Kamis, 24 September 2015

Into Thin Air --- BAB XI --- BASECAMP 6 MEI 1996 --- 17.600 KAKI

Seberapa besar daya tarik pendakian gunung berasal dari kemampuannya mengubah hubungan pribadi menjadi hubungan yang lebih sederhana, kemampuannya mengurangi nilai persahabatan menjadi hubungan yang biasa-biasa saja (seperti perang), kemampuannya memengaruhi yang lain (gunung, tantangan) terhadap hubungan itu sendiri? Dibalik petualangan yang penuh mistik, ketegaran, sosok pengelana yang bebas---segala bentuk penangkal yang dibutuhkan sebagai penawar atas kesenangan dan kenyamanan budaya yang sudah menjadi elemen yang permanen---mungkin ada semacam penolakan yang bersifat kekanak-kanakan, keengganan untuk secara sungguh-sungguh menerima datangnya usia tua, menerima kerapuhan orang lain, tanggung jawab antar manusia dan segala bentuk kelemahan dan keengganan untuk menerima jalan hidup yang lambat dan membosankan....
     Para pendaki ulung....bisa merasa sangat tersentuh, bahkan merasa sangat sentimental; tetapi perasaan itu hanya ditujukan pada para martir bekas rekan-rekan mereka yang layak menerimanya. Semacam sikap tidak kenal kompromi yang hampir serupa, muncul dalam tulisan-tulisan Buhl, John Harlin, Bonatti, Bonington dan Haston: sikap tidak kenal kompromi terhadap kompetensi. Barangkali itulah arti pendakian ditempat tinggi: mencapai satu titik, tempat dimana seperti kata Haston, "Jika sesuatu yang salah terjadi, kita harus berjuang sampai akhir. Jika Anda cukup terlatih, Anda akan bertahan hidup; jika tidak, alam akan meminta korban."

David Roberts
"Patey Agonistes"
Moments of Doubt

Tanggal 6 Mei---pukul 04.30 pagi, kami meninggalkan Base Camp untuk memulai perjalanan terakhir menuju puncak. Puncak Everest, yang berada dua mil vertikal diatasku, tampak sangat jauh dan tidak terjangkau sehingga aku berusaha untuk membatasi pikiranku hanya sampai Camp Dua, tujuan akhir perjalanan kami hari itu. Ketika sinar matahari pertama mengenai permukaan gletser, aku sudah berada pada ketinggian 20.000 kaki, di mulut Cwm Barat. Aku bersyukur karena Jeram Es sudah berada dibawahku dan aku hanya perlu melewatinya satu kali lagi, kelak dalam perjalanan terakhir menuruni gunung.
     Panasnya udara di Cwm selalu menggangguku setiap kali aku melewatinya, tidak terkecuali hari ini. Sambil mendaki bersama Andy Harris mendahului anggota kelompok yang lain, aku terus menerus menyisipkan segumpal salju ke bawah topiku dan bergerak secepat kaki dan paru-paruku bisa membawaku, berharap bisa tiba dibawah kenyamanan tenda sebelum sinar matahari merobohkanku. Pagi berjalan dengan sangat lambat, dan matahari yang bersinar terik membuat kepalaku berputar. Lidahku terjulur keluar sehingga aku kesulitan bernapas melalui mulut dan aku sadar diriku semakin sulit berpikir jernih.
     Andy dan aku tiba di Camp Dua pada pukul 10.30 pagi. Setelah meneguk dua liter Gatorade, keseimbanganku pulih kembali. "Menyenangkan bukan bahwa akhirnya kita berjalan menuju puncak?" Tanya Andy. Dia terus menerus terserang berbagai jenis penyakit perut hampir selama ekspedisi berlangsung, tetapi akhirnya kekuatannya bisa pulih. Sebagai guru yang sangat berbakat yang dikaruniai kesabaran yang luar biasa, Andy sering ditugasi untuk mengawasi pendaki yang lebih lamban yang mendaki di ujung antrean. Dia merasa gembira ketika pagi ini Rob memintanya untuk mendaki paling awal. Sebagai pemandu junior dalam tim ekspedisi Hall dan satu-satunya pemandu yang belum pernah mendaki Everest, Andy sangat ingin membuktikan kemampuannya kepada rekan-rekannya yang lebih berpengalaman. "Kupikir, kita akan mampu menaklukkan gunung besar ini," katanya kepadaku sambil tersenyum lebar, matanya menatap ke arah puncak.
     Beberapa saat kemudian, Goran Kropp, pendaki solo dari Swedia berusia dua puluh sembilan tahun, melewati Camp Dua dalam perjalanan turun menuju Base Camp; dia tampak letih. Pada 16 Oktober 1995, Kropp meninggalkan Stockholm dengan mengendarai sepeda yang dirancang khusus dan membawa 120 kilogram beban. Dia bermaksud untuk melakukan perjalanan pulang dan pergi dari Swedia  yang letaknya di tepi laut dan mendaki Everest dengan kekuatan sendiri, tanpa bantuan para Sherpa maupun botol oksigen. Ambisi yang sangat tinggi, tetapi Kropp percaya dia bisa memenuhinya. Kropp sudah enam kali ikut dalam ekspedisi Himalaya, melakukan pendakian solo untuk menundukkan puncak-puncak Broad Peak, Cho Oyu dan K2.
     Saat menempuh 8.000 mil perjalanan ke Kathmandu, dia dirampok oleh sekelompok anak sekolah Rumania dan diserang oleh sekelompok orang di Pakistan. Di Iran, seorang pengendara sepeda motor yang berang, memukul kepalanya (yang untungnya) tertutup helm dengan sebuah pemukul bisbol. Akhirnya, awal April lalu dia tiba juga dikaki Everest dalam keadaan sehat walafiat diikuti oleh sekelompok pekerja film dan langsung melakukan program aklimatisasi dengan mendaki dan menuruni gunung. Pada Rabu, 1 Mei, dia berangkat menuju Base Camp untuk melakukan pendakian terakhir menuju puncak.
     Kropp tiba dikemahnya yang terletak di Jalur Selatan pada ketinggian 26.000 kaki pada Selasa sore, dan berangkat menuju puncak keesokan harinya, beberapa saat lewat tengah malam. Sepanjang hari itu, semua orang yang ada di Base Camp tidak beranjak jauh dari radio mereka dan dengan cemas menunggu kabar tentang pendakiannya. Di Base Camp kami, Helen Wilton menancapkan sebuah spanduk yang berbunyi, "Ayo, Goran, Maju Terus!"
     Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, puncak Everest hampir-hampir bebas dari terjangan angin kencang, tetapi salju dibagian atas gunung ketebalannya bisa mencapai paha sehingga sangat menghambat perjalanannya. Tanpa mengenal lelah, Kropp terus mendaki ditengah timbunan salju dan pada Selasa, sekitar pukul dua tengah hari dia sudah mencapai ketinggian 28.700 kaki, sedikit di bawah Puncak Selatan. Meskipun puncak Everest hanya tinggal enam puluh menit diatasnya, Kropp memutuskan untuk kembali karena dia percaya bahwa dia akan terlalu lelah untuk bisa turun jika dia memaksa untuk naik lebih tinggi.
     "Kembali setelah begitu dekat dengan puncak..." gumam Hall sambil menggelengkan kepala saat Kropp berjalan gontai melewati Camp Dua dalam perjalanannya menuruni gunung. "Anak muda itu ternyata punya penilaian yang baik. Saya benar-benar terkesan daripada jika dia memaksa  untuk terus mendaki dan mencapai puncak." Selama satu bulan terakhir berkali-kali Rob menguliahi kami tentang pentingnya memutuskan secara dini, pukul berapa kami harus turun kembali pada hari pendakian terakhir menuju puncak---untuk tim kami, Hall memutuskan kembali sekira pukul 13.00 atau paling lambat pukul 14.00---dan kami semua harus mematuhi keputusan itu, meskipun kami sudah berada sangat dekat dengan puncak. "Dengan tekad kuat, orang bodoh pun bisa mencapai puncak," kata Hall. "Yang sulit adalah kembali dalam keadaan hidup."
      Wajah Hall yang biasanya santai menunjukkan tekad kuat untuk berhasil---yang dia jabarkan secara sederhana, membawa sebanyak mungkin klien mencapai puncak. Untuk menjamin keberhasilan tersebut, Hall sangat memehartikan perincian: kesehatan para Sherpa, efisiensi sistem listrik tenaga surya dan ketajaman crampon para kliennya. Hall mencintai perannya sebagai pemandu, dan dia merasa sedih karena beberapa pendaki ternama---termasuk Sir Edmund Hillary---tidak menyadari betapa sulit tugas memandu dan kurang menghormati profesi pemandu seperti yang seharusnya.

