Kamis, 15 Oktober 2015

Into Thin Air --- Bab XIX

                INTO THIN AIR
                     BAB XIX
                JALUR SELATAN
                    11 MEI 1996,
       PUKUL 07.30, 26.000 KAKI

Berputar dan berputar diatas puncak yang melebar Sang elang tidak bisa mendengar sang pemburu elang; semua hancur berantakan; sang pusat tidak bisa lag bertahan; Anarki belaka yang dilepaskan ke dalam dunia Gelombang berdarah yang suram sudah terlepas, dan dimana-mana Upacara pemurnian sudah tenggelam

William Butler Yeats
“The Second Coming”
------------------------------------

Ketika aku sedang berjalan tertatih-tatih kembali ke Camp Empat sekitar pukul 07.30, Sabtu 11 Mei, realitas dari peristiwa yang telah terjadi---dan yang sedang terjadi---mulai menghantamku dengan kekuatan yang melumpuhkan. Secara fisik dan emosional tubuhku telah hancur setelah aku, selama hampir satu jam, menjelajahi Jalur Selatan untuk mencari Andy Harris; pencarian yang membuatku yakin bahwa dia sudah tewas. Hubungan radio antara rekan satu timku Stuart Hutchison yang memonitor Rob Hall di Puncak Selatan jelas menunjukkan bahwa pemimpin ekspedisi kami sedang dalam kesulitan besar, dan Doug Hanse sudah tewas. Anggota tim ekspedisi Scott Fischer yang hampir sepanjang malam tersesat di Jalur Selatan melaporkan bahwa Yasuko Namba dan Beck Weathers sudah tewas. Scott Fischer dan Makalu Gau pun dipercaya sudah tewas atau hampir tewas, 1.200 kaki diatas perkemahan.
Dihadapkan pada gambaran ini, otakku berontak dan mundur ke dalam kondisi yang aneh, keterlepasan yang menyerupai robot. Secara emosional aku merasa terbius tetapi kesadaranku sangat tinggi, seakan-akan aku melarikan diri ke dalam sebuah lubang perlindungan yang berada jauh didalam otakku dan sedang mengintip keluar pada kekacauan diseputarku melalui sebuah celah yang sempit dan terlindung. Saat aku menatap dengan kebas ke atas, langit seakan-akan berubah menjadi bayangan biru muda yang aneh dan kosong, kecuali sedikit sisa-sisa warna. Horison yang datar dihiasi oleh sinar  yang menyerupai sinar korona, berkelip-kelip dan berdenyut di hadapan mataku. Aku bertanya-tanya, mungkinkah aku sedang terbenam melewati sebuah spiral memasuki wilayah kegilaan yang menakutkan.
Setelah menetap satu malam diketinggian 26.000 kaki tanpa oksigen tambahan, tubuhku terasa lebih lemah dan lebih lelah dari malam sebelumnya, yaitu ketika aku baru kembali dari puncak. Jika kami tidak mendapatkan gas tambahan atau turun ke perkemahan yang lebih rendah, keadaanku dan keadaan rekan-rekan satu timku dengan cepat akan menjadi makin buruk.
Program aklimatisasi cepat yang diterapkan Hall dan hampir semua pendaki Everest modern memang sangat efisien: memungkinkan para pendaki untuk bergerak ke puncak setelah melewati periode empat minggu yang relatif pendek di ketinggian diatas 17.000 kaki---termasuk menginap satu malam di ketinggian 24.000 kaki(*1). Tetapi, strategi ini diterapkan dengan anggapan bahwa diatas ketinggian  24.000 kaki setiap pendaki akan terus menerus mendapat oksigen tambahan. Jika persyaratan itu tidak terpenuhi, tidak ada jaminan lagi bagi kondisi yang memenuhi syarat secara keseluruhan.
Setelah memeriksa keadaan rekan-rekan satu timku, aku mendapati Frank Fischbeck dan Lou Kasischke terbaring di tenda yang dekat dengan tendaku. Lou mengigau, matanya hampir buta karena pantulan sinar matahari dari atas salju, dia tidak mampu melakukan apapun untuk dirinya sendiri dan terus meracau. Frank seperti orang yang sedang terserang shock berat, tetapi dia berusaha keras untuk merawat Lou. John Taske berada ditenda lain bersama Mike Groom; keduanya tampak tertidur atau tidak sadar. Meskipun aku sendiri merasa sangat lemah, aku bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi rekan-rekanku lebih buruk dari kondisiku, kecuali Stuart Hutchison.
Aku berjalan dari satu tenda ke tenda lain, berusaha mencari persediaan oksigen, tetapi semua botol yang ketemui sudah kosong. Hipoksia yang menyerangku ditambah perasaan lelah yang amat sangat, memperburuk perasaan kacau dan putus asa yang kurasakan. Untungnya, keributan yang disebabkan oleh suara kepakan nilon tenda yang tertiup angin menghambat komunikasi dari tenda ke tenda. Baterai-baterai dari satu-satunya radio kami yang masih berfungsi sudah hampir kosong. Suasana kehancuran menyelimuti perkemahan, yang diperburuk oleh kenyataan bahwa tim kami---yang selama enam minggu didorong untuk sepenuhnya bergantung pada para pemandu kami---sekarang, secara mendadak, kehilangan pemimpin: Rob dan Andy Harris sudah tewas, dan meskipun Groom masih ada diantara kami, cobaan berat yang dilaluinya semalam sangat menguras tenaganya. Groom yang terserang gigitan salju yang cukup parah, terbaring tidak bergerak didalam tendanya, dan setidaknya untuk saat ini, dia tidak mampu berbicara.
Setelah semua pemimpin kami tidak berdaya, Hutchison mengambil alih posisi pemimpin yang saat ini kosong. Pria muda yang selalu tampak cemas dan serius ini, adalah warga Inggris kelas at yang berasal dari Montreal, seorang dokter dan ilmuwan yang sangat cerdas, yang ikut dalam ekspedisi mendaki gunung setiap dua atau tiga tahun sekali, tetapi diluar itu dia hampir-hampir tidak punya waktu untuk kegiatan mendaki. Ketika terjadi krisis di Camp Empat, dia berupaya sebaik-baiknya untuk mengatasi situasi tersebut.
Sementara aku berusaha untuk memulihkan diri setelah sia-sia mencari Harris, Hutchison mengorganisir sebuah tim pencari beranggotakan empat warga Sherpa untuk mencari tubuh Weathers dan Namba yang ditinggalkan di tepi Jalur Selatan, ketika Anatoli Boukreev membawa pulang Charlotte Fox, Sandy Pittman dan Tim Madsen. Tim pencari yang di ketuai oleh Lhakpa Chhiri, berangkat mendahului Hutchison yang sangat kelelahan dan kebingungan sehingga dia lupa memakai sepatunya dan meninggalkan perkemahan  dengan hanya memakai alas sepatu salju yang bersol halus. Setelah diingatkan oleh Lhakpa, Hutchison segera menyadari kekeliruannya dan kembali ke perkemahan untuk memakai sepatu. Berkat petunjuk yang diberikan Boukreev, para Sherpa dengan cepat menemukan kedua tubuh pendaki tersebut diatas lereng berwarna kelabu yang tertutup es bercampur batu, terbujur dimulut Kangshung Face. Sebagai orang-orang yang sangat percaya pada takhayul seputar orang mati seperti umumnya warga Sherpa, mereka berhenti 60-70 kaki dari mayat tersebut dan menunggu kedatangan Hutchison.
“Kedua tubuh itu sudah setengah terkubur,” kenang Hutchison. “Ransel mereka tergeletak kurang lebih seratus kaki dari tubuh mereka, diatas lereng. Muka dan tubuh mereka ditutupi salju; hanya tangan dan kaki mereka yang mencuat keluar. Jeritan angin terdengar di sepanjang Jalur Selatan.” Tubuh pertama ditemukan Hutchison adalah tubuh Yasuko Namba, tetapi Hutchison tidak mengenalinya sebelum dia berlutut ditengah badai dan mengetuk lepas lapisan es setebal delapan senti dari wajahnya. Hutchison sangat terkejut saat mendapati bahwa Yasuko masih bernapas. Kedua kaus tangannya sudah hilang dan tangannya yang telanjang tampak seperti bongkah es yang membeku. Kedua matanya membelalak. Kulit wajahnya putih seperti porselen. “Benar-benar menyedihkan,” kenang Hutchison. “Aku merasa terguncang. Dia hampir mati. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”
Hutchison mengalihkan perhatiannya pada Beck, yang terbaring dua puluh kaki dari Yasuko. Kepala Beck juga dipenuhi kerak es yang membeku. Butiran-butiran es sebesar anggur memenuhi rambut dan kelopak matanya. Setelah membersihkan butiran-butiran beku dari wajah Beck, Hutchison mendapati bahwa orang Texas itu ternyata masih hidup: “Kupikir Beck menggumamkan sesuatu, tetapi aku tidak bisa mengerti kata-katanya. Kaus tangannya yang sebelah kanan hilang dan dia menderita gigitan salju yang sangat parah. Aku membantunya untuk duduk, tetapi Beck tidak mampu duduk. Dia sudah sekarat, meskipun masih bernapas.”
Dengan perasaan terguncang Hutchison mendekati para Sherpa dan meminta saran dari Lhakpa, veteran Everest yang sangat paham tentang dunia pendakian dan dihormati baik oleh para Sherpa maupun majikannya, menyarankan agar Beck dan Yasuko ditinggalkan ditempat mereka terbaring. Meskipun mampu bertahan sampai ke Camp Empat, mereka pasti tewas sebelum bisa tiba di Base Camp, dan upaya menyelamatkan mereka hanyalah upaya sia-sia yang akan membahayakan hidup pendaki lain yang ada di Jalur Selatan, pendaki yang hampir semuanya akan kesulitan untuk bisa turun dengan selamat.
Hutchison memutuskan bahwa saran Lhakpa memang benar---dia hanya punya satu pilihan, meskipun pilihan tersebut sangat sulit: membiarkan alam menentukan nasib Beck dan Yasuko dan menyelamatkan anggota tim yang masih bisa diselamatkan. Sebuah pilihan klasik yang sangat sulit. Ketika Hutchison kembali ke perkemahan, dia hampir-hampir tidak mampu menahan tangis dan wajahnya tampak seperti hantu. Atas permintaannya, kami membangunkan Taske dan Groom, dan kemudian berkumpul ditenda mereka untuk membahas, apa yang harus dilakukan terhadap Beck dan Yasuko. Pembicaraan yang terjadi kemudian sangat menyedihkan, dilakukan dengan suara terputus-putus. Semua orang enggan untuk saling menatap. Setelah lima menit, kami semua sepakat: keputusan Hutchison untuk meninggalkan Beck dan Yasuko ditempatnya merupakan keputusan yang tepat.
Kami juga berdebat tentang kemungkinan kembali ke Camp Dua sore itu juga, tetapi Taske menolak untuk turun dari Jalur Selatan jika Hall masih terdampar di Puncak Selatan. “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpanya,” katanya. Bagaimanapun keputusannya memang sulit diperdebatkan: Kondisi Kasischke dan Groom sangat buruk sehingga untuk sementara mereka tidak bisa pergi kemanapun.
“Saat itu, aku benar-benar cemas. Aku pikir peristiwa yang pernah terjadi di K2 pada 1986 akan terulang pada kami,” kata Hutchison. Pada 4 Juli tahun itu, tujuh veteran Himalaya---termasuk pendaki legendaris dari Austria, Kurt Diemberger---berangkat menuju puncak tertinggi kedua didunia tersebut. Enam dari tujuh pendaki bisa mencapai puncak, tetapi, ketika sedang turun gunung mereka dihadang oleh badai yang sangat buruk di lereng atas K2, yang memaksa para pendaki untuk berlindung didalam kemah mereka pada ketinggian 26.250 kaki. Karena badai terus menerus mengamuk selama lima hari tanpa pernah berhenti, tubuh mereka menjadi semakin lemah. Ketika badai akhirnya reda, hanya Diemberger dan satu pendaki lain yang mampu turun gunung dalam keadaan hidup.

Sabtu pagi, saat kami sedang membahas tentang apa yang harus dilakukan terhadap Namba dan Weathers, dan membahas kemungkinan untuk turun gunung, Neal Beidleman sedang mengumpulkan sisa-sisa tim Fischer dari tenda-tenda mereka dan memaksa mereka untuk turun dari Jalur Selatan. “Semua orang sangat kelelahan karena peristiwa kemarin malam sehingga sangat sulit untuk membangunkan tim dan membawa mereka keluar dari tenda---aku terpaksa harus memukul beberapa orang agar mereka mau memakai sepatu,” katanya. “Tetapi aku bersikeras membawa mereka keluar dari tempat itu secepatnya. Aku pikir, tinggal lebih lama diketinggian dua puluh enam ribu kaki akan sangat berbahaya. Aku tahu bahwa upaya untuk menyelamatkan Scott dan Rob  sedang berlangsung, jadi aku memusatkan perhatian pada upaya untuk membawa klien kami turun dari Jalur Selatan menuju perkemahan yang lebih rendah.”
Dengan meninggalkan Boukreev yang tetap tinggal di Camp Empat untuk menunggu Fischer, Beidleman memimpin kelompoknya turun dari Jalur Selatan. Pada ketinggian 25.000 kaki, dia berhenti untuk memberi Pittman suntikan dexmethason, kemudian semua orang berhenti cukup lama di Camp Tiga untuk beristirahat dan minum. “Aku sungguh-sungguh terkejut melihat mereka,” kata David Breasher, yang sudah berada di Camp Tiga ketika tim Beidleman tiba. “Mereka kelihatan seperti orang-orang yang baru kembali dari perang lima bulan. Sandy mulai histeris---dan menjerit-jerit, ‘Benar-benar menakutkan! Aku sudah menyerah dan berbaring menunggu kematian!’ Mereka semua seperti orang yang terserang  shock hebat.”
Sesaat sebelum hari gelap, ketika anggota terakhir dari tim Beidleman sedang menuruni lereng bawah Lhotse Face yang tertutup es, kira-kira 500 kaki setelah melewati lintasan tali, mereka bertemu dengan beberapa Sherpa anggota kelompok kebersihan lingkungan dari kerajaan Nepal yang sengaja naik untuk membantu. Ketika tim tersebut mulai bergerak untuk menuruni lereng, beberapa butir batu sebesar buah tiba-tiba meluncur cepat dari lereng diatas gunung. Salah satu batu tersebut mengenai bagian belakang kepala salah seorang Sherpa. “Batu itu membuatnya roboh,” kata Beidleman, yang melihat kejadian tersebut dari dekat tepat diatasnya,
“Benar-benar mengerikan,” kenang Klev Schoening, “Sherpa itu seperti orang yang dipukul dengan tongkat pemukul bisbol.” Kuatnya hantaman batu meninggalkan lubang sebesar uang logam dikepala si Sherpa, membuatnya tidak sadar dan dia pun terserang cardiopulmonary arrest (kerja jantung dan paru-paru terhenti). Ketika orang itu terjungkal dan meluncur sepanjang lintasan tali, Schoening melompat kehadapannya dan berhasil menahan jatuhnya. Tetapi beberapa saat kemudian, ketika Schoening masih memeluk Sherpa itu dengan kedua lengannya, batu kedua meluncur dan menimpa Sherpa yang sama, tepat dibelakang kepalanya.
Meskipun dua kali dihantam batu, setelah beberapa menit orang yang terluka itu tampak megap-megap dengan keras dan mulai bernapas kembali. Beidleman mampu membawanya ke dasar Lhotse Face, ditempat itu, selusin warga Sherpa menyongsong rekannya dan membawa pria malang itu ke Camp Dua. Saat itulah, kata Beidleman, “Aku dan Kelv saling menatap dengan perasaan tidak percaya. Kami berdua seperti saling bertanya, ‘Apa yang sedang terjadi disini? Apa yang sudah kami lakukan sehingga gunung ini menjadi sangat marah?”

