satu 4 jam terlama dalam hidup. Hembusan angin menembus pori-pori tenda, membekukan paha dan kaki saya, sehingga kaki saya kram terus menerus dan sakit seperti di tusuk. Kepala saya pun migrain akibat beda tekanan. Berulang kali saya melirik ke arah empat rekan setenda, berharap ada salah satu yang bangun dan mau bergantian posisi. Saya sudah setengah mati rasa, sementara waktu berjalan lambat sekali. Kurang lebih jam 1 dini hari saya terpaksa menelan sebutir antibiotik tanpa air demi meredakan demam saya yang semakin menjadi. Jam 2.00 sesuai dengan kesepakatan kami bangun kecuali Huda yang terus saja asyik dengan tidurnya. Gugum dengan sigap keluar tenda dan segera memasak untuk mengisi perut kami sebelum melanjutkan perjalanan, sementara saya , Soni dan Eko walau sudah terbangun tetap berada di dalam tenda. Jam 2.30 kami sarapan energen satu sachet di bagi berlima dan kopi panas. Saat itu tim sudah siap untuk melanjutkan perjalanan, tapi saya meminta waktu 1 jam lagi, saya perlu memejamkan mata dan menghangatkan badan yang sudah ga karuan rasanya. Hari ini sudah tanggal 2 Agustus dan saya baru tidur 3,5 jam sejak tanggal 30 Juli. Akhirnya tim memberi saya kesempatan untuk tidur 1 jam. Saat Gugum membangunkan saya jam 4.20 badan saya terasa jauh lebih segar, 30 menit kemudian kami berkemas, shalat subuh dan melanjutkan perjalanan menuju Sabana II jam 5.30.
![]() |
| Pagi hari tim sweeper menuju Sabana II, nampak Pos III / Sabana I dari Tanjakan tempat foto di ambil ( 2/8/2014 ) |
![]() |
| Camp tim leader di Sabana II ( 2/8/2014 ) |
Dalam perjalanan menuju Sabana II kami di suguhi pemandangan yang luar biasa indah, di sebelah kanan kami perlahan namun pasti matahari mulai muncul dari ufuk, menyiram tubuh beku dan dingin kami dengan hangat cahayanya. Hari itu kami beruntung sebab bisa menyaksikan sekaligus mengabadikan momen golden sunrise. Siluet Gunung Lawu terlihat sangat eksotis dan indah. 50 menit mendaki tanjakan curam kami pun tiba di Sabana II jam 6.20, bertemu dengan seluruh anggota tim yang lain. Tim di Sabana II membangun 4 tenda dan semua anggota tim sudah terbangun saat tim sweeper tiba.
![]() |
| Pemandangan dari puncak tanjakan panjang sebelum Puncak Merbabu ( 2/8/2014 ) |
![]() |
| Tim KPK Korwil Bogor di Puncak Kentheng Songo Gn. Merbabu 3142 mdpl ( 2/8/2014 ) |
![]() |
| Iyan, Saya, Gugum, Ryan dan Soni di Puncak Kentheng Songo ( 2/8/2014 ) |
2 Agustus 2014, jam 10.10 --- 3142 mdpl
Setelah 30 menit kami berfoto-foto dan mengabadikan setiap momen hasil perjuangan berat selama 3 hari terakhir kami pun memulai perjalanan turun menuju basecamp Wekas. Kali ini Zafran yang berperan sebagai leader dengan catatan harus berhenti jika menemukan persimpangan yang membingungkan. Belum genap 20 langkah kami menuruni Puncak Merbabu, kami sudah disuguhi jalur yang sangat terjal dan berbahaya. Diawali dengan turunan dengan kemiringan 50-60 derajat dengan kontur tanah berpasir yang labil dan menyulitkan kaki untuk berpijak kami beriringan rapat. Sesekali beberapa orang dari kami terpeleset dan terseret. 40 meter kemudian jalur berubah menjadi lebih curam, kontur batuan lepas yang diselingi akar dan batang pohon di kemiringan 80 derajat hingga nyaris vertikal harus kami lewati dengan sangat berhati-hati dan perlahan. Anggota tim dengan carrier besar dan tinggi seperti Tejo, saya, Soni, Adit, Gugum dan Iyan harus lebih ekstra hati-hati dan menjaga keseimbangan. Salah melangkah bisa fatal akibatnya. Lepas dari jalur berbahaya itu tidak lantas kami bebas dari bahaya sebab persis di balik tikungan tebing terakhir yang kami turuni sudah menunggu jalur sempit sepanjang 10 meter.
![]() |
| Bergantian meniti Jembatan Setan Merbabu ( 2/8/2014 ) |
![]() |
| Trek terbuka selepas Jembatan Setan ( 2/8/2014 ) |
Tebing vertikal setinggi kurang lebih 15 meter itu hanya menyisakan tempat pijakan selebar 20 centimeter saja. Masih tersisa jarak 2 meter dari pijakan dengan dasar jalur selanjutnya, hanya saja dasar jalur pun masih tetap miring sehingga jika pendaki salah berpijak bisa dipastikan pendaki akan jatuh dengan punggung terlebih dahulu ke arah bebatuan yang menjadi lapisan atas jalur dibawahnya. Inilah trek berbahaya yang di kalangan pendaki populer dengan nama Jembatan Setan Merbabu. Trek tersebut juga menjadi jalur dengan tingkat kesulitan tertinggi terakhir yang akan dilewati pendaki dalam perjalanan turun menuju basecamp Wekas. Alhamdulillah seluruh anggota tim mampu melewati rintangan itu dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun.