Rob mengumumkan bahwa pada Selasa, 7 Mei merupakan hari istirahat sehingga kami bisa bangun siang dan duduk-duduk di Camp Dua, menunggu dengan harap-harap cemas pendakian terakhir menuju puncak yang akan berlangsung tidak lama lagi. Aku memeriksa crampon dan beberapa peralatan mendakiku yang lain, kemudian mencoba membaca buku Carl Hiaasen, tetapi pikiranku selalu kembali pada pendakian sehingga aku membaca kalimat-kalimat yang sama berulang-ulang tanpa memahami artinya.
     Akhirnya, aku menutup buku yang sedang kubaca, membuat beberapa foto Doug yang sedang berpose sambil membawa bendera yang diberikan anak-anak sekolah di Kent, bendera yang harus dia bawa sampai ke puncak. Aku bertanya kepada Doug tentang kesukaran-kesukaran yang mungkin dihadapi saat berada dipuncak nanti berdasarkan pengalamannya tahun lalu. "Saat kita tiba di puncak nanti," katanya sambil mengerutkan dahi, "kujamin sekujur tubuhmu akan terasa sakit." Doug bertekad untuk ikut mendaki sampai puncak, meskipun tenggorokannya masih terasa sakit dan kekuatannya masih belum pulih. Berkali-kali dia berkata, "Terlalu banyak yang sudah kupertaruhkan untuk pendakian ini. Aku tidak bisa mundur sekarang, dan akan mempertaruhkan apa pun untuk sampai diatas."
     Sore harinya Fischer melewati perkemahan kami dengan rahang terkatup erat. Tidak seperti biasanya, kali ini dia berjalan gontai menuju perkemahannya. Biasanya Fischer selalu tampak bersemangat; dia sangat senang mengucapkan kalimat ini, "jika kamu selalu mengeluh, kamu tidak akan bisa mencapai puncak. Mumpung kita ada ditempat ini, sebaiknya kita jadikan pengalaman ini sesuatu yang menyenangkan." Namun, saat dia melewati kami sore itu, Scott sama sekali tidak tampak bersemangat; sebaliknya dia kelihatan cemas dan lelah.
     Oleh karena Scott selalu membebaskan kliennya untuk mendaki dan menuruni gunung sendiri selama periode aklimatisasi, berkali-kali dia dipaksa melakukan perjalanan cepat antar Base Camp dan dua perkemahan diatasnya untuk membantu kliennya yang menghadapi masalah dan perlu dipandu. Scott pernah membantu Tim Madsen, Pete Schoening dan Dale Kruse. Dan sekarang ini, saat kami semua sangat membutuhkan istirahat, dia dipaksa untuk bolak balik antara Camp Dua dan Base Camp untuk membantu teman baik Kruse yang diduga terserang HACE.
     Fischer tiba di Camp Dua sekira tengah hari kemarin---hanya beberapa saat setelah Andy dan aku kembali dari Base Camp---jauh mendahului semua kliennya; dia sudah meminta kepada pemandunya, Anatoli Boukreev, untuk membawa para pendaki yang tertinggal agar lebih dekat dengan pendaki lain dan mengawasi setiap orang. Namun, Boukreev mengabaikan perintah Fischer: dia tidak mendaki bersama anggota kelompoknya, tetapi tidur sampai siang, mandi dan meninggalkan Base Camp lima jam setelah klien terakhir berangkat. Jadi ketika Kruse ambruk di ketinggian 20.000 kaki karena serangan sakit kepala yang hebat, Boukreev masih berada jauh dari tempat itu. Fischer dan Beidleman terpaksa turun dari Camp Dua untuk mengatasi keadaan darurat, sesaat setelah berita tentang Kruse diterima melalui seorang pendaki yang datang dari Cwm Barat.
     Tidak lama setelah Fischer tiba ditempat Kruse dan dengan susah payah memandunya turun menuju Base Camp, di puncak Jeram Es mereka bertemu dengan Boukreev yang sedang mendaki sendirian. Dengan keras Fischer menegur pemandunya karena melalaikan kewajibannya. "Ya," kata Kruse sambil mengingat-ingat, "Scott benar-benar marah kepada Toli. Dia meminta penjelasan, mengapa Toli berada sangat jauh dibelakang pendaki lain---mengapa dia tidak mendaki bersama pendaki yang lain."
     Menurut Kruse dan beberapa klien Fischer yang lain, hubungan Fischer dan Boukreev memang tegang selama ekspedisi berlangsung. Fischer membayar Boukreev 25.000 dolar---bayaran yang sangat mahal untuk seorang pemandu Everest (pemandu lain digunung itu hanya menerima antara 10.000-15.000 dolar; sementara seorang pendaki Sherpa yang terlatih hanya menerima 1.400-2.500 dolar)---tetapi kinerja Boukreev tidak sesuai dengan harapannya. "Toli memang pendaki yang sangat kuat dan menguasai teknik-teknik pendakian dengan sangat baik, " Kruse menjelaskan, "tetapi dia tidak bisa bersosialisasi. Dia tidak mengawasi pendaki lain. Pendeknya, dia tidak bisa bermain sebagai anggota tim. Saya pernah berkata kepada Scott bahwa saya tidak mau dipandu oleh Toli saat kami berada diatas sana karena saya ragu-ragu bahwa saya bisa mengandalkannya saat bantuannya sangat dibutuhkan."
     Masalahnya, pemahaman Boukreev dan Fischer tentang arti tanggung jawab memang berbeda. Sebagai orang Rusia, Boukreev dibesarkan dalam budaya yang keras, penuh kebanggaan ditengah kehidupan yang sangat sulit, yang tidak biasa memanjakan si lemah. Di negara-negara Eropa Timur, para pemandu dilatih untuk berperan lebih kurang seperti para Sherpa---mengangkat beban, membuat lintasan tali, menetapkan rute---dan bukan sebagai pengasuh. Boukreev yang bertubuh tinggi, berambut pirang dengan wajah Slavia yang tampan, merupakan salah seorang pendaki yang paling andal didunia. Dia sudah mengantongi dua puluh tahun pengalaman sebagai pendaki Himalaya, termasuk dua kali  menaklukkan Everest yang dia lakukan tanpa bantuan oksigen. Dan, selama perjalanan kariernya yang cemerlang, dia telah merumuskan sejumlah kode etik yang meskipun kurang lazim, tetapi dipegang dengan teguh, yaitu kode etik tentang cara mendaki gunung secara layak. Boukreev percaya bahwa seorang pemandu tidak boleh terlalu memanjakan kliennya, keyakinan yang kerap dia katakan dengan terus terang. "Jika seorang klien tidak mampu mendaki Everest tanpa dukungan kuat dari seorang pemandu," katanya kepadaku, "klien tersebut tidak seharusnya berada di Everest. Jika dipaksakan, dia akan menghadapi masalah besar saat berada dipuncak sana."
    Penolakan atau ketidak mampuan Boukreev untuk menjalankan perannya sebagai pemandu konvensional sesuai dengan tradisi Barat, membuat Fischer kesal. Sikap Boukreev memaksa Fischer dan Beidleman memikul beban yang tidak seimbang karena keduanya harus lebih ketat mengawasi para pendaki yang tergabung dalam tim mereka. Memasuki bulan Mei, beban berat tersebut mulai memengaruhi kesehatan Fischer. Pada hari, 6 Mei, setibanya di Base Camp setelah mengawal Kruse  yang sedang sakit, Fischer menggunakan telepon satelit untuk menghubungi rekan bisnisnya di Seattle, Karen Dickinson dan staff humasnya, Jane Bromet(*1), untuk mengeluhkan tentang Boukreev yang terlalu teguh pada pendiriannya. Kedua wanita itu sama sekali tidak mengira bahwa itu merupakan pembicaraan terakhir mereka dengan Fischer.
    
Pada 8 Mei, tim ekspedisi Hall dan Fischer berangkat menuju Camp Dua untuk mengawali pendakian yang berat melewati lintasan tali yang terentang dipermukaan Lhotse Face. Dua ribu kaki dari kaki Cwm Barat, tepat dibawah Camp Tiga, sebongkah batu sebesar pesawat kecil meluncur dengan cepat menuruni lereng yang curam dan jatuh tepat didada Andy Harris. Batu itu membuat pijakan kakinya terlepas, kehilangan keseimbangan dan selama beberapa menit dia bergantung pada lintasan tali dalam keadaan shock. Seandainya dia tidak terikat dengan alat mendaki mekaniknya, Andy pasti sudah jatuh dan tewas.
     Ketika tiba diperkemahan, Andy masih tampak terguncang, tetapi menurutnya, dia tidak terluka. "Barangkali badan saya akan sedikit kaku esok pagi," katanya, "tetapi, saya kira batu sialan itu tidak banyak membuat kerusakan, kecuali beberapa memar." Sesaat sebelum batu itu mengenainya, Andy sedang membungkuk dengan kepala tertunduk; hanya sesaat sebelum batu itu mengenainya secara kebetulan dia mendongak sehingga batu itu hanya menggesek pipinya sebelum kemudian menimpa tulang dadanya. "Kalau batu itu menimpa kepalaku....," Andy berandai-andai dengan muka meringis sambil menurunkan ranselnya, membiarkan kalimatnya tidak selesai.
     Camp Tiga merupakan satu-satunya perkemahan diseluruh gunung yang hanya diperuntukkan bagi para pendaki, tanpa para Sherpa (birainya terlalu kecil untuk membangun tenda yang bisa menampung kami semua), sehingga ditempat itu kami harus memasak sendiri---termasuk mencairkan sejumlah besar bongkahan es untuk air minum. Oleh karena hampir semua pendaki menderita dehidrasi berat akibat sulitnya bernapas ditengah udara yang minim oksigen, setiap orang harus mengonsumsi lebih dari satu galon cairan setiap hari. Karena itu, kami harus mampu menyediakan kira-kira dua belas galon air untuk memenuhi kebutuhan delapan pendaki dan tiga pemandu. Sebagai orang pertama yang tiba diperkemahan pada 8 Mei, tugas sebagai pemotong es jatuh ke pundakku. Selama tiga jam, ketika rekan-rekanku satu persatu memasuki perkemahan dan masuk ke dalam kantong tidur mereka, aku terus menerus berada diudara terbuka, menetak tebing es dengan beliung dari kapak es ku, mengisi kantong-kantong plastik dengan potongan-potongan es beku dan membagikannya ke tenda-tenda untuk dicairkan. Pada ketinggian 24.000 kaki, tugas seperti itu ternyata sangat melelahkan. Setiap kali salah seorang rekanku berteriak, "Hai, Jon! Apa kamu masih berada diluar? Kami perlu lebih banyak es di sini!" aku semakin menyadari, betapa besar bantuan yang diberikan para Sherpa kepada kami, dan betapa kecil penghargaan kami terhadap mereka.
     Menjelang sore, matahari mulai bergerak mendekati cakrawala dan udara mulai berubah dingin. Semua orang, masuk ke dalam kemah, kecuali Lou Kasischke, Frank Fishbeck dan Rob, yang dengan sukarela memilih untuk meronda dan tiba diperkemahan sebagai yang terakhir. Sekitar pukul 16.30, pemandu Mike Groom menerima telepon dari Rob melalui walkie talkie: Lou dan Frank masih beberapa ratus meter dibawah perkemahan dan bergerak dengan sangat perlahan: bisakah Mike turun untuk membantu mereka? Dengan cepat Mike mengenakan kembali cramponnya, kemudian menghilang dibalik tebing, menuruni tali yang terentang tanpa mengeluh sedikit pun
     Kira-kira sejam kemudian dia muncul kembali didepan pendaki lain. Lou yang sangat kelelahan dan membiarkan Rob membawakan ranselnya, berjalan tertatih-tatih menuju perkemahan dengan wajah yang pucat dan putus asa, sambil bergumam, "Habis riwayatku. Habis riwayatku. Aku benar-benar kehabisan oksigen." Beberapa menit kemudian, Frank muncul dengan muka yang bahkan lebih lelah lagi, tetapi dia menolak memberikan ranselnya kepada Mike. Aku benar-benar terkejut melihat mereka dalam kondisi seperti itu, padahal keduanya mampu mendaki dengan baik belakangan ini. Menurunnya kondisi Frank yang tampak nyata merupakan pukulan keras: Sejak awal ekspedisiku selalu beranggapan bahwa seandainya beberapa anggota tim berhasil mencapai puncak, Frank---yang sudah tiga kali mendaki gunung ini---pasti termasuk satu di antara mereka.
    