Sepanjang bulan April dan awal Mei, beberapa kali Rob Hall mengungkapkan perasaan cemasnya tentang kemungkinan satu atau lebih tim yang kurang kompeten terjebak dalam antrean pendaki sehingga tim kami terpaksa harus menyelamatkan mereka, dan menghambat upaya kami untuk mencapai puncak. Ironisnya, justru tim Hall yang sekarang menghadapi masalah besar dan tim yang lain datang untuk membantu kami. Tanpa mengeluh, tiga tim ekspedisi---Alpine Ascents International pimpinan Todd Burleson, IMAX Expedition pimpinan David Breashers dan tim ekspedisi komersial pimpinan Mal Duff---segera mengubah rencana untuk menaklukkan puncak agar mereka bisa membantu para pendaki yang sedang tertimpa bencana.
Sehari sebelumnya---Jumat, tanggal 10 Mei---ketika para pendaki dari tim Hall dan Fischer sedang mendaki dari Camp Empat menuju puncak, tim ekspedisi Alpine Ascents International yang dipimpin Burleson dan Pete Athans baru saja tiba di Camp Tiga. Sabtu pagi, begitu mereka mendengar tentang bencana yang sedang terjadi diatas, Burleson dan Athans meninggalkan klien mereka di ketinggian 24.000 kaki diawasi oleh pemandu ketiga mereka, Jim Williams, dan dengan cepat mendaki ke Jalur Selatan untuk memberikan pertolongan.
Saat itu, Breashers, Ed Viesturs dan anggota tim IMAX lain kebetulan sedang berada di Camp Dua; Breashers segera menghentikan pembuatan film dan mengerahkan sumber daya yang mereka miliki untuk upaya penyelamatan. Pertama-tama dia mengirimkan pesan padaku bahwa beberapa baterai cadangan tersimpan disalah satu tenda tim IMAX di Jalur Selatan; lewat tengah hari, aku berhasil menemukan baterai-baterai tersebut, sehingga tim Hall bisa meneruskan kontak radio dengan perkemahan-perkemahan dibawahnya. Kemudian, Breashers menawarkan persediaan oksigen mereka---lima puluh botol oksigen yang dibawa dengan susah payah ke atas ketinggian 26.000 kaki---untuk para pendaki yang sedang menderita dan untuk para anggota tim penyelamat di Jalur Selatan. Meskipun tindakan Breashers bisa mengacaukan proses pembuatan filmnya yang bernilai 5,5 juta dolar, dia tidak ragu-ragu mengirimkan gas yang sangat dibutuhkan tersebut.
Athans dan Burleson tiba di Camp Empat menjelang tengah hari, dan langsung membagi-bagikan botol-botol oksigen sumbangan tim IMAX kepada kami yang sedang lapar oksigen, kemudian menunggu hasil kerja para Sherpa dalam menyelamatkan Hall, Fischer dan Gau. Pada pukul 16.35, Burleson sedang berdiri di luar perkemahan ketika dia melihat sosok tubuh berjalan tertatih-tatih ke arah perkemahan dengan langkah kaku. “Hei, Pete,” teriaknya memanggil Athans. “Coba lihat kemari. Seseorang sedang berjalan menuju perkemahan.” Tangan kanan orang itu, yang tidak terlindung dari tiupan angin dingin penuh dengan luka gigitan salju dan terangkat aneh, seperti patung yang sedang berdiri menghormat. Siapa pun dia, sosok itu mengingatkan Athans pada sesosok mumi dalam film horor murahan. Ketika mumi itu bergerak memasuki perkemahan, Burleson baru sadar bahwa orang itu tidak lain dari Beck Weathers yang entah bagaimana, bangun dari kematian.
Malam sebelumnya, terbungkuk-bungkuk bersama Groom, Beidleman, Namba dan beberapa anggota tim tersebut, Weathers merasakan tubuhnya menjadi “dingin dan terus bertambah dingin. Sarung tangan kananku hilang. Wajahku membeku. Kedua tanganku membeku. Aku merasa makin kebas dan tidak bisa terfokus, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.”
Sepanjang malam dan hampir sepanjang hari berikutnya, Beck terbaring diatas es, dibawah terjangan angin yang tidak mengenal belas kasihan, dalam keadaan cataleptic (tidak mampu bereaksi terhadap rangsangan luar, ditandai oleh tubuh yang kejang) dan sekarat. Dia tidak ingat ketika Boukreev  datang untuk menolong Pittman, Fox dan Madsen. Dia juga tidak ingat ketika Hutchison menemukan dia esok paginya, dan melepaskan kerak es dari wajahnya. Dia berada dalam keadaan setengah koma selama lebih dari dua belas jam. Kemudian menjelang sore, karena alasan tertentu, secercah sinar menyala dipusat otak reptil Beck yang sudah mati dan mengembalikan kesadarannya.
“Semula, aku pikir aku sedang bermimpi,” kenang Weathers. “Waktu baru sadar, kurasa aku sedang terbaring diatas tempat tidur. Aku tidak merasa dingin atau tak nyaman. Aku hanya berbalik, membuka mata, kemudian melihat ke arah tangan kananku, tangan itu sudah membeku dan itu menyadarkanku. Akhirnya, aku cukup sadar untuk memahami bahwa aku sedang menghadapi kesulitan besar dan regu penolong tidak datang, jadi sebaiknya aku lakukan sesuatu untuk diriku sendiri.”
Meskipun mata kanan Beck buta, dan jarak pandang mata kirinya turun hanya sampai tiga atau empat kaki, dia mulai berjalan melewati tiupan angin, dan secara tepat menduga bahwa perkemahan berada diarah tersebut. Seandainya dia salah mengambil arah, dengan cepat dia akan tiba di Kangshung Face, yang tepinya hanya berjarak tiga puluh kaki pada arah yang berlawanan. Sekitar sembilan puluh menit kemudian, dia melihat “sekelompok batuan halus berwarna kebiru-biruan dan tampak aneh,” yang ternyata adalah tenda-tenda Camp Empat.
Hutchison dan aku sedang berada di dalam tenda kami, memantau hubungan radio dari Rob Hall di Puncak Selatan, ketika Burleson dengan tergesa-gesa masuk ke dalam tenda. “Dokter! Kami sangat membutuhkan Anda!” teriaknya pada Stuart dari pintu tenda. “Ambil peralatan Anda. Beck baru saja berjalan masuk, dan kondisinya sangat buruk!” Terkejut mendengar kebangkita Beck yang ajaib, Hutchison yang masih kelelahan merangkak keluar untuk menjawab panggilan tersebut.
Hutchison, Athans dan Burleson membawa Beck ke sebuah tenda yang tidak digunakan, membungkusnya dengan dua kantong tidur dan beberapa botol air panas dan memasangkan masker oksigen diwajahnya. “Saat itu,” Hutchison mengaku, “ Kami semua berpikir bahwa Beck tidak akan mampu melewati malam itu. Aku hampir-hampir tidak bisa mendengar detak di urat nadi utamanya, urat nadi yang terakhir berdetak sebelum seseorang meninggal. Dia berada dalam kondisi kritis. Dan, meskipun dia bisa bertahan sampai besok pagi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kami bisa membawanya turun.”
Saat itu, ketiga Sherpa yang di tugaskan untuk menyelamatkan Scott Fischer dan Makalu Gau sudah kembali ke perkemahan dengan hanya membawa Gau: mereka membiarkan Fischer terbaring diatas birai pada ketinggian 27.200 kaki dan menyimpulkan bahwa Fischer sudah tewas. Tetapi, setelah melihat Beck memasuki perkemahan, Anatoli Boukreev belum mau menerima dugaan bahwa Fischer sudah tewas. Pada pukul 17.00, ketika badai semakin menguat, orang Rusia itu berangkat sendirian untuk mencoba menyelamatkan Fischer.
“Aku menemukan Scott sekitar pukul 19.00, mungkin pukul 19.30 atau pukul 20.00,” kata Boukreev. “Saat itu cuaca sudah gelap. Badai sangat dahsyat. Fischer masih mengenakan masker oksigen, tetapi botolnya sudah kosong. Dia juga tidak mengenakan sarung tangan; kedua tangannya telanjang. Ritsletting bawah bajunya terbuka, ditarik melewati bahu, dan salah satu lengannya keluar dari lengan bajunya. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Scott sudah tewas.” Dengan berat hati, Boukreev menutupi wajah Fischer dengan ranselnya  seperti kain kafan dan meninggalkannya diatas birai tempatnya berbaring. Kemudian dia mengumpulkan kamera milik Scott, kapak es dan pisau kantong kesayangannya---yang kemudian diserahkan oleh Beidleman kepada putra Scott yang berusia sembilan tahun di Seattle---dan turun kembali menembus badai.
Badai salju yang mengamuk pada hari Sabtu malam bahkan lebih kuat daripada badai yang menerjang Jalur Selatan malam sebelumnya. Ketika Boukreev tiba di Camp Empat, jarak pandangnya sudah sangat berkurang menjadi beberapa kaki saja, dan dia hampir-hampir gagal menemukan perkemahan.
Setelah bernapas dengan oksigen tambahan (terima kasih pada tim IMAX) untuk pertama kalinya setelah tiga puluh jam, berkali-kali aku tidur lelap kemudian terbangun ditengah riuhnya suara kepakan tenda yang tertiup angin. Sesaat setelah tengah malam, aku sedang bermimpi tentang Andy---Andy yang sedang meluncur di Permukaan Lhotse sepanjang rentangan tali dan berteriak mengapa aku tidak memegangi ujung tali yang lain---ketika aku dibangunkan oleh Hutchison. “Jon”, teriaknya mengatasi suara badai, “Aku mencemaskan tenda kita. Apa menurutmu tenda kita bisa bertahan?”
Aku berusaha bangun dari mimpi yang menakutkan dengan kepala yang masih berputar, seperti orang tenggelam yang muncul ke permukaan laut. Perlu beberapa menit sebelum aku memahami kecemasan Stuart: terjangan angin yang terus menerus telah merobohkan  sebagian badan tenda kami. Beberapa tiangnya sudah bengkok, dan dengan bantuan sinar lampu kepalaku, aku melihat bahwa beberapa jahitan kain tenda sudah hampir terkoyak. Partikel-partikel salju memenuhi tenda kami, menutupi segala sesuatu dengan lapisan es. Tiupan angin ditempat ini lebih kencang daripada  angin di tempat manapun yang pernah aku rasakan, bahkan lebih kencang dari angin di puncak Gunung Es Patagonia, tempat yang dikenal paling berangin di planet ini. Kalau perkemahan kami hancur sebelum pagi tiba, kami semua akan berada dalam bahaya besar.
Stuart dan aku mengumpulkan sepatu dan semua pakaian kami, kemudian duduk di bagian tenda yang sudah roboh tertiup angin. Sambil menghadapkan punggung dan bahu kami ke tiang tenda yang koyak, selama tiga jam berikutnya kami terus bersandar melawan angin, dengan tubuh yang sudah sangat kelelahan, memegang erat-erat penutup nilon yang terkoyak seakan-akan hidup kami bergantung padanya. Aku terus membayangkan Rob yang berada di Puncak Selatan pada ketinggian 28.700 kaki, tanpa oksigen, tanpa perlindungan apapun ditengah amukan badai---tetapi pikiran itu terasa sangat menakutkan sehingga aku berusaha untuk tidak memikirkannya.
Sesaat sebelum fajar, pada Senin 12 Mei, Stuart kehabisan oksigen. “Tanpa oksigen, aku merasa tubuhku menjadi sangat dingin dan aku terkena hipotermia,” katanya. “Tangan dan kakiku mulai kebas. Aku khawatir sedang tergelincir menuju alam tak sadar, dan aku tidak akan mampu lagi untuk turun dari Jalur Selatan. Aku juga cemas, seandainya tidak bisa turun pagi ini, aku tidak akan pernah bisa turun sama sekali.” Aku memberikan tabung oksigenku pada Stuart, dan mulai mencari-cari tabung oksigen sampai aku menemukan tabung yang masih sedikit terisi, kemudian kami mulai berkemas untuk turun gunung.
Waktu sedang berjalan ke luar tenda, aku melihat setidaknya satu tenda yang tidak dihuni telah diterbangkan angin keluar dari Jalur Selatan. Kemudian aku melihat Ang Dorje, berdiri sendirian ditengah terjangan angin, menangisi kepergian Rob tanpa bisa dibujuk. Setelah ekspedisi berakhir, ketika aku ceritakan kepada Marion Boyd tentang kesedihan Ang Dorje, warga Kanada teman Ang Dorje tersebut berkata: “Ang Dorje menganggap dirinya sebagai penjaga keselamatan manusia---dia sering membicarakan hal itu denganku. Menurut agama yang dia anut, peran itu sangat penting baginya sebagai persiapan untuk menghadapi kehidupan selanjutnya(*2). Meskipun Rob merupakan pemimpin ekspedisi, Ang Dorje merasa sudah menjadi tugasnya untuk menjamin keamanan Rob dan Doug Hansen dan anggota tim yang lain. Jadi, ketika mereka tewas, mau tidak mau dia menyalahkan dirinya sendiri.”
Hutchison yang cemas melihat kesedihan Ang Dorje dan takut Ang Dorje menolak untuk turun, membujuknya untuk segera turun dari Jalur Selatan. Kemudian, pada pukul 08.30---yakin bahwa saat  itu Rob, Andy, Doug, Scott, Yasuko dan Beck sudah tewas---Mike Groom yang terkena gigitan salju sangat parah memaksakan diri untuk keluar dari tendanya, mengumpulkan Hutchison, Taske, Fischbeck dan Kasischke dan mulai memandu mereka menuruni gunung.
Dengan tidak adanya pemandu yang lain, aku menawarkan diri untuk menjadi pemandu dan berjalan dibelakang. Ketika kelompok yang dirundung kemalangan ini mulai bergerak perlahan menjauhi Camp Empat menuju Geneva Spur, aku memberanikan diri untuk menjenguk Beck untuk terakhir kali; aku menganggap Beck sudah tewas tadi malam. Aku menemukan tendanya sudah roboh dihantam badai dan kedua pintu tenda terbuka lebar. Tetapi, waktu aku mengintip ke dalam, aku sangat terkejut mendapati bahwa Beck ternyata masih hidup.
Dia berbaring terlentang di lantai tenda yang sudah roboh, tubuhnya bergetar keras. Mukanya sembam; bercak-bercak hitam dan dalam bekas gigitan salju memenuhi hidung dan pipinya. Kedua kantung tidur yang dipakainya hampir terlepas karena tiupan badai, membuat tubuhnya terbuka terhadap terpaan angin yang temperaturnya mencapai beberapa derajat dibawah nol. Dengan kedua tangannya yang membeku, Beck tidak mampu menarik kantung tidur itu ke atas atau menarik ritsletting penutup tenda. “Ya, ampun, Tuhan!” tangisnya saat melihatku, wajahnya berkerut karena kesakitan dan putus asa. “Apa yang harus dilakukan seseorang ditempat ini agar dia mendapat pertolongan!” Dia sudah berteriak minta tolong selama dua atau tiga jam, tetapi suara badai menenggelamkan teriakannya.
Beck terbangun tengah malam dan mendapati bahwa “badai telah merobohkan dan mengoyakkan tenda. Tiupan angin yang menekan dinding tenda mengenai wajahku sehingga aku hampir-hampir tidak bisa bernapas. Untuk sesaat angin berhenti, tetapi kemudian angin kembali menghantam dinding tenda mengenai wajah dan dadaku sehingga aku terjatuh. Diatas semua kekacauan itu, tangan kananku mulai membengkak padahal aku masih memakai jam tangan sialan ini sehingga ketika tanganku semakin membesar dan membesar, jam ini semakin menjepit dan terus menjepit sehingga memutuskan aliran darah ke arah lengan. Karena kedua tanganku terluka berat, aku tidak bisa melepaskan jam sialan ini. Aku berteriak minta tolong, tapi tidak ada orang yang datang. Benar-benar malam yang panjang dan menyiksa. Aku benar-benar senang ketika melihat wajahmu melongok melalui pintu tenda.”
Ketika aku menemukan Beck didalam tendanya aku sangat terkejut melihat kondisinya yang sangat menyedihkan---dan memikirkan betapa kami telah mengabaikannya, perbuatan yang tidak termaafkan---sehingga aku hampir tidak bisa menahan tangis. “Sudahlah, semua akan beres,” kataku berbohong sambil menahan tangis, kemudian memasangkan kembali kantong tidur ditubuhnya, menutup pintu tenda dan berusaha menegakkan kembali tenda yang sudah roboh tersebut. “Jangan khawatir teman. Semua sudah terkendali sekarang.”
Setelah berhasil membuat Beck nyaman, dengan bantuan radio aku segera menghubungi dr. Mackenzie di Base Camp. “Caroline!” kataku memohon dengan suara histeris. “Apa yang harus kulakukan dengan Beck? Dia masih hidup, tetapi aku yakin, dia tidak akan bisa bertahan lama. Kondisinya benar-benar buruk!”
“Cobalah untuk tetap tenang Jon,” jawabnya. “Kamu harus turun bersama Mike dan anggota tim yang tersisa. Dimana Pete dan Todd? Mintalah mereka untuk menjaga Beck, kemudian mulailah menuruni gunung.” Dengan tergesa-gesa aku membangunkan Athans dan Burleson, yang dengan cepat bergerak menuju tenda Beck sambil membawa setermos teh panas. Saat aku bergegas menjauhi perkemahan untuk bergabung dengan rekan-rekan satu timku, Athans sedang bersiap-siap untuk menyuntikkan empat miligram dexametason ke tubuh warga Texas yang sedang sekarat itu. Tindakan yang sangat terpuji, tetapi sulit membayangkan, bahwa itu itu akan membantu Beck.
------------------------------------