Jam menunjukkan pukul 11.45 saat kami tim sweeper tiba di persimpangan Puncak Syarif. Di puncak yang terletak disebelah kanan jalur turun itu terdapat makam yang cukup sering menjadi tujuan para peziarah. Kabut cukup tebal saat kami menyusuri jalur terbuka antara Puncak Syarif dan Puncak Menara, namun kami beruntung sebab kabut itu tidak disertai angin. Dua kali sudah saya mendaki Merbabu, dan dalam kesempatan itu saya selalu dihadang badai angin dan kabut tebal. Baru kali ini saya mendaki Merbabu dalam kondisi cuaca cerah dan nyaris tak berangin. 1,5 jam setelah persimpangan Puncak Syarif tim tiba di persimpangan Puncak Menara. Kurang lebih 30 menit sebelum persimpangan Puncak Menara, saya, Gugum, Soni, Eko, Huda, Alvin, Yasser, Wahyu, Hendro, dan Eca sempat beristirahat cukup lama di puncak punggungan bukit yg terakhir dan sempit. Kondisi Eca drop dan untuk saat itu jalan satu-satunya adalah kami harus memberi asupan makanan agar Eca mendapat tambahan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Selain kelelahan, kami semua memang dalam kondisi sangat lapar. Rencana untuk masak besar di pertigaan helipad berjam-jam yang lalu kami batalkan demi mengejar waktu ke Pos II. Akhirnya saya putuskan agar kami memasak sereal terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan sigap tim mengeluarkan peralatan masak dan 20 menit kemudian masing-masing dari kami bergantian makan satu dua sendok sereal. Selesai me-recovery Eca, saya meminta Huda untuk menyusul tim leader sebab hampir seluruh kebutuhan logistik dan perbekalan ada di carrier Huda. 20 menit setelah Huda turun kami semua pun kembali berjalan turun.
Saya dan Soni menjadi anggota tim yang terakhir tiba di Pos II. Waktu itu sudah jam 15.15, dan hampir seluruh anggota tim sedang sibuk mempersiapkan masak besar.
![]() |
| Tim makan besar di Pos II Jalur Wekas ( 2/8/2014 ) |
Di koordinir oleh Iyan, Eca, Tejo dan Gugum tim mengolah bahan makanan yang masih tersisa. Kami berlomba dengan waktu. Yasser memasak air untuk membuat teh dan kopi. Sambil menunggu masakan matang saya dan Gugum shalat Dzuhur dan Ashar. Alhamdulillah jam 16.35 perut kami semua sudah terisi maksimal dan siap untuk melanjutkan perjalanan malam turun ke basecamp. Setelah mencuci peralatan dan beristirahat sejenak, kami bergegas untuk berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Sebelum turun kami berkumpul, berdoa dan saling bermaafan satu sama lain. Mengingat dalam perjalanan panjang ini pasti sedikit banyak terjadi salah paham dan sikap yang kurang berkenan, terutama saya yang banyak melakukan PHP ke anggota tim yang lain. Matahari sudah hilang dari pandangan, udara pun semakin dingin, tepat jam 17.20 dalam kondisi yang sudah meremang satu per satu anggota tim mulai berjalan turun menuju basecamp.
Perjalanan kami turun relatif lancar dan aman, dengan masih tetap berposisi sebagai sweeper, tim ubur-ubur mencapai Pos I sekitar jam 18.35 dan jam 20.10 kami semua tiba di basecamp Wekas. Setelah menyerahkan berkas lapor di basecamp kami semua sibuk beristirahat dan membersihkan badan. Karena kemalaman kami terpaksa bermalam di basecamp, menunggu hingga esok hari untuk melanjutkan perjalanan ke kota menuju Terminal Tidar Magelang. Kami menyewa colt bak L300 dengan biaya 10.000 per orang untuk menuju Terminal Tidar. Dan Alhamdulillah setelah 28 jam dalam bus, rombongan tim ekspedisi Double M KPK Korwil Bogor tiba di check point akhir Perempatan Pasar Rebo Jakarta dan berpamitan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
Terima kasih untuk teman-teman semua, tanpa kerja sama dan solidaritas yang tinggi nyaris tidak mungkin kita bisa selesaikan misi dua puncak ini. Semoga selalu terjaga kebersamaan dan tali silaturrahim di antara kita semua. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk kita kembali bersama-sama mendaki dan bertualang dialam bebas. #Big Huge n Respect.
The Actor : Ryan, Iyan, Tejo, Soni, Eko, Yasser, Eca, Zafran, Nur, Adit, Alvin, Joni, Egi, Abbu,
Hendro, Wawan, Huda, Gugum, Kukuh.
As Long As Mountain Still Exist In The Earth
Hiker Never Die !!!
![]() |
| Peta Gunung Merbabu Jalur Selo |
![]() |
| Bivak darurat tim sweeper di Pos III / Sabana I ( 1/8/2014 ) |
![]() |
| Trek terbuka selepas Jembatan Setan ( 2/8/2014 ) |
![]() |
| Bergantian meniti Jembatan Setan Merbabu ( 2/8/2014 ) |
Langganan:
Postingan (Atom)