Ketika kegelapan mulai menyelimuti perkemahan, para pemandu membagi-bagikan tabung oksigen, regulator dan masker untuk setiap orang: untuk pendakian selanjutnya, kami akan bernapas dengan bantuan  gas yang sudah dimampatkan.
     Digunakannya oksigen botol untuk mendukung  pendakian telah memicu perdebatan sengit sejak pertama kali orang-orang Inggris menggunakannya dalam ekspedisi Everest 1921. (Orang-orang Sherpa yang skeptis menamai tabung yang sulit dibawa itu "napas orang Inggris"). Pada mulanya orang yang paling mengkritik penggunaan oksigen botol saat mendaki adalah George Leigh Mallory, yang memprotesnya sebagai tindakan "tidak sportif, dan tidak bergaya Inggris." Namun, dengan cepat orang menyadari bahwa di Zona Kematian, yaitu wilayah yang berada pada ketinggian diatas 25.000 kaki, tanpa oksigen tambahan, tubuh manusia sangat rentan terserang High Altitude Pulmonary Edema (HAPE---Pembengkakan Paru-Paru Akibat Ketinggian), High Altitude Cerebral Edema (HACE---Pembengkakan Otak Akibat Ketinggian), hipotermia (menurunnya suhu tubuh secara drastis), gigitan udara dingin dan beberapa penyakit ketinggian  yang mematikan. Pada 1924, saat dia kembali untuk melakukan ekspedisi yang ketiga, Mallory yakin bahwa puncak Everest tidak mungkin bisa ditaklukkan tanpa bantuan oksigen, dia pun menyerah dan mulai menggunakannya.
     Sejumlah uji coba yang dilakukan diruangan yang tekanan udaranya bisa diatur menunjukkan bahwa tubuh manusia bertahan dengan baik di bawah udara laut, sebaliknya dipuncak Everest, yang kandungan oksigennya hanya sepertiga dari kandungan udara laut, hanya dalam beberapa menit, manusia akan kehilangan kesadaran, disusul dengan kematian. Namun, beberapa pendaki gunung yang idealis bersikeras bahwa seorang atlet berbakat yang dikaruniai ketahanan fisik yang benar-benar baik, setelah melalui periode aklimatisasi yang cukup, seharusnya bisa mencapai puncak tanpa bantuan oksigen botol. Berdasarkan pemikiran ekstrem tersebut, dengan tegas mereka menyatakan bahwa penggunaan oksigen saat mendaki merupakan tindakan curang.
     Pada 1970, seorang pendaki ternama dari Tyrolean, Reinhold Messner, yang menolak pemakaian tabung oksigen saat mendaki gunung, menyatakan bahwa dia akan mendaki Everest "dengan cara yang jujur", atau tidak sama sekali. Tidak lama kemudian, Messner dan seorang mitra lamanya seorang warga Austria bernama Peter Habeler, membuat dunia pendakian takjub karena berhasil membuktikan teorinya: pada 8 Mei 1978, pukul 13.00, mereka berdua mencapai puncak Everest melalui Jalur Selatan dan Lereng Tenggara tanpa bantuan oksigen botol. Peristiwa itu disambut oleh beberapa kelompok pendaki sebagai penaklukkan pertama Everest yang sesungguhnya.
     Akan tetapi, prestasi Messner dan Habeler yang bersejarah tidak disambut gembira oleh semua pendaki, terutama oleh para Sherpa. Banyak warga Sherpa yang tidak percaya ada orang Barat yang mampu meraih prestasi itu, dalam arti bahwa mereka bisa mengalahkan orang-orang Sherpa yang paling kuat. Kemudian tersebar desas desus yang menyatakan bahwa Messner dan Habeler menggunakan tabung oksigen mini yang disembunyikan dibalik pakaian mereka. Tenzing Norgay dan beberapa tokoh Sherpa menanda tangani petisi yang meminta Pemerintah Nepal untuk melakukan penelitian resmi tentang pendakian tersebut.
     Namun, bukti-bukti yang mendukung bahwa pendakian tersebut memang dilakukan tanpa oksigen sulit dipatahkan. Dua tahun kemudian, Messner membungkam semua keraguan dengan mendaki Everest dari wilayah Tibet, sekali lagi tanpa oksigen---kali ini dia melakukannya sendirian tanpa bantuan Sherpa atau siapapun. Ketika dia mencapai puncak pada 20 Agustus 1980, pukul 15.00, setelah mendaki menembus awan tebal dan hujan salju, Messner berkata, "Saya terus menerus merasa sangat tersiksa; belum pernah saya merasa lebih lelah sepanjang hidup saya." Dalam bukunya The Crystal Horizon, buku yang mengisahkan pendakian tersebut, Messner menggambarkan perjuangannya menempuh beberapa meter terakhir menuju puncak,

Ketika saya beristirahat, saya merasa benar-benar tidak bernyawa, kecuali tenggorokan saya yang seperti terbakar setiap saya menarik napas.... Saya hampir-hampir tidak mampu melanjutkan. Tidak ada rasa putus asa, tidak ada kebahagiaan, tidak ada rasa cemas. Saya kehilangan kemampuan untuk merasakan, saya tidak merasakan apa pun. Saya hanya memiliki tekad. Setelah berjalan beberapa meter, tekad itu pun mulai sirna dikalahkan oleh perasaan lelah yang seakan tidak berakhir. Kemudian, saya tidak memikirkan apa-apa. Saya membiarkan diri saya jatuh, hanya terbaring ditempat itu. Untuk waktu yang tidak terbatas, saya tidak bisa membuat keputusan apa-apa. Kemudian, saya berjalan beberapa langkah.

Setelah Messner kembali ke peradaban, pendakiannya disambut luas sebagai keberhasilan terbesar dalam dunia pendakian.
     Setelah Messner dan Habeler membuktikan bahwa Everest dapat ditaklukkan  tanpa bantuan oksigen, sejumlah kader pendaki yang ambisius sepakat bahwa gunung itu seyogianya didaki tanpa bantuan oksigen. Sejak saat itu, jika seorang pendaki ingin dikelompokkan sebagai pendaki elite Himalaya, mereka harus bisa menaklukkannya tanpa oksigen botol. Sampai 1996, enam puluh pria dan wanita berhasil mencapai puncak tanpa bantuan oksigen---tetapi lima diantaranya tewas dalam perjalanan menuruni gunung.
     Betapapun besarnya ambisi pribadi dari beberapa pendaki, tidak satupun anggota tim ekspedisi Hall yang berpikir untuk mencapai puncak tanpa bantuan oksigen. Bahkan Mike Groom, yang tiga tahun lalu mendaki Everest tanpa bantuan oksigen, menjelaskan kepadaku bahwa kali ini dia berniat menggunakannya karena dia berperan sebagai pemandu. Dari pengalaman terdahulu, dia tahu bahwa tanpa oksigen botol dia akan menjadi sangat lemah---fisik maupun mental---sehingga dia tidak akan bisa memenuhi tanggung jawab profesionalnya. Seperti para veteran Everest lain, Groom percaya bahwa meskipun mendaki gunung tanpa oksigen sudah diterima secara luas---bahkan secara estetika lebih disukai---jika seorang pendaki sedang mendaki sendirian, tetapi melakukannya saat dia berperan sebagai pemandu menunjukkan sikap yang kurang bertanggung jawab.
     Sistem oksigen mutakhir buatan Rusia yang digunakan oleh Hall terdiri atas sebuah masker oksigen plastik yang kaku, seperti yang kerap digunakan para pilot pesawat tempur MIG selama Perang Vietnam. Masker tersebut dihubungkan oleh sebuah selang karet dan sebuah regulator yang sederhana pada sebuah tabung gas baja berwarna oranye dan tabung Kevlar. (Lebih kecil dan lebih ringan daripada tangki penyelam, masing-masing seberat 3.3 kilogram jika terisi penuh). Meskipun dalam kunjungan terakhir ke Camp Tiga kami tidak menggunakan oksigen saat tidur, sekarang, karena kami akan melakukan pendakian terakhir menuju puncak, Rob menyarankan agar sepanjang malam kami menggunakannya. "Setiap detik kita berada pada ketinggian ini dan diatasnya," katanya mengingatkan, "tubuh dan otak kita akan rusak. Sel-sel otak akan mati. Darah akan mengental dan menjadi setengah padat, dan itun sangat berbahaya. Selain itu, akan terjadi pendarahan spontan pada pembuluh rambut seputar retina. Bahkan saat kita beristirahat, jantung kita akan berdetak lebih kencang. Rob berjanji bahwa "Oksigen botol akan memperlambat kerusakan dan membantu setiap orang untuk tidur."
     Aku berusaha untuk mengikuti anjuran Rob, tetapi sifat klaustrofobiaku yang tidak pernah jauh dari permukaan terus mengusikku. Setiap aku memasang masker diatas hidung dan mulutku, aku berpikir masker itu akan membuat sesak napas, jadi setelah beberapa jam yang sangat menyiksa, aku melepaskannya dan untuk selanjutnya bernapas tanpa menggunakan oksigen botol, terbaring dengan gelisah, memeriksa jam tanganku setiap dua puluh menit, untuk melihat kalau-kalau aku sudah boleh bangun. Seratus kaki dibawah perkemahan kami, diatas lereng yang juga curam, berdiri beberapa tenda dari tim ekspedisi lain---termasuk perkemahan kelompok Fischer, kelompok Afrika Selatan dan Taiwan. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, yaitu pada 9 Mei---ketika aku sedang memakai sepatu untuk mendaki ke Camp Empat, Chen Yu Nan, seorang pekerja pabrik baja dari Taipei berusia tiga puluh enam tahun, merangkak keluar dari tendanya untuk membersihkan sepatunya sambil berdiri di atas sepatu gunungnya yang licin---sebuah kesalahan yang sangat fatal.
     Saat dia jongkok, Yu Nan kehilangan keseimbangan dan terguling sepanjang Lhotse Face. Secara menakjubkan, setelah meluncur sejauh 70 kaki, dia terperosok ke dalam sebuah celah gletser dengan kepala didepan sehingga jatuhnya agak tertahan. Para Sherpa yang melihat kejadian itu menurunkan seutas tali dan dengan cepat menariknya keluar dari dalam celah gletser, kemudian membantunya kembali ke tenda. Meskipun tubuhnya terbanting-banting dan dia sangat ketakutan, tetapi lukanya tidak terlalu serius. Saat itu, tidak ada anggota kelompok Hall, termasuk aku, yang mengetahui tentang peristiwa tersebut.
     Tidak lama kemudian, Makalu Gau dan seluruh anggota kelompok Taiwan berangkat menuju Jalur Selatan meninggalkan Chen sendirian di tendanya untuk memulihkan diri. Meskipun Gau sudah berjanji kepada Rob dan Scott bahwa dia tidak akan mendaki puncak pada 10 Mei, jelas kelihatan bahwa dia sudah berubah pikiran dan sekarang dia berniat mendaki puncak pada hari yang sama dengan kami.
     Sore itu, seorang Sherpa bernama Jangbu yang turun ke Camp Dua setelah membawa beban sampai di Jalur Selatan berhenti di Camp Dua untuk memantau kondisi Chen, dan mendapati bahwa kondisi pendaki Taiwan itu memburuk dengan cepat: selain kehilangan orientasi, dia juga sangat kesakitan. Setelah memutuskan bahwa dia perlu dievakuasi, Jangbu merekrut dua warga Sherpa lain dan mulai mengawal Chen menuruni Lhotse Face. Tiga ratus kaki dari dasar lereng es, tiba-tiba Chen roboh dan pingsan. Beberapa saat kemudian, radio David Breashers, yang saat itu sedang berada di Camp Dua, berbunyi: panggilan dari Jangbu yang melaporkan dengan suara panik bahwa Chen berhenti bernapas.
     Breashers dan rekannya dari tim IMAX, Ed Viesturs, bergegas naik untuk membantunya, tetapi saat mereka tiba ditempat Chen empat puluh menit kemudian, mereka tidak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan. Sore itu, setelah Gau tiba di Jalur Selatan, Breashers menghubunginya melalui radio, "Makalu," kata Breashers kepada pemimpin tim Taiwan itu, "Chen meninggal."
     "Baik," Gau menjawab. "Terima kasih atas informasinya." Kemudian dia meyakinkan para anggota timnya bahwa kematian Chen tidak akan mengubah rencana mereka untuk melakukan pendakian terakhir menuju puncak, dan mereka akan berangkat sesaat setelah tengah malam. Breashers benar-benar terkejut. "Saya baru saja menutupkan mata rekannya untuk dia," katanya dengan marah. "Saya baru saja membawa tubuh Chen ke bawah. Tetapi, Makalu cuma berkata, 'Baik'. Saya tidak tahu, barangkali budaya mereka memang seperti itu. Barangkali, dia berpikir bahwa cara terbaik untuk menghormati kematian Chen adalah dengan melanjutkan pendakian sampai kepuncak."
     Selama enam minggu terakhir, beberapa kecelakaan yang cukup serius telah terjadi: Tenzing jatuh kedalam celah gletser sebelum kami tiba di Base Camp; Ngawang Topche terserang HAPE dan kondisinya terus memburuk; seorang pendaki muda warga Inggris yang bertubuh sehat dari tim ekspedisi Mal Duff bernama Ginge Fullen terkena serangan jantung yang cukup serius didekat puncak Jeram Es; seorang warga Denmark dari tim ekspedisi Mal Duff bernama Kim Sejberg tertimpa bongkahan es yang jatuh ke Jeram Es, mematahkan beberapa tulang rusuknya. Namun, sampai saat itu, belum satu orang pun yang meninggal.
     Kematian Chen seperti membawa awan gelap ke seluruh gunung, saat kabar tentang kecelakaan yang menimpanya menyebar dari satu tenda ke tenda lain. Namun, tiga puluh pendaki sedang bersiap-siap untuk mendaki puncak dalam beberapa jam sehingga awan gelap itu dengan cepat menghilang digantikan oleh perasaan was-was menunggu kejadian selanjutnya. Hampir semua pendaki sudah dicekam oleh demam puncak, dan tidak ada satu pendaki pun yang mempunyai waktu untuk sungguh-sungguh memikrkan kematian salah seorang pendaki. Masih ada waktu untuk merenung, itulah yang kami pikirkan, yaitu setelah kami tiba dipuncak dan kembali ke bawah sana.