(*1) : pada 1996, tim Rob Hall hanya menetap selama delapan hari di Perkemahan Kedua (21.300 kaki) atau perkemahan yang lebih tinggi sebelum menuju puncak dari Perkemahan Utama,  program aklimatisasi yang umum diterapkan saat ini. Sebelum 1990, para pendaki tinggal lebih lama di Perkemahan Kedua atau lebih tinggi---termasuk,setidaknya satu kali perjalanan ke tempat dengan ketinggian 26.000 kaki---sebelum melakukan pendakian terakhir menuju puncak. Meskipun manfaat dari program aklimatisasi ke tempat-tempat dengan ketinggian 26.000 kaki bisa diperdebatkan (dampak negatif dari ketinggian ekstrem seperti itu bisa lebih besar dampak positifnya), tidak diragukan bahwa memperpanjang periode aklimatisasi yang diterapkan saat ini, yaitu menetap selama delapan atau sembilan hari pada ketinggian antara 21.000 sampai 24.000 kaki akan lebih meningkatkan keselamatan.
(*2) : para penganut Budha yang taat mempercayai sonam---perhitungan amal baik yang, jika amal baik yang dilakukan sangat besar, mampu membawa pelakunya menghindari siklus reinkarnasi yang berulang-ulang, untuk kemudian langsung melompat meninggalkan penderitaan dan rasa sakit didunia ini, selamanya.

Into Thin Air --- Bab XVIII

                 INTO THIN AIR
                      BAB XVIII
             LERENG TIMUR LAUT
       10 MEI 1996 --- 28.550 KAKI

Everest merupakan perwujudan dari kekuatan fisik dunia. Melawan kekuatan fisik itulah dia harus bertarung untuk menunjukkan semangat manusia. Dia bisa melihat sinar kegembiraan terpancar dari wajah rekan-rekannya jika dia berhasil. Dia bisa membayangkan sensasi yang dirasakan rekan-rekannya sesama pendaki karena keberhasilannya; kebanggaan yang dia berikan kepada Negara Inggris; perhatian yang diberikan orang-orang diseluruh dunia; ketenaran yang akan dia raih; kepuasan abadi yang dia rasakan karena berhasil menjadikan hidupnya berharga.... Barang kali dia tidak akan pernah benar-benar merumuskannya, tetapi, didalam pikirannya gagasan seperti itu pasti sudah tersirat, “berhasil atau mati”. Dari kedua alternatif tadi---kembali untuk ketiga kalinya atau mati---pilihan kedua mungkin lebih mudah bagi Mallory. Penderitaan yang ditimbulkan oleh pilihan pertama pasti lebih besar daripada yang bisa ditanggungnya sebagai seorang lelaki, sebagai pendaki dan sebagai seorang artis.

Sir Francis Younghusband
The Epic of Mount Everest, 1926
------------------------------------

Pukul 16.00 tanggal 10 Mei, pada waktu yang hampir bersamaan dengan kedatangan Doug Hansen di puncak sambil bergantung di bahu Rob Hall, tiga pendaki warga Ladakh, sebuah provinsi di wilayah utara India, mengirimkan kabar melalui radio yang menyatakan bahwa mereka juga sudah berada di puncak Everest. Tiga dari tiga puluh sembilan pendaki anggota tim ekspedisi yang diorganisasi Polisi Perbatasan Indo-Tibet, yaitu Tsewang Smanla, Tsewang Paljor dan Dorje Morup, mendaki menuju puncak melalui wilayah Tibet melewati Lereng Timur Laut---rute terkenal tempat George Leigh Mallory dan Andrew Irvine menghilang pada 1924.
Enam pendaki warga provinsi Ladakh meninggalkan perkemahan mereka yang berada pada ketinggian 27.230 kaki pada pukul 05.45 pagi(*1). Lewat tengah hari, ketika mereka masih berada lebih dari seribu kaki jauhnya dari puncak, mereka dihadang oleh awan badai yang sama yang menghadang kelompok kami dibalik gunung. Tiga anggota tim menyerah dan turun kembali sekitar pukul 14.00, tetapi Smanla, Paljor dan Morup terus mendaki meskipun cuaca terus memburuk. “Mereka terserang demam puncak,” kata Harbhajan Singh, salah seorang dari tiga pendaki yang memutuskan untuk mundur.
Ketiga pendaki yang lain tiba disuatu tempat yang mereka percayai sebagai puncak pada pukul 16.00, dan saat itu gumpalan awan sudah menjadi sangat tebal sehingga jarak pandang sudah menjadi sangat pendek, kurang dari 100 kaki. Ketiganya mengirimkan kabar melalui radio ke Base Camp mereka yang terletak di Gletser Rongbuk, mengatakan bahwa mereka sudah tiba dipuncak, dan oleh pemimpin ekspedisi, Mohindor Singh, kabar itu diteruskan melalui telepon satelit ke New Delhi, kepada Perdana Mentri Narashima Rao. Setelah merayakan keberhasilan mereka, tim yang merasa sudah berhasil mencapai puncak itu meninggalkan bendera doa, kain kata dan bendera pendaki ditempat yang mereka anggap sebagai titik tertinggi, kemudian turun kembali menembus hujan salju yang mengganas dengan cepat.
Kenyataannya, para pendaki warga Ladakh tersebut baru mencapai ketinggian 28.550 kaki saat mereka berbalik turun, kira-kira dua jam dibawah puncak yang sebenarnya, yang menjulang dibalik gumpalan awan yang paling tinggi. Karena mereka tanpa sadar berhenti 500 kaki dibawah sasaran, mereka tidak melihat Hansen, Hall atau Lopsang yang berada di puncak, begitu pula sebaliknya.
Kemudian beberapa saat setelah gelap, beberapa pendaki yang berada di Lereng Timur Laut yang lebih rendah melaporkan bahwa mereka melihat dua lampu kepala pada ketinggian 28.300 kaki, tepat diatas karang terjal dan berbahaya yang dikenal sebagai Undakan Kedua, tetapi tidak satupun dari ketiga warga Ladakh itu yang kembali ke perkemahan mereka malam itu; mereka juga tidak menghubungi lagi melalui radio.
Keesokan harinya, pada 11 Mei, sekitar pukul 01.45 dini hari---pada waktu yang hampir bersamaan dengan Anatoli Boukreev yang sedang kebingungan di Jalur Selatan mencari Sandy Pittman, Charlotte Fox dan Tim Madsen---dua pendaki warga Jepang, ditemani oleh tiga Sherpa, memulai pendakian ke arah puncak dari perkemahan mereka yang juga berada di Lereng Timur Laut, tempat yang sama dengan perkemahan para pendaki Ladakh, tanpa menghiraukan angin kencang yang saat itu sedang menerjang puncak. Pukul 06.00, saat mereka sedang berusaha melewati sebuah lereng batu yang sangat terjal yang dikenal sebagai Undakan Pertama, Eisuke Shigekawa yang berusia dua puluh satu tahun dan Hiroshi Hanada yang berusia tiga puluh enam tahun, terkejut melihat salah seorang pendaki Ladakh, kemungkinan Paljor, terbaring diatas salju, sekujur tubuhnya terkena gigitan salju, tetapi masih hidup setelah semalaman dia berada ditempat terbuka tanpa perlindungan atau oksigen, mengerang dan meracau. Karena tidak ingin pendakian mereka terganggu, tim pendaki Jepang itu tidak berhenti untuk menolong, mereka meneruskan pendakian menuju puncak.
Pada pukul 07.15, mereka tiba di kaki Undakan Kedua, sebuah tebing vertikal dan sangat berbahaya, tertutup oleh lapisan batu sekis hancur, lereng yang biasanya didaki dengan menggunakan tangga alumunium yang dipasang sampai ke puncak tebing oleh sebuah tim pendaki dari China pada 1975. Tetapi, para pendaki Jepang itu terpaksa menelan kekecewaan karena dibeberapa bagian, tangga alumunium tersebut sudah hancur dan sebagian sudah lepas dari permukaan batuan, sehingga mereka harus bekerja keras selama sembilan puluh menit untuk melewati rute pendakian yang panjangnya hanya 20 kaki ini.
Tepat dipuncak Undakan Kedua mereka menemukan dua pendaki Ladakh yang lain, Smanla dan Morup. Menurut artikel Financial Times yang ditulis oleh wartawan Inggris, Richard Cowper, yang mewawancarai Hanada dan Shigekawa pada ketinggian 21.000 kaki sesaat setelah mereka menyelesaikan pendakian, kedua pendaki Jepang itu mengakui, bahwa salah seorang warga Ladakh itu “kelihatannya sudah sekarat, sementara pendaki kedua tertelungkup diatas salju. Tidak ada percakapan. Tidak ada air, makanan atau oksigen yang berpindah tangan. Pendaki Jepang itu terus mendaki, dan 160 kaki diatasnya mereka berhenti dan mengganti botol oksigen(*2).
Menurut pengakuan Hanada kepada Cowper, “Kami tidak mengenal mereka. Tidak, kami memang tidak memberi mereka air. Kami juga tidak bicara dengan mereka. Mereka terserang penyakit ketinggian yang sangat parah, dan tampak sangat berbahaya.”
Shigekawa menjelaskan, “Kami terlalu lelah untuk menolong. Diatas ketinggian 8.000 meter, orang-orang tidak bisa lagi memikirkan moralitas.”
Tanpa memberikan pertolongan pada Smanla dan Morup, tim pendaki dari Jepang itu meneruskan pendakian mereka, melewati bendera doa dan tiang bendera yang ditinggalkan oleh ketiga warga Ladakh tersebut pada ketinggian 28.550 kaki, dan---dengan kegigihan yang luar biasa---mereka berhasil tiba dipuncak pada siang hari pukul 11.45, ditengah amukan badai. Saat itu Rob Hall sedang meringkuk di Puncak Selatan, mempertahankan hidupnya, hanya setengah jam perjalanan dibawah mereka, di Lereng Tenggara.
Dalam perjalanan pulang ke perkemahan mereka di Lereng Timur Laut, sekali lagi tim pendaki Jepang itu bertemu Smanla dan Morup diatas Undakan Kedua. Saat itu, sepertinya Morup sudah tewas; tetapi Smanla masih hidup, dan tubuhnya terkait pada lintasan tali yang terpasang. Pasang Kami, warga Sherpa dalam tim Jepang, melepaskan Smanla dari tali yang mengikatnya, kemudian melanjutkan perjalanan menuruni lereng. Ketika mereka melewati Undakan Pertama---ditempat mereka menemukan Paljor dalam perjalanan mereka menuju puncak, yang sedang meringkuk dan menggigau di atas salju---tim Jepang itu tidak lagi melihat  tanda-tanda dari warga Ladakh ketiga tersebut.
Tujuh hari kemudian, tim Polisi Perbatasan Indo-Tibet kembali meluncurkan satu tim ekspedisi untuk menaklukkan puncak. Mereka berangkat dari perkemahan terakhir pada 17 Mei, pukul 01.15 dini hari. Tidak lama kemudian, dua warga Ladakh dan tiga Sherpa anggota ekspedisi menjumpai tubuh rekan-rekan mereka yang sudah membeku. Menurut mereka, salah satu dari ketiga pria tersebut, ketika sedang sekarat, telah merobek hampir seluruh pakaiannya sebelum akhirnya tewas. Smanla, Morup dan Paljor, ditinggalkan dilereng gunung tempat mereka roboh, lalu kelima pendaki itu meneruskan  perjalanan menuju puncak, dan tiba disana pada pukul 07.40 pagi.

(*1) : Agar tidak membingungkan, semua waktu yang dikutip dalam bab ini sudah dikonversikan menjadi waktu Nepal, meskipun kejadian yang saya gambarkan terjadi di wilayah Tibet. Waktu Tibet disesuaikan dengan waktu Beijing, artinya dua jam lima belas menit lebih awal dari waktu Nepal---misalnya, pukul 06.00 di Nepal sama dengan pukul 08.15 pagi di Tibet.

Senin, 12 Oktober 2015

SLAMET 3428 mdpl --- Top of Central Java

 
"Seperti halnya perjalanan-perjalanan yang pernah saya lakukan sebelumnya, hari ini pun sensasi yang sama sudah terasa, begitu menggelegak, gejolaknya terasa memenuhi setiap lorong sel. Ekstasi...euforia berlebih bahkan di saat kaki saya belum juga mulai melangkah. Ya, pada akhirnya saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini bukanlah sekedar hobi yang dipengaruhi usia, melainkan pemenuhan kebutuhan satu sisi jiwa agar tetap seimbang...agar selalu bergairah!"

Pagi di Pelawangan
---Me---
########################
Saya sempat terbangun pukul 01.15 dini hari tanggal 12 Oktober, karena perut yang mulai terasa lapar dan mulut yang kering. Rupanya Akbar pun terbangun. Angin dingin masih terus bertiup dari arah utara menabrak dinding-dinding tenda tempat kami beristirahat. Setelah meminum 1 sachet obat pereda demam, badan saya terasa sedikit lebih baik. Satu potong roti tawar berhasil saya paksa masuk ke dalam lambung saya yang kosong setelah beberapa jam lalu kosong akibat muntah. Dan setelah meminum teh manis panas yang Akbar buat, saya pun kembali melanjutkan tidur. Di sebelah kanan saya, Irfan tampak pulas tidur, pun begitu dengan Coro dan Iyan di sebelah kiri saya. Di bawah udara dingin yang saya perkirakan sekira 8-10°C, berdesakan di dalam tenda magnum kapasitas empat yang di isi lima orang menjadi keuntungan tersendiri, yaitu ruang dalam menjadi hangat. Sementara di depan tenda yang saya tempati, berjarak sejengkal, berdiri tenda kapasitas dua yang di isi oleh Nur, Afri dan Maria. Meski suasana hening tapi saya yakin mereka bertiga tidak nyaman tidur sebab elevasi bidang tanah yang miring ke arah timur pasti menyulitkan posisi tidur. 8 jam sebelumnya, tepatnya pukul 16.50, saya dan Akbar akhirnya tiba di Pos 7---Sanghyang Kendit---target tempat kami akan bermalam sebelum summit attack. Saat kami berdua tiba, shelter pos 7 sudah penuh sesak dengan pendaki yang memiliki tujuan yang sama dengan kami. Bahkan hingga ke bagian lapangan, nyaris tidak ada lagi lokasi yang ideal untuk kami mendirikan tenda. Bahkan demi mendapat tempat camp yang ideal saya terus naik hingga ke arah pos 8, namun tetap nihil. Akhirnya setelah mempertimbangkan waktu dan kondisi, saya putuskan untuk mendirikan tenda di sisi utara shelter 7, persis di tepi jurang bersemak-semak.
------------------------------------
Setelah lima setengah jam menumpang KA. Kertajaya tujuan akhir Surabaya Pasar Turi, kami bertujuh tiba di Stasiun Pekalongan, tempat transit yang sama seperti saat saya mendaki Sindoro beberapa waktu silam. Sebelum keluar area stasiun, kami menuju mushala untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya. 15 menit kemudian, kami sudah berada di sebuah warung makan, asyik menikmati makan malam sambil menunggu mobil jemputan kami. Udara malam yang panas dan nyamuk yang luar biasa banyak membuat kami tidak nyaman. Beruntung mobil jemputan kami tiba tidak lama kemudian. Selesai memuat seluruh barang-barang, tepat pukul 21.40 kami meluncur menuju Base Camp pendakian di daerah Purbalingga. Jalanan malam pantura yang tak pernah sepi dan di dominasi truk-truk besar menjadi pemandangan kami sepanjang jalan menuju Pemalang. Setelah memasuki daerah Pemalang, mobil berbelok ke arah kiri, ke arah selatan, mulai menyusuri jalanan yang sepi, membelah malam gelap.
Singkatnya, setelah 2,5 jam, kami pun tiba di Base Camp pendakian gunung Slamet. Slamet merupakan puncak tertinggi kedua di tanah Jawa setelah Semeru di Jawa Timur. Gunung Slamet juga merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah sekaligus gunung terbesar, karena posisinya yang berada di antara lima kabupaten---Banyumas, Purbalingga, Tegal, Brebes dan Pemalang. Banyak jalur untuk menuju puncaknya, tapi hanya ada satu jalur yang resmi yaitu via Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Pendakian ke puncak Slamet baru satu bulan ini di buka setelah hampir dua tahun di tutup akibat aktivitas erupsi. Waktu normal dan standar untuk mencapai puncaknya sekira 9-12 jam. Tidak ada sumber air di jalur pendakian, kecuali di pos 5, itu pun hanya bersifat temporer, hanya ada di saat musim penghujan.
Base Camp Slamet lewat tengah malam itu masih ramai oleh aktivitas pendaki. Tim kami masuk ke bangunan yang berbentuk aula itu, mencari "lapak" untuk beristirahat, dan saya mengurus perijinan pendakian. Selain meninggalkan kartu identitas asli, kami membayar retribusi sebesar Rp.5.000,-/org. Selesai mengurus perijinan, saya pun bergabung dengan teman-teman yang lain. Bersantai sambil menikmati secangkir kopi panas. Kurang lebih pukul 01.30 saya pun tidur.
Pukul 04.30 kami bangun dan bersiap. Saya menjadwalkan tim kami mulai bergerak pukul 07.00. Nur dan Maria bertugas memesan sarapan dan nasi bungkus untuk bekal kami di perjalanan nanti. Setelah selesai dan lengkap segala hal yang kami perlukan untuk pendakian dan juga setelah berdoa, kami pun memulai perjalanan mendaki puncak Slamet.

Trail 1 :
Basecamp 1500 mdpl- Pos I Gembirung 1990 mdpl
Setelah berfoto di depan gapura pendakian, beriringan dalam jarak yang rapat kami bergerak. Jalur awal adalah kebun dan ladang sayur mayur milik penduduk. Kemarau panjang mengakibatkan sungai mengering dan debu yang sangat tebal. 15 menit selepas Basecamp, kami tiba di sebuah lapangan yang terletak di kiri jalur. Lapangan ini sekaligus pembatas antara kebun penduduk dengan area hutan gunung Slamet. Rute selanjutnya masih relatif landai dan sesekali menanjak.

Pos I Gembirung 1990 mdpl
Vegetasi homogen berupa hutan cemara menjadi peneduh kami dari terik matahari. Basecamp Bambangan terletak di ketinggian kurang lebih 1500 mdpl. Untuk mencapai Pos I yang berada di ketinggian 1990 mdpl, normalnya di perlukan waktu 2-3 jam. Sekira pukul 09.50 kami tiba di Pos I Gembirung. Banyak pedagang yang menawarkan buah dan makanan kepada kami. Saya pun tergoda untuk membeli beberapa potong semangka, lumayan untuk menyegarkan tenggorokan.
Trail 2 :
Pos I Gembirung 1990 mdpl- Pos 2 Walang 2200 mdpl
Untuk menuju Pos 2 normalnya diperlukan waktu 1,5 - 2 jam perjalanan. Selepas pos 1 jalur menanjak cukup curam sepanjang 30 meter dengan kontur tanah debu sedikit berpasir. Jika musim hujan, jalur ini agak sulit dilalui. Sedangkan rute selanjutnya di dominasi tanjakan-tanjakan yang diselingi akar-akar. Masih cukup banyak bonus trek yang kami temui. Vegetasi pun semakin rapat dan tinggi. Saya menerapkan pola istirahat selama 5-10 menit setiap satu jam jalan. 
Jajan lagi di Pos II

Dengan pola seperti itu tim kami mampu bergerak cukup stabil. Urut-urutannya, saya atau Coro bergantian paling depan, di ikuti oleh Nur, Maria, Irfan, Iyan, Afri dan Akbar sebagai sweeper. Sekira pukul 10.20 kami berhasil tiba di pos 2. Suasana pos 2 menjelang tengah hari cukup ramai, dan lagi-lagi banyak pedagang buah dan makanan disini. Akhirnya saya pun kembali jajan.

Trail 3:
Pos 2 Walang 2200 mdpl- Pos 3 Cemara 2500 mdpl
Lima belas menit kami beristirahat di pos 2 sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Jalur menuju pos 3 semakin terjal, masih di dominasi pepohonan besar dan akar-akar yang berkelindan di jalur. Meski matahari sangat terik, kami tidak terlalu panas sebab terlindung oleh pepohonan yang teduh. 30 menit lepas pos 2 terdapat pertemuan jalur Bambangan dan Pemalang. Kami mulai banyak berhenti untuk sekedar menarik napas. Setelah 2,5 jam yang cukup melelahkan, pukul 12.30 kami tiba di Pos 3 Cemara. Seperti di pos-pos sebelumnya, di pos 3 pun kondisinya penuh oleh tenda pendaki. 

Istirahat dan makan siang di Pos 3

Sesuai jadwal, tim kami makan siang dan shalat disini. Saya alokasikan waktu untuk kami beristirahat selama 1 jam. Sambil beristirahat saya melihat-lihat keterangan tentang pos 3 di papan petunjuk. Menurut keterangan yang ada, hanya diperlukan waktu 30 menit saja untuk mencapai Pos 4. Di setiap pos pendakian Gunung Slamet memang di lengkapi dengan papan petunjuk berisi keterangan jarak dan elevasi dan lain-lain.

Trail 4 :
Pos 3 Cemara 2500 mdpl- Pos 4 Samaranthu 2600 mdpl
Pukul 14.00 tim kami mulai melanjutkan perjalanan. Kondisi jalur masih sama seperti saat kami menuju pos 3, hanya tidak terlalu terjal saja. Jarak jalan Tim kami mulai agak renggang, terdepan saya dan Nur, kemudian Maria, Irfan dan Coro, terakhir Afri, Iyan dan Akbar.
Saya dan Nur tiba di pos 4 pukul 14.45, beristirahat sejenak di atas pokok pohon tumbang, lalu melanjutkan perjalanan ke pos 5 tanpa menunggu teman-teman yang lain. Oh iya, konon, pos 4 ini adalah pos yang cukup angker serta kurang di rekomendasikan untuk bermalam. Meskipun demikian, tetap banyak pendaki yang bermalam disini. Memang, hal-hal yang sifatnya ghaib itu kembali pada masing-masing individu apakah percaya atau tidak.
Trail 5 :
Pos 4 Samaranthu 2600 mdpl- Pos 5 Sanghyang Rangkah 2680 mdpl

di Pos IV yang katanya paling angker....Samaranthu

Kurang lebih pukul 15.40 saya tiba di pos 5. Cuaca cerah sedikit berkabut. Di pos 5 ini terdapat bangunan shelter permanen seperti di pos 1, berukuran 6x3 meter. Keadaan di pos 5 ini sudah sepi, hanya ada dua atau 3 rombongan pendaki, itupun akan turun. Begitu tiba di pos 5, Nur langsung duduk bersandar di dinding shelter, sementara Coro dan Akbar berbaur dengan pendaki lain yang juga sedang beristirahat. Setelah menunggu 15 menit, Iyan, Afri, Maria dan Irfan tak juga muncul. Akhirnya saya turun kembali ke arah pos 4. Belum jauh saya turun, saya bertemu mereka di bidang datar pos bayangan. Rupanya Maria drop, agar perjalanan kami tidak terlalu meleset jauh dari jadwal, akhirnya keril Maria saya bawa setelah sebelumnya satu botol airnya di pindahkan ke keril Irfan. Dengan cara seperti itu pos 5 lebih cepat kami capai. Di pos 5, setelah berembuk, di putuskan kami akan tetap bermalam di pos 7. Saat itu sudah pukul 16.15. Agar tidak ada lagi anggota tim---perempuan---yang drop, maka seluruh botol air yang tersisa di keril Maria di pindah ke keril Coro. Saya pun bergegas menuju pos 7 bersama Akbar untuk mencari lokasi camp yang ideal.

Trail 6 :
Pos 5 Sanghyang Rangkah - Pos 6 Sanghyang Katebonan 2800 mdpl
Saya hanya perlu 15 menit untuk mencapai pos 6 yang berada di ketinggian 2800 mdpl ini. Seperti halnya pos 5, di pos 6 ini vegetasi di dominasi oleh pohon lamtoro yang semakin jarang sehingga terpaan angin meski pelan sangat terasa. Daerah ini pun masih rawan babi hutan. Dataran pos 6 hanya cukup untuk 3-4 tenda saja. Ada titik lain untuk mendirikan tenda agak naik ke sebelah kiri atas pos 6. Saya dan Akbar menunggu teman-teman yang lain. Lima belas menit kemudian muncullah Nur dan Coro. Tanpa menunggu seluruh anggota tim muncul, saya memutuskan untuk melanjutkan pendakian menuju pos 7 mengingat hari semakin sore dan gelap.
Pos VI, Sanghyang Katebonan


Trail 7 :
Pos 6 Sanghyang Katebonan 2800 mdpl - Pos 7 Sanghyang Kendit 3000 mdpl

Pos VII

Tepat pukul 17.00 saya tiba di lokasi pos 7. Inilah pos yang jadi incaran banyak pendaki sebelum summit attack. Saya tengok ke dalam bangunan shelter, ternyata sudah penuh, sedangkan di luar jangan di tanya lagi. Saya minta Akbar untuk menunggu keril, lalu saya naik hingga hampir mencapai pos 8 untuk mencari lokasi camp yang nyaman untuk tim kami, namun hasilnya nihil. Saya pun turun kembali. Setelah mempertimbangkan dengan baik saya putuskan untuk mendirikan tenda di sebelah utara bangunan shelter. Coro, Nur, Maria muncul tepat setelah tenda pertama selesai di dirikan. Setelahnya, kami masih menunggu kedatangan Afri, Iyan dan Irfan. Semakin lama semakin dingin, hari semakin gelap, tapi tiga rekan kami itu belum juga muncul. Akhirnya saya putuskan untuk turun kembali ke arah pos 6 untuk menjemput. Sekira 7-8 menit kemudian saya bertemu mereka, beberapa meter di bawah pos bayangan. Saya minta paksa keril Afri agar tim bisa segera kumpul di pos 7. Setelah sedikit berdebat, kami pun segera bergegas menuju pos 7. Setibanya di pos 7, Iyan membongkar keril dan mengeluarkan tendanya. 30 menit kemudian setelah tenda berdiri kami beristirahat dan masak. Kurang lebih pukul 19.10 setelah melepas s sepatu dan gaiter, saya masuk ke tenda, berganti pakaian, mengenakan baselayer yang di dobel dengan kaos lengan panjang. Saya merasa lelah sekali, kepala serasa berputar, mual dan dingin. Setelah meminum satu sachet obat pereda masuk angin, saya pun beringsut masuk ke dalam kantong tidur dan meringkuk dengan tidak nyaman. Meski berbaring, tetapi saya tidak tidur, saya ikut mendengarkan teman-teman yang sedang memasak di sebelah kiri tenda. Saya pun sempat di tawari makan, tapi sekali lagi kondisi badan yang sakit membuat saya menolak untuk makan. Puncaknya sekira pukul 21.50, dengan terburu-buru saya keluar tenda, ke arah barat dan di tepi jurang bersemak, sambil membungkuk saya memuntahkan isi perut saya yang hanya berisi air dan air. Selesai muntah, saya kembali ke tenda dan melanjutkan istirahat.

Trail 8 :
Pos 7 Sanghyang Kendit 3000 mdpl - Pos 8 Sanghyang Jampang 3150 mdpl
Pukul 03.30 saya ingatkan teman-teman, jika akan muncak maka selambatnya pukul 05.00 harus sudah bergerak. Kami memang harus bergerak cepat agar tujuan-tujuan yang ingin kami capai bisa terlaksana, sebab, waktu yang kami punya sangat terbatas. Kami harus sudah berada di bawah sebelum gelap sebab jadwal kereta kami untuk pulang sudah menunggu. Saat teman-teman yang lain sedang bersiap muncak, saya masih meringkuk di dalam kantong tidur, saya hanya menyimak potongan-potongan pembicaraan teman-teman dari dalam tenda. Ya, badan saya masih belum bisa kompromi, di tambah sakit kepala yang semakin menjadi. Akhirnya, pukul 04.25 tim kami minus saya bergerak untuk muncak. Seketika hening suasana, hanya menyisakan lembut suara deru angin. Saya terdiam, membiarkan pikiran saya hanyut dengan berbagai pengandaian. Memikirkan bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap teman-teman tanpa ada sesuatu hal yang bisa saya lakukan.
Dan akhirnya, ego saya untuk melanjutkan pendakian datang, membawa serta energi baru yang entah dari mana. Dengan beringsut pelan saya keluar dari kehangatan kantong tidur, keluar tenda, mengisi air panas yang di masak Akbar ke dalam termos. Lalu memasukkannya ke dalam drybag beserta kotak P3K, roti, biskuit dan emergency kit lainnya. Setelah selesai, saya masuk kembali ke tenda untuk shalat subuh. Lalu dengan cepat saya kenakan sepatu dan gaiter, mengunci pintu tenda dan kemudian mulai melangkah untuk menuju puncak, mengejar teman-teman yang lain.
Jalur awal menuju pos 8 ini menyerupai lorong gelap yang dipenuhi debu tebal dan dalam. Saya sorot jam tangan dengan headlamp, tertera pukul 05.00.