Into Thin Air --- BAB X --- LHOTSE FACE, 29 APRIL 1996 --- 23.400 KAKI

Publik Amerika pada dasarnya tidak memiliki rasa simpati terhadap para pendaki gunung, tidak seperti orang-orang di negara-negara bergunung di Eropa atau Inggris yang menciptakan olahraga ini. Disana, banyak yang memiliki semacam pengertian dan meskipun orang biasa mungkin menganggap kegiatan itu sebagai tindakan nekat yang mengancam nyawa, mereka bisa menerima bahwa itu adalah sesuatu yang harus dilakukan. Di Amerika, penerimaan semacam itu tidak ada.

Walt Unsworth
Everest

Sehari setelah upaya pertama kami mencapai Camp Tiga digagalkan oleh angin dan udara yang sangat dingin, semua anggota tim Hall kecuali Doug (yang tetap tinggal di Camp Dua untuk memulihkan batang tenggorokannya yang terluka) mencoba mendaki untuk kedua kalinya. Seribu kaki diatas Camp Dua, dilereng Lhotse Face yang terjal, aku mendaki sambil berpegang pada tali nilon yang sudah tampak usang, pendakian yang seakan-akan tidak pernah berakhir; semakin tinggi aku mendaki, semakin lambat pula gerakanku. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan, aku mendorong alat pendaki mekanikku ke atas, kemudian membiarkan alat kecil tersebut menopang berat tubuhku supaya aku bisa menarik napas panjang; kemudian aku menggerakkan kaki kiri, menancapkan sepatu cramponku ke permukaan es, dengan susah payah mengisi paru-paruku dengan dua tarikan napas; menancapkan kaki kananku sejajar dengan kaki kiri, menarik dan mengeluarkan napas melalui dada bawah, menarik dan mengeluarkan napas sekali lagi; kemudian mendorong alat pendaki mekanikku ke atas sekali lagi. Aku sudah menguras tenaga selama tiga jam penuh, dan berpikir bahwa aku masih harus melakukannya selama satu jam sebelum aku bisa beristirahat. Dalam kondisi yang sulit seperti itulah aku mendaki ke arah sekumpulan tenda yang menurut kabar, menempel dilereng yang sangat terjal diatasku, dengan gerakan sangat perlahan, seinci demi seinci.
     Orang-orang yang tidak pernah mendaki gunung---artinya, sebagian besar manusia---cenderung beranggapan bahwa olahraga ini merupakan olahraga nekat, sebuah kegiatan yang tidak masuk akal untuk meningkatkan gairah hidup. Akan tetapi, anggapan bahwa para pendaki hanyalah orang-orang yang kecanduan adrenalin, yang selalu mengejar kepuasan moral, tidak sepenuhnya benar, setidaknya dalam kasus Everest. Yang kulakukan ditempat yang tinggi saat ini, sama sekali berbeda dengan bungee jumping atau sky diving atau mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 120 mil per jam.
     Selain kenyamanan yang diberikan selama berada di Base Camp, ekspedisi ini nyatanya sedang melaksanakan kegiatan yang hampir-hampir bersifat religius. Rasio kesulitan ditempat ini jauh lebih besar  dibanding kesenangannya, sesuatu yang tidak kujumpai digunung-gunung lain yang pernah kudaki; dengan cepat aku menyadari bahwa mendaki Everest identik dengan penderitaan. Dan tiba-tiba saja aku sadar bahwa dengan membiarkan diri mereka selama berminggu-minggu bekerja keras, didera oleh rasa jemu dan penderitaan, sebagian besar para pendaki mungkin sedang mencari sebuah bentuk kemurnian.
     Tentu saja ada sekelompok pendaki yang memiliki motif berbeda dan kurang bermakna: ketenaran, menunjang karir, meningkatkan ego, kebanggaan diri dan uang. Namun, faktor-faktor yang sifatnya dangkal seperti itu tidak sepenting seperti yang diperkirakan para kritikus. Bahkan setelah mengamati rekan-rekanku satu tim selama beberapa minggu, aku harus mengubah pendapat awalku tentang mereka.
     Contohnya Beck Weathers, yang saat ini tampak seperti sebuah bintik merah kecil diatas permukaan es, 500 kaki dibawahku, hampir diujung barisan pendaki yang panjang. Kesan pertamaku tentang Beck jauh dari menyenangkan: patologis dari Dallas yang semula ku anggap terlalu ramah dengan kemampuan mendaki pas-pasan, sepintas memang tampak seperti seorang pendukung fanatik Partai Republik yang kaya raya, yang ingin membeli puncak Everest untuk melengkapi koleksi pialanya. Namun, setelah aku lebih mengenalnya, rasa hormatku mulai tumbuh. Meskipun sepatu gunungnya yang baru dan kaku hampir-hampir meremukkan kedua kakinya menjadi hamburger, dari hari ke hari Beck terus mendaki, hampir-hampir tidak pernah mengeluh, padahal aku yakin, dia pasti sangat kesakitan. Beck benar-benar tangguh, dengan kemauan baja dan pandai menahan diri. Sikap yang semula kuanggap congkak semakin lama semakin tampak seperti semangat yang menggebu-gebu. Dia juga tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain (termasuk kepada Hillary Clinton). Sifat Beck yang periang dan rasa optimisme yang tidak terbatas benar-benar mampu mencairkan hati orang, sehingga mau tidak mau, aku mulai menyukainya.
     Sebagai anak seorang penerbang Angkatan Udara, Beck menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah dari satu komplek militer ke komplek militer lain, sebelum akhirnya dia masuk universitas di Wichita Falls. Setelah lulus dari fakultas kedokteran, Beck menikah dan memiliki dua anak, hidup nyaman dan berkecukupan sebagai dokter praktik di Dallas. Pada 1986, saat usianya mendekati empat puluh tahun, dia berlibur ke Colorado dan mulai tertarik pada olahraga mendaki gunung, sehingga dia mendaftarkan diri untuk mengikuti kursus dasar mendaki gunung di Rocky Mountain National Park.
     Para dokter memang lazim dikenal sebagai orang-orang yang ingin meraih prestasi tinggi; Beck bukan satu-satunya dokter yang tergila-gila pada hobi baru. Namun, mendaki tidak sama dengan olahraga golf atau tenis atau beberapa kegiatan pengisi waktu luang yang banyak di geluti rekan-rekannya. Ketahanan fisik dan perjuangan emosional yang dituntut oleh kegiatan mendaki gunung dan bencana nyata yang dihadapi---menjadikan olahraga ini bukan sekedar permainan. Mendaki lebih mirip dengan kehidupan nyata, dengan kondisi yang lebih sulit, dan tantangan seperti itu belum pernah dia hadapi. Istrinya, Peach, semakin cemas melihat suaminya yang seakan-akan tenggelam dalam hobi barunya, merampas sang suami dari kebersamaan keluarga mereka. Dia tidak senang ketika Beck, beberapa saat setelah dia mulai menekuni hobi barunya, mengumumkan bahwa dia bermaksud menaklukkan Tujuh Puncak.
     Meskipun obsesi Beck membuatnya sangat egois dan berlebihan, itu bukan sebuah tindakan sembrono. Kesungguhan yang sama dalam meraih sasaran kuamati pula pada diri Lou Kasischke, pengacara dari Bloomfield Hills; pada Yasuko Namba, wanita Jepang yang pendiam yang selalu melahap mie untuk sarapan pagi; dan pada diri John Taske, ahli anestesi dari Brisbane berusia lima puluh enam tahun, yang mulai menekuni hobi mendaki setelah pensiun dari angkatan darat.
     "Ketika aku meninggalkan kehidupan militer, aku seperti orang yang kehilangan arah," keluh Taske dengan aksen Australianya yang kental. Dia mantan orang penting di Angkatan Darat---seorang kolonel di Special Air Service, satuan Baret Hijau nya Australia. Taske yang dua kali ditugaskan di Vietnam saat perang sedang berkecamuk, benar-benar tidak siap menghadapi kehidupan datar paska militer. "Aku baru sadar bahwa aku tidak bisa bergaul dengan orang-orang sipil," tambahnya. "Perkawinanku hancur. Aku melihat sebuah terowongan panjang dan gelap yang perlahan-lahan menutup, berujung pada kerentaan, usia tua dan kematian. Kemudian aku mulai mendaki gunung, dan olahraga ini memberi aku banyak hal yang tidak aku temukan dalam kehidupan sebagai orang sipil---tantangan, persahabatan dan perasaan memiliki misi."
      Ketika rasa simpatiku terhadap Taske, Weathers dan beberapa rekanku semakin menguat, aku semakin tidak nyaman dengan peranku sebagai wartawan. Aku tidak akan ragu-ragu jika aku harus menulis dengan jujur tentang Hall, Fischer atau Sandy Pittman, orang-orang yang selama bertahun-tahun dan secara agresif  selalu mencari perhatian media. Tidak demikian halnya dengan beberapa rekan sependakianku yang lain. Saat mereka mendaftarkan diri untuk bergabung dengan tim ekspedisi Hall, tidak satupun dari mereka yang tahu bahwa seorang wartawan akan hadir ditengah kelompok mereka---seseorang yang terus menerus menulis, mencatat diam-diam semua kata-kata dan tindakan mereka, agar semua kekurangan dan kelemahan mereka  bisa diungkapkan kepada publik yang mungkin tidak simpatik.
     Setelah ekspedisi berakhir, Weathers diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi untuk sebuah program yang dinamai Turning Point. Dalam salah satu segmen wawancara yang belum disunting dan disiarkan, seorang pembicara ABC News bernama Forrest Sawyer bertanya kepada Beck, "Bagaimana perasaan Anda tentang hadirnya seorang wartawan ditengah tim ekspedisi?" Beck menjawab,

Kehadiran seorang wartawan jelas sangat meningkatkan stress. Aku sendiri kurang setuju dengan gagasan tersebut---Anda tahu bukan, orang ini akan menulis cerita yang kemudian dibaca oleh jutaan orang. Artinya, aku sudah merasa cukup buruk karena berada disana dan melakukan tindakan bodoh bersama para pendaki lain. Namun, kehadiran seseorang yang mungkin akan menulis berlembar-lembar cerita dihalaman majalah tentang Anda sebagai pelawak atau badut, pasti akan membuat Anda tertekan dan salah tingkah, sehingga Anda harus bekerja lebih keras. Dan aku khawatir, kehadiran seorang wartawan membuat orang-orang berupaya lebih keras dari yang seharusnya. Hal serupa bisa terjadi pada para pemandu. Artinya, mereka akan berusaha keras  membawa klien yang dibawanya mencapai puncak karena, sekali lagi, seseorang akan menulis tentang itu, dan karena mereka akan dinilai.