Trail 9 :
Pos 8 Sanghyang Jampang 3150 mdpl - Pos 9 Pelawangan 3200 mdpl
Antara pos 8 dan 9 hanya berjarak lima belas menit saja, dengan kontur jalur menyerupai parit dengan debu yang tebal. Vegetasi masih didominasi oleh pohon lamtoro dan sedikit rerumputan kering.

Trail 10 :
Pos 9 Pelawangan 3250 mdpl- Puncak Slamet 3428 mdpl

Jalur awal menuju puncak, selepas Pelawangan

Saat saya tiba di Pelawangan, teman-teman ternyata juga masih berada disana. Mereka baru selesai menunaikan shalat subuh. Saya lihat G-Shock saya, pukul 05.20. Di timur semburat jingga dan oranye semakin terang, sebentar lagi matahari akan terbit dari horison. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju puncak, di belakang saya Irfan mengikuti. Dua puluh menit lepas Pelawangan, saya menemukan batu yang cukup nyaman untuk duduk beristirahat. Dari batu itu saya duduk sambil menikmati keindahan matahari terbit. Sesekali saya melihat ke bawah, sekira 150 meter di bawah nampak teman-teman saya sedang berjuang menapaki jalur batu berpasir yang terjal untuk mencapai puncak. Irfan melanjutkan perjalanan ke puncak, sedangkan saya memutuskan untuk menunggu salah satu anggota tim yang perempuan. Walau bagaimana, dengan kondisi jalur yang cukup berbahaya dan terjal seperti ini, setiap anggota tim perempuan harus di kawal anggota tim yang laki-laki. Karena Nur yang terdekat dengan posisi saya, akhirnya saya kawal Nur hingga ke puncak. Maria dengan Coro atau Akbar, dan Afri dengan Iyan. Sesekali sambil menghela napas, saya mendongakkan kepala, berusaha mencari akhir dari tanjakan terjal ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.55, Pelawangan sudah terlewati 1 jam yang lalu. Menurut perkiraan saya, pelataran puncak tinggal 1,5 jam lagi. Kontur jalur semakin sulit di jejak, batuan lepas bercampur kerikil dan pasir membuat berulang kali kaki saya---dan pasti teman-teman yang lain---terperosok lagi ke bawah. Saya pun harus semakin sering menarik Nur dengan trekking pole untuk melewati titik-titik yang sulit. Di antara anggota tim yang lain, saya dan Nur memang yang ber-body paling gemuk. Dan saya bisa merasakan berat dan sulitnya mendaki dengan body seperti ini. Akhirnya dengan sangat susah payah, pukul 06.35 saya dan Nur berhasil tiba di pelataran puncak yang berbatu menyerupai karang. 


Di puncak Gn.Slamet 3428 mdpl

Saya tidak melihat Irfan disini. Dari tempat kami berdiri ini, ada dua titik puncak yang bisa dituju. Yang pertama ke arah kanan, dan yang kedua, puncak tugu triangulasi, turun ke lembah pasir dan kemudian sedikit naik ke arah barat daya.  
Kawah Slamet dari puncak di sisi timur


View kawah Slamet bekas erupsi akan nampak jelas dari puncak triangulasi. Setelah beristirahat lima menit, saya ajak Nur untuk menuju puncak triangulasi yang berjarak lima belas menit dari tempat kami berdiri. Saat kami hampir tiba, Irfan datang bergabung, rupanya Irfan tadi naik ke puncak yang jalur sebelah kanan (sisi timur laut). Saat kami bertiga merayakan keberhasilan muncak, rekan-rekan yang lain tidak juga muncul dan menyusul. Saya berkesimpulan mereka pasti naik ke puncak yang di sisi timur laut. Akhirnya, kami bertiga pun menuju puncak tempat rekan-rekan kami diduga berada. Jam sudah menunjukkan pukul 07.15 saat kami bergabung dengan kelima rekan yang lain. Alhamdulillah. Setelah perjuangan berat selama dua hari satu malam, kami berhasil menuntaskan misi mendaki puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah ini. Sekira pukul 08.00 kami pun turun kembali untuk segera berkemas dan pulang.
--------The End--------
Sampai bertemu di petualangan selanjutnya ya....:)
-----------------------------------
#Rundown :
2 hari 1 malam.
1. Jakarta - Pekalongan 6 jam
2. Pekalongan - BC Bambangan 2,5jam (dengan mobil carteran)
-BC Bambangan-Pos I : 1,5-2,5 jam
-Pos I - Pos 2                : 1,5-2jam
-Pos 2- Pos 3                 : 2-2,5 jam
-Pos 3- Pos 4                 : 45-60 mnt
-Pos 4- Pos 5                 : 30-50 mnt
-Pos 5- Pos 6                 : 20-45 mnt
-Pos 6- Pos 7                 : 30-60 mnt
-Pos 7- Pos 8                 : 15-30 mnt
-Pos 8- Pos 9                 : 15-30 mnt
-Pos 9- Puncak              : 2-3 jam
#Biaya :
1. Jakarta Ps Senen - Pekalongan Rp.97.500 dengan KA.Kertajaya
2. Pekalongan - BC Bambangan Rp.150.000 pp, dengan mobil carteran (maksimal 7 orang)
3. Simaksi Rp.5.000/org
4. Logistik dll Rp.100.000
Total Rp. 450.000,-

Enjoy the Pict...:)   
Menunggu anggota tim yang lain, sesaat menjelang Pos 2

Kawah Slamet pasca erupsi, lubang kawah utama membesar.


Fasilitas toilet dan sanitasi basecamp Bambangan

Dinner @warung pojok with nasi Megono

Aula basecamp Bambangan

Sesaat sebelum pulang, @St.Pekalongan

Warna warni keril kami

Sunrise di pagi itu

Terduduk lelah, sore itu di Pos 5 Sanghyang Rangkah

Papan keterangan yang terdapat di setiap pos jalur Bambangan


Berpose di depan Pos 1 Gembirung

Ini shelter atau halte ya?...hehe


Break, satu jam selepas basecamp

Di depan gapura pendakian

Puncak Slamet dari basecamp Bambangan

Jalur awal pendakian, ladang penduduk

Foto bersama sebelum mulai mendaki

Di depan basecamp tempat kami bermalam

Bersantai sebelum tidur

MDPL = Makan Dari Pada Lapar

Ramainya jalur pantura malam itu

Re-packing sebelum menuju basecamp

Rabu, 07 Oktober 2015

Into Thin Air --- BAB XVI

                  INTO THIN AIR
                       BAB XVI
                JALUR SELATAN
        11 MEI 1996, PUKUL 06.00
                   26.000 KAKI

Saya tidak percaya pada ringkasan, apapun yang meluncur meloncati waktu, pernyataan berlebihan bahwa seseorang mengendalikan cerita; saya pikir, seseorang yang mengaku memahami tetapi jelas-jelas bersikap tenang, seseorang yang mengaku menulis dengan emosi yang diingatnya kembali dalam suasana tenang, adalah seorang bodoh dan pembohong. Memahami berarti merasa takut. Mengingat berarti mengalami kembali dan kembali terkoyak...Saya mengagumi keberanian seseorang untuk berlutut jika berhadapan dengan kejadian seperti itu.

Harold Brodkey
“Manipulations”

Stuart Hutchison akhirnya berhasil membangunkanku pada pukul 06.00 pagi, pada 11 Mei. “Andy tidak ada ditendanya,” katanya dengan murung, “dan dia juga tidak ada ditenda manapun. Kukira dia tidak berhasil sampai kemari.”
“Harold hilang?” tanyaku. “Tidak mungkin. Aku melihatnya berjalan ke batas perkemahan dengan mataku sendiri.” Terguncang dan bingung, aku memakai sepatuku dan bergegas keluar untuk mencari Harris. Angin masih bertiup kencang---cukup kuat untuk membuatku terjatuh beberapa kali---tetapi udara pagi cukup terang dan jernih, dan jarak pandang pun cukup baik. Aku mencari-cari disetengah wilayah Jalur Selatan selama lebih dari satu jam, mengintip ke balik setiap bongkahang batu dan memeriksa tenda-tenda yang koyak dan sudah lama ditinggalkan, tetapi aku tidak menemukan jejak Harris. Adrenalin mengalir cepat di pembuluh darahku. Air mata memenuhi kelopak mataku, yang langsung membeku dan membuat mataku tertutup. Bagaimana mungkin Andy hilang? Tidak mungkin.
Aku mendatangi kembali tempat Harris meluncur melalui lereng tepat diatas Jalur Selatan dan secara cermat  menelusuri rute yang dia tempuh saat menuju perkemahan, melalui selokan es yang lebar dan hampir datar. Dititik tempat aku melihatnya untuk terakhir kali, yaitu ketika gumpalan awan menutupi pemandanganku, sebuah belokan tajam ke arah kiri akan membawa Harris ke sebuah tonjolan batu, empat puluh atau lima puluh kaki dari perkemahan.
Tetapi aku menyadari bahwa jika dia tidak membelok kekiri melainkan berjalan lurus mengikuti selokan---sesuatu yang dengan mudah bisa terjadi ditengah hamparan  warna putih yang sangat luas ini, meskipun orang itu tidak kelelahan dan hanya setengah linglung akibat pengaruh ketinggian---dengan cepat dia akan tiba di tepi barat dari Jalur Selatan. Dibawahnya, lereng es yang curam dan berwarna kelabu dari Lhotse Face menukik tajam dan vertikal sedalam 4.000 kaki sampai ke dasar Cwm Barat. Berdiri ditempat itu, tidak berani bergerak lebih dekat ke bibir jurang, aku meihat jejak samar sebuah sepatu paku yang melewatiku menuju tepi jurang. Jejak itu, pikirku ketakutan, mungkin jejak Andy Harris.
Setibanya diperkemahan kemarin malam, aku mengatakan pada Hutchison bahwa aku melihat Harris tiba dengan selamat di perkemahan. Hutchison mengirimkan kabar itu melalui radio ke Base Camp, dan dari sana berita itu dikirimkan melalui telepon satelit kepada wanita yang hidup bersama Harris di Selandia Baru, Fiona McPherson. Fiona merasa sangat lega saat dia tahu bahwa Harris sudah selamat tiba di Camp. Tetapi, sekarang istri Hall di Christchurch harus mengabarkan kekeliruan itu---bahwa Andy ternyata hilang dan diduga tewas. Membayangkan percakapan telepon yang terjadi  dan peranku didalam peristiwa ini, membuatku terjatuh keatas lutut sambil menghela napas kering, muntah berkali-kali ditengah tiupan angin dingin yang menerpa punggungku.
Setelah sia-sia mencari Andy selama enam puluh menit, aku kembali ke kemahku dan tanpa sengaja aku mendengar percakapan radio  antara Base Camp dengan Rob Hall; ternyata Rob masih berada di lereng dekat puncak dan sedang menelepon untuk meminta bantuan. Kemudian Hutchison mengatakan padaku bahwa Beck dan Yasuko sudah tewas dan Scott Fischer hilang disatu tempat di puncak sana. Tidak lama kemudian, baterai radio kami habis sehingga kami terisolasi dari tempat-tempat lain digunung itu. Karena mereka takut kehilangan kontak dengan kami, beberapa anggota tim IMAX di Camp Dua menelepon tim Afrika Selatan, yang tendanya berada di Jalur Selatan, beberapa meter dari tempat kami. David Breashers---pemimpin IMAX dan pendaki yang sudah kukenal selama dua puluh tahun---melaporkan, “Kami tahu tim Afrika Selatan memiliki radio yang kuat dan berfungsi dengan baik, jadi kami meminta salah satu anggota tim mereka untuk menghubungi Woodall di Jalur Selatan dan mengatakan, ‘Kita sedang menghadapi keadaan darurat. Orang-orang sedang sekarat diatas sana. Kami harus bisa berkomunikasi dengan anggota tim Hall yang masih hidup untuk pembentuk tim pencari. Tolong pinjamkan radio Anda kepada Jon Krakauer.’ Tetapi, Woodall menolak permintaan kami. Dia tahu apa yang sedang dipertaruhkan, tetapi tetap menolak meminjamkan radio mereka.” Sesaat setelah ekspedisi berakhir, ketika aku sedang melakukan riset untuk artikelku untuk majalah Outside, aku mewawancarai sebanyak mungkin anggota tim Hall dan Fischer yang mendaki ke puncak ---aku bicara dengan hampir semua orang kali. Tetapi Martin Adams, yang tidak percaya pada wartawan, menolak untuk berbicara dan upayaku untuk mewawancarainya berkali-kali menemui jalan buntu sampai artikel Outside sampai ke tangan pembaca.
Ketika akhirnya aku bisa menghubungi Adams melalui telepon pada pertengahan Juli dan dia bersedia berbicara, aku memintanya menceritakan semua yang dia ingat tentang pendakian hari terakhir menuju puncak. Sebagai salah satu pendaki yang paling kuat hari itu, dia selalu berada didepan rombongan dan selama pendakian dia berada didepan atau dibelakangku. Karena dia memiliki ingatan yang tampaknya sangat tajam, aku tertarik untuk mendengarkan versinya tentang kejadian tersebut dan membandingkannya dengan versiku sendiri.
Sore itu, ketika Adams turun dari Balkon pada ketinggian 27.600 kaki, dia mengaku bahwa dia masih bisa melihatku kira-kira lima belas menit dihadapannya, tetapi gerakanku lebih cepat darinya sehingga sebentar saja aku sudah hilang dari pandangannya. “Dan, saat berikutnya aku melihatmu,” katanya, “hari sudah hampir gelap dan kamu sedang menyeberangi Jalur Selatan yang datar, kurang lebih seratus kaki dari perkemahan. Aku mengenalimu dari celana merah yang kamu kenakan.”
Tidak lama sesudah itu, Adams tiba disebuah birai datar tepat diatas lereng curam yang licin yang pernah menyulitkanku dan dia terjatuh ke dalam sebuah celah gletser yang kecil. Dia berhasil keluar  dari celah tersebut, tetapi kemudian terjatuh lagi, kali ini ke dalam sebuah celah gletser yang lebih dalam. “Saat terbaring di celah tersebut, aku berpikir, ‘barangkali inilah akhir hidupku,’” kenangnya. “Meskipun menghabiskan cukup banyak waktu, akhirnya aku mampu memanjat ke atas celah gletser tersebut. Ketika aku tiba diatas, mukaku sudah dipenuhi salju, yang dengan cepat berubah menjadi es yang membeku. Kemudian aku melihat seseorang sedang duduk diatas es disebelah kiriku, memakai lampu kepala, jadi aku berjalan ke arahnya. Saat itu hari masih belum terlalu gelap, tetapi cukup gelap sehingga aku tidak bisa lagi melihat perkemahan.”
“Jadi, aku mendekati orang itu, dan berkata, ‘Hei, kemana arah menuju perkemahan?’ dan orang itu, siapapun dia, menunjukkan arah padaku. Jadi aku berkata, ‘Ya, kupikir juga demikian.’ Kemudian orang itu mengatakan sesuatu, kalau tidak salah, ‘Hati-hati Es ditempat ini lebih licin daripada yang terlihat. Barangkali kita harus turun untuk mengambil tali dan beberapa pengait es.’ Aku berpikir, ‘persetan dengan rencanamu. Aku akan pergi dari tempat ini.’ Jadi, aku berjalan dua atau tiga langkah, tersandung dan jatuh tertelungkup, kemudian aku meluncur diatas lereng es dengan kepala didepan. Ketika sedang meluncur itulah ujung kapak esku terkait pada sesuatu sehingga tubuh aku berbalik, dan berhenti tepat didasar lereng. Aku berdiri, berjalan tertatih-tatih menuju tenda, ya, begitulah kira-kira kejadiannya.”
Ketika Adams menggambarkan pertemuannya dengan sosok yang tidak dikenalnya, dan meluncur menuruni es, mulutku terasa kering dan bulu kudukku terasa berdiri. “Martin” tanyaku saat dia selesai bicara, “mungkinkah orang yang kamu temui diatas sana adalah aku?’
“Tentu saja bukan!” katanya sambil tertawa. “Aku tidak tahu siapa dia, tapi pasti bukan kamu.” Kemudian aku ceritakan pertemuanku dengan Andy Harris dan beberapa kebetulan yang menakutkan: Pertemuanku dengan Harris  terjadi pada saat yang hampir bersamaan dengan pertemuan antara Adams dan sosok misterius tersebut dan ditempat yang hampir sama pula. Hampir semua dialog yang terjadi antara Harris dan aku secara mengerikan hampir sama dengan dialog Adams dengan sosok misterius tersebut. Dan kemudian, Adams meluncur menuruni lereng es dengan kepala dibawah, persis seperti yang kulihat terjadi pada Harris.
Setelah bicara beberapa menit, Adams mulai yakin, “Jadi kamu orang yang kuajak bicara diatas es itu,” katanya terkejut, sekarang dia mengakui bahwa mungkin dia salah saat dia melihatku melewati medan datar diatas Jalur Selatan sebelum gelap. “Berarti, akulah yang kamu ajak bicara. Artinya, orang yang kau ajak bicara sama sekali bukan Andy Harris. Wow. Teman, kupikir kamu harus membuat beberapa penjelasan.”
Aku benar-benar terkejut. Selama dua bulan aku mengatakan pada orang-orang bahwa Harris berjalan ke tepi tebing Jalur Selatan dan menemui ajalnya, padahal kejadiannya sama sekali tidak seperti itulah. Kekeliruanku secara sia-sia  menambah kesedihan Fiona McPherson; orang tua Andy, Ron dan Mary Harris; kakak Andy, Davis Harris; dan teman-temannya.
Andy bertubuh besar, tingginya lebih dari 183 cm dan beratnya mencapai seratus kilogram dan bicara dengan akses Kiwi yang tajam; Martin setidaknya lima belas sentimeter lebih pendek, beratnya hanya sekira enam puluh lima kilogram dan dia bicara dengan akses Texas yang kental. Bagaimana mungkin aku membuat kesalahan yang fatal seperti itu? Benarkah aku sudah menjadi begitu lemah sehingga wajah seseorang yang hampir-hampir asing bagiku ku anggap sebagai wajah seorang teman yang selama enam minggu terakhir selalu bersamaku? Dan jika Andy tidak pernah tiba di Camp Empat setelah tiba di puncak, demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