Selanjutnya Sawyer bertanya, "Apakah Anda merasa, bahwa kehadiran seorang wartawan memberi tekanan ekstra kepada Rob Hall?" Beck menjawab,

Ya, aku yakin demikian. Pekerjaan ini merupakan mata pencaharian Rob, dan jika salah seorang kliennya terluka, seorang pemandu akan merasa sangat buruk.... Dia memang meraih sukses besar dalam pendakian dua tahun sebelumnya, ketika dia berhasil membawa seluruh kliennya ke puncak, sesuatu yang sungguh luar biasa. Dan, aku benar-benar percaya bahwa Rob berpikir, tim kami merupakan tim yang kuat sehingga kami bisa mengulang sukses tersebut....Jadi, aku yakin tekanan itu memang ada, yaitu agar ketika semua ini dituangkan menjadi berita, ke dalam majalah, laporannya akan bersifat menguntungkan.

Hari sudah menjelang siang ketika akhirnya aku, dengan terbungkuk-bungkuk berjalan menuju Camp Tiga: tiga buah tenda kecil berwarna kuning, ditengah-tengah Lhotse Face yang miring dan luas. Kemah-kemah itu berada disebuah paparan yang sudah lebih dahulu diratakan oleh para Sherpa sehingga tidak lagi berada diatas lereng yang licin. Ketika aku tiba, Lhakpa Chhiri dan Arita sedang bekerja keras untuk membuat sebuah paparan untuk tenda keempat, jadi aku melepaskan ranselku dan membantu mereka meratakan permukaan. Pada ketinggian 24.000 kaki, aku hanya bisa melakukan tujuh atau delapan ayunan kapak es, kemudian berhenti untuk menarik napas selama lebih dari satu menit. Bantuanku jelas  tidak ada artinya, dan perlu lebih dari satu jam sebelum mereka menyelesaikan seluruh pekerjaan.
     Perkemahan kami yang kecil, seratus kaki diatas perkemahan milik tim ekspedisi yang lain, benar-benar berada ditempat yang terbuka. Selama berminggu-minggu kami mendaki dan menguras  tenaga  ditempat yang bisa dikatakan ngarai; sekarang, untuk pertama kalinya selama ekspedisi berlangsung, kami berhadapan langsung dengan langit, bukan dengan bumi. Sekelompok awan tebal berwarna putih berkejar-kejaran dibawah sinar matahari, membentuk gambar pemandangan dengan bayangan yang terus berubah dan sinar yang menyilaukan mata. Sambil menunggu kedatangan rekan-rekanku, aku duduk dengan kedua kakiku menjulur diatas ngarai, mataku menatap ke arah gerombolan awan, kemudian turun mengamati beberapa puncak gunung yang berada pada ketinggian 22.000 kaki. Sebulan yang lalu, puncak-puncak itu masih  berada jauh diatas kepalaku. Setelah melalui waktu yang cukup panjang, aku akhirnya benar-benar berada didekat puncak dunia.
     Namun, puncak itu sendiri masih berada satu mil vertikal diatasku, dilingkari oleh kondensasi awan hujan yang bisa menjadi bibit sebuah badai. Meskipun puncak itu berada ditengah terjangan angin dengan kecepatan seratus mil per jam, udara di Camp Tiga hampir-hampir tidak berangin, dan ketika siang perlahan lahan berlalu, kepalaku mulai terasa pusing karena sinar matahari yang bersinar terik---setidaknya, aku berharap panas mataharilah yang membuat ku merasa seperti orang bodoh, bukan tanda-tanda awal dari serangan HACE.
     High Altitude Cerebral Edema atau HACE (pembengkakan otak akibat ketinggian) lebih jarang terjadi dibandingkan High Altitude Pulmonary Edema (Pembengkakan paru-paru karena ketinggian), tetapi lebih mematikan. HACE merupakan sejenis penyakit membingungkan dan terjadi jika ada kebocoran pada pembuluh darah otak yang kekurangan oksigen, menyebabkan otak membengkak cepat, dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa peringatan sama sekali. Ketika tekanan didalam rongga otak meningkat, kemampuan motorik dan mental penderita akan menurun dengan drastis---biasanya hanya dalam waktu beberapa jam atau kurang---dan biasanya, si korban tidak sadar akan perubahan yang terjadi. Tahap selanjutnya adalah koma, jika si pasien tidak segera dievakuasi ke ketinggian yang lebih rendah, lalu disusul dengan kematian.
     Sore itu aku berpikir tentang HACE karena dua hari yang lalu, tepat di Camp Tiga ini, salah seorang pendaki dari kelompok Fischer bernama Dale Kruse, seorang dokter gigi berusia empat puluh empat tahun dari Colorado, terserang HACE yang cukup parah. Kruse yang merupakan teman lama Fischer adalah pendaki yang tangguh dan berpengalaman. Pada 26 April, dia mendaki dari Camp Dua ke Camp Tiga , membuat teh untuk dirinya sendiri dan teman-temannya, kemudian berbaring ditendanya untuk tidur siang. "Aku langsung tertidur" kenang Kruse, "dan terus tertidur selama dua puluh empat jam, sampai kira-kira pukul 14.00 siang keesokan harinya. Ketika seseorang membangunkan aku, orang-orang langsung menyadari bahwa pikiranku tidak bekerja, meskipun aku sendiri tidak menyadarinya. Kemudian Scott berkata kepadaku, 'Kami harus membawamu keluar dari tempat ini secepatnya."
     Kruse bahkan kesulitan untuk memakai pakaian sendiri. Harness nya dikenakan secara terbalik, dan diikat diluar jaket anti anginnya. Dia juga tidak mampu mengikatkan tali harness nya dengan benar. Untunglah, Fischer dan Neal Beidleman melihatnya sebelum Kruse mulai menuruni gunung. "Jika dia turun gunung dengan tali seperti itu," kata Beidleman, 'dia pasti terlepas dari harness nya dan jatuh ke dasar Lhotse Face."
     "Aku seperti orang yang mabuk berat," kenang Kruse. "Aku tidak bisa berjalan tanpa tersandung, dan aku benar-benar tidak bisa berpikir atau berbicara. Aku merasa benar-benar aneh. Otakku memikirkan sejumlah perkataan, tetapi aku tidak bisa mengeluarkannya melalui mulut. Jadi Scott dan Neal harus membantu aku berpakaian dan memastikan harness ku terpasang dengan benar, kemudian Scott menurunkan aku melalui jalur tali yang sudah terpasang." Ketika tiba di Base Camp, kata Kruse, "aku membutuhkan tiga atau empat hari sebelum bisa berjalan ke tendaku atau tenda utama tanpa tersandung.
    
Saat matahari sore turun kebalik Puncak Pumori, temperatur di Camp Tiga turun sampai lebih dari lima puluh derajat, dan ketika udara menjadi lebih dingin, kepalaku mulai terasa jernih: kecemasan bahwa aku terserang HACE ternyata tidak berdasar, setidaknya untuk sementara waktu. Keesokan harinya, setelah aku melewatkan malam yang melelahkan karena tidak bisa tidur, pada ketinggian 24.000 kaki, kami turun kembali ke Camp Dua, dan sehari kemudian pada 1 Mei, aku turun ke Base Camp untuk mengembalikan kekuatan yang dibutuhkan untuk mendaki puncak.
     Proses aklimatisasi kami secara resmi sudah berakhir---dan aku terkejut bercampur gembira karena strategi Hall ternyata berhasil: Setelah tiga minggu berada di atas gunung, aku menemukan bahwa udara di Base Camp terasa tebal, kaya dan penuh oksigen dibanding dengan buruknya atmosfer di dua perkemahan di atasku yang kandungan oksigennya sangat tipis.
     Meskipun begitu, bukan berarti bahwa tubuhku baik-baik saja. Aku kehilangan berat badan hampir sepuluh kilogram, terutama dibagian bahu, punggung dan kaki. Hampir semua lemak yang berada dibawah kulitku telah habis terbakar, membuatku sangat rentan terhadap udara dingin. Namun masalah yang paling menggangguku adalah dadaku: batuk kering yang menyerangku sejak beberapa minggu yang lalu, yaitu saat aku sedang berada di Lobuje, semakin hari semakin bertambah parah, dan mengoyakkan beberapa tulang rawan rusukku ketika aku terbatuk keras saat berada di Camp Tiga. Batuk yang kuderita tidak juga mereda, dan setiap kali aku terbatuk, aku merasa seakan-akan seseorang menendangku diantara tulang rusukku.
     Hampir semua pendaki di Base Camp berada dalam kondisi yang juga buruk---ini sekadar kenyataan hidup dipunggung Everest. Dan dalam waktu lima hari, para anggota tim ekspedisi Hall dan Fischer akan meninggalkan Base Camp untuk menuju puncak. Berharap bisa memulihkan kondisiku, aku memutuskan untuk beristirahat, menelan ibuprofen (semacam obat anti inflamasi nonsteroid) dan menelan sebanyak mungkin makanan yang bisa kutelan saat itu.
     Sejak awal ekspedisi, Hall berencana untuk mencapai puncak pada 10 Mei. "Dari empat kali penaklukan puncak,' katanya "dua kali aku lakukan pada 10 Mei. Seperti kata para Sherpa, tanggal sepuluh merupakan tanggal 'keberuntunganku." Namun, sebenarnya ada alasan lain yang lebih masuk akal, yang terkait dengan pemilihan tanggal tersebut: angin muson yang terus berfluktuasi sepanjang tahun membuat tanggal 10 Mei atau tanggal-tanggal di seputarnya menjadi tanggal yang paling baik.
     Sepanjang bulan April, angin kencang yang bertiup ke arah barat menerjang puncak Everest layaknya sebuah selang api. Bahkan ketika cuaca di Base Camp terasa tenang dan disinari matahari, spanduk-spanduk es raksasa yang tertiup angin melesat turun dari arah puncak. Namun, pada awal bulan Mei, kami berharap angin muson yang bertiup dari Teluk Bengali akan memaksa angin yang bertiup ke barat tadi membelok ke utara menuju Tibet. Jika cuaca tahun ini serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, celah diantara perginya angin tadi dan tibanya badai muson bisa memberi kami cuaca yang jernih dan tenang sehingga kami bisa menaklukkan puncak.
     Sayangnya, pola tahunan cuaca ditempat ini bukan lagi merupakan rahasia, dan semua tim ekspedisi sama-sama menantikan datangnya udara tenang tersebut. Untuk menghindari terjadinya kemacetan yang sangat berbahaya akibat banyaknya jumlah pendaki, Hall mengadakan pertemuan dengan para pemimpin ekspedisi di Base Camp. Dan kami semua sudah sepakat, bahwa Goran Kropp, seorang pemuda Swedia yang mengendarai sepeda dari Stockholm ke Nepal akan menjadi pendaki pertama yang mendaki sendirian pada 3 Mei, disusul oleh tim Montenegro. Kemudian pada 8 atau 9 Mei, tim ekspedisi IMAX mendapat giliran.
     Tim ekspedisi Hall dan Fischer akan sama-sama mendaki pada 10 Mei. Setelah hampir terbunuh oleh sebuah batu yang jatuh di Punggung Tenggara, Petter Neby, pendaki solo warga Norwegia akhirnya pergi: suatu pagi, diam-diam dia meninggalkan Base Camp dan kembali ke Skandinavia. Sebuah tim yang dipandu oleh dua warga Amerika, Todd Burleson dan Pete Athans, juga tim komersial pimpinan Mal Duff dan satu tim komersial dari Inggris, berjanji bahwa mereka tidak akan mendaki tanggal 10 Mei, juga tim dari Taiwan. Hanya Ian Woodall yang menolak membuat kesepakatan dan menyatakan bahwa tim  Afrika Selatan akan mendaki kapan saja dan sesuai dengan keinginan mereka, mungkin juga pada 10 Mei. Tim lain yang tidak suka dipersilakan mundur.
     Hall yang biasanya tidak mudah marah, benar-benar geram mendengar penolakan Woodall untuk bekerja sama. "Aku tidak ingin berada disekitar puncak saat penjudi itu berada disana," katanya dengan marah.