Senin, 05 Oktober 2015

Into Thin Air --- BAB XV --- PUNCAK EVEREST --- 10 MEI 1996 PUKUL 13.25 --- 29.028 KAKI

Ada beberapa tingkatan bahaya petualangan dan badai, tetapi hanya sekali-sekali kekejaman yang menakutkan muncul sebagai fakta---sesuatu yang tidak terlukiskan yang memaksa masuk ke dalam pikiran dan hati manusia bahwa akibat dari semua musibah atau semua kemarahan yang mendasar itu datang kepadanya dengan tujuan yang penuh dendam, dengan kekuatan yang tidak terkontrol, dengan kekejaman yang tidak terbatas, yang untuk menghancurkan harapan dan rasa takutnya, rasa sakit akibat kelelahannya, dan keinginannya untuk beristirahat: artinya, untuk menghancurkan, merusak, membinasakan semua yang dia lihat, kenal, cintai, nikmati, atau benci; semua yang tidak ternilai dan perlu---sinar matahari, kenangan, masa depan; yang dimaksudkan untuk menghempaskan dunia yang sangat berharga dari pandangannya melalui sebuah tindakan yang sederhana dan mengerikan: mengambil nyawanya.

JOSEPH CONRAD
Lord Jim

Neal Beidleman tiba dipuncak Everest pada pukul 13.25 bersama klien Martin Adams. Ketika mereka tiba, Andy Harris dan Anatoli Boukreev sudah berada di puncak; aku meninggalkan puncak delapan menit sebelumnya. Menganggap bahwa anggota tim yang lain akan segera tiba, Beidleman mengambil beberapa foto, bercakap-cakap dengan Boukreev, dan duduk untuk menunggu. Pada pukul 13.45, Klev Schoening naik melewati tonjolan terakhir dan tiba dipuncak, menarik foto istri dan anak-anaknya dan memulai perayaan yang mengharukan untuk menyambut kedatangannya dipuncak dunia.
     Dari atas puncak, pemandangan ke arah rute pendakian terhalang oleh sebuah tonjolan besar dilereng gunung, dan pada pukul 14.00---waktu yang sudah ditentukan sebagai waktu kembali---Fischer dan para kliennya masih belum tampak. Beidleman mulai cemas memikirkan hari yang semakin siang.
     Beidleman yang berusia tiga puluh enam tahun, seorang insinyur ruang angkasa, adalah pria yang pendiam, penuh pertimbangan dan pemandu yang sangat bertanggung jawab, yang disukai oleh anggota timnya maupun oleh anggota tim Hall. Beidleman juga merupakan salah seorang pendaki yang paling kuat digunung itu. Dua tahun yang lalu, dia dan Boukreev---yang dianggapnya sebagai teman baiknya---mendaki Puncak Makalu yang memiliki ketinggian 27.824 kaki dengan waktu yang hampir memecahkan rekor, tanpa oksigen tambahan dan tanpa dukungan Sherpa. Pada 1992, Beidleman bertemu Fischer dan Hall untuk pertama kali dilereng K2 dan keahlian serta sikap Beidleman yang tenang dan ramah membuat kedua pria itu terkesan. Namun, karena pengalaman Beidleman dalam mendaki gunung-gunung tinggi masih terbatas (Makalu merupakan satu-satunya puncak Himalaya yang pernah dia daki), kedudukannya sebagai pemandu di Mountain Madness masih berada dibawah Fischer dan Boukreev. Bayaran yang dia terima pun mencerminkan statusnya yang masih junior: Beidleman setuju untuk menjadi pemandu Everest dengan bayaran 10.000 dolar; bandingkan dengan Boukreev yang menerima 25.000 dolar.
     Sebagai pria yang sangat peka, Beidleman sangat menyadari posisinya sebagai pemandu junior. "Aku benar-benar dianggap pemandu ketiga," katanya setelah ekspedisi berakhir, "jadi aku berusaha untuk tidak terlalu ngotot. Akibatnya, aku tidak selalu bicara ketika aku seharusnya bicara, dan sekarang aku menyesalinya."
      Beidleman mengatakan bahwa sesuai dengan rencana Fischer yang fleksibel, pada hari terakhir pendakian menuju puncak, Lopsang Jangbu akan menjadi pendaki pertama, membawa radio dan dua utas tali yang harus direntang sebelum para klien pendaki tiba; Boukreev dan Beidleman---yang sama-sama tidak memiliki radio---akan ditempatkan "ditengah atau didepan" bergantung pada gerakan para klien; dan Scott yang membawa radio kedua, akan menjadi 'pengawas'. Sesuai dengan saran Rob, kami semua harus kembali pada pukul 14.00: setiap pendaki yang belum mendekati puncak pada pukul tersebut harus berbalik dan turun.
     "Seharusnya, Scott sendiri yang mengajak para klien kembali, " Beidleman menjelaskan. "Kami sudah mendiskusikan hal itu. Aku katakan kepadanya bahwa sebagai pemandu ketiga, aku tidak merasa nyaman jika aku meminta seorang klien yang sudah membayar enam puluh lima ribu dolar untuk kembali. Jadi, Scott setuju bahwa itu tanggung jawabnya. Namun karena alasan tertentu, kesepakatan itu tidak pernah terlaksana." Kenyataannya, hanya Boukreev, Harris, Beidleman, Adams, Schoening dan aku sendiri yang tiba dipuncak sebelum pukul 14.00; seandainya Fischer dan Hall mematuhi aturan yang sudah dibuat sebelumnya, semua pendaki lain harus kembali sebelum mereka bisa mencapai puncak.
     Meskipun kecemasan Beidleman terus bertambah karena hari bertambah siang, dia sendiri tidak memiliki radio sehingga dia tidak bisa membahas situasi yang dihadapinya dengan Fischer. Lopsang---yang memegang satu radio---sama sekali belum kelihatan. Pagi itu, ketika Beidleman berpapasan dengan Lopsang yang sedang berlutut sambil muntah ke atas salju diatas Balkon, dia mengambil dua utas tali yang dibawa Sherpa itu untuk membuat lintasan di undakan batu yang terjal diatas mereka. Namun, kenangnya, "Sama sekali tidak terpikir olehku untuk mengambil radionya."
     Akibatnya, kata Beidleman, "Aku harus duduk dan menunggu lama di atas puncak, menatap jam tanganku dan menunggu sampai Scott datang, berpikir untuk turun---tetapi, setiap kali aku berdiri untuk meninggalkan puncak, seorang klien tiba dilereng gunung, jadi aku duduk kembali untuk menunggu mereka."
     Sandy Pittman tampak dilereng terakhir sekitar pukul 14.10, sedikit didepan Charlotte Fox, Lopsang Jangbu, Tim Madsen dan Lene Gammelgaard. Namun gerakan Pittman sangat lambat dan beberapa saat sebelum tiba dipuncak mendadak dia roboh diatas lututnya diatas salju. Ketika Lopsang tiba untuk membantunya dia mendapati bahwa tabung oksigen Pittman yang ketiga sudah kosong. Pagi-pagi sekali, ketika Lopsang berhenti menarik Pittman, dia mengatur agar aliran oksigen mengalir lebih cepat---empat liter per menit---akibatnya, botol oksigen Pittman relatif lebih cepat kosong. Untungnya Lopsang---yang tidak memerlukan oksigen tambahan---membawa satu botol cadangan diranselnya. Dia menyambungkan regulator Pittman ke botol oksigen yang baru, dan bersama-sama mereka mendaki beberapa meter terakhir menuju puncak, kemudian bergabung dalam perayaan yang sedang berlangsung.
     Rob Hall, Mike Groom dan Yasuko Namba tiba dipuncak pada waktu yang hampir bersamaan dan Hall mengirim pesan radio kepada Helen Wilton di Base Camp untuk mengabarkan berita gembira tersebut. "Rob mengatakan bahwa udara diatas sana sangat dingin dan berangin," kenang Wilton, "tetapi, suaranya terdengar gembira. Rob juga mengatakan, 'Doug sudah mulai tampak dikaki horizon; dan begitu dia tiba, aku akan langsung turun...Jika kamu tidak mendengar kabar dariku lagi, artinya segala sesuatu berjalan lancar." Wilton mengirimkan kabar itu ke kantor Adventure Consultants di Selandia Baru, disusul setumpuk berita faksimile yang dikirimkan kepada teman-teman dan kerabat diseluruh dunia, memberitakan tentang keberhasilan ekspedisi itu menaklukkan puncak dunia.
     Akan tetapi, Doug Hansen sama sekali belum berada dekat puncak saat itu, tidak seperti dugaan Hall, begitu pula Fischer. Fischer baru tiba dipuncak pada pukul 15.40 dan Hansen baru tiba disana setelah pukul 16.00.
     Sore sebelumnya---Kamis, pada 9 Mei---ketika kami semua mendaki dari Camp Tiga ke Camp Empat, Fischer baru tiba diperkemahan di Jalur Selatan pada pukul 17.00, dan saat itu dia tampak sangat lelah, meskipun dia berusaha keras untuk menutupi kelelahannya dari para kliennya. "Malam itu," kenang teman satu tendanya, Charlotte Fox, "Aku tidak melihat tanda-tanda bahwa Scott sedang sakit. Dia sangat antusias menyiapkan semua orang seperti seorang pelatih sepakbola yang akan menghadapi sebuah pertandingan besar."
     Padahal, Fischer pasti sangat lelah karena tekanan fisik dan mental yang dialaminya dalam beberapa minggu terakhir. Meskipun dia memiliki cadangan energi yang besar, dia sudah sangat menghamburkannya sehingga ketika dia tiba di Camp Empat, energinya sudah hampir habis. "Scott orang yang sangat kuat," kata Boukreev setelah ekspedisi berakhir, "tetapi sebelum hari pendakian terakhir menuju puncak, dia sudah sangat kelelahan, menghadapi banyak masalah dan dia sudah menghabiskan banyak tenaga. Cemas, cemas, cemas, cemas. Scott benar-benar gelisah, tetapi dia menyimpannya untuk dirinya sendiri."
     Fischer juga menyembunyikan fakta bahwa dia sedang sakit pada hari pendakian terakhir menuju puncak. Pada 1984, saat mendaki Gunung Annapurna di Nepal, Fischer terserang semacam penyakit perut yang ditimbulkan oleh sejenis parasit bernama Entamoeba histolytica. Selama bertahun-tahun penyakit ini tidak pernah benar-benar terusir dari tubuhnya. Dari waktu ke waktu, penyakitnya akan kambuh, membuat fisiknya tertekan dan meninggalkan kista dihatinya. Fischer yang tetap yakin bahwa penyakitnya tidak perlu membuatnya khawatir kerap bercerita tentang penyakitnya kepada beberapa rekannya di Base Camp.
     Menurut Jane Bromet, jika penyakit itu sedang kambuh (seperti yang tampaknya terjadi saat pendakian musim semi 1996 berlangsung), "tubuh Fischer akan berkeringat dan gemetar. Serangan itu membuatnya tidak bisa banyak beraktivitas, tetapi biasanya hanya berlangsung selama sepuluh atau lima belas menit, dan kemudian berlalu. Di Seattle, serangan penyakitnya bisa terjadi seminggu sekali, dan bisa lebih sering jika dia sedang merasa tertekan. Di Base Camp, penyakitnya muncul lebih sering---hampir setiap dua hari sekali, bahkan kadang-kadang setiap hari."
     Seandainya penyakit Fischer memang kambuh saat dia berada di Camp Empat atau diatasnya, dia tidak pernah mengatakannya. Fox melaporkan bahwa dia langsung merangkak ke dalam tendanya pada selasa malam, "Scott langsung tumbang dan tidur nyenyak selama kurang lebih dua jam." Saat dia terbangun pada pukul 22.00 untuk bersiap-siap, gerakannya sangat lamban dan dia masih tetap berada diperkemahan lama setelah klien, pemandu, dan para Sherpa berangkat menuju puncak.
     Tidak jelas kapan Fischer benar-benar meninggalkan Camp Empat pada Jumat, 10 Mei tersebut, kemungkinan baru pukul 01.00. Dia bergerak lambat jauh dibelakang pendaki lain pada hari terakhir pendakian dan sampai sekitar pukul 13.00, dia masih belum tiba di Puncak Selatan. Aku melihatnya pertama kali sekitar pukul 14.45, ketika aku baru meninggalkan puncak, menunggu di atas Hillary Step bersama Andy Harris sampai antrean pendaki habis. Fischer adalah pendaki terakhir yang tiba dan dia tampak sangat lelah.
     Setelah kami berbasa basi, dia bicara sebentar dengan Martin Adams dan Anatoli Boukreev, yang berdiri tepat diatasku dan Harris, menunggu untuk menuruni Hillary Step. "Hei, Martin," Fischer berkata melalui masker oksigennya, berusaha menyisipkan nada lucu dalam suaranya. "Menurutmu kamu bisa menaklukkan Puncak Everest?"
     "Hei, Scott," Adams menjawab dengan nada yang terdengar kesal karena Fischer tidak mengucapkan selamat kepadanya, "Aku baru saja melakukannya."
     Kemudian Fischer bercakap-cakap dengan Boukreev. Menurut Adams, Boukreev berkata kepada Fischer, "Aku akan turun bersama Martin." Kemudian Fischer bergerak dengan lambat menuju puncak, sementara Harris, Boukreev, Adams dan aku menuruni Hillary Step, melewati lintasan tali. Tidak ada seorang pun yang membahas tentang keadaan Fischer yang tampak lelah. Tidak seorang pun dari kami yang berpikir, bahwa dia mungkin sedang menghadapi kesulitan besar.