Rabu, 23 September 2015

Into Thin Air : BAB IX ~~~ CAMP DUA ~~~ 28 APRIL 1996 ~~~ 21.300 KAKI

Kita mengisahkan dongeng-dongeng untuk diri kita sendiri agar bisa bertahan hidup ... Kita mencari khotbah dalam upaya bunuh diri yang kita lakukan, untuk mencari pelajaran moral dan sosial dalam pembunuhan terhadap lima orang. Kita menafsirkan apa yang kita lihat, memilih yang paling tepat dari  pilihan yang ada. Kita hidup, terutama jika kita penulis, dengan sepenuhnya mengandalkan kalimat-kalimat narasi tentang beberapa gambaran yang berbeda, dengan "sejumlah gagasan" yang kita gunakan untuk belajar membekukan gambaran fantastik yang terus berubah, yang merupakan pengalaman nyata kita.

JOAN DIDION
THE WHITE ALBUM

Pukul 04.00 pagi, aku sudah bangun saat alarm jam tanganku berbunyi; hampir semalaman aku tidak bisa tidur, berjuang keras untuk bisa bernapas ditengah udara yang sangat tipis. Dan sekarang, tiba waktunya untuk memulai ritual yang tidak menyenangkan, keluar dari kehangatan kantong tidur dan masuk ke dalam udara dingin yang menusuk pada ketinggian 21.300 kaki. Dua hari yang lalu---Jumat, 26 April---dengan terbungkuk-bungkuk kami mendaki dari Base Camp menuju Camp Dua untuk memulai dan mengakhiri hari ketiga program aklimatisasi, sebagai persiapan untuk menuju puncak. Pagi ini, sesuai dengan rencana besar Rob, kami akan mendaki dari Camp Dua ke Camp Tiga dan menginap semalam di Camp Tiga pada ketinggian 24.000 kaki.
     Rob meminta kami untuk siap berangkat pada pukul 4.45 tepat---artinya empat puluh lima menit lagi---hampir-hampir tidak cukup untuk berpakaian, menelan sepotong cokelat dan meneguk sedikit teh, dan memasang crampon pada sepatu. Dengan mengarahkan lampu kepalaku pada termometer murah yang kubeli ditoko kelontong, termometer yang sekarang menempel di atas parka yang kugunakan sebagai bantal, aku bisa melihat bahwa temperatur didalam tenda kecil untuk dua orang ini mencapai tujuh derajat Fahrenheit dibawah nol. "Doug!" teriakku pada gundukan terbungkus kantong tidur disisiku. "Waktunya bergerak, kawan. Kamu sudah bangun, kan?"
     "Bangun?" katanya bersungut-sungut dengan suara lelah. "Bagaimana kamu bisa berpikir bahwa aku bisa tidur? Aku merasa sangat payah. Pasti ada yang salah dengan tenggorokanku. Kawan, aku benar-benar terlalu tua untuk kegiatan seperti ini."
     Sepanjang malam, udara bau yang keluar melalui pernapasan kami mengembun dan membentuk lapisan tipis yang membeku dibagian dalam nilon tenda; ketika aku duduk dan mulai mencari-cari pakaianku ditengah kegelapan, mau tidak mau tubuhku akan menyentuh bagian bawah tenda, dan setiap kali itu terjadi butiran-butiran embun beku akan jatuh menutupi segala sesuatu didalam tenda dengan kristal-kristal es. Sambil gemetar kedinginan, aku memakai tiga lapis pakaian dalam yang terbuat dari bahan propylene yang hangat dan mantel anti angin terbuat dari nilon, kemudian memakai sepatu plastikku yang kaku. Aku berteriak kesakitan ketika tali sepatu ku tarik terlalu keras, selama dua minggu terakhir, keadaan ujung-ujung jari tanganku yang pecah-pecah dan berdarah semakin bertambah buruk akibat udara dingin.
     Aku berjalan keluar dari tenda tanpa melepaskan lampu kepalaku, dibelakang Rob dan Frank, mendaki diantara pilar-pilar es dan tumpukan batuan rombakan menuju badan gletser. Selama dua jam berikutnya, kami berjalan melewati lereng yang landai, seperti lereng yang kerap digunakan para pemain ski pemula untuk berlatih, sampai akhirnya kami tiba di bergschrund yang merupakan batas atas dari Gletser Khumbu. Tepat diatasnya berdiri Lhotse Face, sebuah permukaan es yang miring dan luas, mengilat seperti krom kotor ditengah keremangan sinar matahari fajar. Seutas tali dengan diameter sembilan milimeter menjulur ke bawah, seolah-olah turun dari surga, berkelok-kelok ditengah permukaan yang luas dan beku tersebut, seperti pohon kacang dalam cerita Jack dan kacang ajaib. Aku meraih ujung tali tersebut, mengaitkan alat pendaki mekanisku (jumar)*1 ke lintasan tali yang sedikit bergoyang tersebut, dan mulai memanjat.
     Tubuhku terasa dingin dan tidak nyaman sejak meninggalkan kemah, karena pakaian dalam yang kupakai tidak cukup tebal. Aku mengira udara akan panas karena dampak oven matahari yang selalu terjadi jika matahari menyinari Cwm Barat. Namun, pagi ini udara tetap dingin karena angin dingin bertiup ke bawah dari bagian atas gunung sehingga temperatur udara turun drastis sampai empat puluh derajat dibawah nol. Aku membawa beberapa mantel hangat diranselku, tetapi untuk memakainya aku harus melepaskan dulu sarung tangan, ransel dan jaket anti angin yang kupakai tanpa melepaskan peganganku pada tali yang terentang. Karena takut menjatuhkan sesuatu, aku memutuskan untuk menunggu sampai aku tiba dibagian lereng yang tidak terlalu terjal, supaya aku bisa berdiri tanpa bergantung pada tali. Jadi aku terus memanjat dan sambil memanjat, badanku menjadi kian dingin dan dingin.
     Tiupan angin menerbangkan bubuk-bubuk salju yang berputar menuruni lereng seperti ombak yang memecah pantai sehingga seluruh pakaianku tertutup butiran-butiran salju. Kerak es yang keras menutupi kacamata yang kupakai, membuatku sulit untuk melihat. Kakiku mulai terasa kebas. Jari-jari tanganku kaku seperti kayu. Terus memanjat dalam kondisi seperti ini tampaknya sangat tidak aman. Aku berada diawal antrean pendaki, pada ketinggian 23.000 kaki, lima belas menit didepan pemandu Mike Groom; aku memutuskan untuk menunggunya dan membicarakan masalah yang kuhadapi. Namun sebelum dia tiba didekatku, aku mendengar suara Rob melalui radio yang dibawa Mike didalam jaketnya, dan Mike berhenti mendaki untuk menjawab panggilannya. "Rob meminta semua orang untuk turun lagi!" Teriaknya berusaha mengatasi suara angin. "Kita harus meninggalkan tempat ini!".
      Tengah hari kami baru tiba kembali di Camp Dua, dan menaksir kerusakan yang terjadi. Aku merasa sangat lelah, tetapi diluar itu aku baik-baik saja. John Taske, dokter warga Australia itu terkena gigitan salju yang ringan diujung-ujung jari tangannya. Hanya Doug yang kondisinya mengkhawatirkan. Setelah kedua sepatunya dilepas, Doug menemukan beberapa luka gigitan salju di beberapa jari kakinya. Dalam pendakian Everest 1995, kaki Doug terkena gigitan salju yang cukup parah sehingga sebagian jempol kakinya harus dipotong. Sejak itu sirkulasinya agak terganggu sehingga tubuhnya rentan terhadap udara dingin; gigitan salju kali ini membuatnya semakin rentan terhadap kondisi udara diatas gunung yang buas ini.
     Akan tetapi, gangguan sistem pernapasan yang diderita Doug lebih buruk lagi. Kurang lebih dua minggu sebelum berangkat ke Nepal, Doug menjalani operasi kecil disekitar tenggorokannya. Akibatnya batang tenggorokan Doug masih sangat peka. Pagi ini, saat dia dipaksa menghirup udara yang dingin yang penuh butir-butir salju, pangkal tenggorokannya membeku. "Aku benar-benar bermasalah," kata Doug dengan suara yang hampir tak terdengar dan wajah yang sangat menderita. "Aku bahkan tidak bisa bicara. Bagiku pendakian ini sudah berakhir."
     "Ayolah jangan menyerah Douglas," bujuk Rob. "Tunggu dan lihat bagaimana perasaanmu dalam beberapa hari mendatang. Kamu sangat kuat. Aku pikir, kamu masih bisa mencapai puncak jika kamu berhasil pulih." Dengan ragu-ragu Doug kembali ke tenda kami lalu menarik kantong tidur, menutupi kepalanya. Aku sedih melihat Doug tampak putus asa. Dia sudah menjadi teman baikku, yang tak pernah lelah menceritakan pengalamannya selama pendakian pada 1995 yang gagal. Dileher aku mengenakan kalung dengan bandul batu Xi---jimat Budha keramat yang sudah direstui oleh lama kuil Pangboche---yang diberikan Doug kepadaku pada awal ekspedisi. Keinginanku agar Doug bisa mencapai puncak sama besarnya dengan keinginanku sendiri untuk mencapainya.
     Suasana shock dan depresi terus menyelimuti perkemahan sepanjang hari itu. Tanpa melepaskan bencana terburuk pun gunung itu sudah mampu membuat kami pontang panting mencari perlindungan. Bukan hanya tim kami yang merasa kecil hati dan ragu-ragu. Semangat anggota tim-tim ekspedisi yang saat ini berada di Camp Dua sama-sama berada pada titik yang paling rendah.
     Suasana buruk tersebut tampak nyata dari pertengkaran yang muncul antara Hall dan pemimpin tim ekspedisi Taiwan dan tim Afrika Selatan. Perselisihan itu menyangkut pembagian tanggung jawab merentang tali sepanjang lebih dari satu mil untuk mengamankan rute pendakian sampai ke Lhotse Face. Pada akhir April, lintasan tali berhasil direntangkan mulai puncak Cwm sampai ke Camp Tiga, setengah perjalanan menuju puncak. Untuk menyelesaikan lintasan tali, Hall, Fischer, Ian Woodall, Makalu Gau dan Tod Burleson (warga Amerika pemimpin tim ekspedisi Alpine Ascent yang dipandu) sudah sepakat bahwa pada 26 April, setiap tim akan mengirimkan satu atau dua anggota mereka untuk bersama-sama membentangkan tali di sepanjang sisa rute pendakian, yaitu antara Camp Tiga dan Camp Empat yang berada pada ketinggian 26.000 kaki. Ternyata, rencana itu tidak terlaksana.
     Pada 26 April, ketika Ang Dorje dan Lhakpa Chhiri dari tim Hall, pemandu Anatoli Boukreev dari tim Fischer dan seorang Sherpa dari tim Burleson berangkat menuju Camp Dua, para Sherpa dari tim Afrika Selatan dan Taiwan yang seharusnya ikut ternyata masih meringkuk didalam kantong tidur mereka dan menolak untuk berpartisipasi. Sore harinya, ketika Hall tiba di Camp Dua dan mengetahui tentang hal ini, dia segera menelepon melalui radio untuk menanyakan, mengapa rencana mereka tidak berjalan. Kami Dorje Sherpa, sirdar dari tim Taiwan, meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki kesalahannya. Namun, ketika Hall menelepon Woodall melalui radio, warga Afrika Selatan yang keras kepala---pemimpin ekspedisi itu menanggapinya dengan kata-kata kotor dan hinaan.
     "Cobalah bersikap sopan kawan," kata Hall. "Ku pikir kita semua sudah sepakat." Woodall menjawab bahwa para Sherpanya tetap tinggal ditenda mereka karena tidak ada yang datang untuk membangunkan dan mengatakan kepada mereka bahwa bantuan mereka dibutuhkan. Dengan keras Hall menjawab bahwa Ang Dorje mencoba beberapa kali membangunkan mereka, tetapi mereka mengabaikannya.
     Ketika Hall mengatakan itu, Woodall berkata, "Kalau bukan kamu yang berbohong, pasti Sherpa kamu yang berbohong." Kemudian dia mengancam untuk mengirimkan beberapa Sherpa dari timnya untuk menghajar Ang Dorje.
     Dua hari setelah pertengkaran tersebut, suasana diantara tim kami dan tim Afrika Selatan masih tetap tegang. Suasana murung di Camp Dua diperparah oleh kabar yang kami terima tentang kondisi Ngawang Topche yang terus memburuk. Ketika kondisinya bertambah parah meskipun dia sudah dibawa ke tempat yang lebih rendah, para dokter menduga bahwa Ngawang tidak hanya terserang HAPE, kondisinya diperburuk oleh komplikasi TBC atau gejala awal dari berbagai jenis penyakit paru-paru. Sebaliknya para Sherpa memiliki diagnosa lain; mereka percaya bahwa salah seorang pendaki dari tim Fischer telah membuat Everest marah---Sagarmatha, sang dewi langit---dan para dewa, melampiaskan kemarahan mereka kepada Ngawang.
     Pendaki yang mereka maksud diketahui menjalin hubungan cinta dengan salah seorang anggota ekspedisi yang sedang berusaha mendaki Lhotse Face. Kondisi Base Camp memang tidak memberi keleluasaan pribadi kepada para pendaki wanita sehingga hubungan cinta yang terjadi ditenda wanita tersebut diketahui oleh seluruh anggota tim, terutama para Sherpa yang duduk diluar tenda sambil menunjuk dan mencibir. "X dan Y sedang membuat saus, membuat saus" kata mereka sambil tertawa, menirukan hubungan seksual dengan kedua tangan mereka.
     Mereka tidak peduli meskipun dicemooh oleh para Sherpa (ditambah kebiasaan buruk mereka yang sudah terkenal) yang pada dasarnya tidak menyetujui adanya hubungan seksual pranikah dilereng Sagarmatha yang suci tersebut. Setiap cuaca berubah buruk, satu atau dua warga Sherpa  akan menunjuk awan yang bergulung-gulung naik dan dengan suara sungguh-sungguh berkata, "Ada yang sedang membuat saus. Mereka membawa sial. Sebentar lagi badai pasti datang."
     Sandy Pittman mencatat kepercayaan berbau takhayul ini dalam buku hariannya saat ekspedisi pada 1994, dan dikirimkan sebagai berita Internet pada 1996:

29 April, 1994
Base Camp Everest (17.800 kaki)
Kangshung Face, Tibet
.....seorang kurir tiba sore itu membawa beberapa surat dari rumah untuk semua orang, dan sebuah majalah wanita yang dikirim oleh seorang rekan pendaki yang peduli sebagai lelucon.... Beberapa Sherpa membawa majalah itu ke kemah mereka untuk dilihat-lihat, sementara Sherpa lain merasa resah karena mereka yakin bahwa perbuatan teman-teman mereka bisa menimbulkan bencana. Dewi Chomolungma, protes mereka, tidak akan mentolerir apapun yang tidak layak----digunungnya yang suci ini.

Agama Budha yang dianut di Wilayah Khumbu memang mengandung elemen-elemen animisme: para Sherpa sangat memuliakan para dewa dan roh yang mereka percayai tinggal dilembah-lembah, sungai-sungai dan puncak-puncak diwilayah itu. Menghormati para dewa secara layak dianggap penting untuk menjamin keselamatan semua orang yang melewati wilayah yang sangat berbahaya tersebut.
     Untuk menenangkan Sagarmatha, tahun ini---seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya---para Sherpa telah membangun lebih dari selusin chorten yang indah, dibangun dengan sangat cermat di Base Camp, satu chorten untuk satu tim ekspedisi. Bangunan sempurna berbentuk kubus setinggi lima kaki yang ada diperkemahan kami puncak altarnya dihiasi dengan tiga batu runcing yang sudah dipilih dengan cermat, dan diatas ketiga batu itu diletakkan  sebuah tiang kayu setinggi sepuluh kaki dan dipuncak tiang kayu itu diletakkan batang pohon juniper yang anggun. Lima untai bendera doa berwarna warni(*2) direntangkan dari puncak tiang tenda membentuk lingkaran untuk melindungi perkemahan kami dari bahaya. Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, mandor Base Camp---seorang Sherpa yang dituakan dan sangat dihormati bernama Ang Tshering---akan menyalakan beberapa tangkai dupa juniper dan membacakan doa-doa di chorten tersebut; sebelum menuju Jeram Es, semua pendaki, baik para pendaki Barat maupun warga Sherpa akan berjalan melewati altar---berjalan disamping kanan altar---ditengah-tengah kepulan asap manis untuk menerima restu dari Ang Tshering.
     Meskipun mereka melakukan berbagai jenis ritual, agama Budha yang dianut oleh para Sherpa bersifat luwes dan tidak dogmatik. Agar selalu dilindungi oleh Sagarmatha, misalnya, setiap tim yang memasuki Jeram Es untuk pertama kalinya harus melaksanakan puja, upacara keagamaan yang rumit. Namun, jika pada hari yang sudah ditentukan lama tua berwajah keriput yang seharusnya memimpin upacara puja tidak bisa melakukan perjalanan dari desanya yang jauh, Ang Tshering menganjurkan agar kami langsung mendaki Jeram Es, karena Sagarmatha mengerti bahwa kami akan melaksanakan puja segera setelah kami kembali.
     Kelonggaran dalam bersikap yang serupa teramati dilereng Everest: meskipun orang-orang Sherpa menyatakan bahwa mereka menghormati larangan untuk tidak berbuat maksiat, tidak sedikit warga Sherpa yang mengabaikan larangan tersebut---pada 1996, seorang warga Sherpa bahkan terlibat hubungan cinta dengan seorang pendaki Amerika anggota tim ekspedisi IMAX. Karena itu, cukup aneh jika orang-orang Sherpa menuduh bahwa penyakit Ngawang merupakan akibat dari hubungan gelap yang terjadi disalah satu tenda ekspedisi Mountain Madness. Namun, ketika sikap tidak konsisten tersebut kusampaikan kepada seorang Sherpa bernama Lopsang Jangbu---sirdar pendaki dari tim Fischer yang berusia dua puluh tiga tahun---dia bersikeras bahwa penyebabnya sesungguhnya bukan karena salah seorang pendaki Fischer "melakukan hubungan seksual" di Base Camp, melainkan karena dia melanjutkan hubungan tersebut setelah mereka berada jauh diatas gunung.
     "Gunung Everest merupakan Dewa---bagi saya, dan bagi semua orang," kata Lopsang sambil merenung, sepuluh minggu setelah ekspedisi berakhir. "Jika pasangan suami istri tidur bersama, itu baik. Namun jika (X) dan (Y) tidur bersama, mereka akan membawa sial bagi tim.... Jadi, aku berkata kepada Scott: 'Tolonglah Scott, Anda pemimpin ekspedisi . Katakan kepada (X) untuk menghentikan hubungan mereka setelah mereka berada di Camp Dua.' Namun, Scott hanya tertawa. Beberapa saat setelah (X) dan (Y) tidur bersama ditenda untuk pertama kali, Ngawang Topche jatuh sakit di Camp Dua. Jadi, sekarang dia mati."
     Ngawang adalah paman Lopsang; hubungan keduanya sangat dekat, dan Lopsang termasuk salah seorang anggota tim penyelamat yang menyongsong Ngawang dibawah Jeram Es pada malam 22 April. Kemudian, ketika di Pheriche pernapasan Ngawang berhenti dan dia harus dievakuasi ke Kathmandu, dengan cepat Lopsang berangkat ke Base Camp (dengan persetujuan Fischer) dan tiba pada saat yang tepat sehingga dia bisa menemani pamannya didalam helikopter. Perjalanan pendeknya ke Kathmandu dan perjalanan cepat kembali ke Base Camp membuatnya kelelahan dan tubuhnya kurang teraklimatisasi---sesuatu yang tidak diperhitungkan oleh tim Fischer: Fischer sangat bergantung pada Lopsang seperti Hall bergantung pada sirdar pendakinya, Ang Dorje.
     Ada beberapa pendaki Himalaya yang andal yang ikut mendaki Everest dari wilayah Nepal pada 1996---mereka adalah para veteran pendaki seperti Hall, Fischer, Breashers, Pete Schoening, Ang Dorje, Mike Groom dan Robert  Schauer, warga Austria anggota tim IMAX. Namun, selain orang-orang yang disebut diatas, masih ada empat pendaki yang jauh lebih andal---orang-orang dengan keahlian mendaki yang sangat prima pada ketinggian diatas 26.000 kaki sehingga mereka bisa dikelompokkan dalam kelas tersendiri. Orang-orang itu adalah Ed Viesturs, warga Amerika salah seorang bintang dalam film IMAX; Anatoli Boukreev, pemandu Kazakhstan yang bekerja untuk Fischer; Ang Babu, warga Sherpa yang dipekerjakan oleh tim Afrika Selatan; dan Lopsang.
     Lopsang yang pandai bergaul, tampan dan toleran terhadap kekurangan orang lain memang sedikit congkak, tetapi dia juga sangat menarik. Dia dibesarkan diwilayah Rolwaling sebagai anak tunggal; Lopsang juga tidak merokok atau minum minuman keras, sesuatu yang tidak lazim dikalangan warga Sherpa. Giginya sering terbalut emas dan dia sangat mudah tertawa. Meskipun tulang-tulangnya kecil dan tubuhnya kurus, sifatnya periang, rajin, dan bakat atletisnya yang luar biasa, membuatnya dijuluki Deion Sanders dari Khumbu. Fischer pernah mengatakan kepadaku bahwa Lopsang punya potensi untuk menjadi "Reinhold Messner kedua"---pendaki Himalaya dari Tyrolean, Italia, yang terkenal dan paling andal didunia pendaki gunung.
     Debut pertama Lopsang terjadi pada 1993. Saat itu usianya baru dua puluh tahun dan dia disewa untuk menjadi kuli angkut untuk tim ekspedisi Everest gabungan India-Nepal dipimpin oleh seorang wanita India bernama Bachendri Pal. Sebagian besar anggota tim tersebut terdiri atas wanita. Sebagai anggota ekspedisi yang paling muda, awalnya Lopsang hanya diberi peran sebagai pembantu, tetapi kekuatan fisiknya benar-benar menakjubkan sehingga pada menit-menit terakhir dia diikutkan dalam tim yang akan menuju puncak, dan pada 16 Mei, dia mencapai puncak tanpa bantuan oksigen.
     Lima bulan setelah menaklukkan Everest, Lopsang mencapai puncak Cho Oyu bersama sebuah tim dari Jepang. Pada musim semi 1994, dia bekerja untuk Fischer dalam ekspedisi Sagarmatha Environmental dan menaklukkan puncak Everest untuk kedua kalinya, juga tanpa bantuan oksigen. Pada September berikutnya, saat mencoba menaklukkan puncak Everest melalui Lereng Barat bersama tim dari Norwegia, dia tertimpa longsoran salju; setelah meluncur sejauh 200 kaki, Lopsang mampu menghentikan tubuhnya dengan bantuan sebuah kapak es, menyelamatkan dirinya sendiri dan dua rekannya yang sama-sama terikat pada satu tali. Sayangnya, paman Lopsang yang saat itu terikat pada pendaki lain, Mingma Norbu, terbawa longsoran salju dan tewas. Meskipun kehilangan itu membuat Lopsang terguncang, semangat mendakinya tidak pernah padam.
     Pada Mei 1995, dia menaklukkan puncak Everest untuk ketiga kalinya tanpa bantuan oksigen, kali ini sebagai pekerja dalam tim ekspedisi Hall, dan tiga bulan kemudian dia mencapai puncak Broad Peak, di Pakistan, yang memiliki ketinggian 26.400 kaki. Ketika Lopsang bergabung dengan tim ekspedisi Fischer pada 1996, dia baru tiga tahun mendaki, tetapi dalam waktu yang singkat dia sudah bekerja untuk tidak kurang dari sepuluh tim ekspedisi Himalaya dan memiliki reputasi sebagai pendaki gunung kelas atas.
     Saat mendaki Everest pada 1994, Fischer dan Lopsang saling mengagumi. Keduanya sama-sama energik, memiliki kepribadian yang menarik dan mampu membuat kaum wanita tergila-gila. Lopsang menganggap Fischer sebagai mentor dan anutannya, bahkan dia mulai mengikat rambutnya seperti Fischer. "Scott pria yang sangat kuat, begitu pula saya," kata Lopsang dengan nada congkaknya yang khas. "Kami merupakan tim yang kompak. Scott tidak membayarku sebaik Rob atau orang-orang Jepang, tetapi aku tidak membutuhkan uang; aku melihat jauh ke masa depan, dan Scott adalah masa depan saya. Scott selalu berkata, 'Lopsang, Sherpaku yang kuat! Aku akan membuatmu terkenal!'.... Aku pikir Scott punya rencana besar untukku dan untuk Mountain Madness."