Jumat sore, pukul 15.00, Fischer masih belum tiba dipuncak, Beidleman menambahkan, "Aku memutuskan, sudah waktunya kami pergi dari tempat itu, meskipun Fischer belum muncul." Dia mengumpulkan Pittman, Gammelgaard, Fox dan Madsen, dan mulai memandu mereka menuruni tebing menjauhi puncak. Dua puluh menit kemudian, sedikit diatas Hillary Step, mereka berpapasan dengan Fischer. "Aku tidak benar-benar berbicara dengannya," kenang Beidleman. "Dia hanya mengangkat tangan. Kelihatannya dia sangat kelelahan, tetapi, dia kan Scott Fischer, jadi aku tidak terlalu mencemaskannya. Aku pikir dia akan mendaki sampai puncak dan secepatnya turun untuk membantu kami memandu para klien turun."
     Kekhawatiran Beidleman saat itu lebih tertuju pada Pittman, "Saat itu, semua orang memang tampak lelah, tetapi Sandy benar-benar kepayahan. Aku pikir, jika aku tidak benar-benar mengawasinya, kemungkinan besar dia akan terguling melewati bibir tebing. Jadi, aku pastikan bahwa dia terkait pada lintasan tali, dan ditempat-tempat lintasan tali tidak tersedia, aku memegang tali pelananya dari belakang dan terus memegangnya sampai dia terkait dengan lintasan tali berikutnya. Dia benar-benar kelelahan, dan aku tidak yakin, dia menyadari bahwa aku berada disampingnya."
     Beberapa kaki dibawah Puncak Selatan, ketika para pendaki memasuki gumpalan awan yang tebal dibawah siraman hujan salju, sekali lagi Pittman roboh dan dia meminta kepada Fox agar diberi suntikan dexametason, sejenis steroid yang sangat keras. "Dex", nama dagang yang lazim dikenal, bisa menahan untuk sementara, dampak merusak dari ketinggian; sesuai dengan saran Dr. Inggrid Hunt, setia anggota tim Fischer diminta membawa sebuah jarum suntik berisi obat didalam kotak plastik sikat gigi yang dimasukkan ke dalam kantong jaket masing-masing, ditempat yang tidak akan membuatnya membeku, kalau-kalau terjadi keadaan darurat. "Aku menurunkan celana Sandy sedikit," kenang Fox, "dan memasukkan jarum suntik itu ke dalam pinggulnya, menembus pakaian dalam dan lainnya."
     Beidleman yang menunggu di Puncak Selatan untuk menginventarisasi oksigen, tiba ditempat itu dan melihat Fox memasukkan jarum suntik ke tubuh Pittman yang tertelungkup diatas salju dengan muka menghadap ke bawah. "Ketika aku tiba diatas tanjakan dan melihat Sandy terbaring disana dan Charlotte berdiri diatasnya sambil mengacungkan jarum suntik, aku berpikir, 'Sial, sepertinya gawat.' Aku bertanya kepada Sandy, apa yang terjadi, dan ketika dia coba menjawab, yang keluar dari mulutnya hanyalah serentetan kata yang tidak berarti." Dengan cemas, Beidleman memerintahkan Gammelgaard untuk menukar tabung oksigennya yang masih penuh dengan tabung Pittman yang hampir kosong, mengatur regulatornya agar oksigen mengalir dengan kekuatan penuh, kemudian memegang Pittman yang sudah setengah koma melalui tali pelananya, dan mulai membawanya turun melewati Lereng Tenggara yang curam dan tertutup es. "Aku mengatur agar tubuhnya bisa meluncur," katanya menerangkan, "melepaskan peganganku dan meluncur mendahului tubuhnya. Setiap lima puluh meter aku akan berhenti, berpegang pada lintasan tali dan berdiri tegak untuk menahan tubuhnya yang meluncur jatuh dengan tubuhku. Ketika aku menahan tubuh Sandy yang meluncur untuk pertama kalinya, ujung-ujung cramponku yang tajam merobek pakaianku. Bulu-bulu pelapis pakaianku beterbangan kemana-mana." Semua orang merasa lega ketika kurang lebih dua puluh menit kemudian, suntika dan oksigen ekstra yang diberikan kepada Pittman mampu memulihkannya dan dia bisa menuruni gunung dengan tenaganya sendiri.
     Sekitar pukul 17.00, ketika Beidleman memandu kliennya menuruni punggung gunung, Mike Groom dan Yasuko Namba sudah tiba diatas Balkon, kira-kira 500 kaki dibawah mereka. Mulai dari birai lebar yang berada pada ketinggian  27.600 kaki ini, rute pendakian menukik tajam ke arah selatan sampai di Camp Empat. Namun, ketika Groom melihat ke arah lain---ke bagian utara dari lereng bukit yang berada dibawahnya---melewati hamparan salju yang bergelombang dan sinar yang mulai memudar, dia melihat seorang pendaki yang bergerak sendirian, jauh menyimpang dari jalur pendakian: orang itu adalah Martin Adams yang kehilangan arah karena badai, dan mengambil jalan yang salah, menuruni Kangshung Face menuju Tibet.
     Begitu Adams melihat Groom dan Namba yang berada diatasnya dia langsung menyadari kekeliruannya dan perlahan-lahan mendaki kembali menuju Balkon. "Martin sudah sangat kepayahan ketika dia tiba di sampingku dan Yasuko," kenang Groom. "Masker oksigennya terlepas, dan wajahnya ditutupi salju yang mengeras. Dia bertanya, 'Mana arah yang menuju perkemahan?"' Groom menunjukkan arah, dan dengan cepat Adams mulai menuruni punggung gunung melalui rute yang benar, mengikuti jejak yang kutinggalkan kira-kira sepuluh menit sebelumnya.
     Saat Groom menunggu Adams untuk kembali ke punggung gunung, dia memerintahkan Namba untuk turun lebih dulu, dia sendiri kemudian sibuk mencari kotak kamera yang hilang saat dia sedang mendaki puncak. Ketika dia sedang mencari-cari disekelilingnya, untuk pertama kalinya Groom melihat seseorang lain berada diatas Balkon bersamanya. "Karena tubuhnya tertutup oleh salju, aku mengira orang itu salah seorang anggota kelompok Fischer, jadi aku tidak mengacuhkannya. Ketika orang itu sudah berdiri di hadapanku dan menyapa, "Hei, Mike, 'aku baru menyadari bahwa orang itu adalah Beck."
     Groom yang terkejut melihat Beck, seperti aku yang juga terkejut saat melihatnya, mengeluarkan seutas tali pendek dan mulai menghela warga Texas itu menuju Jalur Selatan. "Saat itu Beck sudah benar-benar buta," lapor Groom, "setiap sepuluh meter dia akan menginjak udara kosong sehingga aku harus  menariknya dengan bantuan tali. Aku cemas, beberapa kali dia menyeret tubuhku bersamanya. Benar-benar menakutkan. Aku pastikan kapak esku tertancap dengan aman dan cramponku selalu menancap pada permukaan yang kukuh.
     Satu demi satu, disepanjang rute yang baru aku lewati lima belas atau dua puluh menit sebelumnya, Beidleman dan klien Fischer yang lain terperangkap di tengah badai salju yang semakin memburuk. Adams ada di belakang saya, didepan para pendaki lain; disusul oleh Namba, Groom dan Weathers, Schoening dan Gammelgaard, Beidleman dan akhirnya Pittman, Fox dan Madsen.
     Lima ratus kaki diatas Jalur Selatan, ketika singkapan serpih yang curam berubah menjadi lereng es yang lebih landai, Namba kehabisan oksigen, kemudian wanita Jepang bertubuh kecil itu duduk, menolak untuk bergerak. "Ketika aku mencoba mencabut masker oksigennya agar dia bisa bernapas lebih mudah," kata Groom, "dia bersikeras memakai maskernya kembali. Tidak ada bujukan yang bisa meyakinkan dia, bahwa oksigennya sudah habis. Saat itu, tubuh Beck juga sudah sangat lemah sehingga dia tidak bisa berjalan sendiri, dan aku harus menopangnya dengan bahuku. Untunglah pada saat itu Neal berhasil menyusul kami." Beidleman, yang melihat bahwa Groom sudah kewalahan menangani Weathers, mulai menarik Namba menuruni punggung gunung menuju Camp Empat, meskipun Namba bukan anggota tim Fischer.
     Saat itu sudah pukul 18.45 dan cuaca sudah hampir seluruhnya gelap. Beidleman, Groom dan klien mereka, serta dua orang Sherpa dari tim Fischer yang secara terlambat muncul dari tengah embun tebal---Tashi Tschering dan Ngawang Dorje---bergabung menjadi satu kelompok. Meskipun gerakannya sangat lambat, mereka berhasil turun sampai kira-kira 200 kaki vertikal dari Camp Empat. Saat itu aku baru tiba di perkemahan---barangkali tidak lebih dari lima belas menit didepan anggota pertama dari tim Beidleman. Namun, dalam waktu yang sangat pendek itu, hujan badai sudah berubah menjadi topan yang sangat dahsyat dan daya pandang sudah sangat menurun menjadi kurang dari dua puluh kaki. Untuk menghindari lereng es yang berbahaya, Beidleman memandu kelompoknya melalui rute jauh memutar ke arah timur, tempat yang lerengnya tidak terlalu curam dan sekitar pukul 19.30 mereka tiba dengan selamat di Jalur Selatan yang landai dan luas. Namun, saat itu hanya tiga atau empat pendaki yang lampu kepalanya masih menyala, dan semua orang sudah hampir roboh karena kelelahan. Fox semakin bergantung pada Madsen. Weathers dan Namba tidak mampu berjalan tanpa di bantu oleh Groom dan Beidleman secara bergantian.
     Beidleman tahu bahwa mereka berada di lereng timur Jalur Selatan yang mengarah ke wilayah Tibet, bahwa perkemahan mereka terletak disebelah barat. Namun, berjalan ke arah itu berarti menyongsong badai. Potongan-potongan es sebesar biji yang diterbangkan angin menghantam keras wajah mereka, mengoyakkan mata dan membuat mereka tidak mampu melihat jalan yang mereka yang lalui. "Benar-benar sulit dan menyakitkan," Schoening menjelaskan, "akibatnya, kami cenderung berjalan menghindari angin, terus bergerak ke arah kiri dan itulah kesalahn kami."
     "Adakalanya, kami bahkan tidak bisa melihat kaki kami sendiri karena kerasnya tiupan angin," katanya menambahkan. "Aku khawatir seseorang akan duduk atau terpisah dari kelompok dan kami tidak pernah melihatnya lagi. Namun, begitu kami tiba di Jalur Selatan yang datar, kami mulai mengikuti para Sherpa, aku pikir mereka tahu letak perkemahan. Namun, tiba-tiba mereka berhenti dan dengan cepat kembali ke rute asal sehingga kami segera sadar bahwa mereka pun tidak tahu tempat kami berada. Tiba-tiba saja perutku terasa sakit. Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa kami benar-benar berada dalam kesulitan.
     Selama dua jam berikutnya, Beidleman, Groom, dua Sherpa dan tujuh klien berjalan tertatih-tatih ditengah badai tanpa bisa melihat apapun, dengan  tubuh yang makin lelah dan makin dingin, berharap bisa tiba diperkemahan. Di satu tempat, mereka menemukan beberapa botol oksigen yang kosong, menandakan bahwa perkemahan sudah semakin dekat, tetapi para pendaki itu masih belum bisa menemukan perkemahan mereka. "Benar-benar kacau," kata Beidleman. "Semua orang berjalan kesana kemari; aku berteriak kepada semua orang, meminta mereka untuk mengikuti satu pemimpin. Akhirnya, sekitar pukul sepuluh malam, aku tiba di sebuah tanjakan kecil, sepertinya aku sedang berdiri di tepi permukaan bumi. Aku bisa merasakan kekosongan yang sangat luas dibawahku."
     Tanpa disadari kelompok itu tersesat ke tepi paling timur dari Jalur Selatan, dimulut Kangshung Face yang menukik sedalam 7000 kaki. Mereka berada pada ketinggian yang sama dengan Camp Empat, hanya 1000 kaki mendatar dari tempat aman(*1), tetapi, kata Beidleman, "aku tahu, bahwa jika kami terus berjalan ditengah badai, sebentar saja seseorang pasti akan hilang. Aku sangat lelah karena harus menyeret Yasuko. Charlotte dan Sandy hampir-hampir tidak mampu berdiri. Jadi, aku berteriak kepada semua orang agar duduk sambil membungkuk ditempat itu dan menunggu sampai badai berhenti."
     Beidleman dan Shoening berusaha mencari tempat yang terlindung dari terjangan angin, tetapi tidak berhasil. Semua orang sudah kehabisan oksigen sehingga kelompok itu semakin rentan terhadap angin yang temperaturnya mencapai seratus derajat dibawah nol. Dibalik sebongkah batu yang besarnya tidak lebih dari sebuah mesin cuci piring, para pendaki itu merunduk dan membentuk barisan yang tidak teratur diatas sepetak tanah yang bebas dari es karena tiupan badai. "Saat itu, dinginnya udara hampir-hampir membuatku mati," kata Charlotte Fox. "Mataku membeku. Aku tidak yakin kami bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup. Sengatan hawa dingin benar-benar menyakitkan, kukira aku tidak bisa bertahan lebih lama. Aku hanya meringkuk dan berharap kematian menjemputku dengan cepat."
     "Kami berusaha untuk tetap hangat dengan saling meninju," kenang Weathers. "Seseorang berteriak agar kami terus menggerakkan tangan dan kaki kami. Sandy menjadi histeris, berkali-kali dia menjerit, 'Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!' Selain dia, tidak ada orang yang banyak berbicara."

Kira-kira tiga ratus kaki ke arah barat, didalam tendaku, tubuhku bergetar tidak terkendali---meskipun aku terbungkus rapat didalam kantong tidurku, dan memakai semua pakaian dan penutup tubuh yang aku miliki. Tiupan badai seakan-akan siap mengoyakkan tendaku. Setiap kali pintu tenda terbuka, butiran salju yang tertiup angin menerjang masuk sehingga semua benda didalam tenda tertutup oleh lapisan salju setebal 2,54 senti. Tidak menyadari tragedi yang sedang berlangsung diluar sana, ditengah amukan badai, aku terbaring antara sadar dan tidak sadar, mengigau karena kelelahan, dehidrasi dan karena dampak kumulatif akibat kekurangan oksigen.
     Entah pukul berapa, yang pasti malam belum larut, Stuart Hutchison, teman satu tendaku, masuk dan mengguncangkan tubuhku dengan keras. Dia memintaku untuk menemaninya keluar dari tenda untuk memukuli panci dan menyorotkan lampu ke angkasa, dengan harapan kami bisa memandu para pendaki yang tersesat, tetapi aku terlalu lemah dan terlalu bingung untuk bereaksi. Hutchison---yang sudah tiba kembali diperkemahan pada pukul 14.00 dan karenanya jauh lebih segar daripadaku---kemudian berusaha membangunkan klien lain dan para Sherpa dari tenda-tenda yang lain. Namun, semua orang terlalu kedinginan atau terlalu kelelahan. Akhirnya Hutchison keluar sendirian dan menerjang badai.
     Malam itu, dia meninggalkan kemah enam kali untuk mencari pendaki yang hilang, tetapi badai es yang turun dengan dahsyat membuatnya tidak berani berjalan lebih dari beberapa meter dari batas perkemahan. "Kecepatan angin sama dengan kecepatan peluru," katanya menekankan. "Butir-butir air yang tertiup angin terasa seperti butiran pasir atau sejenisnya. Aku hanya bisa berada diluar selama lima belas menit setiap kalinya, sebelum aku sendiri kedinginan dan terpaksa kembali ke dalam tenda."
    
Diluar sana, ditengah para pendaki yang terbungkuk-bungkuk ditepi Jalur Selatan, Beidleman memaksa diri untuk waspada, menunggu tanda-tanda berhentinya badai. Sesaat sebelum tengah malam, sikap waspadanya ternyata membuahkan hasil ketika tiba-tiba dia melihat beberapa bintang diangkasa dan berteriak kepada pendaki lain untuk ikut melihat. Dibawah dekat permukaan tanah, tiupan angin masih menimbulkan badai salju, tetapi jauh diatas sana, langit mulai tampak jernih, menampilkan bayangan hitam dari puncak Everest dan Lhotse yang menjulang. Dengan mengambil dua titik ini sebagai pedoman, Klev Schoening mengatakan bahwa dia bisa mengetahui posisi kelompok mereka  terhadap Camp Empat. Setelah bertukar pendapat dengan Beidleman, yang dilakukan dengan cara berterial, dia berhasil meyakinkan si pemandu tentang arah menuju perkemahan.
     Beidleman berusaha membujuk semua orang untuk berdiri dan bergerak sesuai arah yang ditunjukkan oleh Schoening, tetapi Pittman, Fox, Weathers, dan Namba sudah terlalu lemah untuk bisa berjalan. Saat itulah Beidleman sadar, jika salah seorang dari mereka tidak bisa mencapai perkemahan dan membentuk tim penyelamat, mereka semua akan tewas. Jadi, Beidleman mengumpulkan mereka yang masih mampu berjalan, kemudian dia sendiri, Schoening, Gammelgaard, Groom dan dua orang Sherpa berjalan tertatih-tatih menembus salju untuk mencari bantuan, meninggalkan empat klien yang tidak bisa bergerak ditemani oleh Tim Madsen. Karena enggan meninggalkan teman wanitanya, Fox, Tim Madsen menawarkan diri untuk tinggal dan menjaga mereka sampai bantuan tiba.
     Dua puluh menit kemudian, kelompok Beidleman tertatih-tatih memasuki perkemahan dan disambut haru oleh Anatoli Boukreev yang sedang menunggu mereka dengan cemas. Schoening dan Beidleman, yang hampir-hampir tidak mampu bicara, menjelaskan kepada orang rusia itu tempat dia bisa menemukan kelima klien yang masih terjebak badai, kemudian roboh didalam tendanya masing-masing karena kelelahan.
     Boukreev tiba di Jalur Selatan beberapa jam mendahului rekan-rekannya yang lain dari tim Fischer. Bahkan, pada pukul 17.00, ketika rekan-rekannya masih berjuang menembus awan pada ketinggian 28.000 kaki, Boukreev sudah berada didalam tendanya, beristirahat sambil minum teh. Kelak, beberapa pemandu berpengalaman mempertanyakan keputusannya untuk menuruni gunung jauh mendahului para kliennya---sikap yang sangat tidak lazim untuk seorang pemandu. Salah seorang klien tim Fischer hanya bisa mencaci Boukreev dan berkata, "saat tenaganya sangat dibutuhkan, pemandu itu justru 'menjauh dan lari'."
     Anatoli meninggalkan puncak sekitar pukul 14.00 dan langsung tertahan oleh antrean pendaki di Hillary Step. Setelah antrean pendaki habis, dia bergerak cepat menuruni Lereng Tenggara tanpa menunggu satu klien pun---meskipun di puncak Hillary Step, dia berjanji kepada Fischer bawa dia akan turun bersama Martin Adams. Karena itu, Boukreev tiba di Camp Empat jauh sebelum badai pecah.
     Setelah ekspedisi berakhir, ketika kutanyakan kepada Anatoli, mengapa dia turun mendahului kelompoknya, dia menyodorkan kepadaku sebuah naskah wawancara yang dia kirimkan beberapa hari lalu kepada majalah Men's Journal melalui seorang penerjemah Rusia. Menurutnya, naskah itu sudah dia baca dan pernyataan yang termuat didalamnya sudah benar. Aku membaca naskah itu ditempat itu juga, sambil mengajukan sejumlah pertanyaan tentang peristiwa yang terjadi saat kami menuruni gunung dan dia menjawab,

Aku menunggu (dipuncak) selama kurang lebih satu jam...Udara sangat dingin, dan tentu saja, itu sangat menyedot tenaga...Aku tidak bisa terus menunggu dan kedinginan. Lebih bermanfaat jika aku kembali ke Camp Empat untuk membawakan beberapa botol oksigen bagi pendaki yang turun, atau kembali ke atas untuk membantu jika beberapa pendaki kelelahan saat menuruni gunung---jika Anda berdiri diam pada ketinggian seperti itu, udara dingin akan menyedot habis tenaga Anda, sehingga Anda tidak mampu melakukan apapun.

Kerentanan Boukreev terhadap udara dingin pasti diperburuk oleh fakta bahwa dia tidak menggunakan oksigen tambahan; tanpa gas tambahan, dia tidak bisa berhenti dan menunggu klien yang lamban dilereng gunung tanpa terserang gigitan salju dan hipotermia. Apapun alasannya, dia turun cepat mendahului timnya---pola yang nyatanya dia terapkan selama ekspedisi berlangsung, seperti yang ditulis oleh Fischer didalam surat-suratnya yang terakhir dan saat dia menelepon ke Seattle dari Base Camp.
     Ketika kutanyakan tentang keputusannya untuk meninggalkan semua kliennya dipunggung gunung, Anatoli bersikeras bahwa dia melakukannya demi kebaikan tim: "Lebih baik jika aku menghangatkan diri di Jalur Selatan, dan siap untuk membantu jika salah seorang klien kehabisan oksigen." Bahkan sesaat setelah gelap, ketika kelompok Beidleman belum juga kembali ke perkemahan dan angin topan berubah menjadi badai yang dahsyat, Boukreev menyadari bahwa mereka pasti menghadapi kesulitan dan dengan berani berupaya membawakan botol oksigen kepada mereka. Sayangnya, strategi yang dia terapkan punya satu kelemahan: karena dia dan Beidleman sama-sama tidak memiliki radio, Boukreev tidak tahu masalah yang dihadapi para pendaki yang tersesat, dia bahkan tidak tahu keberadaan mereka dihamparan gunung yang luas itu. Bagaimanapun, sekitar pukul 19.30, Boukreev meninggalkan Camp Empat untuk mencari kelompok Beidleman. Dia mencoba mengingat-ingat,

Jarak pandang hanya tinggal sekira satu meter. Semuanya seolah menghilang. Aku punya sebuah lampu, dan mulai menggunakan oksigen untuk mempercepat gerak. Aku membawa tiga tabung. Aku berusaha bergerak lebih cepat, tetapi tidak bisa melihat apapun...Seperti orang buta, tidak bisa melihat, semuanya gelap. Ini berbahaya, karena aku bisa jatuh ke dalam celah gletser, atau jatuh ke jurang di selatan Lhotse yang menganga sedalam 3000 meter. Aku berusaha mendaki, tetapi suasananya benar-benar gelap, aku tidak bisa menemukan lintasan tali.

Kira-kira enam ratus kaki diatas Jalur Selatan, Boukreev menyadari bahwa upayanya akan sia-sia, dan kembali ke perkemahan. Dia mengaku bahwa dia sendiri hampir tersesat. Keputusannya untuk tidak meneruskan upayanya barangkali memang tepat, karena pada saat itu rekan-rekannya sudah tidak ada lagi berada dipuncak diatasnya, tempat yang dituju Boukreev---ketika Boukreev menghentikan upayanya, kelompok Beidleman sudah berada di Jalur Selatan, enam ratus kaki di bawah orang Rusia tersebut.
     Ketika tiba di Camp Empat sekitar pukul 21.00, Boukreev mencemaskan kesembilan pendaki yang hilang tersebut, tetapi karena dia tidak tahu dimana mereka berada, dia memutuskan untuk menunggu. Kemudian, pada pukul 00.45, lewat tengah malam, Beidleman, Groom, Schoening dan Gammelgaard tertatih-tatih masuk ke perkemahan. "Klev dan Neal sudah benar-benar kehabisan tenaga dan mereka hampir-hampir tidak bisa bicara," kenang Boukreev. "Mereka mengatakan bahwa Charlotte, Sandy dan Tim Madsen perlu bantuan dan Sandy nyaris tewas. Kemudian, mereka memberi petunjuk, dimana aku bisa menemukan mereka.
     Ketika mendengar bahwa para pendaki sudah tiba, Stuart Hutchison keluar dari tendanya untuk membantu Groom. "Aku membantu Mike masuk ke tendanya," kenang Hutchison, "aku lihat dia benar-benar kelelahan. Bicaranya cukup jelas, tetapi dia harus berjuang keras, seperti orang sekarat yang sedang mengucapkan kata-kata terakhir. 'Kamu harus membawa beberapa Sherpa,' katanya padaku, 'Bawalah mereka untuk membantu Beck dan Yasuko.' Kemudian dia menunjuk ke arah Jalur Selatan yang berada dekat Kangshung Face."
     Tetapi, upaya Hutchison untuk membentuk tim pencari ternyata tidak berhasil. Chuldum dan Arita---dua Sherpa dari tim Hall yang tidak ikut dalam pendakian menuju puncak dan menunggu sebagai tenaga cadangan di Camp Empat kalau-kalau terjadi keadaan darurat---ternyata tidak mampu bergerak karena keracunan karbonmonoksida akibat memasak ditenda yang ventilasinya buruk; Chuldum bahkan sempat muntah darah. Dan empat Sherpa dalam tim kami terlalu kedinginan dan terlalu lemah akibat perjalanan ke puncak.
     Setelah ekspedisi berakhir, aku bertanya pada Hutchison: setelah dia tahu dimana para pendaki yang hilang berada, mengapa dia tidak membangunkan Frank Fishbeck, Lou Kasischke atau John Taske---atau mencoba membangunkanku untuk kedua kalinya---dan meminta bantuan kami untuk membentuk regu pencari. "Aku bisa melihat dengan jelas bahwa kalian semua benar-benar kelelahan, jadi tidak terpikir olehku untuk minta bantuan kalian. Kamu sendiri bukan hanya lelah biasa, sehingga aku berpikir, kalau kamu berusaha untuk membantu mencari mereka, kamu hanya akan memperburuk situasi---kamu pasti roboh diatas sana dan harus diselamatkan." Akhirnya, Stuart menerjang badai sendirian, tetapi sampai dibatas perkemahan sekali lagi dia kembali karena khawatir tidak dapat menemukan jalan pulang jika dia berjalan lebih jauh.
     Pada saat yang sama, Boukreev juga sedang mencoba membentuk tim pencari, tetapi dia tidak menghubungi Hutchison atau datang ke perkemahanku, jadi upaya Hutchison dan Boukreev tidak terkoordinasi, dan aku tidak tahu tentang upaya mereka untuk membentuk tim pencari. Akhirnya, seperti juga Hutchison, Boukreev menyadari bahwa semua orang yang dia bangunkan terlalu sakit, terlalu lelah atau terlalu takut untuk membantu. Jadi, orang Rusia itu memutuskan untuk membawa pulang kelompok yang tersesat itu sendirian. Dengan berani dia menerjang topan, mencari-cari di sekitar Jalur Selatan selama hampir satu jam, tetapi tidak berhasil.
     Boukreev tidak mundur. Dia kembali ke perkemahan, meminta petunjuk yang lebih jelas dari Beidleman dan Schoening, kemudian kembali masuk ke tengah badai. Kali ini samar-samar dia melihat sinar lampu kepala Madsen yang sudah pudar dan berhasil menemukan para pendaki yang hilang. "Mereka terbaring diatas es, tanpa bergerak," kata Boukreev. "Mereka tidak bisa bicara." Madsen masih sadar dan masih bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi Pittman, Fox dan Weathers benar-benar tidak berdaya dan Namba sepertinya sudah tewas.
     Setelah Beidleman dan rekan-rekannya meninggalkan mereka untuk mencari pertolongan, Madsen mengumpulkan para pendaki yang tersisa dan memaksa mereka untuk terus bergerak agar tetap hangat. "Aku mendudukkan Yasuko dipangkuan Beck," kenang Madsen, "tetapi, Beck sama sekali tidak bereaksi dan Yasuko sama sekali tidak bergerak. Beberapa saat kemudian, aku melihat Yasuko terbaring rata diatas punggungnya, dan salju yang tertiup angin menutupi kepalanya. Sepertinya dia kehilangan sarung tangan---karena tangan kananya telanjang, dan jari-jarinya terkepal erat dan tidak bisa diluruskan. Sepertinya, mereka semua membeku sampai ke tulang.
     "Aku mengira Yasuko sudah tewas," Madsen menambahkan. "Tetapi, beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba bergerak, sehingga aku ketakutan: dia seperti menegangkan lehernya sedikit, seperti berusaha untuk duduk dan tangan kanannya naik, kemudian diam. Yasuko terbaring kembali dan tidak pernah bergerak lagi."
     Segera setelah Boukreev menemukan kelompok pendaki tersebut, dia melihat dengan jelas bahwa dia hanya bisa membantu satu pendaki saj dalam satu kali jalan. Dia membawa sebuah tabung oksigen, yang dia hubungkan ke masker Pittman. Kemudian Boukreev memberi isyarat pada Madsen bahwa dia akan kembali secepatnya dan mulai memandu Fox ke perkemahan. "Setelah mereka pergi," kata Madsen, "Beck terbaring dengan posisi melingkar, tidak banyak bergerak dan Sandy meringkuk dipangkuan saya, juga tidak bergerak. Aku berteriak kepadanya, 'Hei, gerakkan terus kedua lenganmu! Biarkan aku melihat tanganmu.' Ketika dia duduk dan merentangkan tangannya, aku bisa melihat bahwa sarung tangannya terlepas---tergantung dipergelangan tangannya.
     "Aku berusaha untuk memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan itu ketika Beck tiba-tiba bergumam, "Hei, aku mengerti sekarang," Kemudian dia seperti berguling menjauh, membungkuk diatas sebongkah batu besar, dan kemudian menghadapkan wajahnya pada angin dengan kedua tangan terentang. Sedetik kemudian, embusan angin yang cukup keras menerjangnya, membuat tubuhnya terjungkal ke belakang memasuki kegelapan malam, aku tidak bisa melihatnya melalui sinar lampu dikepalaku. Itulah terakhir kalinya aku melihat Beck."
     "Toli kembali beberapa saat kemudian dan menarik Sandy, jadi aku mengumpulkan barang-barangku dan mulai berjalan mengikuti mereka, mencoba mengikuti sinar lampu dari kepala Toli dan Sandy. Waktu itu, aku menduga Yasuko sudah tewas dan Beck tidak bisa diselamatkan lagi." Mereka tiba diperkemahan pada pukul 04.30 pagi, saat matahari sudah mulai menyinari ufuk timur. Setelah mendengar dari Madsen bahwa Yasuko tewas, Beidleman roboh didalam tendanya dan menangis selama empat puluh lima menit.

Bersambung.....

(*1): Meskipun seorang pendaki yang kuat membutuhkan waktu satu jam untuk menempuh jalur vertikal sepanjang 1.000 kaki, dalam hal ini jalur yang ditempuh merupakan jalur yang landai, yang seharusnya bisa ditempuh kelompom itu dalam waktu lima belas menit, jika mereka tahu letak.perkemahan.