------------------------------------------------------------

*1: Jumar (lazim disebut alat pendaki mekanik) adalah alat sebesar dompet yang mencengkeram tali melalui logam bulat bergerigi. Gerigi tersebut memungkinkan jumar dapat naik turun tanpa hambatan, dan jumar akan melekat lebih erat pada tali jika menahan sejumlah beban. Seorang pendaki akan memanjat tali dengan mendorong alat ini ke atas sedikit demi sedikit.

*2: Bendera doa biasanya berisi ayat-ayat doa agama Budha---umumnya berbunyi "Om mani padme hum"---yang dikirimkan kepada Tuhan melalui setiap kepakan bendera. Selain tulisan berisi doa, bendera tersebut kadang-kadang bergambar kuda terbang; kuda dianggap sebagai makhluk keramat didalam kosmologi Sherpa dan dipercaya sanggup membawa doa-doa ke surga dengan cepat. Bahasa Sherpa untuk bendera doa adalah "lung ta", yang secara bebas bisa diterjemahkan sebagai "kuda angin"

Senin, 31 Agustus 2015

Tour Singkat 4 Gili di Lombok Timur

Selong, Rabu, 26 Agustus 2015 pukul 06.30.


Bersama Risky dan Wawan, saya sedang menikmati pagi di balai bambu depan asrama Unit SAR Lombok Timur. Asrama yang menjadi tempat transit kami selama bertualang di Lombok. Di temani kopi panas kami ngobrol santai. Tubuh sudah terasa lebih segar setelah tidur nyenyak sejak semalam. 

Ya, kemarin malam saya dan teman-teman baru saja turun dari pendakian Gunung Rinjani. Hari ini adalah hari terakhir kami di Lombok, rencananya kami ingin tour singkat ke beberapa pulau di Lombok Timur. 

Sebelumnya, kami bertujuan ke Gili Trawangan atau Senggigi, tapi setelah diberi informasi detail oleh teman-teman di Unit SAR, niat tersebut kami urungkan saja. Selesai sarapan serabi yang di bawakan bang Apip, kami segera menaiki pick up operasional Unit SAR dan berangkat menuju Gili Kondo. 

Pukul 9.00 kami berangkat. Sempat mampir di gerai serba ada untuk membeli keperluan "mantai", akhirnya kami tiba di tepi pantai pukul 10.30. Pantainya bersih sekali, dengan pasir putih yang lembut. Berdiri beberapa gasebu dari bambu, kosong. 

Siang itu hanya 3 gasebu yang ada aktivitasnya. Pos perijinan dan tiket perahu, Penyewaan pelampung dan snorkel serta tempat berkumpul para pemilik perahu wisata. Kami di pungut biaya Rp.55.000/org untuk berkunjung ke empat Gili. Perahu wisata ini muatan maksimalnya adalah 20 orang. Misalkan jumlah penumpang hanya sedikit, maka dikenakan biaya Rp.440.000/perahu. Tinggal nanti nominal tersebut di bagi dengan jumlah penumpangnya.

Saya sedikit heran dengan suasana di pantai ini, selain karena bersihnya juga karena suasananya yang sepi. Biasanya, dari pengalaman saya, kalau ada pantai semodel ini bisa di pastikan ramai dan banyak sampah. Di tambah pelayanan yang sangat ramah dari penjaga dan orang-orang yang ada di pantai, membuat saya semakin nyaman. 

Sebelum naik perahu saya menyewa snorkel dengan biaya Rp.25.000 dan pelampung Rp.10.000. Pukul 10.45 perahu mulai bergerak meninggalkan pantai. Perahu model cadik ini bergerak tenang sebab laut sedang tidak berombak dan surut siang itu. Tujuan kami yang pertama adalah Gili Petagan, sebuah gugusan hutan bakau yang teramat luas, hijau dan asri. Perahu berjalan pelan, dan semakin pelan saat mulai memasuki jalur di antara rimbunnya bakau. Dasar pantai yang berpasir lumpur terlihat jelas karena air yang sangat jernih. 

Dasar pantainya di penuhi oleh lamun. Saya jadi teringat jaman kuliah, ekosistem padang lamun merupakan bagian materi dari mata kuliah Biologi Laut, sedangkan bakau bagian dari Ekologi Perairan...hehe. Ya, intermezzo dikit, hutan bakau merupakan kunci kelestarian perairan pantai. Tempat-tempat dimana bakau masih banyak dan rapat menjamin keberlangsungan hidup biota-biota laut. 

Bisa di pastikan kualitas air lautnya bagus, ikannya pun banyak karena bakau juga berfungsi sebagai nursery ground bagi ikan-ikan, termasuk ikan karang. Fungsi lainnya adalah sebagai pelindung perairan dari ombak yang besar atau tsunami.


Karena air yang surut, di beberapa titik di antara hutan bakau, beberapa teman kami turun untuk mendorong lajunya perahu. Setelah berputar-putar di hutan bakau Gili Petagan, perahu menuju titik snorkeling. Saya pun segera mengenakan snorkel dan menceburkan diri, ya, ini memang bagian yang paling saya tunggu, menikmati keindahan bawah laut. 

Benar saja, terumbu dan ikan-ikan disini memang luar biasa indah---maklum referensi snorkeling saya masih kawasan Sumatra dan Jawa----terkagum-kagum saya dibuatnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya---lebay.com---bisa melihat ikan badut a.k.a Nemo bermain di sela-sela anemon, its really awesome ...saya betul-betul terpukau. 

Ikan-ikan lain seperti jenis-jenis Angel Fish hilir mudik disekitar saya. Bikin betah dan malas naik ke perahu. 30 menit lebih saya dan teman-teman snorkeling sebelum kami berpindah spot ke Gili Kapal. Gili Kapal ini adalah daratan pasir putih yang muncul jika air laut sedang surut. Tak ada peneduh disini, tapi pemandangannya bikin betah. Hamparan laut yang jernih berlatar perbukitan nun jauh di darat sana menambah ke-eksotis-an tempat ini. Disini Wawan memainkan drone yang dia bawa, jadilah kami merekam moment dengan drone.


Puas bermain di Gili Kapal, kami kemudian singgah di Gili Bidara dan Gili Kondo. Di Gili Bidara, terdapat dermaga kecil dan shelter untuk berteduh. Tetapi disini tidak ada vegetasi yang tinggi, meski pantainya berpasir putih bersih. Sedangkan di Gili Kondo banyak terdapat shelter dan vegetasi tinggi sehingga suasana terasa lebih sejuk. Sama seperti halnya Gili Bidara, Gili Kondo juga merupakan pulau tak berpenghuni. Sangat cocok untuk kegiatan kemping ceria, kita akan merasa sedang berada di pulau pribadi saat berkunjung kesini. 

Yang membuat saya bertambah heran, pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun saat kesini. Jadi membayar biaya perahu Rp.55.000/org sudah include masuk ke Gili-Gili yang ada. Seandainya saya masih punya waktu, mungkin saya tidak akan mau pulang hari ini. Keindahan alam pantai di Lombok Timur ini benar-benar fantastik, belum puas saya meng-eksplor-nya. 

Satu perbedaan mendasar antara pantai dan pulau Lombok Timur dan Barat adalah, di Lombok Timur pantai dan pulaunya benar-benar asri, alami serta jauh dari sentuhan modern. Di tambah tidak adanya hotel atau homestay di pinggirannya---menurut keterangan warga, di Lombok Timur memang sengaja di jaga dari pembangunan hotel atau homestay agar suasana alami tetap terjaga. 

Hal yang sebaliknya terjadi di Lombok Barat dimana Gili Trawangan atau Senggigi penuh dengan hotel atau homestay bahkan terkenal dengan kehidupan / hiburan malamnya. Well bagaimanapun tentu ingin berkunjung kemana itu masalah selera masing-masing, toh pantai dan pulau di Lombok memang two thumbs up. Kalau saya sih lebih suka dengan tempat yang masih alami dan sepi, seperti di Lombok Timur ini. 

Dan akhirnya, demi mengejar jadwal pesawat untuk kembali ke Jakarta, petualangan kami di Lombok terpaksa diakhiri. Meski masih sempat nyuri kesempatan untuk mampir ke pantai Kuta Lombok yang pasirnya seperti biji merica. Tunggu ya Next trip saya ke bagian yang lebih timur, saya yakin akan bertemu dengan pantai dan pulau yang jauh lebih indah. Targetnya sih Satonda, Moyo, Labuan Bajo dan Komodo.


Damn! I love Indonesia...
Negeriku surganya pecinta keindahan alam.

-----------The End-----------------


More Info :

- BB : 745565CE

- WA only : 08111181225

- e-mail : cliff.klie@gmail

Amazing view di Gili Kapal

Pantainya bersih banged

Wilco dorong perahu karena air surut

Beautiful underwater world

Memasuki hutan bakau Gili Petagan

Berlabuh di Gili Bidara

Kaya film The Island...hihi

Still underwater world

Pinggir pantai menuju Gili Kondo

Hepi-hepi di Gili Bidara

Subhanallah...speechless

Enjoy maksimal

Nge-gaya ala model

Saya dan Wilco di Gili Kondo

Pantai bersih kaya gini sudah jarang di P. Jawa